NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Malam Demam & Peluk Hangat Sang Ayah

Malam itu, angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Hujan baru saja reda, menyisakan udara lembap yang menusuk tulang. Aku baru saja tertidur pulas setelah seharian menulis Bab 11, ketika terdengar suara rengekan kecil yang memecah keheningan.

“Yah… panas…”

Suara itu lirih, serak, dan penuh penderitaan. Aku langsung terbangun, jantungku berdegup kencang. Insting seorang ayah langsung bekerja lebih cepat daripada akal sehatku. Aku meraba tubuh mungil di sebelahku.

Astaga. Tubuh Balqis terasa seperti bara api.

“Balqis? Nak, bangun sebentar,” panggilku sambil menggoyangkan pundaknya pelan.

Balqis membuka matanya sedikit. Wajah mungilnya merah padam, keringat dingin membasahi dahinya, tapi bibirnya kering dan pecah-pecah. “Panas, Yah… sakit…” keluhnya lemah, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

Aku panik. Sebagai ayah tunggal yang juga penyintas stroke, situasi ini adalah mimpi burukku. Tanganku gemetar saat mencari termometer di laci meja samping kasur. Setelah beberapa kali menjatuhkannya karena jari-jariku yang kaku, akhirnya aku berhasil mendapatkannya.

39,2 derajat Celsius.

Demam tinggi. Sangat tinggi untuk anak berusia dua tahun.

Obat penurun panas? Stok di rumah habis. Apotek terdekat? Sudah tutup jam segini. Ojek online? Di luar hujan deras lagi, sulit dapat driver. Rasa takut mulai merayapi dadaku. Bagaimana jika kejang? Bagaimana jika makin parah? Aku hanya ayah lumpuh yang tidak bisa lari membawa anak ke klinik.

“Tenang, Rudini. Tenang,” bisikku pada diri sendiri, mencoba menahan air mata yang ingin tumpah. “Balqis butuh Ayah yang kuat, bukan Ayah yang panik.”

Aku mengambil handuk kecil, mencelupkannya ke ember air hangat yang sempat kusiapkan sebelumnya. Dengan tangan kanan yang masih kaku, aku berusaha memeras handuk itu. Butuh usaha ekstra, otot-ototku berteriak protes, tapi aku abaikan. Perlahan, aku menempelkan handuk hangat itu ke dahi, leher, dan ketiak Balqis.

“Sshh… Ayah di sini, Dek. Ayah kompres ya. Nanti dingin, enak lho,” bujukku lembut sambil membelai rambutnya yang basah oleh keringat.

Balqis merintih pelan, tubuhnya menggigil kedinginan meski demam. Ia mencari kehangatan. Dengan susah payah, aku memiringkan tubuhku, lalu menarik Balqis ke dalam pelukanku. Aku jadikan dadaku sebagai bantal hangatnya.

“Peluk Ayah… biar anget,” bisikku lagi.

Balqis meringkuk erat di dadaku. Napasnya masih tersengal-sengal, panas tubuhnya menembus baju tidurku, menghangatkan kulitku yang seringkali terasa dingin karena kurang gerak. Malam itu, peran kami seolah bertukar. Biasanya Balqis yang menghiburku saat aku sakit, kini akulah yang harus menjadi benteng baginya.

Satu jam berlalu. Dua jam. Aku tidak berani tidur. Aku terus memantau napasnya, terus mengganti handuk kompres setiap lima menit. Tangan kananku semakin nyeri, kakiku kesemutan karena posisi duduk yang terpaksa, tapi aku tidak bergeser sedikitpun. Jika aku bergerak, Balqis akan terbangun dan menangis.

“Yah… jangan pergi…” gumam Balqis dalam tidurnya yang gelisah.

“Ayah nggak akan pergi, Dek. Sampai Balqis sembuh, sampai Balqis besar, Ayah akan selalu di sini,” janjiku lirih, sambil mencium puncak kepalanya.

Di tengah malam yang sunyi itu, aku berdoa dengan sungguh-sungguh. Ya Tuhan, ambil saja sakitku ini, lipatgandakan jika perlu, tapi sembuhkanlah putri kecilku. Dia masih terlalu kecil untuk merasakan sakit seberat ini. Biarkan aku saja yang menanggung semua rasa tidak nyaman ini.

Perlahan, berkat kompres rutin dan pelukan hangat yang tak putus, napas Balqis mulai teratur. Keringat dingin di dahinya berkurang. Warna merah di wajahnya mulai memudar, digantikan warna pucat alami karena lelah. Suhu tubuhnya tampaknya mulai turun.

Jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi. Fajar segera tiba. Balqis akhirnya tertidur lelap, wajahnya terlihat lebih damai. Aku menghela napas panjang, rasa lelah yang luar biasa langsung menghantam tubuhku. Tapi di hati, ada rasa lega yang tak terkira.

Aku berhasil. Aku, ayah dengan tangan separuh lumpuh, berhasil melewati malam terberat ini sendirian bersama Balqis. Tidak ada perawat, tidak ada dokter, hanya ada doa seorang ayah dan cinta yang menolak menyerah.

Pagi harinya, matahari bersinar cerah seolah merayakan kemenangan kami. Balqis bangun dengan senyum lemah. “Yah, udah enakan,” katanya sambil menyentuh dahinya sendiri.

Aku tersenyum lebar, meski mataku panda karena kurang tidur. “Alhamdulillah. Balqis hebat sudah berjuang semalaman. Sekarang kita sarapan bubur hangat ya?”

Balqis mengangguk antusias. Saat saya menyuapkan bubur, ia tiba-tiba berkata, “Terima kasih, Yah. Tadi malam Ayah bagus sekali. Seperti superhero.”

Air mataku langsung tumpah lagi. Superhero? Aku? Seorang ayah lumpuh yang bahkan susah memeras handuk? Mungkin bagi dunia aku bukan siapa-siapa. Tapi bagi Balqis, aku adalah segalanya. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Saya harus menulis bab ini.

Saya harus abadikan malam di mana cinta mengalahkan keterbatasan fisik.

Supaya dunia tahu, bahwa ayah mana pun, dalam kondisi apa pun, akan selalu menemukan kekuatan super demi anaknya.

Satu bab lagi selesai.

Dua belas bab sudah terangkai.

Target 20 bab tinggal 8 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

Tuhan selalu mendengar doa ayah yang mencintai anaknya.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!