Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kabut Pelupa dan Rapat Dewan Perang
Cahaya matahari pagi yang menembus celah jendela kayu rumah Kakek Danu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Sinar keemasan itu menyinari debu-debu halus yang menari di udara, jatuh tepat di atas wajah Santi yang tertidur lelap di sofa ruang tengah.
Gadis berambut ekor kuda itu mengerang pelan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya, lalu memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Aduh... kepalaku rasanya kayak habis ditimpa balok kayu," gumam Santi parau, berusaha duduk.
Dara, yang sejak subuh sudah terbangun dan duduk di kursi rotan di dekat jendela, segera menghampiri sahabatnya itu dengan secangkir teh jahe hangat.
"Minum ini dulu, San. Pelan-pelan," Dara menyodorkan cangkir tersebut. Senyumnya terlihat tenang, meski jantungnya berdebar kencang menunggu reaksi bubuk kecubung wulung Kakek Danu bekerja.
Santi menerima cangkir itu, meniup uapnya perlahan, lalu menyesapnya. "Ra... kita ada di rumah kakekmu? Kok aku bisa di sini? Bukannya kemarin kita lagi jalan pulang dari sekolah?"
Santi memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menggali ingatannya. Raut wajahnya berubah pucat, napasnya sedikit memburu. "Ra... kemarin... aku mimpi buruk banget. Seram banget. Aku mimpi kabut turun tebal banget di jalan, terus ada monyet-monyet abu-abu yang wajahnya rata nyerang kita. Terus... terus ada tentara-tentara pucat... dan serigala raksasa..."
Dara duduk di sebelah Santi, mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut. Ia menelan rasa bersalah yang mengiris pangkal tenggorokannya. Membohongi sahabat terbaiknya adalah harga yang harus dibayar untuk menjaganya tetap hidup dan waras.
"Itu cuma mimpi, San. Halusinasi karena demam tinggi," Dara berbohong dengan nada suara yang sangat meyakinkan, didukung oleh wibawa penenangnya. "Kemarin sore pas kita jalan pulang, kamu tiba-tiba pingsan di tengah jalan karena demam. Untung ada Bumi yang lagi lewat naik motor. Dia yang bantu bawa kamu ke sini karena rumah kakekku lebih dekat."
Santi menoleh, menatap Dara dengan mata membulat. "Bumi? Bumi Arka bawa aku ke sini?"
Dara mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya. Dia dan teman-temannya kebetulan lagi lewat."
"Astaga, malunya aku!" Santi langsung memegangi kedua pipinya yang memerah, rasa takutnya pada monster seketika menguap, digantikan oleh kepanikan remaja pada umumnya. "Pasti aku berat banget! Kok bisa sih aku tiba-tiba demam? Eh, tapi emang kemarin di perpustakaan aku udah ngerasa pusing dan sesak napas banget sih pas ada Kak Indra."
"Kakek bilang kamu kecapekan dan kena radang ringan. Udah, jangan dipikirin mimpinya," Dara mengambil cangkir yang sudah kosong dari tangan Santi. "Kamu istirahat aja dulu. Hari ini sekolah diliburkan."
"Diliburkan? Kenapa?" Santi mengernyit heran.
Dara menunjuk layar ponselnya yang sejak tadi terus menyala menampilkan notifikasi grup kelas. "Ada tanah amblas—sinkhole—di sayap barat sekolah semalam. Gempa lokal. Struktur bangunan utamanya retak, jadi Kepala Sekolah meliburkan kita sampai ada pemeriksaan dari dinas terkait dan kepolisian."
Berita itu benar adanya. Grup WhatsApp angkatan mereka sedang heboh membicarakan foto-foto sayap barat sekolah yang kini dipagari garis polisi. Namun, Dara tahu persis bahwa kerusakan itu bukan karena gempa bumi, melainkan akibat ledakan kubah darah Anneliese dan pertempuran Raka bersama si kembar.
Santi menganga lebar. "Gila... untung kejadiannya malam. Coba kalau siang, bisa mati tertimbun kita semua."
Kita memang nyaris mati semalam, San, batin Dara pedih.
Tepat saat itu, Kakek Danu masuk dari pintu depan setelah mengantar Santi ke luar. Ayah Santi baru saja tiba dengan mobil pikapnya untuk menjemput putrinya. Setelah basa-basi singkat dan ucapan terima kasih yang berulang-ulang, Santi akhirnya dibawa pulang untuk beristirahat.
Begitu deru mesin mobil ayah Santi menjauh dan menghilang di balik tikungan desa, atmosfer di dalam rumah panggung Kakek Danu berubah seketika.
Kepalsuan yang menghangatkan ruangan itu menguap, digantikan oleh keseriusan yang membekukan tulang.
Dari arah ruang kerja Kakek Danu, pintu kayu jati yang tebal berderit terbuka. Ruangan yang biasanya hanya diisi oleh buku-buku kuno dan debu itu kini dijejali oleh kumpulan predator paling mematikan di Lembah Marapi.
Indra Bagaskara duduk di ujung meja kayu panjang, memancarkan wibawa absolut seorang raja. Di sisi kanannya, Raka berdiri dengan bahu yang masih dibalut perban rapat akibat tusukan bayonet, ditemani Maya yang bersedekap dengan tatapan dingin dan analitis.
Di seberang meja, Bumi Arka berdiri menyandarkan punggungnya ke rak buku. Sang Alpha Serigala tampak tenang namun mematikan. Tio dan Adi, yang wajahnya masih dipenuhi luka gores, duduk di kursi kayu tak jauh dari Alpha mereka.
Dan berdiri tepat di sebelah ambang pintu, Gendis mengawasi setiap pergerakan dengan postur seekor anjing penjaga yang fanatik. Begitu Dara melangkah masuk ke dalam ruang kerja tersebut, Gendis langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan yang membuat Maya mendengus pelan namun tidak berkomentar.
Kakek Danu menutup pintu ruang kerja dan menguncinya dari dalam, lalu mengaktifkan segel kemenyan untuk memastikan pembicaraan mereka tidak bocor ke luar.
"Ini adalah pemandangan yang tidak pernah kubayangkan akan kulihat seumur hidupku," gumam Kakek Danu, menatap Harimau dan Serigala yang berbagi udara di ruangan yang sama tanpa saling mengoyak leher. "Sejarah sedang ditulis ulang di ruanganku yang pengap ini."
Dara melangkah maju, menempati kursi kosong tepat di ujung meja yang berhadapan langsung dengan Indra. Saat mata mereka bertemu, Indra memberikan sebuah anggukan pelan—sebuah sapaan intim yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, mengisyaratkan bahwa harimau di dalam dadanya sedang tertidur tenang berkat sentuhan Dara semalam.
"Kita tidak berkumpul di sini untuk merayakan sejarah, Kek," ucap Dara, mengambil alih komando rapat tersebut. Wibawanya sebagai Ratu Penengah membuat semua makhluk supranatural di ruangan itu memfokuskan perhatian mereka sepenuhnya. "Willem telah membangkitkan Marsose Darah. Tiga dari mereka nyaris membunuhku dan Santi semalam jika Gendis, Indra, dan Bumi tidak datang. Mereka gesit, kuat, dan kebal terhadap luka fisik biasa."
"Berapa jumlah pasti pasukan lintah itu yang kalian lihat di katakombe bawah sekolah?" Indra menoleh pada Raka dan si kembar.
Adi, sang ahli strategi Ajag, berdehem pelan sebelum menjawab. "Dari jumlah peti mati yang terbuka dan barisan yang kulihat sekilas sebelum kubah darah itu terbentuk... ada sekitar seratus lima puluh tentara. Semuanya berpakaian militer kolonial."
Maya menyipitkan matanya. "Seratus lima puluh vampir elit. Sutan Agung bahkan tidak bisa memobilisasi setengah dari jumlah itu jika kita harus bertempur di malam hari tanpa bantuan matahari. Pasukan kita akan disapu bersih."
"Willem tidak akan menyerang klan kita secara langsung di awal," potong Bumi, menyilangkan lengannya. Alpha muda itu menatap peta Lembah Marapi yang tergelar di atas meja. "Kalian lupa bagaimana vampir bekerja. Mereka baru saja bangun dari hibernasi dua abad. Mereka lapar. Darah hewan liar tidak akan cukup untuk memulihkan tenaga mereka. Mereka butuh darah segar manusia dalam jumlah masif."
Bumi menusukkan telunjuknya ke atas titik peta yang menunjukkan pemukiman desa. "Malam ini, saat kabut turun, Willem akan memerintahkan pasukannya untuk berbaris ke desa. Dia akan menjadikan warga desa ini sebagai ladang pembantaian untuk memulihkan kekuatan penuh tentaranya."
Pernyataan Bumi membuat hawa dingin merayap di tengkuk Dara. Seratus lima puluh mayat hidup haus darah menyerbu pemukiman padat penduduk yang sedang tertidur lelap. Itu bukan sekadar pertempuran; itu adalah genosida.
"Lalu di mana pihak kepolisian manusia? Gempa bumi dan sinkhole di sekolah sebesar itu pasti memancing perhatian pihak berwajib dari kota," Raka bertanya dengan nada frustrasi. "Bukankah mereka seharusnya memblokade sekolah?"
Kakek Danu menggelengkan kepalanya muram. "Kalian meremehkan kekuatan sihir pikiran kaum Opsir Darah. Pagi ini, aku melihat mobil patroli Pak Heru—Kepala Polisi Sektor kita—berada di sekolah."
(Kilas Balik - Dua Jam Sebelumnya di SMA Nusantara)
Kabut pagi masih menyelimuti puing-puing sayap barat sekolah. Pagar seng yang tadinya berdiri tegak kini bengkok dan rubuh di beberapa bagian.
Pak Polisi Heru, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan kumis tebal, menyalakan senternya. Ia berjalan hati-hati melewati garis polisi, menuruni gundukan tanah yang tidak rata. Insting polisinya selama dua puluh tahun mengatakan ada yang salah dengan 'bencana alam' ini.
Tanah ini tidak terlihat seperti amblas karena air bawah tanah. Terdapat lubang-lubang besar yang seolah diledakkan dari dalam (bekas hantaman api Raka). Ada goresan-goresan dalam di sisa dinding beton yang terlihat seperti cakaran beruang raksasa (bekas cakar Tio dan Adi). Dan yang paling aneh, suhu di sekitar kawah runtuhan ini terasa membekukan tulang, dan tercium bau anyir berkarat yang sangat tajam.
"Ini bukan gempa..." gumam Pak Heru, merogoh ht (handy talky) di pinggangnya. "Bripka Andi, panggil tim forensik dari kabupaten. Ada yang tidak beres dengan—"
"Tidak ada yang tidak beres di sini, Tuan Polisi."
Sebuah suara wanita yang mengalun semerdu nyanyian sirene memotong laporannya.
Pak Heru tersentak. Ia menyorotkan senternya ke arah sumber suara.
Dari balik kabut dan bayangan reruntuhan, seorang wanita melangkah keluar. Ia mengenakan gaun merah darah bergaya Eropa klasik yang sangat bersih, sama sekali tidak tersentuh oleh debu atau lumpur. Rambut pirangnya digelung rapi. Wanita itu memegang sebuah payung renda hitam yang tertutup, menatap Pak Heru dengan sepasang mata merah menyala yang langsung menyedot seluruh kewarasan sang polisi.
Noni Anneliese tersenyum. Senyum yang memamerkan taring putih dan runcing.
Pak Heru membeku. Tangannya yang memegang ht gemetar hebat, namun ia mendapati dirinya tidak bisa menekan tombol bicara. Kakinya terpaku ke tanah. Jantungnya berpacu ketakutan, namun otaknya seolah dibius oleh aroma mawar busuk yang menguar dari wanita itu.
"Ini hanyalah tanah longsor biasa," bisik Anneliese, melangkah pelan memutari tubuh Pak Heru layaknya predator yang sedang bermain dengan mangsanya. "Tanah yang labil. Sungai bawah tanah. Kasus yang sangat membosankan dan harus segera ditutup."
Mata merah Anneliese menatap lurus ke dalam pupil mata Pak Heru. Pupil mata sang polisi perlahan melebar, kehilangan fokusnya. Hawa dingin dari Anneliese merayap masuk ke dalam tengkoraknya, menghapus rasionalitasnya, dan menanamkan sebuah ilusi mutlak.
"Ya..." suara Pak Heru mendadak menjadi monoton dan kosong. "Hanya tanah longsor biasa. Kasus yang membosankan... harus segera ditutup."
"Bagus," Anneliese mengusap pipi pucat polisi itu dengan jemarinya yang sedingin es. "Sekarang, tarik semua anak buahmu dari sekolah ini. Berikan kami ketenangan malam ini, Tuan Polisi. Desa kalian akan tidur nyenyak."
Pak Heru mengangguk kaku, berbalik seperti robot, dan berjalan menjauh sambil memberikan instruksi palsu pada ht-nya untuk membatalkan panggilan tim forensik.
Di belakangnya, Anneliese tertawa melengking, suara yang bergema di dalam katakombe tempat seratus lima puluh Marsose Darah sedang menunggu matahari terbenam.
(Kembali ke Ruang Kerja Kakek Danu)
"Anneliese menggunakan hipnotis vampirik," Kakek Danu menyimpulkan kilas balik yang ia dengar dari laporannya pagi tadi. "Polisi sudah menarik mundur penjagaan mereka. Sekolah sekarang benar-benar kosong dan tak bertuan. Willem memiliki kendali penuh atas area itu untuk membariskan pasukannya keluar nanti malam."
Keheningan yang mencekam turun menyelimuti dewan perang tersebut. Kenyataan bahwa hukum manusia telah dilumpuhkan membuat mereka sadar bahwa kelangsungan hidup lembah ini benar-benar hanya bertumpu di pundak mereka.
"Kalau begitu kita tidak punya pilihan," Bumi Arka mengebrak meja dengan kepalan tangannya, memancarkan dominasi yang membuat Tio dan Adi langsung menegakkan punggung mereka. "Kita tidak bisa membiarkan mereka keluar dari sekolah. Jika pertempuran terjadi di desa, terlalu banyak manusia yang akan jadi korban mati konyol. Kita harus mencegat mereka di titik bangkitnya."
"Mencegat seratus lima puluh tentara elit dengan satu pasukan Cindaku dan kawanan Ajag yang saling membenci jika berdekatan?" Maya tersenyum sinis, meragukan taktik tersebut. "Begitu kita berada di medan perang yang sama, ego predator kita akan membuat kita saling sikut sebelum sempat membunuh vampir-vampir itu."
"Tidak jika kalian memiliki komando yang terpusat," sahut Indra tiba-tiba.
Semua mata menoleh pada pewaris Bagaskara tersebut. Indra berdiri perlahan dari kursinya. Ia menatap Maya, lalu beralih menatap Bumi.
"Raka dan Tio telah membuktikan bahwa Cindaku dan Ajag bisa menggabungkan kekuatan. Panas api tidak harus membakar serigala jika ada tujuan yang sama," ucap Indra dengan suara yang dipenuhi keyakinan mutlak. Pemuda itu lalu menatap lurus ke arah Dara. "Dan kita memiliki satu-satunya entitas di dunia ini yang bisa membuat kedua ras kita tunduk tanpa syarat."
Bumi menyipitkan matanya, mengerti ke mana arah pembicaraan Indra. "Kau ingin menjadikan Dara jenderal gabungan kita?"
"Pawang Rimba bukanlah gelar yang hanya berlaku di masa damai," Indra berjalan memutari meja, berdiri tepat di belakang kursi Dara. Ia meletakkan kedua tangannya di atas sandaran kursi gadis itu, sebuah gestur perlindungan sekaligus penyerahan kekuasaan. "Di medan perang nanti, setiap instruksi yang keluar dari bibirnya adalah hukum. Tidak ada yang bergerak sebelum ia memerintahkan. Tidak ada yang membunuh sebelum ia mengizinkan. Energi birunya akan menjadi jaring yang menahan insting liar kita agar tidak saling menyerang."
Bumi menatap Dara. Gadis yang memakai jaket denim itu terlihat sangat kecil di tengah kumpulan monster di ruangan ini. Namun, Bumi mengingat bagaimana cahaya biru Dara membakar Marsose semalam, dan bagaimana tangan dinginnya mampu menenangkan amukan Harimau Putih dan Alpha Serigala sekaligus.
Bumi menegakkan tubuhnya, melipat lengannya di dada, lalu memberikan anggukan penuh hormat. "Kawananku siap mendengarkan perintahmu, Ratu Penengah. Nyawa kami ada di tanganmu."
Gendis, Tio, dan Adi serempak menundukkan kepala mereka menyetujui keputusan Alpha mereka.
Maya menatap adiknya sejenak, melihat betapa Indra memercayai gadis manusia itu sepenuhnya. Sambil menghela napas pasrah, Maya ikut mengangguk pelan. "Bagaskara akan mengikuti instruksimu, Dara."
Dara terdiam. Jantungnya berdebar dengan ritme drum perang. Kemarin, ia hanyalah seorang siswi SMA yang kebingungan mencari identitasnya. Hari ini, ia duduk di ujung meja kayu sebagai panglima tertinggi dari aliansi dua predator paling mematikan di Nusantara.
Tanggung jawab yang dibebankan ke pundaknya sangat masif. Jika ia salah mengambil keputusan, Indra, Bumi, dan semua orang di ruangan ini akan mati. Namun, ia juga tahu bahwa tanpa kepemimpinannya, mereka akan mati karena saling membunuh.
Dara mengambil napas dalam-dalam. Napas Akar-nya berdenyut pasif, memberikan ketenangan yang menyapu bersih keraguannya. Ia berdiri dari kursinya, menatap wajah setiap prajurit di ruangan itu dengan mata cokelatnya yang kini memancarkan wibawa absolut.
"Baiklah," titah Dara, suaranya bulat, tegas, dan tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. "Willem ingin membariskan tentaranya malam ini. Kita tidak akan menunggunya datang ke desa. Kita akan membawa neraka itu langsung ke lubang kuburnya."
Dara menunjuk peta sekolah yang ada di atas meja.
"Maya, kau dan Gendis akan bekerja sama. Cindaku dan Ajag betina memiliki kelincahan yang tidak bisa dideteksi. Kalian bertugas menyisir area luar pagar seng dan menghabisi setiap penembak jitu atau pengintai yang disembunyikan Anneliese di atap," perintah Dara. Gendis dan Maya saling melirik, lalu mengangguk serempak tanpa membantah.
"Raka, Tio, dan Adi. Kalian memiliki kecocokan resonansi," lanjut Dara. "Kalian bertiga akan menjadi unit pendobrak. Hancurkan gerbang utama proyek itu saat aku memberikan sinyal. Jangan biarkan barisan depan Marsose keluar dari lubang ekskavasi."
"Dan kami?" tanya Bumi, melirik ke arah Indra.
Dara menatap kedua raja hutan di hadapannya itu dengan intensitas yang membara. "Bumi, Indra. Kalian adalah ujung tombakku. Kita bertiga akan masuk langsung ke pusat katakombe. Tugas kalian adalah membuka jalan, membantai setiap mayat hidup yang menghalangi. Dan tugasku..."
Dara mengangkat tangan kanannya, membiarkan segel kelopak bunga itu berpendar biru memancarkan cahaya murni yang menyilaukan dan menyejukkan.
"...adalah membakar Willem van Deventer dan Noni Anneliese menjadi abu."
Rapat dewan perang pertama dan terakhir itu ditutup. Di luar, awan kelabu semakin menebal, menutupi sisa matahari sore. Badai hujan dan pertumpahan darah berskala masif akan segera menyapa SMA Nusantara Lereng Marapi malam ini. Perang tidak lagi berada di dalam bayang-bayang; taring dan cakar kini telah diasah untuk dunia yang terang.