Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pelarian yang Absurd
Penjara San Vittore mungkin memiliki reputasi sebagai benteng yang tak tertembus di Italia utara, tetapi mereka belum pernah menghadapi kombinasi antara otak jenius seorang mafia Rusia dan kenekatan logistik seorang kurir seblak. Aiden Volkov, yang biasanya merencanakan invasi militer dengan koordinat satelit, kini harus memutar otak untuk keluar dari sel isolasi menggunakan benda-benda paling tidak masuk akal yang bisa ia temukan.
Di dalam selnya, Aiden menatap sandal jepit Swallow hijau-putih milik Ziva yang tertinggal. Benda itu bukan sekadar kenang-kenangan; bagi Aiden, itu adalah kunci mekanis.
"Marco," bisik Aiden saat jam kunjung singkat melalui celah jeruji udara. "Aku butuh asam sitrat, bubuk pembersih lantai merek tertentu, dan kabel tembaga dari pengering rambut di blok B."
Marco, yang menyamar sebagai teknisi listrik penjara, mengerutkan kening. "Tuan, saya bisa menyelundupkan C4 atau granat termit. Kenapa Anda meminta bahan pembersih dapur?"
Aiden melirik sipir yang berjaga di ujung lorong. "Ledakan besar akan memicu protokol lockdown total. Aku tidak ingin keluar sebagai buronan yang ditembak di gerbang. Aku ingin keluar sebagai 'kesalahan sistem'. Dan jangan lupa... aku butuh kerupuk mentah."
"Kerupuk... mentah, Tuan?" Marco nyaris menjatuhkan obengnya. "Untuk apa?"
"Lakukan saja, Marco. Dan pastikan Ziva tidak tahu tentang kegilaan ini."
Rencana pelarian Aiden dimulai pada Selasa malam, saat badai petir melanda Milan. Aiden memulai fase pertama: Erosi Kimiawi. Selama tiga minggu, Aiden secara rutin mencampurkan asam sitrat dari jeruk yang ia dapat di jatah makan siang dengan bubuk pembersih lantai yang ia curi saat tugas piket koridor. Campuran itu ia oleskan secara presisi pada engsel pintu baja selnya. Reaksi korosi lambat itu tidak menimbulkan suara, namun secara perlahan melemahkan struktur baja yang sudah berusia puluhan tahun.
Namun, bagian paling absurd adalah penggunaan sandal jepit Swallow. Karet dari sandal itu memiliki elastisitas dan daya tahan panas yang unik. Aiden memotong tipis pinggiran sandal tersebut, lalu melilitkannya pada kabel tembaga yang ia dapatkan.
"Karet ini akan menjadi isolator sekaligus pemicu gesekan," gumam Aiden sambil merakit alat aneh di bawah dipannya.
Ia menciptakan sebuah alat pacu arus pendek sederhana. Rencananya adalah mematikan seluruh sistem kunci elektronik di Blok 4 tanpa merusak sirkuit utama, sehingga pintu-pintu akan terbuka secara otomatis dalam mode fail-safe (mode aman yang membuka kunci saat listrik padam total).
Rabu pagi, kerupuk mentah pesanan Aiden tiba melalui jalur penyelundupan bahan makanan dapur. Para penjaga hanya mengira Aiden merindukan camilan eksotis dari Asia Tenggara. Mereka tidak tahu bahwa kerupuk mentah yang dikeringkan secara maksimal memiliki tekstur yang keras seperti plastik polimer namun bisa hancur tanpa jejak jika terkena air panas.
Aiden menggunakan kepingan kerupuk mentah itu untuk mengganjal mekanisme pengunci manual pada pintu lorong utama saat ia berpura-pura jatuh terpeleset.
"Oof!" Aiden terjatuh dengan dramatis di depan pintu baja besar. Tangannya dengan cepat menyelipkan sekeping kerupuk mawar putih ke dalam lubang kunci.
"Bangun, Volkov! Jangan manja!" bentak penjaga.
Aiden berdiri sambil meringis, namun di dalam hatinya ia tersenyum. Kerupuk itu akan menahan lidah kunci agar tidak mengunci sempurna, namun dari luar, pintu akan terlihat tertutup rapat. Saat uap panas dari pipa pemanas ruangan diaktifkan pada malam hari, kerupuk itu akan melunak dan pintu bisa didorong dengan jari kelingking saja.
Pukul 02.00 dini hari. Suara guntur menyamarkan bunyi bzzzzt kecil saat Aiden menyentuhkan kabel rakitannya ke panel listrik di sudut sel.
PET!
Seluruh lampu di Blok 4 padam. Alarm mulai berbunyi, namun karena Aiden telah memutus kabel sensor suara menggunakan karet sandal jepit yang ia jadikan ketapel, alarm itu hanya berkedip tanpa suara nyaring.
Pintu sel Aiden terbuka dengan bunyi klik halus. Engsel yang sudah keropos oleh asam sitrat menyerah tanpa perlawanan. Aiden keluar, namun ia tidak lari ke arah gerbang utama. Ia lari ke arah dapur pusat.
Di sana, ia bertemu dengan Marco yang sudah menunggu dengan seragam koki.
"Tuan, mobil sudah siap di luar tembok belakang. Tapi ada masalah... penjaga di menara pengawas membawa sensor panas," bisik Marco panik.
Aiden melihat ke sekeliling dapur. Matanya tertuju pada sebuah panci raksasa berisi saus tomat mendidih dan tumpukan tepung terigu.
"Marco, ambil tepung itu. Kita akan melakukan trik 'Kabut Putih'."
Aiden dan Marco mulai menaburkan tepung terigu ke udara sambil menyalakan kipas angin raksasa di dapur. Dalam hitungan detik, seluruh area dapur dipenuhi kabut putih pekat. Sensor panas musuh menjadi kacau karena partikel tepung yang halus membiaskan radiasi panas dari tubuh mereka.
Aiden berlari menembus kabut tepung, tampak seperti hantu putih yang mengenakan seragam oranye. Namun, rintangan terakhir muncul: pagar listrik setinggi lima meter.
"Tuan, kita tidak bisa memanjat itu!"
Aiden mengeluarkan potongan terakhir dari sandal jepit Ziva—bagian alas yang paling tebal. "Kita tidak akan memanjat. Kita akan melompat menggunakan prinsip katapel."
Aiden telah mengikatkan kabel baja tipis di antara dua tiang jemuran kuat di dekat pagar. Ia menggunakan alas sandal Swallow sebagai bantalan pelindung tangan. Dengan kekuatan otot lengannya yang luar biasa, Aiden menarik kabel itu, menciptakan tegangan ekstrem, lalu melontarkan dirinya sendiri melewati pagar listrik.
Wuuuusss!
Aiden melayang di udara Milan malam itu, seragam oranyenya berkibar, dan di tangannya ia masih menggenggam sisa sandal jepit hijau-putih yang telah menyelamatkan nyawanya untuk kesekian kali.
Aiden mendarat di tumpukan sampah di luar tembok penjara dengan suara debuman keras. Bahunya terkilir, dan luka di perutnya kembali berdenyut perih. Namun ia tidak berhenti. Ia merangkak masuk ke dalam lubang selokan yang sudah dibuka oleh anak buah Marco.
Di dalam selokan yang gelap dan berbau busuk, Aiden harus merayap sejauh satu kilometer. Air kotor membasahi tubuhnya, namun ia hanya memikirkan satu hal: Jakarta.
"Sedikit lagi, Ziva... sedikit lagi naga ini akan sampai di gerobak seblakmu," bisik Aiden menahan sakit.
Saat ia keluar dari lubang got di pinggiran kota Milan, sebuah van hitam sudah menunggu. Marco segera membukakan pintu.
"Tuan! Anda penuh tepung dan bau selokan!" seru Marco terkejut melihat penampilan bosnya yang biasanya sangat klimis kini menyerupai donat gagal yang jatuh ke parit.
"Diam dan jalan," desis Aiden. "Kita punya pesawat pribadi yang harus dikejar di bandara Linate. Dan carikan aku baju yang tidak berwarna oranye."
Dua jam kemudian, sebuah jet pribadi Gulfstream lepas landas dari landasan pacu rahasia. Di dalamnya, Aiden sudah mandi dan mengenakan kemeja hitam yang rapi, meski bahunya diperban tebal.
Ia duduk di kursi first class, menatap ke arah jendela. Di meja di depannya, tergeletak sisa sandal jepit Swallow yang kini tinggal separuh dan sudah menghitam. Benda absurd itu telah mengalahkan sistem keamanan jutaan euro.
"Tuan, apakah kita akan langsung melakukan penyerangan ke sisa-sisa faksi Lorenzo begitu sampai di Jakarta?" tanya Marco sambil menuangkan segelas wiski.
Aiden menyesap minumannya perlahan. "Tidak, Marco. Penyerangan adalah urusan kedua. Urusan pertama adalah menemukan Ziva dan memastikan dia tidak pingsan saat melihatku muncul di tengah pasar malam."
Aiden mengambil ponsel satelitnya, mengetik sebuah pesan singkat yang ia kirimkan ke nomor yang selama ini ia awasi dari balik jeruji.
"Aku sudah keluar. Siapkan seblak level 10 dan sandal jepit baru warna biru. Aku tidak suka yang hijau lagi, terlalu banyak kenangan pahit di penjara."
Namun, ketenangan itu terganggu saat radar pesawat mendeteksi dua jet tempur yang mengejar dari arah Italia. Pemerintah Italia tidak akan membiarkan aset berharga seperti Volkov kabur begitu saja.
"Tuan, mereka memerintahkan kita mendarat kembali di Roma!" teriak pilot.
Aiden berdiri, menatap jet tempur di luar jendela. Ia tidak panik. Ia tahu bahwa ia masih memiliki satu kartu terakhir: data korupsi para petinggi militer yang ia curi saat ia berada di dalam penjara menggunakan koneksi kabel tembaga dan tepung tadi.
"Sambungkan aku ke saluran komunikasi militer mereka," perintah Aiden.
Begitu terhubung, Aiden hanya mengucapkan satu kalimat: "Jika kalian tidak membiarkan pesawat ini melewati perbatasan internasional dalam tiga menit, seluruh riwayat transfer bank menteri pertahanan kalian ke akun rahasia di Kepulauan Cayman akan menjadi tajuk utama di semua koran besok pagi."
Hening sejenak di saluran radio.
Tiba-tiba, kedua jet tempur itu melakukan manuver berbelok tajam dan menghilang di balik awan.
"Perjalanan lancar, Tuan Volkov," suara pilot tempur itu terdengar getir di radio.
Aiden menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. Rencana pelariannya memang absurd, penuh dengan kerupuk, tepung, dan sandal jepit murah. Namun itulah keindahan hidupnya sekarang. Ia bukan lagi naga yang bertarung dengan api, melainkan naga yang belajar bertahan hidup dengan cara apa pun demi bisa kembali pada pemilik hatinya.
"Ziva..." gumam Aiden dalam tidurnya. "Naga ini mendarat sebentar lagi."
Di bawah sana, benua demi benua terlewati. Dari kemegahan Milan yang penuh pengkhianatan menuju hiruk pikuk Jakarta yang penuh dengan cinta dan bau terasi. Aiden Volkov sedang pulang, dan kali ini, tidak ada jeruji besi di dunia ini yang bisa menahannya lagi.