NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 : kode kode dalam bahasa Mandarin

Malam itu, di meja belajarku, dua dunia yang sangat berbeda tampak bertabrakan. Di sisi kiri, terbuka lebar text editor di laptop yang menampilkan deretan kode Python yang sedang kupelajari untuk mengolah database sederhana. Di sisi kanan, terhampar buku tebal HSK Level 1 Standard Course dengan huruf-huruf Mandarin yang bagiku tampak seperti coretan artistik yang tak terpecahkan.

Dua dunia ini terasa berat. Kepalaku serasa mau pecah. Menggabungkan logika pemrograman dengan hafalan karakter Mandarin adalah tantangan yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Aku menarik napas panjang, mencoba merilekskan otot-otot leher yang kaku. Di luar jendela, Jakarta sudah gelap, hanya menyisakan lampu jalanan dan suara bising samar kendaraan.

Tok, tok, tok.

Pintu kamarku terbuka perlahan. Kak Hazel masuk, membawa nampan berisi segelas cokelat hangat dan beberapa potong biskuit. Dia meletakkannya di sudut meja yang masih kosong.

"Lo beneran mau serius belajar Mandarin sampai begadang begini?" tanya Kak Hazel lembut, suaranya mengandung nada khawatir.

Aku menoleh, memaksakan senyum. "Iya, Kak. Aku baca di artikel teknologi kemarin, perusahaan-perusahaan besar di China sekarang jadi pusat inovasi dunia. Kalau aku mau dapet beasiswa IT di sana, selain nilai akademis yang oke, kemampuan bahasa itu syarat mutlak. Nggak bisa ditawar."

Kak Hazel duduk di tepi tempat tidur, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kebanggaan di sana, tapi juga ada secercah keraguan. "China itu jauh banget, Rea. Persaingannya pasti gila-gilaan. Lo yakin mau sejauh itu? Lo baru kelas 8 SMP, Rea. Jangan sampai ambisi lo bikin lo lupa caranya menikmati masa remaja."

Aku diam sejenak, memandangi karakter 你好 (nǐ hǎo) di bukuku. "Aku bukan mau menjauh, Kak. Aku cuma mau lihat dunia. Kalau aku cuma di sini terus, aku takut aku nggak bakal berkembang. Aku mau jadi developer yang punya perspektif internasional. Aku mau bisa bikin sesuatu yang dipake orang di berbagai negara, bukan cuma di satu kota."

Kak Hazel mengacak rambutku pelan. "Ya udah, gue dukung. Tapi ingat, kalau lo capek, istirahat. Jangan dipaksain kalau otak lo udah bilang stop."

Besoknya di sekolah, suasana kontras sekali dengan semangat belajarku. Siska, teman sebangkuku, sedang sibuk mengobrol tentang tren fashion dan rencana pergi ke mal akhir pekan ini.

"Rea, lo lagi apa sih? Dari tadi gue liat lo gumam-gumam sendiri sambil liat buku itu," Siska menyenggol lenganku.

Aku menoleh, baru sadar kalau aku sedang melatih pelafalan Pinyin. "Ah, sori Sis. Lagi belajar Mandarin. Rencananya mau coba ikut seleksi program beasiswa internasional nanti kalau udah SMA."

Siska tertegun sejenak, lalu tertawa kecil. "Serius? China? Itu kan susah banget syaratnya. Kenapa nggak cari yang di sini aja sih? Lebih santai."

Aku hanya tersenyum tipis. Dulu, mungkin aku akan merasa rendah diri atau merasa "aneh" karena punya tujuan yang berbeda dengan teman-teman sebayaku. Tapi sekarang, aku sudah punya tujuan yang jauh lebih besar. Aku menyadari bahwa tidak semua orang harus memahami jalan yang kupilih.

"Justru karena susah makanya menantang," jawabku santai.

Sore harinya, aku merasa perlu mencari pencerahan. Aku pergi ke kafe tempat Luq bekerja.

Cuaca sore itu agak mendung, pas sekali dengan suasana hatiku yang sedang butuh motivasi. Begitu masuk, aku melihat Luq sedang membersihkan meja pelanggan. Dia terlihat lelah, tapi saat melihatku datang, wajahnya langsung cerah.

Dia melepas apronnya setelah memastikan shift-nya selesai. Dia duduk di seberangku, menyisakan jarak aman. "Gimana? Sudah sampai mana belajarnya?" tanya Luq tanpa basa-basi.

Aku mengeluarkan buku HSK dan laptopku. "Kak, aku lagi kepikiran satu hal. Gimana kalau aku bikin program flashcard sendiri buat ngafalin kosa kata Mandarin ini? Jadi, setiap kali aku run kodenya, dia bakal keluarin kata acak, dan aku harus jawab artinya. Kalau bener, nilainya nambah."

Luq mengangkat alisnya, tampak terkesan. "Itu idenya bagus. Lo menggabungkan dua hal yang lo suka: coding dan Mandarin. Itu namanya active learning."

"Tapi aku mentok di logikanya, Kak. Gimana caranya biar kodenya bisa otomatis ngacak kata-kata dari daftar database yang aku bikin?"

Luq tersenyum, lalu menarik laptopku ke depannya. "Sini, gue kasih tau cara kerja randomizer di Python."

Selama dua jam berikutnya, kafe itu berubah menjadi ruang kelas privat. Luq menjelaskan logika pemrograman dengan sabar, sementara aku mencoba menulisnya sambil sesekali mengoceh dalam Mandarin. Kami tertawa saat aku salah menaruh titik koma (syntax error), dan bersorak kecil saat akhirnya program itu berhasil menampilkan kata mǎma (ibu) secara acak.

"Kamu ambisius ya, Rea," kata Luq tiba-tiba, menatapku serius setelah programku berjalan lancar. "Itu bagus. Tapi ingat, beasiswa itu nggak cuma soal nilai. Mereka cari orang yang punya grit—ketabahan. Kamu harus siap kalau nanti ada saatnya Kamu pengen nyerah. Mungkin bakal ada tugas yang bikin Kamu mau lempar laptop, atau hafalan Mandarin yang bikin kamu pengen nangis."

Aku menatap mata Luq. Dia bicara seolah dia sendiri sudah sering menelan kekecewaan, tapi tetap tegak berdiri. "Aku udah siap, Kak. Apalagi kalau ada Kak Luq yang bakal terus ngingetin aku buat nggak nyerah. Makasih ya, Kak. Makasih udah mau dengerin impianku yang mungkin kedengeran muluk-muluk ini."

Luq terdiam sejenak. Sorot matanya melembut. "Impian Kamu nggak muluk-muluk. Dunia butuh orang yang berani punya mimpi besar. Gue cuma berharap, saat Kamu sukses nanti, kamu tetap jadi Rea yang sekarang—yang mau belajar, mau berusaha, dan punya empati."

Malam itu, saat aku pulang diantar Kak Hazel, aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Perjalanan menuju beasiswa China itu bukan lagi sekadar impian abstrak di dalam kepalaku. Itu adalah proyek yang sedang kubangun, baris demi baris, kata demi kata.

Aku menatap lampu-lampu kota dari jendela mobil. Aku tahu jalannya masih panjang.

Akan ada malam-malam tanpa tidur, akan ada kegagalan, dan mungkin ada rasa sepi. Tapi aku tidak merasa takut lagi. Aku punya Kak Hazel yang menjagaku, aku punya Luq yang membimbingku, dan yang paling penting, aku punya alasan kuat kenapa aku melakukan semua ini.

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk di depan laptop. Aku membuka kembali script Python-ku, menambahkan satu modul baru untuk tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Aku tidak sedang belajar untuk besok, atau untuk ujian. Aku sedang menulis kode masa depanku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kode itu berjalan dengan sempurna.

Aku menulis satu baris komentar di bagian atas kodenya: # Project: Dream to China - Phase 1.

Aku menarik napas panjang, merasa lelah, tapi sangat puas. Hari ini adalah hari yang produktif. Besok, aku akan bangun, berangkat ke sekolah, dan mengulangi semuanya lagi. Karena aku tahu, keberhasilan tidak datang dari satu loncatan besar, melainkan dari ribuan langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten setiap hari. Dan aku sudah memulai langkah itu. Aku sudah siap.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!