Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Memilih Jalan Kekuatan
Tak lama kemudian, Long Chen tiba di rumahnya. Pintu kayu yang sederhana itu terbuka perlahan saat ia mendorongnya, dan dari dalam, cahaya lampu minyak menyambut dengan hangat, kontras dengan gelapnya malam yang mulai turun di luar.
Ibunya sudah berdiri di dalam, menunggunya.
“Long Chen!” panggilnya dengan nada tegas, alisnya sedikit berkerut. “Bukankah Ibu sudah bilang jangan pulang terlalu sore?”
Long Chen langsung menunduk begitu mendengar teguran itu. Nafasnya masih sedikit tersengal setelah berlari, namun ia tidak berani membantah. “Maaf, Bu… aku tidak akan mengulanginya lagi,” jawabnya pelan, suaranya penuh penyesalan.
Ibunya menatapnya beberapa saat, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, namun pada akhirnya hanya menghela napas panjang. Ekspresinya perlahan melunak, kekhawatiran yang tadi terlihat kini berubah menjadi kelelahan seorang ibu yang hanya ingin anaknya baik-baik saja.
“Sudahlah,” katanya akhirnya dengan nada lebih lembut. “Cepat makan. Makanannya sudah hampir dingin.”
“Iya, Bu,” jawab Long Chen singkat.
Long Chen kembali ke kamarnya lebih dulu, meletakkan pedang kayu kesayangannya dengan hati-hati di sudut yang biasa ia gunakan, seolah benda sederhana itu tetap ia perlakukan seperti senjata berharga. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju dapur.
Ia mencuci tangannya dalam diam, lalu duduk di meja dan mulai makan seperti biasa. Gerakannya tenang, bahkan terlihat patuh, namun sorot matanya kosong, tidak benar-benar fokus pada makanan di hadapannya.
Pikirannya masih melayang.
Bukan hanya tentang kekalahan yang kembali ia rasakan di hadapan Xiao Yan, bukan hanya tentang ujung pedang yang sekali lagi berhenti di lehernya tanpa bisa ia hindari, tetapi juga tentang pria misterius yang ia temui di tikungan sempit tadi.
Tok tok tok, suara ketukan terdengar dari pintu depan, memecah keheningan malam yang baru saja turun. Dari dapur, ibunya yang masih sibuk mencuci segera berseru, “Long Chen, tolong bukakan pintu. Itu pasti ayahmu!”
Long Chen yang masih duduk di meja langsung tersadar dari lamunannya. Tanpa menunda, ia berdiri dan berlari menuju pintu, langkahnya cepat seolah ingin memastikan sendiri. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya.
Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi dengan tubuh yang sedikit berdebu, tanda perjalanan panjang yang baru saja ia tempuh. Wajahnya terlihat lelah, namun senyum hangat tetap menghiasi ekspresinya saat melihat siapa yang membukakan pintu.
“Ayah!”
Tanpa berpikir panjang, Long Chen langsung melompat memeluk pria itu, melupakan sejenak semua beban yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Ayahnya tertawa kecil dan membalas pelukan itu dengan hangat, tangannya menepuk punggung Long Chen dengan lembut seolah ingin menenangkan sekaligus melepas rindu setelah seharian pergi. Kehadiran sosok itu membawa rasa aman yang selama ini sudah begitu akrab bagi Long Chen.
Long Chen sedikit menjauh, lalu menatap ayahnya dengan mata berbinar, rasa penasarannya langsung muncul begitu melihat orang yang baru saja kembali dari luar desa. “Ayah, tadi Ibu bilang Ayah sampai keluar desa. Apa itu benar?” tanyanya cepat, hampir tanpa jeda.
Ayahnya mengangguk pelan, senyumnya masih tersisa meski terlihat sedikit lelah. “Ya, benar. Ada urusan penting yang harus Ayah selesaikan,” jawabnya singkat, nada suaranya tenang namun tidak menjelaskan lebih jauh.
Namun itu justru membuat rasa penasaran Long Chen semakin besar. Ia langsung melanjutkan dengan penuh antusias, “Di luar desa itu seperti apa sih? Aku belum pernah keluar sama sekali… apa benar lebih besar dari sini? Apa banyak orang kuat di sana?”
Pertanyaan itu keluar beruntun, mencerminkan rasa ingin tahu yang tidak bisa ia tahan.
Ayahnya terdiam sejenak.
Tatapannya melembut, lalu perlahan tangannya terangkat untuk mengusap kepala Long Chen dengan penuh kasih sayang. Ada sesuatu dalam matanya, seolah ia ingin mengatakan lebih banyak, namun memilih untuk menahannya.
“Nanti, kalau kau sudah cukup besar… kau akan mengerti,” ujarnya pelan.
Jawaban itu sederhana, namun menyimpan makna yang dalam, membuat Long Chen hanya bisa terdiam sejenak, meski di dalam hatinya, rasa ingin tahunya justru semakin tumbuh.
Tatapan ayahnya perlahan berubah, tidak lagi sekadar hangat, melainkan sedikit lebih serius, seolah kata-kata berikutnya bukan sesuatu yang ringan untuk diucapkan. “Dunia di luar sana… tidak seindah yang kau bayangkan,” ujarnya pelan, nadanya tenang namun mengandung peringatan yang samar.
Long Chen mengerutkan kening, kebingungan langsung muncul di wajahnya. “Apa maksudnya…?” tanyanya, suaranya penuh rasa ingin tahu sekaligus sedikit gelisah.
Ayahnya sempat terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan apakah ia harus menjelaskan lebih jauh. Namun pada akhirnya, ia hanya tersenyum kecil dan menggeleng pelan, memilih untuk tidak membuka pembicaraan itu sekarang.
“Nanti saja Ayah jelaskan,” katanya ringan, mencoba mengembalikan suasana seperti biasa. “Sekarang Ayah sudah lapar sekali.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati Long Chen dengan santai, meninggalkan anak itu berdiri di depan pintu.
Long Chen tidak langsung bergerak.
Ia hanya berdiri diam, menatap ke arah dalam rumah, namun pikirannya tidak lagi berada di sana. Kata-kata ayahnya perlahan bergaung di benaknya, bercampur dengan ingatan tentang pria misterius yang ia temui sebelumnya.
Malam akhirnya tiba, langit berubah gelap tanpa sisa cahaya, dan angin yang berhembus membawa hawa yang lebih dingin daripada sebelumnya, menyusup hingga ke dalam rumah-rumah sederhana di desa.
Di dalam kamarnya, Long Chen berbaring di atas tempat tidur dengan tubuh menghadap ke atas. Pedang kayu masih berada dalam genggamannya, seolah benda itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia pegang di tengah pikirannya yang terus berputar. Matanya menatap langit-langit tanpa berkedip, namun fokusnya tidak benar-benar berada di sana.
Pikirannya melayang jauh.
Bayangan kekalahan kembali muncul, jelas dan menusuk. Wajah Xiao Yan terlintas, diikuti oleh momen ketika pedang kayu itu kembali berhenti di lehernya tanpa bisa ia lawan. Lalu bayangan lain muncul, sosok pria misterius dengan suara tenang namun menekan, beserta kata-katanya yang terus berulang tanpa henti di dalam benaknya.
Jika kau ingin menjadi kuat…
Genggaman Long Chen pada pedang kayunya semakin erat.
Dadanya terasa sesak, bukan karena ketakutan, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mendorongnya untuk berubah. “Aku… tidak bisa terus seperti ini,” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar dalam keheningan malam.
Perlahan, tatapannya berubah.
Keraguan yang tadi masih tersisa mulai menghilang, digantikan oleh tekad yang semakin jelas dan menguat.
“Aku harus menjadi lebih kuat,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih pasti.
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun penuh keyakinan, “Dan aku harus mengalahkan Xiao Yan.”
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu untuk sesaat.
Namun di dalam keheningan tersebut, sebuah keputusan telah terbentuk.
Long Chen memejamkan matanya sejenak, lalu berbisik pelan, seolah hanya dirinya sendiri yang boleh mendengar.
“Aku akan menemui orang itu.”
Di pinggir sungai desa, berdiri sebuah bangunan tua yang hampir runtuh, tersembunyi di antara pepohonan dan bayangan malam. Kayunya telah lapuk dimakan waktu, dindingnya retak di sana-sini, sementara pintunya yang setengah terbuka berderit pelan setiap kali diterpa angin, menciptakan suara yang membuat suasana semakin mencekam. Tidak ada cahaya di sekitarnya, hanya kegelapan yang menyelimuti tempat itu, seolah bangunan tersebut telah lama dilupakan oleh dunia.
Di dalamnya, sosok pria itu berdiri dalam diam.
Ia menghadap ke arah desa yang tampak samar dari kejauhan, matanya tajam dan tak berkedip, seakan mampu melihat menembus jarak dan kegelapan. Wajahnya tetap tenang, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa.
“Dia pasti akan datang,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desiran angin malam.
Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya, penuh keyakinan dan perhitungan.
“Anak seperti itu… tidak akan menolak kekuatan.”
Perlahan, ia mengangkat tangannya.
Di atas telapak tangannya, sebuah bola hitam muncul dan melayang, berputar perlahan dengan aura gelap yang mengelilinginya. Energi itu tidak stabil, namun justru terasa hidup, berdenyut pelan seperti jantung yang berdetak di dalam kegelapan.
Udara di sekitarnya menjadi lebih berat.
“Anak itu....akan menjadi kunci untuk mencapai tujuanku,” lanjutnya dengan suara rendah, matanya sedikit menyipit saat menatap bola energi tersebut.
Bola hitam itu berdenyut semakin jelas, seolah merespons kata-katanya.
Angin malam berhembus lebih kencang, menerobos celah-celah bangunan tua itu dan membuat pintu berderit lebih keras dari sebelumnya.
End Chapter 4