NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Cinta Yang Tetap Bertahan di Ujung Waktu.

Dirgantara merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dua kakaknya, Viora dan Viola, akhirnya menjadi seorang ibu. Viora melahirkan seorang bayi laki‑laki, sementara Viola dikaruniai bayi perempuan. Kehadiran dua malaikat kecil itu membuat keluarga besar William Anderlecht dipenuhi rasa syukur dan kehangatan.

Suasana tenang di mansion tiba-tiba terhenti saat suara bel menggema.

“Ting tong…”

Kepala pelayan segera bergegas membuka pintu dan kembali menemui Heron.

“Tuan, Tuan Bram Alexander dan Nyonya Riana datang. Mereka ingin bertemu Anda.”

Heron tersenyum ramah.

“Persilakan mereka masuk.”

Bram dan Riana melangkah masuk dengan ekspresi penuh antusias.

“Selamat datang, Bram,” sambut Heron.

“Terima kasih, besanku. Kami mendengar kabar bahagia itu, jadi langsung datang,” ujar Bram sambil tersenyum hangat.

“Kami ingin melihat cucu kami. Tidak apa-apa, kan?”

“Tentu saja. Ayo ikut saya,” jawab Heron.

Sesampainya di kamar bayi, Javi langsung bangkit menyambut ayah dan ibunya.

“Ayah, Ibu… sudah lama sampai?”

“Belum. Baru lima menit lalu,” jawab Bram sambil menepuk bahu putranya.

“Jadi, apa nama putrimu?”

“Veriska Alexander William Anderlecht,” ucap Javi bangga.

Bram mengangguk penuh makna.

“Nama yang cantik. Semoga dia tumbuh seperti ibunya. Tegas, kuat, dan berani.”

Javi tersenyum, penuh rasa syukur.

“Itu juga doa kami, Ayah.”

Setelah bercengkerama sebentar, Bram menoleh ke Heron dan berkata lembut,

“Heron, kalau Viola sudah sembuh nanti… bolehkah dia kembali tinggal bersama kami?”

Heron mengangguk tanpa ragu.

“Tentu saja. Viola juga keluarga kalian.”

Riana tersenyum lega.

“Kami sangat merindukan menantu kami. Sekarang ada cucu pula… rasanya lengkap sekali.”

Sementara itu, suasana berbeda tampak di kantor Liora di Amerika.

Liora tenggelam dalam pekerjaannya. Meja penuh berkas, seperti biasa. Di sampingnya, John duduk sambil sesekali membantu sama seperti saat ia masih menjadi asistennya dulu.

“Sayang, kalau capek istirahat dulu,” ucap John pelan.

Liora tetap menatap berkas.

“Sebentar lagi selesai, Mas.”

John mengangkat alis nakal.

“Mau aku pijat?”

Liora langsung menoleh tajam.

“Mas… jangan mulai.”

John tertawa kecil.

“Aku cuma menggoda istriku sendiri.”

“Sejak menikah, Mas makin usil,” gumam Liora.

John mendekat sedikit.

“Karena kamu canduku, Liora.”

Pipi Liora memerah. Tanpa peringatan, John mengecup bibirnya. Ciuman singkat namun penuh kehangatan, terlindung oleh ruangan kedap suara itu.

Setelah ciuman terlepas, John menatapnya dengan lembut.

“Kamu cinta pertama… dan terakhirku.”

Belum sempat ia melanjutkan, Liora tiba-tiba menangis.

“Hiks… Mas jangan bilang begitu… aku takut kehil—”

John langsung memeluknya erat.

“Maaf, sayang. Aku cuma ingin kamu tahu… aku mencintaimu. Sangat.”

Liora membenamkan wajah di dadanya, memeluk balik dengan keras—seolah tak ingin melepaskan.

“Setelah ini kita pulang ya,” bisik John.

“Iya… tapi nanti pijatin aku. Badanku pegal,” jawab Liora manja.

John tertawa pelan.

“Siap, Nyonya.”

Malam hari , mereka tiba di mansion Amerika, tempat tinggal mereka sejak Viora dan Viola pindah ke Italia. Liora dan John mengelola bisnis keluarga di Amerika, sementara Dirgantara mengurus perusahaan di Italia.

Heron kini lebih sering menghabiskan waktu bersama istrinya, cucu, dan cicit—menikmati hari-hari damai yang dulu jarang ia dapatkan.

“Ibu… aku lapar,” panggil Dirgantara.

Liora hendak berdiri, namun John menahan tangannya.

“Biar Mas saja. Kamu istirahat.”

Dirgantara menatap ayahnya dengan ekspresi jahil.

“Ayah mau masak?”

John memelototkan mata pura‑pura marah.

“Kamu meremehkan ayah?”

Dirgantara tertawa.

“Enggak… cuma nanya.”

Tak lama kemudian, John sudah sibuk di dapur. Aroma sop ayam hangat memenuhi ruangan.

“Sudah. Ayo makan,” kata John sambil menaruh mangkuk.

Dirgantara mencicipinya, lalu matanya membesar.

“Enak banget, Yah!”

John tersenyum puas.

“Dulu, waktu ibumu hamil kamu, ayah sering masak seperti ini.”

Ucapan itu membuat Dirgantara tiba-tiba diam. Matanya berkaca-kaca.

“Ayah…”

“Iya?”

“Aku bangga punya ayah seperti Ayah.”

John mengusap kepala putranya lembut.

“Ayah cuma melakukan kewajiban.”

Setelah hening sejenak, ia menambahkan dengan suara pelan namun pasti,

“Dan ingat… cinta ayah cuma untuk ibumu. Tidak akan berubah. Selamanya.”

Dirgantara mengangguk, tersenyum haru.

Di keluarga itu…

cinta bukan hanya sekadar ucapan.

Cinta mereka adalah sesuatu yang dijaga, dirawat, dan diberikan tanpa syarat hingga akhir kehidupan masing‑masing.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!