NovelToon NovelToon
TUBUH PENELAN LANGIT

TUBUH PENELAN LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.

Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.

Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.

Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Kabut Hitam di Tebing Air Terjun*

​Langkah kaki Ling Fan terasa berat di atas jalan setapak berbatu menuju gerbang utama Kota Tianxuan. Topi bambunya ditarik rendah hingga menutupi sebagian besar wajahnya, menghindari tatapan tajam para penjaga di atas menara pengawas. Di balik jubah abu-abunya, telur hitam itu berdenyut dengan frekuensi yang lebih cepat dan kuat.

​Dia berhenti sejenak di tepi jalan, merasakan getaran halus yang merambat dari telapak kakinya hingga ke dada.

​“Paman, dia sudah mencium bauku. Dia tahu aku datang,” bisik suara kecil itu di dalam kepalanya dengan nada waspada.

​“Kau yakin? Kita bahkan belum melewati gerbang,” tanya Ling Fan dalam batin.

​“Sangat yakin. Baunya amis... seperti darah tua yang membeku di bawah tanah.”

​“Tahan nafsu makanmu sedikit lagi. Kita belum masuk ke jantung kota, jangan sampai kau memancing keributan di sini,” peringat Ling Fan sambil menepuk dadanya pelan.

​“Tapi Paman... perutku berbunyi. Getaran di bawah ini terasa seperti makanan yang memanggil-manggil.”

​“Sabar, Raja Lapar. Kalau kau membuat gempa sekarang, seluruh penjaga kota akan mengepung kita sebelum kita sempat mencicipi apa pun.”

​Ling Fan melanjutkan langkah hingga tiba di depan barisan pemeriksaan gerbang utama yang dijaga ketat. Dua prajurit dengan seragam berlambang harimau perak menghadangnya dengan tombak menyilang, menghalangi jalan masuk. Salah satu dari mereka mengamati Ling Fan dari ujung kaki hingga ke topi bambunya.

​“Identitas? Dari mana asalmu dan apa urusanmu masuk ke Kota Tianxuan selarut ini?” tanya prajurit itu dengan nada ketus.

​“Hanya pengembara dari Desa Angin Padang. Saya ingin mencari kerja di pasar kota karena kudengar upah di sini sedang bagus,” jawab Ling Fan dengan nada suara yang dibuat serendah mungkin.

​“Pengembara? Di saat kota sedang siaga seperti ini?” timpal prajurit satunya sambil mendekat.

​“Apa ada masalah di dalam, Tuan? Saya hanya orang kecil yang butuh makan.”

​“Banyak tanya kau. Apa yang kau bawa di balik jubahmu itu? Terlihat menonjol.”

​“Hanya buntelan kain berisi bekal dan beberapa pakaian ganti, Tuan. Apa saya harus membukanya?” tanya Ling Fan sambil berpura-pura gemetar.

​Prajurit itu meludah ke samping dan melihat wajah Ling Fan yang tampak lelah. “Sudahlah, biarkan saja. Tidurlah cepat. Tapi ingat, jangan cari masalah di malam hari. Klan Huang sedang tidak dalam suasana hati yang baik.”

​“Apa terjadi sesuatu dengan klan besar itu, Tuan?” selidik Ling Fan.

​“Bukan urusanmu! Masuk sana!” bentak prajurit itu sambil menarik kembali tombaknya.

​Ling Fan hanya mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu melangkah masuk melewati gerbang raksasa itu. Begitu kakinya menginjak bagian dalam kota, bau dupa dan hiruk pikuk pasar malam menyambutnya dengan bising. Namun, ia bisa merasakan aura dingin yang merayap keluar dari retakan ubin jalanan.

​“Paman... dingin sekali... tempat ini seperti kuburan yang dipaksa bangun,” gumam telur hitam itu gelisah.

​“Diamlah. Kita harus mencari informasi dulu. Jangan sampai kita masuk ke sarang serigala tanpa persiapan.”

​Ling Fan berjalan menyusuri lorong-lorong sempit menuju sebuah kedai teh yang sepi di sudut kota. Ia memesan satu teko teh hijau paling murah dan duduk di pojok ruangan yang paling gelap. Sambil menunggu, ia menajamkan pendengarannya pada percakapan dua pria di meja sebelah.

​“Kau dengar kabar burung itu? Katanya Penjara Bawah Tanah akan dibuka paksa malam ini,” bisik salah satu pria dengan wajah pucat.

​“Gila! Untuk apa mereka melakukan itu? Bukankah tempat itu dilarang untuk disentuh sejak zaman leluhur?” tanya temannya tak percaya.

​“Entahlah, tapi rumornya mereka melakukan itu untuk menyambut tamu agung dari Sekte Pedang Awan Biru. Katanya ada monster atau harta karun kuno yang harus dijinakkan.”

​“Menjinakkan harta karun? Atau mereka ingin menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan klan saingan?”

​“Ssst! Jangan keras-keras! Kau mau lidahmu dipotong pengawal Klan Huang?”

​Ling Fan mencengkeram cangkir tehnya hingga muncul retakan-retakan kecil di permukaan keramiknya. Dugaannya benar, Klan Huang telah bersekutu dengan sekte besar untuk memanfaatkan kekuatan bencana yang tertanam di bawah kota.

​Tiba-tiba, getaran yang jauh lebih kuat dari sebelumnya mengguncang kedai tersebut. Meja-meja bergeser dan rak kayu di dinding berderit keras, memicu teriakan kaget dari pemilik kedai.

​“Paman... dia lapar... dia mulai makan fondasi kota ini sedikit demi sedikit,” lapor telur hitam itu dengan suara ketakutan.

​“Tanahnya mulai kosong? Apa yang sebenarnya ada di bawah sana, Keponakan?” tanya Ling Fan sambil berdiri.

​“Entahlah... tapi dia besar. Lebih besar dari delapan saudaraku jika mereka digabungkan.”

​“Waktunya pergi. Jika kita terlambat, kota ini akan runtuh menjadi debu sebelum kita sempat mencari tempat menginap.”

​Ling Fan meletakkan beberapa keping perak di atas meja tanpa menunggu uang kembalian dan bergegas keluar. Ia menyelinap di antara kerumunan warga yang panik, bergerak lincah menuju kuil tua milik leluhur Klan Huang. Namun, baru separuh jalan, sebuah bayangan melintas sangat cepat di atas atap rumah warga.

​“Berhenti di sana, dasar pencuri telur kecil!” teriak sebuah suara nyaring diikuti kilatan cahaya pedang biru.

​Ling Fan melompat mundur dengan gerakan akrobatik tepat saat sebuah pedang panjang menancap dalam di tanah. Seorang pemuda tampan dengan jubah putih biru bersih berdiri tegak di atas gagang pedang tersebut. Di dadanya terukir lambang awan dan pedang perak, simbol kekuasaan Sekte Pedang Awan Biru.

​“Murid Sekte Pedang Awan Biru, rupanya kalian memang sudah menunggu kedatanganku di sini,” gumam Ling Fan sambil menyipitkan mata.

​“Namaku Fan Xuan, murid inti dari Sekte Pedang Awan Biru. Serahkan benda di balik jubahmu itu sekarang juga,” perintah pemuda itu dengan angkuh.

​“Bagaimana kalau saya bilang tidak? Apa Tuan Muda yang terhormat ini akan menangis?” tantang Ling Fan tenang.

​“Berani sekali kau bicara seperti itu padaku! Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi, sampah?”

​“Saya hanya melihat seorang burung merak yang tersesat di atas gagang pedang. Apa itu sebuah prestasi di sekte Anda?”

​“Mulutmu sangat tajam untuk seseorang yang akan segera mati. Berikan telurnya, dan aku mungkin akan membiarkanmu menjadi budak daripada harus mati di tangan algojo.”

​“Maaf sekali, Tuan Muda Fan Xuan, tapi Keponakanku ini punya selera yang sangat tinggi dan dia sama sekali tidak suka ide menjadi budak,” jawab Ling Fan dengan senyum dingin.

​Garis perak pada permukaan telur hitam mulai menyala terang, memancarkan aura hitam yang mulai merayap keluar menyelimuti kaki Ling Fan.

​“Paman... aku boleh makan dia? Qi birunya terlihat... seperti permen,” tanya telur hitam itu bersemangat.

​“Tunggu sebentar lagi. Biarkan dia mengeluarkan semua jurusnya agar rasanya lebih renyah,” bisik Ling Fan pelan.

​“Apa yang kau bisikkan di sana? Kau bicara dengan telur itu? Kau benar-benar sudah gila!” seru Fan Xuan sambil menarik pedangnya dari tanah.

​“Gila atau tidak, kau akan merasakannya sendiri. Keponakanku lebih suka memakan tuan tanah sombong sepertimu sebagai menu pembuka malam ini.”

​“Kurang ajar! Rasakan Jurus Pedang Awan Membelah Langit!”

​“Langkah Angin: Bayangan Perak!” seru Ling Fan sambil melesat maju.

​Ling Fan bergerak dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan bayangan hitam yang tampak membelah jalanan kota yang mulai gelap. Fan Xuan terkejut melihat lawannya yang tadi tampak seperti petani biasa kini bergerak lebih cepat dari murid inti sekte mana pun.

​“Kenapa kau lari? Hadapi pedangku!” teriak Fan Xuan sambil mengayunkan pedangnya yang memancarkan aura biru tajam.

​“Siapa yang lari? Aku hanya sedang mencari sudut terbaik untuk mematahkan lehermu,” sahut Ling Fan yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.

​“Mustahil! Bagaimana kau bisa secepat ini?”

​“Tanyakan pada Dewa saat kau bertemu mereka nanti.”

​Ling Fan mengayunkan tinjunya yang telah diselimuti aura perak pekat, bersiap menghantam punggung Fan Xuan yang masih dalam posisi menyerang. Pertarungan di tengah kota yang berguncang itu baru saja dimulai, dan bau darah mulai bercampur dengan debu reruntuhan.

1
y@y@
🌟👍🏾👍🏻👍🏾🌟
y@y@
💥⭐👍🏼⭐💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏻👍🏾🌟
y@y@
👍🏿⭐👍🏼⭐👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏻👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿⭐👍🏿🌟
y@y@
👍🏼💥👍🏾💥👍🏼
y@y@
👍🏻👍🏿⭐👍🏿👍🏻
y@y@
😂🤣😂🤣😂
y@y@
🌟👍🏾💥👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏼👍🏻👍🏼💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏾👍🏿🌟
Maya devayanti
Mantaaaaapp👍
Maya devayanti
Bisa bangkrut nih bandar 😄
Maya devayanti
Bakal kaya nih 😍
Maya devayanti
Uang itu penting.. 😍
Maya devayanti
Baru tau dia 😄
Maya devayanti
Gaasssskeuun.. 👍
Maya devayanti
Lanjuuuttt... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!