Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Nasi Goreng Emas dan Perut Jenderal yang Berkhianat
Jenderal Arga tidak main-main. Dia benar-benar menyeretku ke dapur utama kediaman Jenderal seperti membawa karung beras. Cengkeramannya di lengan atasku begitu kuat hingga aku yakin besok pagi akan ada memar biru berbentuk jari di sana.
"Masuk," perintahnya dingin, mendorong punggungku hingga aku terhuyung melewati ambang pintu dapur.
Suasana di dalam dapur seketika hening.
Ruangan itu luas, berlantai tanah yang dipadatkan, dengan dinding batu bata ekspos yang hitam terkena jelaga. Di tengah ruangan, ada meja kayu jati besar yang penuh goresan pisau. Di pojok, tiga tungku api besar dari tanah liat menyala redup.
Sekitar lima orang pelayan dapur—tiga wanita tua dan dua pria muda—sedang sibuk memotong sayuran. Begitu melihat Arga masuk, mereka langsung menjatuhkan pisau dan bersujud di lantai, tubuh mereka gemetar hebat.
"Ampun, Gusti Jenderal! Ampun!" cicit salah satu pelayan tua.
Mereka ketakutan setengah mati. Bukan hanya karena Arga, tapi karena melihatku—Putri Tantri, Sang Nyonya Besar yang terkenal suka melempar piring panas ke wajah pelayan jika masakannya kurang asin.
"Kalian semua, keluar!" bentak Arga. "Kecuali kau tinggalkan bahan-bahan makanan di meja."
Para pelayan itu saling pandang bingung, lalu menatapku dengan tatapan ngeri seolah aku adalah mayat hidup. Tanpa diperintah dua kali, mereka berlarian keluar lewat pintu belakang, meninggalkan dapur yang mendadak sunyi senyap.
Kini hanya ada aku, Arga, dan bau amis ikan yang belum dicuci.
Arga menarik sebuah kursi kayu panjang, lalu duduk di dekat pintu keluar satu-satunya. Dia meletakkan pedangnya di atas meja dengan bunyi brak yang mengintimidasi. Dia melipat tangan di dada, matanya menatapku tajam seperti elang mengincar tikus.
"Kau punya waktu satu jam, terhitung dari sekarang," ucapnya datar. "Masaklah. Jika kau mencoba memasukkan racun lagi, aku akan tahu sebelum kau sempat berkedip."
Aku menelan ludah. Oke, Kirana. Fokus. Jangan mati konyol.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantung Tantri yang berdetak tak karuan. Langkah pertamaku: Survei lokasi.
Aku berjalan mengelilingi dapur.
"Astaga..." gumamku pelan.
Sebagai Executive Chef yang terbiasa dengan dapur stainless steel yang steril, tempat ini adalah mimpi buruk sanitasi. Ada sarang laba-laba di pojok plafon. Panci-panci tanah liatnya berkerak hitam. Dan pisau-pisaunya... ya ampun, tumpul sekali.
Tapi aku tidak punya pilihan. Aku memeriksa bahan makanan yang tersedia di keranjang anyaman bambu.
Ada sekeranjang nasi putih dingin sisa semalam. Bagus. Nasi dingin (pera) adalah bahan terbaik untuk nasi goreng karena teksturnya tidak lembek.
Ada telur ayam kampung di mangkuk.
Ada bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan seikat daun bawang.
Ada kecap manis (ooh, ternyata zaman ini sudah ada kecap!), garam kasar, dan terasi.
Dan di gantungan, ada sepotong daging ayam asap yang aromanya lumayan sedap.
Otakku berputar cepat menyusun menu.
Arga sakit maag. Aku bisa melihatnya dari cara dia diam-diam menekan ulu hatinya saat duduk tadi. Wajahnya juga sedikit pucat.
Kalau aku masak yang terlalu pedas atau bersantan, dia akan muntah. Kalau aku masak bubur, terlalu lama.
Pilihan terbaik: Nasi Goreng Emas Bawang Putih (Golden Garlic Fried Rice).
Gurih, hangat, aromatik, cepat dibuat, dan ramah di lambung asalkan tidak pedas.
"Tunggu apa lagi? Kau mau berdoa dulu?" sindir Arga melihatku masih diam memandangi bawang.
"Sabar, Jenderal. Masak itu butuh strategi, sama seperti perang," balasku asal, sambil menyingsingkan lengan baju kebaya Tantri yang panjang dan ribet.
Aku mengambil pisau dapur yang paling layak, lalu mengasahnya sebentar di batu asahan yang ada di pojok. Srek. Srek. Srek.
Bunyi asahan pisau itu membuat Arga mengangkat alisnya sebelah. Mungkin dia heran, sejak kapan Putri Manja Tantri tahu cara mengasah pisau?
Setelah pisau tajam, aku mulai beraksi.
Aku mengupas lima siung bawang putih dan delapan siung bawang merah.
Teknik memotongku keluar secara otomatis.
Tak-tak-tak-tak-tak.
Pisau bergerak cepat mencincang bawang putih hingga halus. Tangan Tantri ini memang lemah dan kulitnya halus, tapi memori otot jiwaku mengambil alih. Gerakanku presisi dan ritmis.
Arga, yang tadinya bersandar bosan, kini menegakkan punggungnya. Matanya menyipit, mengamati tangan lentik yang menari di atas talenan itu dengan rasa tidak percaya.
Selanjutnya, aku memecahkan dua butir telur, memisahkan kuning dan putihnya.
Kuning telur aku kocok lepas, lalu aku tuangkan ke dalam mangkuk nasi dingin. Aku aduk menggunakan tangan (yang sudah kucucii bersih, tentu saja) sampai setiap butir nasi terlapisi warna kuning emas. Ini rahasia Nasi Goreng Emas: Nasi akan gurih, tidak lengket, dan warnanya cantik.
Aku menyalakan tungku api.
Masalah baru: Tidak ada pemantik gas. Harus pakai batu api dan sabut kelapa.
"Sialan," umpatku pelan sambil memukul-mukul batu api. Tanganku sakit. Kuku Tantri patah satu.
"Ck. Minggir."
Arga tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Dia mendorongku pelan, lalu mengambil batu api itu.
Crak! Sekali gesek, percikan api menyambar sabut kelapa. Api menyala besar.
Dia kembali duduk tanpa bicara sepatah kata pun.
"Terima kasih, Suamiku," godaku, mencoba mencairkan suasana tegang.
Arga mendengus jijik. "Jangan panggil aku begitu. Kau membuatku mual."
Baiklah, Tuan Tsundere. Kita lihat siapa yang mual nanti.
Aku meletakkan wajan besi hitam (wok) di atas tungku. Aku menuangkan sedikit minyak kelapa.
Setelah minyak panas dan berasap sedikit, aku memasukkan cincangan bawang putih dan bawang merah.
Srengggg!
Aroma tumisan bawang yang harum semerbak langsung memenuhi dapur, mengalahkan bau apek dan anyir tadi. Bau bawang goreng adalah bau universal yang bisa memancing cacing di perut siapa saja.
Aku melirik Arga. Jakunnya bergerak naik turun. Hidungnya kembang kempis sedikit.
Kena kau, batinku.
Aku memasukkan potongan ayam asap, mengaduknya sebentar sampai lemaknya keluar.
Lalu, masuklah nasi yang sudah berbalut kuning telur tadi.
Di sinilah keahlian utamaku diuji. Wok Hei (Napas Wajan).
Aku membesarkan api dengan menambahkan kayu bakar. Wajan harus sangat panas agar nasi tidak berminyak.
Tanganku dengan lincah mengayunkan sutil kayu berat itu, melempar-lempar nasi di udara agar matang merata.
Clang! Clang! Sreng!
Suara berisik di dapur itu terdengar seperti musik.
Aku menambahkan sedikit garam, sejumput gula (sebagai pengganti MSG), dan sedikit kecap manis di pinggiran wajan agar terkaramelisasi.
Aromanya makin gila. Gurih, manis, smoky.
Kruyuuuuuk...
Suara itu terdengar jelas di tengah keheningan, memecah konsentrasiku.
Itu bukan perutku.
Itu datang dari arah pintu.
Aku menoleh pelan.
Wajah Jenderal Arga yang tadinya dingin dan garang, kini memiliki semburat merah tipis di telinga. Dia memalingkan wajah ke jendela, pura-pura batuk. "Ehem. Asapmu mengganggu."
Aku menahan tawa mati-matian. Iblis Perang Utara ternyata kelaparan.
"Sebentar lagi matang, Jenderal," kataku lembut.
Aku mematikan api. Sebagai sentuhan akhir, aku menaburkan irisan daun bawang segar di atasnya.
Aku mengambil piring keramik (untung ada piring bagus), menyajikannya dengan rapi. Nasi goreng itu berkilau keemasan, butirannya terpisah sempurna, dengan potongan ayam asap kemerahan dan hijau daun bawang yang kontras.
Aku membawa piring itu ke meja tempat Arga duduk. Uap panas mengepul, membawa aroma surga.
"Silakan, Jenderal. Nasi Goreng Emas Ayam Asap ala... ala Tantri."
Arga menatap piring itu, lalu menatapku curiga.
"Kau makan duluan," perintahnya. "Dua suap."
Ah, paranoid. Wajar sih, istrinya kan peracun.
Aku mengambil sendok, menyuap nasi goreng itu ke mulutku.
Rasanya?
Perfecto!
Gurihnya telur membalut nasi, bawang putihnya nendang, ayam asapnya memberikan tekstur kenyal, dan ada aroma smoky dari wajan besi tua itu. Bahkan lebih enak daripada masakan hotel karena bahan-bahannya organik tanpa pestisida.
"Mmm..." aku memejamkan mata menikmati, mendesah pelan saking enaknya. "Enak banget gila."
Aku menelan dua suap besar. Lalu menjulurkan lidah. "Lihat? Tidak mati. Tidak berbusa."
Aku menyodorkan sendok bersih ke arah Arga.
Arga menatapku yang masih hidup dan terlihat sangat menikmati makanan itu. Pertahanan dirinya runtuh oleh rasa lapar yang menusuk lambung.
Dia mengambil sendok itu dengan kasar.
Dia menyendok suapan pertama. Ragu-ragu.
Lalu memasukkannya ke mulut.
Hening.
Aku mengamati ekspresi wajahnya lekat-lekat.
Mata Arga sedikit membelalak. Kunyahannya melambat.
Rasa gurih yang hangat menyapa lidahnya, lalu turun ke lambungnya yang perih, memberikan sensasi nyaman yang luar biasa. Tidak ada rasa pedas yang menyiksa, hanya kelembutan rasa yang kaya.
Ini... ini makanan terenak yang pernah masuk ke mulutnya selama berbulan-bulan. Makanan koki istana rasanya hambar seperti air cucian beras. Tapi ini? Ini meledak di mulut.
Tanpa sadar, Arga menyuap lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Kecepatan makannya bertambah. Dia tidak bicara sepatah kata pun, tapi piring yang tadinya penuh kini mulai terlihat dasarnya.
Aku bersandar di meja, melipat tangan sambil tersenyum miring.
"Pelan-pelan, Jenderal. Nanti tersedak. Tidak ada yang minta kok."
Arga tersentak, sadar kalau dia baru saja makan dengan lahap di depan musuhnya. Dia menghentikan suapannya, menyisakan sedikit nasi di piring. Dia berdehem, kembali memasang wajah datar (walau susah karena bibirnya berminyak).
"Biasa saja," katanya dusta. "Sedikit terlalu asin."
"Oh ya? Kalau biasa saja, kenapa hampir habis?" sindirku.
Arga menatapku tajam, tapi kali ini tidak ada niat membunuh di matanya. Hanya ada rasa bingung dan... rasa kenyang.
"Siapa yang mengajarimu masak?" tanyanya menyelidik. "Informan bilang kau, Putri Tantri, bahkan tidak bisa membedakan garam dan gula. Kau tidak pernah masuk dapur seumur hidupmu."
Mampus. Aku lupa Tantri itu putri manja.
"Orang bisa berubah saat kepepet, Jenderal," jawabku diplomatis. "Selama diasingkan di kamar, aku... aku sering membaca buku resep. Ya, buku resep kuno."
Arga berdiri. Dia merasa perutnya jauh lebih enak sekarang. Rasa sakit yang menyiksanya sejak pagi hilang tak berbekas.
Dia menatapku, lalu menatap pedangnya di meja.
Dia mengambil pedang itu.
Aku menahan napas. Apa dia akan membunuhku sekarang? Kan udah kenyang?!
Arga menyarungkan pedangnya kembali ke pinggang. Klik.
"Kau beruntung," ucapnya dingin. "Masakanmu... lumayan. Cukup untuk menunda kematianmu hari ini."
Aku menghembuskan napas yang tak sadar kutahan sejak tadi. Kakiku lemas.
"Tapi jangan senang dulu," lanjut Arga sambil berjalan ke pintu. "Hukumanmu belum selesai. Mulai hari ini, kau adalah Tahanan Rumah. Kau dilarang keluar dari area kediaman belakang."
Dia berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa melihat wajahku.
"Dan besok pagi... buatkan aku sarapan. Jika rasanya tidak enak, kepalamu melayang."
Setelah itu, dia pergi. Jubah hitamnya berkibar, meninggalkan aku yang masih berdiri di dapur dengan lutut gemetar.
Aku merosot duduk di lantai tanah.
Aku selamat.
Aku berhasil menyogok Malaikat Maut dengan Nasi Goreng.
"Gila," tawaku histeris sendirian di dapur. "Gue beneran jadi koki pribadi Iblis Perang."
Tapi, kemenanganku tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, seorang prajurit berlari masuk ke dapur dengan napas terengah-engah.
"Nyonya Tantri! Gawat! Nona Laras... Nona Laras sudah sadar! Dan dia menangis minta keadilan pada Jenderal Arga! Dia bilang... dia melihat Nyonya sendiri yang menaruh racun itu!"
Senyumku lenyap.
Babak kedua dimulai. Si Teratai Putih alias Pelakor bermuka dua itu sudah bangun. Dan dia pasti tidak akan senang mendengar aku masih hidup.
Aku berdiri, mengencangkan ikatan kain jarikku.
"Baiklah. Kalau dia mau perang, akan kuladeni. Tapi jangan harap aku akan kalah. Di dunia ini, pisau dapurku lebih tajam dari lidahnya."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal