Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Gilang buru-buru menempelkan kartu e-money ke gate, lalu langsung berlari ke arah peron.
Pintu kereta sudah hampir tertutup saat Gilang buru-buru masuk ke gerbong itu.
Orang-orang berdesakan.
Bahu saling bertabrakan, suara keluhan terdengar di mana-mana, tapi Gilang tetap memaksa masuk.
“Permisi… permisi…”
Tangannya berpegangan di tiang dekat pintu sambil matanya terus mencari ke dalam gerbong.
Kereta mulai bergerak perlahan.
Gilang terus memperhatikan dari jauh.
Viona terlihat sedang berbicara dengan pria itu. Sesekali gadis itu mengangguk kecil, lalu menjawab sesuatu. Terlihat cukup akrab.
Gilang mengernyit.
Pria itu kemudian melirik sekilas ke arah Gilang.
Tatapan mereka sempat bertemu sepersekian detik.
Lalu pria itu tersenyum tipis.
Bukan senyum ramah.
Lebih seperti… senyum penuh maksud.
Setelah itu ia menarik topinya sedikit lebih turun, menutupi sebagian wajahnya dari pandangan Gilang.
Gilang terus menatap ke arah mereka dari sela-sela penumpang. Rahangnya sedikit mengeras. “Ngapain dia ada di sini lagi… sama Viona pula…”
Beberapa menit kemudian, kereta mulai melambat.
Suara pengumuman stasiun terdengar samar dari speaker.
Karena berdiri dekat pintu sejak tadi, Gilang ikut terdorong keluar lebih dulu bersama penumpang lain saat pintu terbuka.
Ia sempat menoleh cepat ke dalam gerbong.
Mencari Viona dan pria itu lagi di tengah kerumunan penumpang.
Gilang keluar dari gerbong lalu menoleh ke sana-sini, mencari di tengah ramainya penumpang yang turun.
Beberapa langkah kemudian, akhirnya ia melihat Viona.
Gadis itu sedang berjalan pelan sambil tertawa kecil bersama pria tadi.
Gilang langsung mengernyit lalu menghampiri mereka cepat.
“Viona.” suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.
Viona akhirnya menoleh saat mendengar suaranya. Wajahnya langsung berubah datar.
“Udah selesai urusannya, Kak?” tanyanya dingin.
Belum sempat Gilang menjawab, Viona sudah lebih dulu melanjutkan, “Hm… tapi aku harus balik dulu nih. Kebetulan aku udah pesen ojol."katanya sambil memegang ponselnya.
Ia lalu menoleh ke pria di sampingnya dan tersenyum kecil.
“Permisi ya, Kak Devan.”
Devan tersenyum santai lalu mengangguk kecil. “Hati-hati ya.”
Viona membalas anggukan kecil sebelum berjalan lebih dulu menjauh.
Rahang Gilang perlahan mengeras. Tatapannya langsung beralih ke Devan.
“Ngapain lo di sini?” tanyanya dingin.
Devan malah tertawa enteng, tangannya masuk ke saku jaket.
“Nemenin cewek yang ditinggal cowok nggak bertanggung jawab,” jawabnya santai.
Gilang langsung mendorong dada Devan pelan, tapi cukup keras untuk membuat suasana berubah tegang.
“Jangan ganggu dia,” katanya rendah. “Lo nggak pantes deket sama dia.”
Devan malah tertawa lebih keras.
“Terus maksud lo…” katanya sambil mendekat sedikit, “lo yang pantes?”
Tatapannya turun-naik menilai Gilang.
“Ngaca, bro,” lanjutnya sinis. “Hidup lo aja udah sekotor itu.”
Senyumnya tipis.
“Jangan sok suci.”
Rahang Gilang mengeras. Tangannya langsung mencengkeram kerah baju Devan.
“Brengsek lo,” desisnya pelan. “Gue masuk ke dunia itu gara-gara lo.”
Devan hanya berdecih kecil, sama sekali tidak terlihat takut.
“Jangan munafik, Lang,” balasnya santai. “Lo juga nikmatin, kan?”
Gilang menatap tajam.
Devan tersenyum tipis lagi.
“Lo nikmatin hasilnya,” lanjutnya pelan. “Terus sekarang seolah-olah gue yang nyeret lo ke lingkaran setan itu?”
Gilang tidak menjawab lagi.
Cengkeramannya perlahan lepas dari kerah Devan.
Rahangnya masih mengeras, tapi kali ini ia memilih berbalik.
Langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Devan memperhatikan punggung Gilang beberapa detik, lalu tersenyum miring.
“Heh, Gilang!” teriaknya dari belakang.
Gilang tidak menoleh.
Devan tertawa kecil. “Hati-hati pura-pura jadi orang baik… nanti lupa diri sendiri itu siapa.”
Gilang tidak memedulikan teriakan itu. Ia terus berjalan cepat keluar stasiun menuju kampus untuk mengambil motornya.
Tapi ucapan Devan tadi terus terngiang di kepalanya.
Langkah Gilang perlahan melambat.
Pikirannya kembali ke masa awal kuliah.
Saat semuanya terasa sempit.
Biaya hidup.
Tagihan rumah sakit.
Utang yang terus datang satu per satu.
Ia ingat bagaimana dulu dirinya sering duduk sendirian sampai larut malam, memikirkan harus cari uang dari mana lagi.
Sampai akhirnya Devan datang.
Teman SMA-nya dulu.
Waktu itu Devan bilang ia punya “pekerjaan” dengan bayaran cepat.
Gilang sempat menolak mentah-mentah.
Ia tahu pekerjaan itu tidak benar.
Tapi keadaan terus menekannya.
Dan pada akhirnya—
karena merasa tidak punya pilihan lain,
Gilang menerima ajakan Devan.
Gilang terus berjalan sambil menatap kosong ke depan.
Ucapan Devan tadi masih terngiang jelas.
Tidak sepenuhnya salah.
Selama lebih dari dua tahun, Gilang tetap bertahan di pekerjaan itu.
Ia menikmati hasilnya.
Uang yang bisa membayar utang.
Biaya rumah sakit ibunya.
Biaya sekolah Sekar.
Semua berasal dari sana.
Dan semakin lama ia masuk lebih dalam.
Sampai akhirnya perjalanan itu membawa Gilang ke tugas baru.
Bersama Valeria.
Gilang mengerutkan kening sambil tetap berjalan.
Pikirannya belum tenang.
Kepalanya makin penuh.
“Ketemu di mana coba…” gumamnya pelan. “Devan udah nggak ada hubungan sama kampus…”
Ia mengingat lagi bagaimana Viona tadi tertawa kecil di samping pria itu.
Terlihat nyaman.
Dan itu justru bikin pikirannya semakin tidak enak.