NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PARADE KESUNYIAN

Pagi itu, Universitas Nusantara diselimuti mendung tipis, seolah langit tahu bahwa suasana hati sang "Ratu" sedang berada di titik nadir. Clarissa turun dari mobilnya dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk saraf-saraf di balik matanya.

"Clar! Lo lihat postingan Lambe Kampus semalam?" Manda berlari kecil menghampirinya, menyodorkan ponsel. "Si Maya itu posting foto bukunya yang basah. Dia dapet simpati banyak orang, dan sekarang orang-orang mulai spill kelakuan lo yang lama."

Clarissa melirik layar ponsel itu sekilas. Di sana, ratusan komentar menghujatnya. 'Psikopat cantik', 'Gak punya hati', 'Semoga kena karmanya'.

Clarissa tertawa, tawa yang terdengar sangat garing di telinganya sendiri. "Karma? Mereka pikir dunia ini dongeng?" ia melangkah angkuh, mencoba mengabaikan rasa lemas di lututnya. "Biarin aja. Makin mereka benci, makin terkenal gue, kan?"

"Tapi Adrian ikutan komen, Clar," bisik Febby ragu-ragu.

Langkah Clarissa terhenti. Ia merebut ponsel Manda. Di sana, Adrian menulis: 'Beberapa orang memang nggak pernah belajar cara jadi manusia.'

Dada Clarissa sesak. Bukan karena kata-kata itu salah, tapi karena Adrian satu-satunya alasan ia masih ingin bangun pagi dan berdandan cantik adalah orang yang paling jijik padanya. Clarissa mengembalikan ponsel itu dengan kasar.

"Gue mau ke kantin. Pesankan gue salad, tapi jangan pakai dressing. Gue lagi nggak nafsu makan," perintahnya dingin.

Di kelas Kimia Klinik, Clarissa duduk paling belakang. Ia sengaja memakai jaket kulit meskipun udara sedang gerah. Ia kedinginan. Tubuhnya menggigil secara konstan, sebuah gejala yang ia tahu adalah bagian dari sel-sel darah putihnya yang sedang mengamuk menyerang tubuhnya sendiri.

Dari kejauhan, ia melihat Bastian. Kakak kembarnya itu duduk di barisan depan, tertawa bersama teman-temannya. Bastian adalah segalanya yang bukan Clarissa: pintar, disukai dosen, dan memiliki lingkaran pertemanan yang sehat.

Sejenak, mata mereka beradu. Clarissa mencoba memberikan tatapan menantang seperti biasanya, namun Bastian justru membuang muka dengan ekspresi jijik yang sangat nyata. Hati Clarissa mencelos. Ia ingin berteriak, *'Bas, gue sakit! Gue mau mati!'*, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

Tiba-tiba, rasa mual yang hebat menyerangnya. Clarissa menutup mulutnya dengan tangan, berlari keluar kelas bahkan sebelum dosen masuk.

Ia masuk ke bilik toilet terdekat dan memuntahkan cairan kuning pahit. Tubuhnya bergetar hebat. Saat ia menyiram wastafel, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sangat pucat, bahkan *blush on* mahal yang ia pakai tak mampu lagi menyembunyikan warna abu-abu di kulitnya.

"Lo harus bertahan, Clar. Sedikit lagi. Jangan sampai mereka lihat lo hancur," bisiknya pada diri sendiri.

Saat hendak kembali ke kelas, Clarissa berpapasan dengan Adrian di koridor yang sepi menuju perpustakaan. Cowok itu tampak ingin menghindar, namun Clarissa dengan sengaja menghalangi jalannya.

"Cie, yang sekarang jadi pahlawan kesiangan buat anak beasiswa," ejek Clarissa dengan nada centil yang dipaksakan.

Adrian berhenti, menatap Clarissa dengan tatapan yang sangat lelah. "Clar, apa sih yang lo cari? Uang lo punya, wajah lo cantik. Kenapa lo harus jadi jahat banget? Apa menghancurkan orang lain bikin lo merasa hidup?"

"Iya! Itu bikin gue merasa punya kuasa!" Clarissa berteriak, suaranya serak. "Karena di rumah ini, di dunia ini, nggak ada yang dengerin gue kalau gue nggak teriak!"

"Lo cuma cari perhatian dengan cara yang salah," Adrian menggeleng. "Gue kasihan sama lo, Clar. Lo punya segalanya, tapi lo sendirian."

Kata 'kasihan' itu seperti tamparan bagi Clarissa. Ia mendekat, hendak menyiramkan air mineral yang ia bawa ke wajah Adrian, namun tangannya mendadak mati rasa. Botol itu jatuh ke lantai sebelum ia sempat melakukannya.

Clarissa terhuyung. Pandangannya menggelap selama beberapa detik.

"Clar?" Adrian refleks memegang bahunya agar Clarissa tidak jatuh. "Lo kenapa? Muka lo pucat banget."

Untuk sesaat, Clarissa ingin luruh di pelukan Adrian. Ingin menceritakan semuanya. Namun ego dan ketakutannya jauh lebih besar. Ia menepis tangan Adrian dengan kasar.

"Jangan sentuh gue! Tangan lo kotor habis pegang-pegang si kutu buku itu!" Clarissa memaksakan diri untuk berdiri tegak, meski kepalanya terasa seperti dihantam palu godam.

Ia berbalik dan berjalan pergi secepat mungkin. Ia tidak ingin Adrian melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa sang Ratu sedang sekarat.

Clarissa sampai di rumah saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Rumah itu masih sama sepi seperti kuburan. Ayahnya sudah berangkat ke Singapura, dan Bastian kemungkinan besar sedang berada di apartemen temannya.

Ia masuk ke kamar, tidak sanggup lagi mengganti baju. Ia langsung ambruk di atas tempat tidur. Rasa sakit di tulang-tulangnya malam ini jauh lebih parah. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang mematahkan tulang sumsumnya secara perlahan.

Ia meraih laci mejanya, mengambil botol obat penghilang rasa sakit yang ia beli secara ilegal melalui internet karena ia takut pergi ke apotek dengan resep dokter asli. Ia menelan dua butir sekaligus.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Papa" muncul di layar. Dengan harapan kecil di hatinya, Clarissa mengangkat telepon itu.

"Halo, Pa?"

"Clarissa, Papa baru cek tagihan kartu kredit kamu. Kenapa ada biaya rumah sakit bulan lalu? Kamu beli skincare di apotek rumah sakit lagi?" suara ayahnya terdengar marah, bukan khawatir.

Clarissa terdiam. Lidahnya kelu. "Itu... itu cuma pemeriksaan rutin, Pa."

"Jangan boros. Papa kerja capek-capek bukan buat kamu foya-foya nggak jelas. Sudah ya, Papa ada meeting."

Klik. Sambungan terputus.

Clarissa melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak. Ia tertawa histeris, tawa yang berubah menjadi isakan hebat. Di tengah tangisnya, ia merasa tenggorokannya gatal. Ia terbatuk keras, dan saat ia melepaskan tangan dari mulutnya, telapak tangannya penuh dengan darah kental.

"Sakit... Tuhan, ini sakit banget..." rintihnya.

Ia merangkak menuju cermin besar di kamarnya. Ia menghapus riasan wajahnya dengan kasar menggunakan tisu, memperlihatkan wajah aslinya yang kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata dan kulit yang mulai kekuningan.

Inilah Clarissa yang sebenarnya. Bukan sang Ratu, melainkan gadis kecil yang sedang sekarat dan tidak diinginkan oleh siapa pun.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan kasar.

"Clar! Buka pintunya! Lo berisik banget sih!" suara Bastian terdengar dari luar.

Clarissa panik. Ia segera membersihkan darah di tangannya dengan selimut, lalu menutupi wajahnya dengan bantal. "Pergi, Bas! Gue mau tidur!"

"Dasar aneh. Mati aja sekalian kalau kerjaan lo cuma bikin rusuh!" teriak Bastian sebelum langkah kakinya menjauh.

Clarissa memejamkan mata erat-erat. Air mata membasahi bantalnya. Kalimat Bastian barusan terasa seperti doa yang sebentar lagi akan dikabulkan oleh semesta.

Mati aja sekalian.

"Bentar lagi, Bas," bisik Clarissa dalam kegelapan. "Bentar lagi keinginan lo bakal terkabul."

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!