NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tak Terduga

Hanum membuka matanya perlahan, menatap langit-langit ruangan yang begitu terang. Kepalanya terasa pening diiringi dengan tubuhnya yang terasa lemah. Ketika dia hendak bangun dari tidurnya, tiba-tiba seseorang menghampirinya.

"Hanum, jangan bangun dulu," ucap suara tersebut. Hanum kembali membaringkan tubuhnya ketika dia menyadari bahwa itu adalah Devan, sahabat masa SMA nya dulu.

"Maaf ya, Van. Aku udah ngerepotin kamu..," ucap Hanum pelan. Merasa bersalah karena sudah membebani pria tersebut.

"Gak papa kok, gimana masih ada yang sakit? Biar aku panggilin suster nya dulu ya," segera Devan memanggil suster untuk mengecek keadaan Hanum yang tengah terbaring itu. Setelah diberi penjelasan kepada kedua orang itu, suster pun kembali melanjutkan tugasnya yang lain.

"Kamu butuh istirahat, Hanum. Di luar masih gelap dan hujan. Kamu istirahat di sini saja," kata Devan meminta wanita itu untuk tetap di sini.

Hanum tak banyak bicara. Dia masih belum bisa berpikir jernih. Kecuali untuk tersenyum tipis dengan wajahnya yang pucat itu, lalu tertidur pulas. Menyisakan Devan yang masih berada di ruangan itu.

***

Keesokan paginya, mereka berdua telah berada di sebuah kedai sarapan pagi. Hanum merasa tubuhnya kembali segar setelah beristirahat semalaman. Dia sendiri terkejut ketika melihat Devan yang ternyata telah menunggunya hingga benar-benar terjaga. Tetapi dia tidak langsung menanyakan dimana pria itu istirahat.

"Aku ngerasa gak enak, Van. Sekali lagi aku minta maaf ya udah ngerepotin kamu begini. Habis ini aku ganti ya semua biaya nya," kata Hanum sembari menatap Devan.

"Udah, kamu gak usah pikirin itu. Yang jelas kamu udah pulih.”

Dia tidak menggubris ucapan Devan, tetapi melihat pria di depannya itu adalah orang yang dia kenal, dia merasa ingin bertanya hal lainnya. Meskipun pada akhirnya dia mengurungkan niatnya sebab mereka jelas berbeda.

"Kamu udah berapa lama di sini, Van?" tanya Hanum mengingat Devan sebelumnya kuliah di luar negeri. Lama pula mereka tidak berjumpa.

"Kurang lebih mau satu tahun, tapi ya.. udah cukup lama lah," jawab pria itu sambil mempersilakan ibu pemilik kedai mengantarkan sarapan mereka berdua.

"Ayo langsung dimakan, Hanum," Devan meletakkan semangkuk bubur ayam di depannya. Ini mengingatkan Hanum pada kebiasaannya dulu yang suka sarapan bubur ayam pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah. Kadang dia tidak makan siang sebab menghemat pengeluarannya.

Sejenak Hanum teringat akan satu hal. Apakah Devan sudah berkeluarga? Ah, dia hampir lupa. Dia tidak mau merepotkan orang lain. Apalagi jika itu suami orang.

"A-aku mau balik dulu, ada yang harus aku urus," ucap Hanum setelah selesai menghabiskan sarapannya. .

"Mau aku antar gak?" ucap Devan sambil menatap Hanum yang terlihat terburu-buru.

"Nggak usah deh, kamu gak pulang emangnya? Oh ya, aku lupa. Kamu udah punya keluarga ya? Aku gak mau terbawa karena-"

"Aku belum menikah, Hanum."

Hanum terdiam, tapi dia kembali menatap pria itu. "Kalau gitu aku duluan," katanya lagi. Buru-buru dia pergi setelah mengucapkan terimakasih dan berjanji untuk mengganti semua yang telah Devan bayar— meski Devan menolaknya.

Sementara itu, sesekali Hanum menoleh ke belakang. Memastikan pria itu menghilang dari pandangannya hingga akhirnya dia berhenti. Dia tahu kalau dia sedang berada dalam keadaan yang masih belum stabil. Butuh waktu baginya agar kembali pulang ke rumah. Yang ada di pikiran nya adalah, ia harus mengurus kantor.

Hanum menghentikan sebuah taksi, segera menuju kantornya.

***

"Selamat pagi, Bu," ucap seorang staf kepada Hanum. Dengan senyum ramahnya, Hanum membalas setiap staf nya satu per satu. Dia adalah pemilik butik yang cukup terkenal. Selain itu, semua nya juga diraih atas usaha dan doa nya sendiri. Tanpa bantuan suaminya sedikit pun. Sedari dulu, suami nya itu tak pernah membagi hasil pekerjaannya untuk dirinya sendiri. Tapi, Hanum tetap menghargai keputusan suami nya. Apapun itu keadaannya, dia harus berbakti kepada suaminya.

Saat dia memasuki ruangannya, betapa terkejutnya dia saat melihat suaminya tengah berada di dalamnya.

"Mau apa kamu kemari?" ucap Bramasta menatap tajam kepadanya.

"Justru aku yang harus nanya sama kamu, Mas. Kamu ngapain di kantor aku?" tanya balik Hanum pada Bramasta. Apa lagi yang akan dilakukan oleh suami nya itu?

"Aku sudah memutuskan bahwa butik ini harus jadi milik Vanya."

JLEB!

Hanum menggeleng tidak setuju. "Nggak. Nggak, Mas. Sampai kapan pun aku gak akan kasih butik ini ke perempuan murahan itu. Ini milikku, Mas. Kamu bahkan gak bisa mengungkit butik ini untuk kamu dan perempuan murahan itu kuasai!" tegas Hanum tanpa peduli pria di depannya itu menatap penuh amarah kepadanya.

"Jaga ucapan mu, Hanum! Berani-beraninya kamu katakan Vanya perempuan murahan! Dasar perempatan tidak tahu sopan santun!"

"Justru ucapanmu yang harus dijaga, Mas! Kamu gak tahu, apa? Selama ini aku terus bersabar melihat kamu yang selalu mengabaikan aku.., kamu bahkan gak pernah menafkahi aku sepenuhnya! Dan kamu masih minta aku buat kasih hasil usaha ku sendiri ke wanita najis itu??? NGGAK!”

"KURANG AJAR!"

Bramasta menampar pipi kanan Hanum. Perih, sakit sekali. Hanum hanya bisa menangis, menatap kepergian Bramasta yang pergi begitu saja tanpa meminta maaf sedikitpun. Hatinya terluka sepenuhnya. Apa yang harus dia lakukan? Sudah lelah rasanya menghadapi suaminya yang terus-menerus menghujam sanubarinya.

"Ma..., mama.., Hanum kangen mama..," tiba-tiba terlintas olehnya bayangan ibu nya yang selalu memeluknya di kala dia sedang susah dahulu. Sudah hampir dua belas tahun ibunya tiada, semenjak dia masuk SMA itu lah dia yatim piatu. Adapun ayahnya tiada saat Hanum masih berumur dua tahun.

"Hanum kangen sama mama.., kemana lagi Hanum mencari tempat untuk bersandar, ma?" Dia menangis sesenggukan. Apa pun itu doa yang dipanjatkan kepada Tuhan, hatinya masih merindukan sosok orang tua yang dia cintai. Hanya saja hidup punya ceritanya masing-masing untuk setiap manusia. Namun, yang dirasakan olehnya hanyalah kesedihan mendalam yang berkali-kali dia coba tutupi agar tidak membuatnya terjatuh dan hilang arah.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Segera dia menyeka air matanya dan mengambil ponsel yany berada di atas mejanya. Sekejap dia menatap nomor yang tak dikenal olehnya. Tapi dia angkat saja, barangkali ini perlu.

"Halo? Ada yang bisa saya bantu?"

"Hanum, ini saya, Devan. Maaf sebelumnya sudah mengganggu, tapi boleh aku minta alamat kantormu?"

Hanum cukup kaget ternyata itu Devan. "Baiklah, aku kirim alamat nya ya. Ada lagi?"

Hening sejenak. Tak lama kemudian, "Aku segera ke sana. Terimakasih ya," ucap pria itu dari balik panggilan.

Setelah panggilan selesai, Hanum kembali melanjutkan pekerjaannya. Mencoba mencari ide untuk mendesain ulang model gaun-gaun yang ada di butiknya. Sejenak dia mengutamakan hatinya agar senantiasa tegar setiap waktu. Hingga kabar buruk itu pun tiba.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!