Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 13
Tidak ada label “pelaku”, tidak ada penanda “korban”, tidak ada garis tegas yang bisa memisahkan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak. Semuanya terasa abu-abu, saling bertumpuk, saling menutupi.
Tante Rosa masih diam di sampingnya, sesekali menggeser layar, memperbesar bagian tertentu, lalu berpindah lagi tanpa komentar, seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya. Tapi bagi Ella, justru ketenangan itu membuat pikirannya semakin bising. Ia ingin jawaban. Ia ingin seseorang mengatakan dengan pasti bahwa ini hanya kesalahpahaman, atau bahwa ada penjelasan sederhana di balik semua ini. Tapi yang ia hadapi sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih sulit: ketidakpastian.
Jika ayahnya memang pelaku kenapa ada pesan itu? Kenapa ada sepatu kaca ini? Kenapa harus menyuruhnya mencari sesuatu? Tapi jika ayahnya korban kenapa namanya ada di dalam data? Dan jika ia bukan keduanya lalu sebenarnya ia berada di posisi apa?
Bagian dari sistem? Pion? Atau sesuatu yang lebih dalam?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bersamaan, saling bertabrakan, tanpa memberi ruang untuk berpikir jernih. Ella menunduk sedikit, tangannya menekan pelan tepi meja, mencoba menahan dirinya agar tidak tenggelam lebih jauh dalam kebingungan itu. Semua yang selama ini ia yakini mulai terasa goyah, bukan karena hancur sepenuhnya, tapi karena tidak lagi berdiri di atas dasar yang jelas.
“Kalau Ayah benar…” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Tante Rosa, “kenapa namanya ada di sana?”
Tidak ada jawaban. Hanya layar yang terus menampilkan data yang sama. Dan untuk pertama kalinya, Ella menyadari bahwa kebenaran yang ia cari bukan sesuatu yang bisa langsung ditemukan melainkan sesuatu yang harus ia bongkar lapis demi lapis, meski setiap lapisan justru membuatnya semakin ragu pada apa yang ia percayai.
"Aku bingung Tante!" Ella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa sangat frustasi sekali. Kepalanya pusing. Ia belum bisa memastikan apakah ayahnya benar atau salah? "Tapi, kalau Ayah bersalah, kemana uang itu? Harusnya ada jejak dong? Di tabungan ayah hanya ada angka dibawah seratus juta. Jumlah yang sangat normal untuk seorang pejabat publik, kan, Tante?"
"Ella, kalau kamu yakin pada ayahmu, maka buktikan!" Aujar Tante Rosa.
Ella masih duduk di depan layar itu, tapi kini matanya tidak lagi benar-benar membaca, ia sedang mencoba memahami, menyusun kemungkinan, mencari celah logika yang bisa menjelaskan semuanya tanpa harus langsung menghancurkan keyakinannya sendiri. Jika ayahnya benar terlibat korupsi, maka seharusnya ada aliran dana yang masuk.
Itu hal paling dasar. Tidak mungkin seseorang terlibat dalam transaksi sebesar itu tanpa meninggalkan jejak yang nyata. Tapi fakta yang ia lihat sendiri beberapa jam lalu justru berlawanan: rekening ayahnya bersih. Saldo yang ada sesuai dengan gaji. Tidak ada angka mencurigakan, tidak ada lonjakan, tidak ada sesuatu yang bisa menjelaskan nominal besar yang tercantum dalam data di layar ini.
Lalu bagaimana mungkin nama ayahnya ada di sana?
Ella menggeleng pelan, mencoba memaksa pikirannya tetap rasional. Tidak mungkin ayahnya punya rekening lain kan? Polisi tak akan semudah itu dikelabui . Mereka pasti punya sistem yang canggih untuk mengetahui semuanya. Apalagi di zaman secanggih ini, dimana data pribadi semua rakyat terdaftar dan dapat diakses oleh negara. Selama ini ia mengenal ayahnya sebagai orang yang bahkan enggan berutang, apalagi menyembunyikan uang dalam jumlah besar. Gaya hidup mereka sederhana, nyaris tidak berubah selama bertahun-tahun. Rumah itu bahkan bukan hasil kerja ayahnya, melainkan warisan dari ibunya. Mobil yang digunakan pun sudah lama, tidak pernah diganti. Semua itu tidak masuk akal jika dibandingkan dengan angka-angka yang ia lihat sekarang.
Kecuali ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Kemungkinan itu muncul perlahan, tidak nyaman, tapi sulit diabaikan. Bagaimana jika rekening yang diperiksa itu bukan satu-satunya? Bagaimana jika ada jalur lain? Atau bagaimana jika uang itu memang tidak pernah masuk ke ayahnya?
Ella menatap kembali layar itu, lebih tajam kali ini. Nama ayahnya memang ada, tapi posisinya tidak selalu jelas sebagai penerima. Ada transaksi yang terlihat seperti perantara, ada kode yang tidak langsung menunjukkan tujuan akhir, ada aliran yang berhenti di titik-titik yang tidak ia pahami.
Jantungnya berdegup lebih pelan sekarang, bukan karena tenang, tapi karena mulai berpikir.
Jika ayahnya pelaku, jejaknya terlalu bersih. Jika ayahnya tidak terlibat, namanya tidak seharusnya ada di sini. Dan jika keduanya tidak sepenuhnya benar maka ada kemungkinan lain yang lebih rumit. Sesuatu yang belum ia pahami. Sesuatu yang sengaja disembunyikan di balik angka-angka ini. Ella menarik napas dalam, matanya tidak lepas dari layar. Ia belum punya jawaban. Tapi satu hal mulai terasa jelas apa yang terjadi pada ayahnya bukan sekadar kasus korupsi biasa. Dan semakin ia mencoba memahaminya semakin terlihat bahwa kebenaran itu jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
***
Permintaan itu tidak keluar dengan mudah. Ella sempat menahannya beberapa saat, menimbang apakah ia terlalu jauh melibatkan orang lain, bahkan seseorang yang ia percaya.
Tapi setelah semua yang ia lihat data di layar, nama ayahnya yang tak bisa dihapus dari ingatannya, kejanggalan di rumah yang semakin jelas ia tahu ia tidak bisa menghadapi ini sendirian.
“Tante…” suaranya pelan, tapi ada ketegasan yang baru di dalamnya.
Tante Rosa menoleh, menunggu.
Ella menarik napas sebentar, lalu melanjutkan, “Aku butuh Tante.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana berubah.
"Tante akan selalu ada untukmu. Makanya Tante terbang ke Jakarta demi bisa bertemu denganmu sayang." ujar Tante Rosa.
“Aku nggak bisa bolak-balik terus,” lanjut Ella, matanya mulai mantap. “Di rumah… ada banyak hal yang nggak beres. Aku harus tetap di sana, harus kelihatan biasa, tapi aku juga harus ngerti semua ini.” Ia melirik sekilas ke arah laptop, ke data yang masih terbuka. “Dan aku nggak bisa melakukannya sendirian.”
Tante Rosa tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Ella lebih lama dari biasanya, seolah mencoba memastikan bahwa ini bukan keputusan yang diambil karena panik semata.
“Aku mau Tante tinggal di rumah,” kata Ella akhirnya, lebih jelas, tanpa ragu. “Supaya kita bisa bahas semuanya. Supaya aku punya seseorang yang ngerti hukum… dan ngerti aku.”
Hening sejenak. Bukan hening yang kosong, tapi yang penuh pertimbangan.
“Kamu sadar risikonya?” tanya Tante Rosa pelan.
Ella mengangguk. “Lebih sadar daripada kemarin.” Jawaban itu singkat, tapi jujur.
Dan kali ini, Tante Rosa tidak mengalihkan pandangan. Ia bersandar sedikit, menghela napas pendek, lalu berkata, “Kalau aku masuk ke rumah itu, artinya aku juga masuk ke dalam masalah ini.”
Ella tidak memotong.