Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pergi dari Sarang Ular
Malam belum berakhir ketika Xiao Fan kembali ke Puncak Pelana Kayu.
Bulan menggantung rendah di ufuk barat, cahayanya redup tertutup awan tipis. Gubuk reyot itu masih berdiri—atau lebih tepatnya, masih miring—dengan satu lentera minyak menyala di dalam. Liu Ruyan duduk di depan pintu, memangku pedang kayu latihan yang entah dari mana ia dapatkan.
Ia mendongak saat mendengar langkah kaki Xiao Fan. "Kau kembali."
Xiao Fan berhenti dua langkah darinya. "Berkemaslah. Kita pergi."
Gadis itu tidak bertanya. Ia hanya mengangguk, masuk ke dalam gubuk, dan keluar lagi dengan buntalan kain kecil di tangan. Itu saja. Tidak ada yang lain. Seolah ia sudah siap pergi kapan saja sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.
"Kau tidak bertanya kenapa?" Xiao Fan mengangkat alis.
"Aku hanya murid. Kau guru. Ke mana guru pergi, murid mengikuti." Liu Ruyan menatapnya lurus. "Lagipula, kau masih hidup. Itu sudah cukup menjadi jawaban."
Xiao Fan nyaris tersenyum. Gadis ini tumbuh terlalu cepat.
Mereka berjalan menuruni Puncak Pelana Kayu untuk terakhir kalinya. Tidak ada yang menghentikan mereka. Para penjaga yang seharusnya berpatroli malam ini entah berada di mana—mungkin masih merawat luka, atau mungkin Ning Yao sudah memberi perintah untuk membiarkan mereka lewat.
Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun pinus. Xiao Fan berjalan di depan, Liu Ruyan mengikuti di belakang. Langkah mereka ringan, nyaris tanpa suara.
Setelah melewati gerbang batu Sekte Langit Biru, Liu Ruyan akhirnya bicara lagi. "Apa yang terjadi di Aula Pusaka?"
Xiao Fan tidak langsung menjawab. Ia menatap jalan setapak di depan—jalan yang menurun menuju hutan lebat di kaki gunung. Jalan yang akan membawa mereka menjauh dari sekte ini.
"Aku bertemu seseorang dari masa laluku," katanya akhirnya. "Wanita yang mengkhianatiku sepuluh ribu tahun lalu."
Liu Ruyan tersentak kecil. "Dia di sana? Di dalam sekte?"
"Ya. Bersama Tetua Tertinggi. Mereka bekerja sama."
"Dan kau... tidak membunuhnya?"
"Aku tidak bisa." Xiao Fan menggeleng. "Dia terlalu kuat untukku saat ini. Alam Transformasi Dewa. Aku baru Kondensasi Qi Lapis Kelima."
Liu Ruyan terdiam. Ia tahu perbedaan tingkat kultivasi sebesar itu bukan sesuatu yang bisa dijembatani hanya dengan kemarahan atau tekad. Itu adalah jurang yang hanya bisa diseberangi dengan waktu dan kekuatan.
"Jadi kita pergi," katanya pelan. "Untuk menjadi lebih kuat."
"Ya."
"Mau ke mana?"
Xiao Fan berhenti sejenak. Pertanyaan bagus. Ia belum benar-benar memikirkannya. Rencana awalnya sederhana: bangkit, hancurkan sekte, lalu cari fragmen pedang. Sekarang rencana itu berubah. Ning Yao muncul. Ancaman dari Langit disebut-sebut. Dan ia punya seorang murid yang ternyata adalah keturunan Raja Kegelapan.
"Kota Giok," katanya akhirnya. "Klan Liu. Tempat asalmu."
Liu Ruyan membelalak. "Kenapa ke sana?"
"Karena aku perlu tahu lebih banyak tentang segel di dalam dirimu. Dan karena..." Xiao Fan menatap gadis itu. "Klanmu membuangmu ke sekte ini dengan alasan kau tidak bisa berkultivasi. Tapi sekarang kau bisa. Mereka harus tahu itu."
Gadis itu menunduk. Ekspresinya campur aduk antara takut dan... sesuatu yang lain. Mungkin dendam. Mungkin harapan.
"Lagipula," lanjut Xiao Fan, "Kota Giok adalah pusat perdagangan di wilayah selatan. Di sana aku bisa mencari informasi tentang fragmen pedang berikutnya. Dan kita bisa bersembunyi di antara keramaian. Ning Yao tidak akan mencariku di kota sekecil itu."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Hutan di kaki Gunung Qingyun lebat dan gelap. Pepohonan tua menjulang tinggi, akar-akarnya mencuat dari tanah seperti ular raksasa. Suara serangga malam mengisi udara. Sesekali terdengar lolongan serigala dari kejauhan.
Setelah berjalan sekitar satu jam, Xiao Fan tiba-tiba berhenti. Tangannya terangkat, memberi isyarat pada Liu Ruyan untuk diam.
"Apa—"
"Ssst."
Xiao Fan memejamkan mata, merasakan sekitar dengan Qi Kematiannya. Ada sesuatu di depan. Bukan manusia. Tapi bukan hewan biasa juga.
[Mendeteksi monster tingkat rendah: Serigala Bayangan.]
[Jumlah: 4 ekor. Tingkat ancaman: Rendah.]
Xiao Fan membuka mata. "Latihan pertamamu di luar sekte."
Liu Ruyan menegang. "Apa?"
"Empat Serigala Bayangan di depan. Mereka sudah mencium kita. Dalam hitungan detik, mereka akan menyerang." Xiao Fan melangkah ke samping, memberi ruang pada gadis itu. "Aku tidak akan membantu. Gunakan apa yang sudah kuajarkan."
"A-aku belum siap! Aku baru Kondensasi Qi Lapis Pertama!"
"Dan Serigala Bayangan adalah monster tingkat terendah. Ini pertarungan yang adil." Xiao Fan melipat tangan di dada. "Kecuali kau ingin aku terus melindungimu selamanya."
Liu Ruyan menggigit bibir. Tangannya gemetar memegang pedang kayu. Tapi ia tidak mundur.
Dari balik pepohonan, empat pasang mata merah menyala muncul. Serigala-serigala itu keluar dari bayangan, tubuh mereka hitam pekat, hampir menyatu dengan kegelapan hutan. Geraman rendah keluar dari tenggorokan mereka.
Yang terbesar—pemimpin kelompok itu—melangkah maju. Matanya terkunci pada Liu Ruyan.
Gadis itu menarik napas dalam. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat apa yang diajarkan Xiao Fan. Qi Kematian. Rasakan dari bawah. Bukan dari langit.
Sang Serigala Pemimpin menerkam.
Liu Ruyan membuka mata. Ada kilatan ungu di kedalamannya. Ia mengayunkan pedang kayunya—bukan dengan kekuatan otot, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam. Qi Kematian tipis mengalir dari telapak tangannya ke pedang kayu itu.
Pedang kayu itu membentur kepala serigala.
Bukan pukulan yang kuat. Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Serigala itu melolong kesakitan, tubuhnya terpental, dan di titik benturan, bulu hitamnya berubah menjadi abu-abu—seperti membusuk seketika.
Liu Ruyan terpaku menatap pedang kayunya sendiri. "Aku... aku melakukannya."
Tiga serigala lainnya ragu-ragu. Mereka menatap pemimpin mereka yang merintih di tanah, lalu menatap gadis manusia di depan mereka. Insting mereka mengatakan sesuatu yang tidak beres.
"Jangan berhenti," suara Xiao Fan memecah kekaguman Liu Ruyan. "Mereka masih hidup. Selesaikan."
Gadis itu mengangguk. Kali ini ia melangkah maju. Pedang kayunya terangkat lagi.
Satu jam kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Liu Ruyan berjalan dengan langkah lebih ringan. Ada senyum tipis di wajahnya—senyum pertama yang Xiao Fan lihat sejak bertemu gadis itu.
Di belakang mereka, empat bangkai Serigala Bayangan tergeletak. Tidak semuanya mati oleh pedang kayu. Dua lari terbirit-birit. Tapi itu sudah cukup.
"Guru," panggil Liu Ruyan.
"Hm?"
"Terima kasih."
Xiao Fan tidak menjawab. Tapi di dalam hati, ia mengakui satu hal. Mungkin memiliki murid tidak seburuk yang ia kira.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Hari baru. Jalan baru. Dan di depan, Kota Giok menanti.