“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2.Mata yang baru.
Dingin. Itu hal pertama yang dirasakan telapak kakinya saat menyentuh lantai kayu yang dingin. Luna—atau yang kini harus ia sadari sebagai Luna ria—turun perlahan dari ranjang besar itu. Kakinya terasa gemetar bukan karena takut, melainkan karena otot-otot tubuh ini masih kaku dan lemah setelah tenggelam di danau.
Ia berjalan tertatih menuju balkon kamar yang terbuka lebar. Angin malam berhembus kencang, menerpa wajahnya dan menerbangkan helai-helai rambut panjangnya. Namun, Luna tidak peduli dengan dinginnya udara malam itu. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Apa... apa ini?" bisiknya tak percaya.
Di hadapannya terbentang pemandangan yang tidak masuk akal, tidak logis, dan sama sekali tidak mirip dengan kota Budapest atau tempat manapun di Hongaria tahun 1990 yang ia kenal.
Kota itu melayang.
Bangunan-bangunan tinggi menjulang hingga ke awan, namun bukan hanya berdiri di tanah, beberapa bagian dari kota itu tampak melayang di udara, terhubung oleh jembatan-jembatan bercahaya yang terbuat dari kristal dan cahaya. Sungai-sungai mengalir di mana airnya berpendar seperti mengandung ribuan bintang. Di langit, bukan hanya bulan dan matahari yang terlihat, tapi juga orbit-orbit energi magis yang berputar indah.
Cahaya-cahaya itu berkelap-kelip, bergerak hidup, seolah kota itu sendiri adalah makhluk hidup yang bernapas.
"Ini... negeri dongeng..." gumam Luna, matanya yang kini berwarna biru pekat memancarkan kekaguman yang luar biasa. Selama hidupnya di Hongaria, ia hanya melihat gedung beton, lampu jalan yang kadang berkedip, dan danau yang gelap. Tapi ini? Ini indah hingga menyakitkan mata. Seperti mimpi yang terlalu nyata untuk dianggap palsu.
“Apa aku ada di surga? Ini seperti mimpi!. ”gumamnya.
Untuk menyadarkan dirinya, Luna mencubit tangannya cukup keras.
“Aw.. Sakit. Jadi aku masih hidup, tapi ini dimana?. ”gumamnya.
Namun kekaguman itu hilang sesaat,dimana di balik keindahan yang memukau itu, Luna bisa merasakan kesunyian yang mencekam di tempat ia berdiri sekarang. Villa tua ini seperti titik hitam di ujung peta yang indah itu. Terpisah, terasing, dan terlupakan.
"Menakjubkan..." ucap Luna lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah. "Jadi, aku benar-benar pindah ke dunia lain. tapi aku hidup kembali ke tubuh tuannya."
“Nona, sebaiknya beristirahat. Biar besok dokter memeriksa nona. ”
Luna tidak menjawab hanya mengangguk, dan Ivy memapah Luna ke tempat tidurnya.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Tubuh Luna ria pulih dengan cepat, namun kesadaran yang ada di dalamnya tidak pernah berhenti bekerja. Luna memutuskan untuk bermain peran. Ia tahu, jika ia mengatakan bahwa ia adalah orang lain yang datang dari dunia berbeda, ia mungkin akan dianggap gila atau malah ditangkap sebagai penyihir jahat.
Maka, ia memilih alibi yang paling aman: Amnesia.
"Nona, cobalah makan sedikit saja. Tubuh Nona butuh tenaga," kata Ivy lembut sambil menyuapkan bubur hangat ke hadapan tuannya.
Luna menatap gadis pelayan itu. Ivy terlihat muda, mungkin seusianya, namun wajahnya selalu terlihat cemas dan penuh ketakutan. Tapi Luna bisa melihat ketulusan di mata cokelat itu. Gadis ini adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh tubuh yang ia tempati sekarang.
"Ivy..." Luna memanggil dengan suara lembut namun tegas, berbeda dengan Luna ria asli yang selalu bergetar. "Aku... aku benar-benar tidak ingat apa-apa. Saat aku tenggelam, rasanya dunia menjadi gelap total. Dan saat aku bangun... kepalaku kosong."
Ivy langsung meneteskan air mata, ia meletakkan mangkuk dan menggenggam tangan tuannya. "Tidak apa-apa. Ivy mengerti. Dokter bilang kejutan hebat bisa membuat ingatan hilang. Ivy akan bantu Nona ingat pelan-pelan. Ivy akan cerita semuanya."
"Ceritakan padaku... siapa aku sebenarnya? Kenapa kita tinggal di tempat sepi ini? Di mana keluargaku?" tanya Luna bertubi-tubi, matanya menatap tajam menuntut jawaban.
Ivy menarik napas panjang, wajahnya terlihat sedih dan ragu. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang besar namun kosong itu, lalu mulai bercerita dengan suara pelan namun jelas.
"Nona bernama lengkap Luna ria Star born. Nona adalah putri dari keluarga bangsawan terbesar di Avalon, Keluarga Star born. Nona lahir bersama saudara kembar Nona, Nona Lae ria Star born."
"Kembar?" tanya Luna terkejut.
"Iya, Nona. Dua orang yang wajahnya hampir sama, tapi nasibnya sangat berbeda." Ivy menunduk, jarinya memelintir ujung kain celemeknya. "Saat Nona dan Nona Lae ria lahir, terjadi fenomena langit yang sangat langka di Avalon. Dua bintang besar bertabrakan di langit malam itu. Bintang Keberuntungan dan Bintang Kesialan."
Luna menyimak dengan seksama.
"Para peramal dan tetua keluarga berkata... Nona Lae ria dinaungi oleh Bintang Keberuntungan. Sejak bayi, sihirnya mengalir deras, cahayanya terang, dianggap sebagai permata keluarga, kebanggaan klan Star born. Tapi Nona..." Ivy berhenti sejenak, takut menyakiti hati tuannya.
"Tapi aku dinaungi bintang kesialan, bukan?" potong Luna dingin.
Ivy mengangguk pelan. "Benar, Nona. Para tetua bilang Nona membawa sial. Dan yang membuat mereka semakin membenci Nona... Nona terlahir tanpa sihir. Di Avalon, sihir adalah napas. Tapi Nona... Nona seperti ruang hampa. Tidak ada cahaya, tidak ada elemen. Mereka menyebut Nona... 'Cacat'."
Hati Luna tersentil. Ia bisa membayangkan betapa beratnya hidup Luna ria yang asli. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, ia lahir tanpa apa-apa.
"Karena itu... Kakek Nona, kepala keluarga Star born, mengambil keputusan. Ia tidak mau 'aib' ini mengotori rumah utama dan mempengaruhi keberuntungan Lae ria. Jadi, saat Nona masih bayi, Nona dikirim ke sini. Ke Villa Star born yang terpencil ini. Dibuang. Dilupakan."
Luna mengepalkan tangannya di bawah selimut. Darahnya mendidih.Bagaimana bisa sebuah keluarga sekejam itu? Membuang anak mereka sendiri hanya karena ramalan dan karena ia tidak memiliki kekuatan?
"Lalu... bagaimana dengan ibuku? Ayahku?" tanya Luna.
"Tuan Muda dan Nyonya Helen... mereka hanya datang beberapa kali saat Nona masih kecil. Lama-kelamaan mereka juga tidak pernah datang lagi. Mereka lebih memilih menemani Nona Lae ria di ibu kota, menikmati kemewahan dan pujian. Nona Luna ria... tidak pernah ada dalam catatan keluarga mereka yang penting."
Air mata Luna tidak keluar. Ia bukan tipe wanita yang mudah menangis karena kasihan pada nasib sendiri. Ia hanya merasa marah. Marah pada ketidakadilan ini.
"Terus kamu? Siapa kamu?"
"Aku Ivy, Nona. Ibuku adalah pengasuh Nona dulu. Tapi beliau sudah meninggal saat Nona berusia 10 tahun. Sebelum meninggal, Ibu berpesan padaku untuk menjaga Nona sampai kapanpun. Jadi sejak saat itu, hanya ada aku dan Nona di villa besar ini. Aku yang memasak, aku yang membersihkan, dan aku yang melindungi Nona sekuat tenaga."
Luna menatap Ivy dalam-dalam.Gadis ini setia. Sangat setia. Di dunia yang kejam ini, setidaknya Luna ria memiliki satu hal yang berharga, yaitu kesetiaan Ivy.
"Jadi... selama bertahun-tahun, aku hidup sendirian di sini? Tanpa teman, tanpa keluarga, hanya dihina dan dianggap sampah?" tanya Luna memastikan.
"Iya, Nona. Maafkan Ivy... Ivy tidak kuat melindungi Nona dari ejekan orang-orang. Nona Luna ria... dia sangat baik, sangat lembut, dan sangat penakut. Setiap kali ada yang menghina, dia hanya bisa menangis dan bersembunyi."
Luna tersenyum miring. Senyum yang tidak sedap dipandang, senyum seorang pejuang.
"Begitu ya..." gumamnya pelan. "Mereka membuangku, menganggapku sampah, menganggapku sial... Dan sekarang, tubuh ini dihuni oleh aku, Luna dari Hongaria. Aku tidak tahu apa rencana Tuhan, tapi satu hal yang pasti..."
Luna menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Wajah itu cantik, pucat, dengan mata biru pekat yang kini memancarkan api semangat.
"Mereka pikir mereka membuang barang rusak. Tapi mereka tidak tahu... bahwa barang rusak itu sekarang diisi oleh jiwa yang tidak mudah dihancurkan. Aku bukan Luna ria yang cengeng dan penakut itu lagi."
KILAS BALIK.
Dua puluh tahun yang lalu...
Di sayap timur Rumah Utama Star born yang megah, suasana mencekam. Nyonya Helen, istri dari pewaris utama keluarga, sedang berjuang melahirkan. Tidak seperti kelahiran biasa yang dikelilingi cahaya sukacita, malam itu langit di atas Avalon terlihat aneh.
Dua bintang raksasa tampak berhadapan di langit. Satu bersinar terang keemasan, yang lain tampak gelap pekat dengan aura ungu suram. Mereka berputar, seolah sedang berperang.
"Nyonyaaa! Dua kepala! Dua bayi, Nyonya!" teriak bidan.
Tangis bayi pertama pecah. Suaranya lantang, penuh semangat. Saat bayi itu diangkat, seluruh ruangan tiba-tiba bersinar terang. Bunga-bunga di vas mekar seketika, cahaya emas mengelilingi tubuh bayi mungil itu.
"Itu Bintang Keberuntungan! Itu tanda kebesaran!" sorak para pelayan. "Putri ini akan membawa kejayaan bagi Star born!"
Nyonya Helen tersenyum lelah namun bahagia melihat anak pertamanya. "Cantiknya... namanya Lae ria..."
Namun, belum sempat kebahagiaan itu merata, tangis bayi kedua terdengar. Tangisnya lemah, hampir tak terdengar.
Saat bayi kedua diangkat, keajaiban tidak terjadi. Tidak ada cahaya, tidak ada bunga mekar. Justru lampu-lampu kristal di ruangan itu berkedip lalu mati total. Suhu ruangan mendadak turun drastis.
Bayi itu diam, matanya terpejam, tidak memancarkan aura sedikitpun.
Kepala Keluarga Star born,kakek Luna ria, masuk ke ruangan dengan wajah murka. Ia melihat ramalan di bola kristalnya lalu menatap bayi kedua itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Cukup!" bentak kakek. "Anak ini membawa Bintang Kesialan! Dia kosong! Dia tidak memiliki inti sihir! Dia adalah kutukan bagi keluarga kita!"
"Ayah! Itu juga cucu Ayah!" protes Helen lemah.
"Dia bukan cucuku! Jika dia tetap di sini, Lae ria akan ikut tertular nasib buruknya! Keluarga kita akan hancur!" Kakek menunjuk bayi itu dengan tangan gemetar. "Bawa dia pergi! Segera! Buang dia ke Villa Utara! Biarkan dia mati di sana atau hidup sebagai orang tak berguna, yang penting jangan pernah biarkan dia menginjakkan kaki di sini lagi!"
Nyonya Helen menangis tersedu-sedu, namun ia tak berdaya. Kekuasaan tertinggi ada di tangan ayah suaminya. Dengan berat hati, bayi mungil yang bernama Luna ria itu dibungkus kain tipis, dibawa pergi dari kemewahan istana, menuju villa tua yang lembab dan sunyi di ujung wilayah.
Sejak hari itu, nama Luna ria dihapus hampir seluruhnya dari silsilah keluarga. Hanya ada Lae ria, sang bintang yang bersinar. Sementara Luna ria... hanya menjadi bayangan yang dilupakan sejarah, tumbuh besar dalam kesepian, dididik oleh ibu Ivy, lalu setelah ibu Ivy meninggal, dilanjutkan oleh Ivy kecil yang berjanji setia.
KEMBALI KE MASA KINI.
Luna menghela napas panjang, menutup mata sambil menempelkan punggungnya ke tiang balkon. Angin malam membelai wajahnya. Semua cerita itu kini menjadi miliknya. Rasa sakit itu, rasa hina itu, kini ia yang menanggungnya.
"Jadi mereka membuangmu karena dianggap sial, Luna ria..." bisik Luna pada dirinya sendiri. "Mereka mengira kau tidak berguna. Mereka mengira kau lemah."
Luna membuka matanya, dan di sana terpancar tekad baja yang kuat.
"Tapi mereka salah. Hidup di jalanan dan bertahan hidup di tahun 90-an mengajarkanku satu hal: Selama masih bernapas, tidak ada kata kalah."
Luna tersenyum menatap kota Avalon yang megah di kejauhan.
"Keluarga Star born... kalian membuang putri kalian, tapi kalian tidak tahu bahwa kalian justru mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk egomu sendiri. Aku tidak punya sihir? Tidak masalah. Otak dan nyali orang tahun 90-an ini... akan lebih kuat dari sihir manapun."
"Ivy!" panggil Luna keras.
"Iya, Nona! Ada apa?" Ivy berlari kecil mendekat.
"Siapkan air hangat. Aku mau mandi. Dan carikan pakaian yang rapi," perintah Luna dengan nada otoritatif yang membuat Ivy tertegun sejenak. Tuannya benar-benar berubah. Tidak ada lagi gemetar, tidak ada lagi tangisan.
"Ba-Baik, Nona. Segera."
"Dan Ivy..."
"Iya, Nona?"
"Mulai hari ini, jangan tatap aku dengan raut wajah yang seperti itu.Lihat nona mu masih berdiri didepan mu!,jadi buang rasa bersalah mu itu."
Ivy hanya mengangguk.
“Dan juga bantu aku lagi, aku tidak akan membiarkan orang lain menindas ku lagi. ”
Malam itu, di Villa Star born yang gelap, secercah api baru mulai menyala. Api yang tidak berasal dari sihir, melainkan dari tekad seorang wanita yang telah mati sekali dan tidak mau kalah lagi.