Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — WANITA YANG KEMBALI ITU BUKAN AKU YANG DULU
Lima tahun kemudian.
“Ma’am, kita sudah sampai.”
Suara sopir itu pelan, tapi cukup untuk menarikku kembali ke dunia nyata.
Aku membuka mata perlahan.
Kaca mobil yang gelap memantulkan bayanganku—wanita dengan tatapan dingin, riasan sempurna, dan aura yang tidak lagi mudah disentuh.
Bukan Alena yang dulu.
Bukan wanita yang berdiri di bawah hujan dengan koper kecil dan hati yang hancur.
Wanita itu… sudah mati.
Aku menarik napas dalam, lalu menoleh ke luar jendela.
Gedung itu berdiri tinggi di hadapanku—megah, dingin, dan penuh kekuasaan.
Arkavera Group.
Nama yang terlalu familiar.
Nama yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku.
Dan hari ini… akan kembali menjadi medan perangku.
“Buka pintunya.”
Sopir segera turun dan membukakan pintu untukku.
Begitu kakiku menginjak lantai marmer di depan gedung itu, beberapa orang langsung menoleh.
Tatapan mereka… penuh rasa ingin tahu.
Siapa aku?
Kenapa aku datang?
Aku tersenyum tipis.
Tenang.
Mereka akan tahu… sebentar lagi.
Lobi yang Tidak Pernah Berubah
Langkahku mantap memasuki lobi.
Aroma khas gedung ini langsung menyambutku—perpaduan antara parfum mahal dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.
Tidak banyak yang berubah.
Masih sama seperti lima tahun lalu.
Hanya saja… aku yang berbeda.
“Hei, maaf—Anda ada janji?” tanya resepsionis, menghentikanku dengan sopan.
Aku menoleh pelan.
Tatapanku membuat senyumnya sedikit kaku.
“Ada,” jawabku singkat.
“Dengan siapa, Ma’am?”
Aku melepas kacamata hitamku perlahan.
Menatapnya lurus.
“Pemiliknya.”
Dia terlihat bingung.
“Maaf, maksud Anda—”
“Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan,” potongku datar.
“Katakan saja pada Arkan bahwa seseorang yang dia kenal… sudah kembali.”
Nama itu.
Setelah lima tahun, akhirnya keluar lagi dari bibirku.
Dan anehnya… tidak ada rasa sakit.
Hanya dingin.
Resepsionis itu tampak ragu,
tapi akhirnya mengangguk.
“Baik, mohon tunggu sebentar.”
Aku tidak duduk.
Aku berdiri.
Menunggu.
Dengan sabar.
Seperti yang sudah kulakukan selama lima tahun terakhir.
Langkah yang Menggema
Beberapa menit kemudian, suasana di lobi berubah.
Beberapa staf tiba-tiba berdiri lebih tegak.
Bisik-bisik mulai terdengar.
Dan aku tahu…
Dia datang.
Langkah itu—tenang, tegas, dan penuh kendali.
Aku mengenalnya.
Bahkan tanpa melihat.
Aku tidak langsung menoleh.
Aku ingin… dia yang melihatku duluan.
Dan benar saja—
Langkahnya berhenti.
Tepat di belakangku.
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa panjang.
Lalu…
“Alena?”
Suara itu.
Masih sama.
Dalam.
Dingin.
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun… sedikit tidak percaya.
Aku menutup mata sebentar.
Lalu berbalik perlahan.
Dan di sanalah dia.
Arkan.
Tidak banyak berubah.
Masih sama tampannya.
Masih sama dinginnya.
Masih sama… menyebalkannya.
Tapi ada satu hal yang berbeda.
Tatapannya.
Dia menatapku seperti melihat hantu.
Atau mungkin… seseorang yang seharusnya tidak kembali.
Aku tersenyum tipis.
“Lama tidak bertemu.”
Tatapan yang Tidak Sama Lagi
Dia tidak langsung bicara.
Matanya menelusuri wajahku, seolah mencoba memastikan bahwa ini benar-benar aku.
Atau mungkin… mencari sisa-sisa Alena yang dulu.
Sayangnya…
Dia tidak akan menemukannya.
“Kamu…” dia akhirnya bersuara. “Masih hidup.”
Aku hampir tertawa.
“Hanya itu yang kamu pikirkan setelah lima tahun?” jawabku santai. “Sedikit mengecewakan.”
Alisnya sedikit berkerut.
“Aku dengar kamu—”
“Mati?” aku menyambung dengan ringan.
“Iya, banyak yang berharap begitu.”
Aku melangkah mendekat.
Pelan.
Terukur.
Sekarang jarak kami hanya beberapa langkah.
Cukup dekat untuk melihat perubahan kecil di wajahnya.
Cukup dekat untuk membuatnya tidak nyaman.
“Tapi sayangnya,” lanjutku pelan, “aku tidak semudah itu hilang.”
Sunyi.
Orang-orang di sekitar kami jelas pura-pura sibuk, tapi aku tahu mereka mendengarkan.
Dan aku tidak peduli.
Justru ini yang aku mau.
Biarkan semua orang melihat.
Bahwa aku sudah kembali.
Permainan Dimulai
“Apa tujuanmu ke sini?” tanyanya akhirnya.
Langsung ke inti.
Seperti biasa.
Aku tersenyum.
“Aku rindu tempat ini.”
“Jangan bercanda.”
“Siapa bilang aku bercanda?”
Aku mengangkat bahu santai, lalu berjalan melewatinya tanpa izin.
Menuju lift.
Dia langsung menyusul.
“Alena, berhenti.”
Aku menekan tombol lift.
Pintu terbuka.
Aku masuk.
Dan sebelum pintu tertutup, aku menatapnya lagi.
“Kalau kamu ingin tahu tujuanku…” kataku pelan, “ikut aku.”
Pintu tertutup.
Meninggalkan dia di luar.
Tapi aku tahu…
Dia akan ikut.
Dan benar saja—
Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka lagi di lantai atas.
Dan dia sudah ada di sana.
Menungguku.
Ruangan yang Pernah Menjadi Milikku
Aku melangkah keluar dari lift.
Koridor ini…
Penuh kenangan.
Dan sebagian besar… tidak menyenangkan.
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” katanya, berjalan di sampingku.
Aku berhenti di depan sebuah pintu.
Ruangan itu.
Dulu… aku sering masuk ke sana.
Sebagai istri pemiliknya.
Sekarang?
Aku membuka pintu itu tanpa izin.
Masuk begitu saja.
Ruangan itu masih sama.
Meja besar.
Kursi kulit.
Jendela lebar yang menghadap kota.
Aku berjalan santai ke dalam.
Menyentuh meja itu pelan.
“Bagus,” gumamku. “Kamu tidak banyak mengubahnya.”
“Ini ruanganku,” katanya dingin.
Aku menoleh.
“Dulu juga.”
Dia terdiam.
Aku bisa melihat rahangnya mengeras.
Ah… jadi dia masih bisa bereaksi.
Menarik.
Kartu yang Mengubah Segalanya
Aku membuka tas kecilku.
Mengambil sebuah map.
Dan meletakkannya di atas meja.
“Tanda tangani ini.”
Dia menatap map itu.
Tidak langsung menyentuhnya.
“Apa ini?”
“Apa menurutmu?”
Dia akhirnya mengambilnya.
Membuka.
Dan saat matanya membaca isi di dalamnya…
Ekspresinya berubah.
Untuk pertama kalinya…
Benar-benar berubah.
“Ini tidak masuk akal.”
Aku tersenyum tipis.
“Oh, ini baru permulaan.”
Dia menatapku tajam.
“Kamu membeli saham Arkavera?”
“Bukan ‘membeli’,” koreksiku santai. “Menguasai sebagian.”
Dia menutup map itu dengan keras.
“Mustahil.”
“Aku suka kalau kamu meremehkanku,” jawabku pelan.
“Itu membuat semuanya jadi lebih mudah.”
Sunyi.
Tegang.
“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya.
Akhirnya.
Pertanyaan yang tepat.
Aku melangkah mendekat.
Berhenti tepat di depannya.
Menatapnya lurus.
“Bukankah sudah jelas?”
Suaraku turun.
Lebih pelan.
Lebih tajam.
“Aku kembali…”
Aku tersenyum.
Tapi tidak ada kehangatan di sana.
“Bukan untuk mencintaimu lagi, Arkan.”
Jeda.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“Tapi untuk menghancurkanmu.”
Reaksi yang Tidak Terduga
Aku menunggu.
Biasanya, orang akan marah.
Atau tertawa.
Atau menganggapku gila.
Tapi Arkan?
Dia hanya menatapku.
Lama.
Dalam.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa dia pahami.
“Kamu berubah,” katanya akhirnya.
Aku mengangkat alis.
“Hanya itu?”
“Aku tidak mengenalmu lagi.”
Aku tersenyum.
“Bagus.”
Aku mundur satu langkah.
“Karena aku juga tidak ingin kamu mengenalku.”
Aku berbalik.
Bersiap pergi.
“Ini belum selesai, Alena.”
Aku berhenti.
Tanpa menoleh.
“Tenang saja,” jawabku santai. “Ini bahkan belum benar-benar dimulai.”
Langkah Pertama Balas Dendam
Aku keluar dari ruangan itu dengan tenang.
Tapi begitu pintu tertutup—
Senyumku perlahan memudar.
Bukan karena ragu.
Tapi karena…
Ini nyata.
Aku benar-benar kembali.
Dan aku benar-benar baru saja berdiri di depan pria yang dulu menghancurkanku.
Tanganku sedikit gemetar.
Hanya sebentar.
Lalu aku mengepalkannya.
Kuat.
“Fokus, Alena…”
Aku berbisik pada diri sendiri.
“Kamu sudah sampai sejauh ini.”
Tidak ada jalan kembali.
Seseorang dari Masa Lalu
“Alena…?”
Suara itu membuatku berhenti.
Aku menoleh.
Dan melihat seseorang berdiri di ujung koridor.
Wajah yang tidak asing.
Seseorang yang dulu…
Sangat dekat denganku.
“Rina,” gumamku.
Dia menatapku dengan mata melebar.
“Kamu… benar-benar kamu?”
Aku tersenyum tipis.
“Masih hidup, seperti yang kamu lihat.”
Dia langsung mendekat.
Masih tidak percaya.
“Kami semua pikir kamu—”
“Sudah mati?” aku memotong santai. “Iya, aku tahu.”
Sunyi sejenak.
Lalu dia menatapku lebih dalam.
“Kamu kembali… untuk dia?”
Aku terdiam.
Lalu tersenyum.
Pelan.
Berbahaya.
“Bukan.”
Aku menatap lurus ke depan.
Ke arah ruangan Arkan.
“Aku kembali… untuk menghancurkan semuanya.”
Dan di hari itu—
Di gedung yang sama tempat aku pernah dihancurkan—
Aku mengambil langkah pertama…
Untuk memastikan bahwa kali ini…
akulah yang akan berdiri terakhir.