Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Sang Penguasa
Sirine ambulans membelah sunyinya malam kota yang tak pernah tidur, meraung-raung di jalanan aspal yang dingin, membawa dua nyawa yang berada di ambang maut menuju Rumah Sakit Umum Pusat. Di dalam kendaraan darurat yang berguncang itu, petugas medis bekerja mati-matian, keringat bercucuran di dahi mereka meski pendingin ruangan menyala maksimal. Suara peralatan elektronik berbunyi tit... tit... tit... dengan frekuensi yang semakin melemah dan lambat, seolah-olah mesin itu sedang menghitung mundur detik-detik terakhir bagi raga Feng Yan dan Chen Lian yang sudah hancur.
Di belakang ambulans, raungan mesin motor besar Reyhan melaju kencang membelah angin malam, mengawal mereka dengan kecepatan tinggi hingga sampai di depan pintu Unit Gawat Darurat (UGD). Polisi gagah itu melompat turun dari motornya bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati sempurna, standar motornya beradu dengan aspal menciptakan percikan api kecil. Wajahnya yang tegas masih tertutup oleh helm hitam legam, namun matanya yang tajam bak elang tetap mengawasi setiap gerak-gerik petugas yang mendorong tandu Feng Yan ke dalam ruang operasi dengan tergesa-gesa.
"Pasien satu (Feng Yan) mengalami pendarahan internal hebat! Tekanan darah turun drastis di angka kritis! 60 per 40!" teriak salah satu perawat dengan suara panik.
"Pasien dua (Chen Lian) mengalami trauma kepala berat! Pupilnya tidak bereaksi terhadap cahaya! Siapkan ruang trauma dua!" sahut petugas lainnya sambil terus memompa oksigen manual.
Reyhan terpaksa berhenti tepat di depan pintu ruang operasi yang bertuliskan lampu merah menyala: DILARANG MASUK. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, menatap noda darah hangat yang masih membekas di telapak tangannya sendiri. Insting polisinya—insting yang sering membawanya memecahkan kasus-kasus mustahil di Benang Merah Takdir Berdarah—berteriak kencang bahwa malam ini ada sesuatu yang sangat tidak beres. Bukan hanya soal kecelakaan yang disengaja itu, tapi atmosfer di sekitar koridor rumah sakit ini mendadak terasa... berat, seolah oksigen di sana perlahan menghilang digantikan oleh aura asing yang menekan dada.
Di dalam ruang operasi yang steril, berbau karbol, dan sangat dingin, tim dokter bedah sudah berkumpul dalam formasi lengkap. Lampu operasi yang sangat terang menyinari tubuh Feng Yan yang pucat pasi bak porselen retak di atas meja logam. Segala macam selang transparan dan kabel-kabel monitor melilit tubuhnya yang atletis, mencoba dengan sia-sia menyambungkan kembali benang kehidupan yang nyaris putus total.
"Siapkan defibrilator! Isi ke 200 joule! Cepat!" perintah dokter bedah senior dengan suara yang bergetar tegang.
DZEEEET!
Tubuh Feng Yan tersentak ke atas akibat sengatan listrik, namun monitor di sampingnya masih menunjukkan garis yang sangat mengerikan.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit—
Garis lurus. Statis. Tak ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun. Di ranjang sebelah yang hanya dipisahkan oleh tirai hijau tipis, monitor Chen Lian juga melakukan hal yang sama secara bersamaan. Bunyi denging panjang yang memuakkan itu memenuhi ruangan, menandakan bahwa secara medis dan hukum, dua pria ini sudah dinyatakan menyerah pada takdir maut mereka.
"Waktu kematian... pukul 02:45 dini hari," ucap dokter sambil melepas masker bedahnya dengan helaan napas berat yang penuh keputusasaan. "Kecelakaan itu terlalu brutal. Mereka tidak punya kesempatan untuk bertahan hidup bahkan untuk satu detik lagi."
Namun, tepat saat dokter hendak menutup wajah mereka dengan kain putih, di dimensi yang tak terlihat oleh mata telanjang manusia, terjadi sebuah guncangan hebat yang menggetarkan fondasi rumah sakit. Langit di atas gedung tiba-tiba bergetar seolah-olah ada lubang hitam transparan yang terbuka di antara awan mendung. Dua cahaya raksasa—satu berwarna keemasan yang berkilauan dengan aura kesombongan yang purba, dan satu lagi berwarna putih bersih yang memancarkan wibawa tenang yang menenangkan—melesat jatuh dari langit, menembus atap rumah sakit secepat kilat tanpa merusak bangunan fisiknya.
SYUT!
Tanpa ada yang menyadari, suhu di dalam ruang operasi yang tadinya sangat dingin mendadak naik drastis menjadi sangat panas. Para dokter dan perawat terheran-heran, saling pandang saat merasakan keringat yang tiba-tiba bercucuran deras di dahi mereka. Alat-alat elektronik canggih di dalam ruangan mulai mengeluarkan percikan api kecil dan suara berderak akibat gelombang energi raksasa yang tidak stabil.
Dua jiwa penguasa dari dunia kuno yang telah melintasi ribuan tahun—jiwa Fenghuang sang Rubah Ekor Sembilan yang legendaris dan Ling Chen sang Tuan Muda yang tak terkalahkan—menghujam masuk dengan presisi ke dalam wadah raga yang baru saja "kosong" itu.
DUM!
Tiba-tiba, jantung Feng Yan yang tadi sudah berhenti total, berdetak sekali. Sangat kuat, sampai-sampai monitor detak jantung di sampingnya berderik keras hampir pecah.
Deg-deg! Deg-deg!
Detakan itu bukan lagi detak jantung manusia biasa yang lemah. Itu adalah detak jantung makhluk suci yang memiliki cadangan kekuatan ribuan tahun. Luka robek besar di perut Feng Yan yang tadi menganga lebar dan mengeluarkan banyak darah, mulai menutup dengan sendirinya dengan kecepatan yang tak masuk akal di bawah kain penutup bedah. Kulitnya yang tadi pucat pasi bak mayat, kini perlahan kembali memerah sehat, bahkan terlihat lebih bercahaya dan halus daripada sebelumnya.
Kelopak mata Feng Yan bergerak pelan, lalu tiba-tiba... terbuka lebar.
Pupil matanya sempat berkilat keemasan menyala sesaat—kilatan mata rubah purba yang penuh dengan kelicikan, keagungan, dan sedikit rasa narsis—sebelum kembali berubah menjadi hitam pekat yang sangat dalam dan misterius. Dia mendudukkan dirinya di atas meja operasi dengan gerakan yang sangat luwes dan elegan, seolah-olah dia baru saja bangun dari tidur siang yang nyenyak di atas ranjang sutra, bukan dari kematian yang tragis.
"Uh... tubuh manusia zaman ini lumayan juga kualitasnya, meskipun terasa sedikit kaku dan berbau obat-obatan murahan," gumam Feng Yan sambil memutar lehernya ke kiri dan ke kanan, menimbulkan bunyi krek yang keras dan bergema.
Dia menatap para dokter dan perawat yang kini mematung ketakutan dengan mata melotot dan instrumen bedah yang terjatuh dari tangan mereka. Feng Yan menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang dengan jari-jari panjangnya yang indah, lalu melemparkan senyum miring yang sangat narsis dan menggoda ke arah perawat yang berdiri paling dekat.
"Waktu kematian? Maaf, Tuan-tuan yang berbaju hijau... Aku merasa jiwaku ini terlalu tampan dan berharga untuk mati konyol di tangan sebuah truk kontainer yang berbau oli dan besi tua," ucap Feng Yan dengan nada suara yang sombong, merdu, namun sarat akan ancaman tersembunyi.
Di ranjang sebelah, Chen Lian juga bangkit. Dia tidak melakukan gerakan dramatis atau pamer seperti Feng Yan. Dia hanya membuka mata, bangkit perlahan dengan punggung tegak lurus, dan menatap sekeliling dengan aura wibawa yang sangat tenang namun sanggup menekan nyali siapa pun yang melihatnya. Matanya yang dingin menatap dokter senior seolah-olah dia adalah seorang kaisar agung yang sedang menginspeksi rakyatnya yang jelata.
"Yan, berhentilah bertingkah memalukan dan kekanak-kanakan. Kita berada di tempat asing dengan teknologi aneh. Jaga martabatmu," ucap Chen Lian dengan suara rendah yang berwibawa, membuat suasana ruangan seketika menjadi hening mencekam.
"Aish, kau kaku sekali seperti biasanya, Lian. Padahal kita baru saja mendapatkan 'baju' baru yang cukup trendi ini," sahut Feng Yan santai sambil melompat turun dari meja operasi dengan kaki telanjang, seolah dia tidak pernah mengalami kecelakaan maut beberapa menit yang lalu.
Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka paksa dengan suara dentuman keras. Reyhan menerobos masuk dengan napas memburu dan tangan yang sudah berada di gagang senjatanya. Dia terpaku di ambang pintu, matanya hampir keluar dari kelopaknya melihat dua orang yang baru saja dia bantu keluarkan dari mobil yang ringsek dan sudah dinyatakan mati, kini sedang berdiri tegak dan berbincang santai seolah-olah baru saja keluar dari ruang spa kecantikan eksklusif.
Reyhan mengucek matanya berkali-kali, mencoba memastikan bahwa ini bukan halusinasi akibat kelelahan. "Apa-apaan ini? Tadi dokter bilang... kalian berdua sudah..."
Feng Yan menoleh ke arah Reyhan, rubah licik itu langsung menyadari dalam sekali lirik bahwa polisi di depannya ini bukanlah orang sembarangan; ada aura kejujuran dan kekuatan mental yang langka. "Ah, Polisi yang gagah. Terima kasih sudah mengawal 'wadah' baruku ini dengan sangat baik hingga sampai di sini. Sekarang, bagaimana kalau kau membawakan kami pakaian yang lebih layak daripada baju operasi yang terbuka di bagian belakang ini? Sangat tidak estetis bagi penguasa sepertiku."
Reyhan hanya bisa terdiam mematung dengan mulut sedikit terbuka. Seluruh dunia logika dan hukum fisikanya sebagai anggota kepolisian baru saja hancur berkeping-keping menjadi debu di hadapan kemunculan si Rubah Narsis dan Tuan Muda yang bangkit dari kubur dengan gaya yang sangat arogan ini.