NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Duri Kecemburuan

Vina terlonjak kaget saat mendengar suara pintu terbuka. Ia berbalik, matanya membelalak ketakutan saat melihat Ekantika berdiri di ambang pintu, siluet tubuhnya terbingkai oleh cahaya redup di koridor. Wajah Ekantika datar, namun matanya menyala dingin, memancarkan kemarahan yang tak terucapkan.

"Vina," Ekantika berkata, suaranya pelan dan mematikan. "Apa yang sedang kau lakukan?"

Vina menjatuhkan flashdisk di tangannya. Benda kecil itu memantul di lantai, mengeluarkan suara klik yang memekakkan di keheningan ruangan. Wajahnya memucat, seperti melihat hantu. Ia mencoba menyembunyikan tangannya di belakang punggung, namun sudah terlambat.

"I-ibu?" Vina tergagap, suaranya bergetar. "Saya... saya hanya... mencari dokumen lama, Bu."

"Mencari dokumen lama?" Ekantika melangkah masuk, setiap langkahnya terasa seperti ancaman. Ia menunjuk ke layar komputer yang masih menampilkan isi folder "pribadi" miliknya. "Apakah dokumen lama itu berjudul 'Bukti Nyata Identitas Ganda' dan 'Jurnal Rahasia Nana & Riton'?"

Wajah Vina semakin pucat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tidak bisa lagi mengelak.

"Ibu... Ibu salah paham," Vina mencoba berdalih, suaranya nyaris tidak terdengar.

"Salah paham?" Ekantika tertawa sinis, tawa yang tanpa kehangatan. "Apakah mencuri data pribadi bosmu, mencoba menyebarkannya, dan mengirimkan email anonim dengan ancaman 'Bu Janda' itu juga 'salah paham', Vina?"

Vina tersentak. Mata Ekantika yang tajam menusuknya. Ia tahu Ekantika sudah tahu semuanya. Pertahanan terakhirnya runtuh. Bahunya mulai bergetar.

"Saya... saya tidak bermaksud begitu, Bu," Vina berkata, kini menangis terisak. "Saya... saya hanya... saya minta maaf."

"Minta maaf?" Ekantika melangkah lebih dekat, berdiri tepat di depan Vina. Aroma parfum Vina, yang biasanya manis, kini terasa menjijikkan. "Setelah semua yang kau lakukan? Setelah kau membuntuti saya, memotret saya, memeras saya, dan mencoba menghancurkan hidup saya?"

Vina merosot ke lantai, lututnya lemas. Air mata mengalir deras di pipinya. "Saya... saya terpaksa, Bu. Saya... saya dipaksa."

"Dipaksa oleh siapa?" Ekantika bertanya, suaranya menipis. Apakah Arsa ada di baliknya?

Vina menggeleng-gelengkan kepala, terisak. "Saya... saya tidak bisa bilang, Bu."

"Oh, kau tidak bisa bilang?" Ekantika menyeringai dingin. "Baik. Aku akan memecatmu sekarang juga, Vina. Dengan tidak hormat. Dan kau akan kupastikan tidak bisa bekerja di industri mana pun setelah ini. Aku akan menghancurkan reputasimu seperti kau mencoba menghancurkan reputasiku."

Ancaman itu menghantam Vina dengan kekuatan yang brutal. Ia mendongak, matanya yang sembap menatap Ekantika. "Jangan, Bu! Tolong jangan! Kalau Ibu memecat saya... dia akan menyebarkan semuanya! Dia punya semua videonya, Bu! Video saya saat mengambil foto Ibu, log percakapan saya dengan dia, semua rencana kami!"

Videonya? Log percakapan? Rencana kami?Ekantika merasakan kengerian merayapi. Jadi ini lebih besar dari sekadar Vina seorang diri. Ada "dia" yang lain. Dan "dia" itu punya bukti.

"Dia siapa?" Ekantika mendesak, suaranya kini lebih tajam.

Vina menggeleng lagi, terisak. "Saya... saya tidak bisa, Bu! Kalau saya bilang, saya dalam bahaya!"

"Kau sudah dalam bahaya, Vina!" Ekantika membentak. "Kau baru saja mencoba menghancurkan CEO-mu sendiri! Katakan siapa dia, atau kau akan menghadapi konsekuensi hukum yang jauh lebih berat!"

Vina terisak-isak, kepalanya tertunduk. Ia meremas tangannya yang gemetar. "Saya... saya hanya iri, Bu. Saya... saya selalu melihat Ibu punya segalanya. Karier cemerlang, uang, dan... pria." Kata "pria" itu keluar dengan nada pahit, tatapannya menyiratkan Riton. "Saya... saya bekerja keras, Bu. Tapi saya selalu di bawah Ibu. Ibu selalu mendapatkan semua yang Ibu inginkan."

Ekantika mendengarkan pengakuan Vina, hatinya mencelos. Bukan kemarahan lagi, tapi rasa sedih yang mendalam. Pengkhianatan ini berasal dari rasa iri, dari perasaan tidak dihargai. Ia tahu, di balik topeng CEO yang kejam, ia juga pernah merasa tidak berharga.

"Ibu pikir Ibu bisa punya segalanya?" Vina mengangkat kepalanya, air mata masih membasahi wajahnya, namun kini ada kemarahan yang membara di matanya. "Saya yang bekerja keras, tapi Ibu yang mendapatkan semua pria dan uang!"

Kata-kata itu bagai tamparan. Ekantika menatap Vina, kaget. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu, yang juga pernah merasa tidak cukup, yang juga pernah iri pada kebahagiaan orang lain. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa rasa iri itu bisa berbuah pengkhianatan sekejam ini.

"Kau... kau sungguh berpikir aku punya segalanya, Vina?" Ekantika berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. Ia teringat semua penderitaannya, semua kebohongan yang ia jalani, semua ketakutan yang ia rasakan. Apakah ini yang Vina lihat? Sebuah kehidupan yang sempurna?

Vina tidak menjawab, hanya terus menangis terisak, menatap Ekantika dengan tatapan penuh kebencian dan keputusasaan. Namun, tatapannya itu juga menyiratkan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tersembunyi. Sesuatu yang Vina takut untuk sebutkan.

Ekantika merasakan ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya, menatap layar. Nama "Arsa" muncul di sana. Nama itu, yang sudah lama tidak ia lihat sejak perceraian, kini muncul lagi, membawa serta teror dari masa lalu. Ia menatap Vina, mata mereka bertemu. Ada sebuah kesepakatan diam-diam yang terjalin.

Vina tahu. Arsa adalah dalang di balik semua ini.

Ponsel Ekantika berdering lagi. Nama "Arsa" masih terpampang di layar. Sebuah panggilan yang tak bisa ia hindari.

Pengakuan VinaPonsel Ekantika berdering lagi. Nama "Arsa" masih terpampang di layar. Sebuah panggilan yang tak bisa ia hindari.

Ekantika merasakan jantungnya berdetak kencang, kali ini bukan karena ketakutan biasa, melainkan karena kengerian yang dalam. Ia menatap Vina, mata mereka bertemu. Air mata masih membasahi wajah Vina, namun di balik ketakutannya, Ekantika melihat secercah rasa puas yang terselubung, seolah Vina baru saja memainkan kartu asnya. Dia tahu. Dia tahu siapa yang meneleponku.

"Kau sudah dalam masalah, Vina," Ekantika berkata pelan, suaranya nyaris tak terdengar, namun dipenuhi kekuatan mengancam. "Tapi kau juga membahayakan dirimu sendiri. Siapa 'dia' yang kau maksud?"

Vina menggelengkan kepala, terisak. "Saya... saya tidak bisa bilang, Bu. Dia... dia berbahaya."

Ekantika mendengus. "Berbahaya? Kau baru saja mencoba menghancurkan hidup saya, Vina. Sekarang, kembali ke ruanganku. Kita akan bicara di sana." Nadanya tak terbantahkan. Ia tidak akan membiarkan Vina kabur atau membuat keributan di ruang arsip yang sepi ini.

Vina, yang masih merosot di lantai, tampak ragu. Ketakutan akan Arsa bertarung dengan ketakutan akan Ekantika. Akhirnya, dengan bahu yang bergetar, Vina bangkit perlahan. Ekantika tidak berbalik badan. Ia membiarkan Vina mengikutinya keluar dari ruang arsip yang dingin, melewati koridor yang remang-remang, menuju ke ruang CEO yang megah.

Suasana di ruangan Ekantika terasa mencekik. Lampu-lampu terang menyorot, menelanjangi setiap sudut, setiap ekspresi. Vina berdiri di depan meja Ekantika, menunduk, gemetar. Ekantika duduk di kursi kebesarannya, tatapannya dingin dan tajam, seperti pisau baja yang baru diasah. Ia membiarkan panggilan Arsa mati, mengabaikannya untuk saat ini. Prioritasnya adalah mematahkan Vina.

"Sekarang, Vina," Ekantika memulai, suaranya tenang namun menusuk. "Kita bicara dari hati ke hati. Kau pikir aku punya segalanya? Kau pikir hidupku sempurna?"

Vina tidak berani mendongak. Air matanya kembali mengalir, membasahi pipinya yang pucat. "Saya... saya hanya melihat Ibu selalu beruntung. Semua pria baik... selalu ke Ibu. Uang, karier, kekuasaan..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!