Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Berita kejatuhan Rangga Susilo menghantam ibu kota dengan kecepatan kilat.
Hanya dalam kurun waktu dua puluh empat jam, arsitek muda yang digadang-gadang sebagai bintang masa depan itu harus melihat wajahnya terpampang di berbagai saluran berita. Bukan sebagai inovator, melainkan sebagai tersangka kasus penipuan berlapis dan pencemaran nama baik. Pemegang saham mayoritas memecatnya secara tidak hormat, dan polisi menyita seluruh perangkat elektronik di kantor bironya.
Bagi Yvone, melihat pria yang pernah ia anggap sebagai teman kini memakai rompi tahanan kepolisian membawa perasaan campur aduk. Tidak ada rasa kasihan yang tersisa, namun ada setitik ironi yang pahit. Di dunia ini, ambisi dan ego memang bisa mengubah manusia menjadi monster dalam sekejap.
Malam itu, hujan telah reda, meninggalkan udara Jakarta yang dingin dan bersih.
Yvone berdiri di balkon penthouse lantai 65, memegang segelas red wine di tangan kirinya. Ia menatap lautan lampu kota di bawah sana. Dulu, pemandangan ini membuatnya merasa sangat kecil dan terkurung. Namun malam ini, ia merasa seperti sedang berdiri di atas menara pengawas kerajaannya sendiri.
Terdengar suara langkah kaki pelan dari arah pintu kaca geser. Sepasang lengan yang sudah sangat familiar melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma vetiver dan kehangatan tubuh Dylan langsung menyelimuti Yvone.
Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Yvone, ikut menatap pemandangan kota.
"Sedang meratapi nasib mantan arsitekmu?" bisik Dylan pelan, nada posesifnya masih tersisa, meski kini lebih terdengar seperti godaan.
Yvone tersenyum, menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya. "Aku sedang berpikir betapa cepatnya dunia ini berputar. Sebulan yang lalu, aku adalah gadis yang menangis memohon di mejamu. Sekarang... aku baru saja menghancurkan karir seseorang tanpa berkedip."
Yvone memutar tubuhnya perlahan di dalam pelukan Dylan. Ia mendongak, menatap mata kelam pria itu mencari pembenaran. "Apakah aku menjadi orang yang jahat, Dylan?"
Mata Dylan melembut. Pria itu meletakkan tangannya di tengkuk Yvone, mengusap kulit halus di sana dengan ibu jarinya. "Kau tidak menjadi jahat, Sayang. Kau menjadi kuat. Orang baik yang lemah hanya akan menjadi mangsa. Orang baik yang kuat akan menjadi pelindung. Kau menghancurkan Rangga untuk melindungi dirimu sendiri dan proyekmu. Itu bukan kejahatan; itu keadilan."
Mendengar hal itu, beban kecil di dada Yvone menguap. Ia mengalungkan satu lengannya di leher Dylan.
"Lagipula," Dylan melanjutkan, bibirnya melengkung membentuk seringai nakal, "aku jauh lebih menyukai versi dirimu yang ini. Ratu yang memegang pedangnya sendiri terlihat jauh lebih... menggairahkan."
Sebelum Yvone sempat membalas, Dylan telah menundukkan wajahnya dan meraup bibir wanita itu. Ciuman mereka terasa pekat oleh rasa wine dan gairah yang tak pernah padam sejak malam badai di Uluwatu. Tangan bebas Yvone tanpa sadar meremas kemeja suaminya, merespons setiap lumatan dan gigitan pelan yang Dylan berikan.
Saat ciuman itu semakin dalam, Dylan mengambil gelas wine dari tangan Yvone dengan mudah, meletakkannya di atas meja balkon tanpa melihat, lalu mengangkat tubuh istrinya. Yvone memekik pelan saat Dylan membawanya masuk ke dalam kamar yang remang-remang, kembali tenggelam dalam lautan sutra dan pelukan pria yang kini memiliki seluruh hatinya.
Keesokan Paginya. Pukul 09.00 WIB.
Suasana romantis malam sebelumnya harus segera disimpan kembali ke dalam laci ketika Marco masuk ke ruang makan penthouse dengan setumpuk map merah kode untuk dokumen berklasifikasi rahasia.
Yvone dan Dylan sedang menikmati sarapan mereka. Kali ini tidak ada lagi keheningan kaku di antara mereka. Dylan mengoleskan selai pada roti panggang dan meletakkannya di piring Yvone secara natural, sebuah pemandangan yang membuat Marco sedikit menaikkan alisnya karena takjub melihat perubahan drastis bos besarnya.
"Laporan pagi, Marco," perintah Dylan sambil menyesap kopinya, kembali ke mode CEO.
"Kabar baik dan kabar buruk, Bos," Marco membuka map pertama. "Kabar baiknya, proses transisi proyek Senopati berjalan sangat mulus. Tim arsitek internal Alexander Group sudah mengambil alih. Nyonya Yvone memiliki kendali penuh sekarang."
Yvone tersenyum puas. "Lalu, kabar buruknya?"
"Nadia Pramudya," Marco menghela napas panjang. "Polisi sudah menelusuri aliran dana dari perusahaan cangkang PT Bina Konstruksi ke rekening Yanto si mandor. Sesuai tebakan Anda, perusahaan itu terhubung ke PT Pramudya Investama. Tapi..."
"Tapi ayahnya turun tangan," potong Dylan datar, matanya berkilat dingin.
Marco mengangguk. "Tepat. Menteri Dalam Negeri tidak mungkin membiarkan putrinya diseret dengan borgol. Dalam waktu kurang dari dua belas jam, mereka menemukan seorang 'kambing hitam'. Salah satu direktur keuangan di perusahaan Pramudya tiba-tiba menyerahkan diri ke polisi pagi ini, mengaku bahwa dialah yang memanipulasi proyek itu tanpa sepengetahuan Nadia, dengan alasan dendam pribadi pada Alexander Group."
Yvone meletakkan garpunya, rasa marahnya kembali tersulut. "Itu konyol! Semua orang tahu direktur itu hanya dibayar untuk mengorbankan dirinya demi melindungi Nadia!"
"Di dunia politik, kebenaran tidak penting, Yvone. Yang penting adalah apa yang bisa dibuktikan di atas kertas," ucap Dylan tenang, meski rahangnya mengetat. Ia menatap Marco. "Nadia lolos dari jerat pidana. Tapi secara sosial dan bisnis, reputasinya di lingkaran elit pasti sedang goyah."
"Benar, Bos," Marco tersenyum licik. "Meskipun dia bebas dari hukum, rumor sudah menyebar di kalangan sosialita dan politisi. Mereka tahu Nadia yang berada di balik sabotase itu. Ayahnya bahkan dikabarkan marah besar dan mengurung Nadia dari kegiatan publik sementara waktu untuk meredakan skandal."
"Bagus. Biarkan dia membusuk dalam amarahnya sendiri untuk sementara waktu," putus Dylan. Pria itu kemudian menatap Yvone. "Nadia sedang terluka. Dan hewan yang terluka akan bersembunyi untuk memulihkan diri sebelum menyerang lebih brutal. Kita akan menggunakan waktu jeda ini untuk mengurus masalah utama kita."
"Menteri Hadi," gumam Yvone pelan, menyebut nama dalang terbesar yang menghancurkan ayahnya.
"Marco, persiapkan saluran komunikasi terenkripsi tingkat tertinggi," perintah Dylan, berdiri dari kursinya. "Sudah waktunya Yvone berbicara dengan ayahnya."
Jantung Yvone berdebar kencang saat ia duduk di depan layar komputer di ruang kerja rahasia Dylan. Ruangan itu telah disterilkan dari segala bentuk potensi penyadapan siber.
Layar monitor berkedip sejenak, sebelum akhirnya menampilkan sebuah ruangan putih yang bersih dan terang. Di tengah ruangan itu, duduk seorang pria paruh baya yang terlihat jauh lebih sehat dan segar dibandingkan saat terakhir kali Yvone menjenguknya di rutan.
"Ayah!" seru Yvone, matanya seketika berkaca-kaca melihat Budi Larasati.
Di layar, senyum lebar mengembang di wajah Budi. "Yvone, Nak. Ya Tuhan, kau terlihat sangat baik."
Mata Budi kemudian beralih ke sosok tinggi besar yang berdiri tepat di belakang kursi Yvone, memancarkan aura perlindungan yang tak terbantahkan.
"Dan kau," ucap Budi, nada suaranya tak lagi penuh kecurigaan seperti dulu, melainkan mengandung rasa hormat yang mendalam. "Dylan. Dokter-doktermu merawatku seperti seorang raja di fasilitas bawah tanah ini. Aku berutang nyawa padamu. Jika orang-orangmu tidak mencegat makanan beracun di rutan malam itu..."
"Anda adalah ayah dari istri saya, Pak Budi," potong Dylan dengan nada hormat yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Tangannya bertumpu dengan lembut di bahu Yvone. "Melindungi Anda adalah kewajiban saya."
Budi menatap tangan Dylan yang berada di bahu putrinya, lalu menatap mata Yvone yang memancarkan kebahagiaan sejati, bukan lagi kepura-puraan. Pria tua itu tersenyum simpul, menyadari bahwa pernikahan kontrak yang ia takutkan telah berubah menjadi sesuatu yang sangat nyata.
"Ayah," Yvone mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kami berhasil memukul mundur Nadia Pramudya. Untuk sementara waktu, dia tidak akan bisa menyentuh kita. Tapi kami harus menghentikan Menteri Hadi sebelum dia mencari cara lain untuk mengeksekusi Ayah atau menghancurkan perusahaan Dylan."
Ekspresi Budi berubah menjadi sangat serius. Garis-garis kelelahan di wajahnya kembali terlihat.
"Hadi bukanlah lawan yang bisa dijatuhkan hanya dengan skandal media, Yvone," ucap Budi dengan suara berat. "Pria itu menguasai hampir setengah jaringan birokrasi di negara ini. Alasan kenapa dia menjebakku dengan tuduhan korupsi proyek infrastruktur... itu bukan sekadar untuk menutupi pencurian yang dia lakukan."
Dylan menyipitkan matanya. "Lalu apa alasan sebenarnya?"
Budi menatap lurus ke arah kamera, matanya mengunci mata Dylan. "Karena proyek infrastruktur yang dituduhkan padaku pembangunan pelabuhan kargo di pesisir utara sepuluh tahun yang lalu adalah proyek yang sama persis yang menewaskan ayahmu, Dylan."
Udara di dalam ruangan itu seketika membeku.
Tangan Dylan yang berada di bahu Yvone menegang hingga buku-buku jarinya memutih. Yvone bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menguar dari tubuh suaminya. Pria itu melangkah maju, mensejajarkan posisinya dengan layar.
"Apa maksud Anda, Pak Budi?" Suara Dylan turun hingga ke tingkat oktaf paling mematikan.
Budi menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang telah ia simpan selama lebih dari satu dekade.
"Lima belas tahun yang lalu, ayahmu, Abraham Hartono, memenangkan tender pelabuhan kargo tersebut," cerita Budi, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Hadi, yang saat itu masih menjabat sebagai dirjen, meminta Abraham untuk menyelundupkan 'pasal siluman' dalam desain pelabuhan. Sebuah area pergudangan bawah tanah yang tidak tercatat di cetak biru resmi negara. Tempat itu dirancang untuk menjadi jalur penyelundupan barang ilegal senilai triliunan rupiah milik sindikat yang menyokong dana politik Hadi."
Yvone menutupi mulutnya dengan kedua tangan, terkejut dengan skala kejahatan yang terungkap.
"Ayahmu menolak mentah-mentah," lanjut Budi, menatap Dylan dengan penuh simpati. "Abraham adalah pria yang sangat berintegritas. Dia mengancam akan membawa temuan itu ke presiden. Seminggu kemudian... helikopter yang ditumpanginya mengalami 'kegagalan mesin' di atas laut."
Dylan memejamkan mata rapat-rapat. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan amarah purba yang kembali mendidih di dalam nadinya. Yvone berdiri dan meraih tangan pria itu, menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Setelah Abraham meninggal," Budi melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, "proyek itu mangkrak. Hadi mencoba mencari kontraktor lain, tapi tidak ada yang berani mengambil risiko. Sampai akhirnya, tahun lalu, pemerintah kembali menghidupkan proyek pelabuhan itu. Aku yang ditunjuk sebagai ketua tim pengawas proyeknya dari kementerian."
"Dan menemukan cetak biru pergudangan bawah tanah itu," simpul Yvone, mulai merangkai benang merahnya.
"Tepat," Budi mengangguk. "Aku menemukan dokumen lama yang belum sempat dihancurkan oleh orang-orang Hadi. Dokumen yang ditandatangani oleh ayah Dylan sebelum ia dibunuh. Ketika Hadi tahu aku memegang bukti itu, dia panik. Dia tidak bisa membunuhku begitu saja karena posisiku terlalu disorot. Jadi, dia menjebakku. Dia mengalirkan dana fiktif ke rekeningku, menuduhku korupsi agar aku dipecat, dipenjara, dan seluruh ucapanku tidak lagi dipercaya oleh hukum."
"Di mana dokumen cetak biru itu sekarang?" tanya Dylan cepat, matanya kembali terbuka, memancarkan api pembalasan dendam yang membara. "Jika kita bisa mendapatkan dokumen itu, kita bisa membuktikan motif pembunuhan ayahku sekaligus membersihkan nama Pak Budi secara total."
Budi tersenyum getir. "Aku tidak sebodoh itu menyimpannya di rumah atau di kantor, Dylan. Hadi telah menggeledah seluruh hidupku tapi dia tidak menemukannya. Aku menyembunyikannya di tempat yang paling tidak masuk akal."
Budi menatap Yvone. "Kau ingat rumah lama kakek di Lembang, Vone? Tempat kau biasa menggambar di loteng saat musim liburan sekolah?"
Yvone mengangguk pelan. "Ya, Ayah. Rumah itu sudah kosong bertahun-tahun sejak kakek meninggal."
"Di bawah papan kayu lantai ketiga dari jendela loteng. Aku memasukkannya ke dalam kotak logam anti air," ucap Budi. "Hadi mengira aku menyimpannya di deposit box bank atau menyerahkannya pada jurnalis. Dia tidak pernah berpikir aku menguburnya di tempat kenangan masa kecil putriku."
"Kami akan mengambilnya," putus Dylan tanpa ragu. Pria itu menatap Budi Larasati dengan tekad bulat. "Saya berjanji pada Anda, Pak Budi. Orang yang telah menghancurkan keluarga kita berdua... akan mati di tanganku."
Setelah sambungan dimatikan, keheningan yang berat menyelimuti ruang kerja itu.
Takdir yang menyatukan mereka berdua ternyata jauh lebih dalam dan berdarah daripada selembar kontrak pernikahan. Pembunuh ayah Dylan adalah orang yang sama yang menghancurkan ayah Yvone. Luka masa lalu mereka berakar dari satu iblis yang sama.
Dylan membalikkan badannya, menatap ke arah luar jendela. Postur pria itu tegang, dipenuhi oleh emosi yang terlalu besar untuk ditampung oleh ruangan itu.
Yvone melangkah mendekat, memeluk punggung lebar suaminya, menyandarkan pipinya di antara tulang belikat pria itu.
"Kita akan pergi ke Lembang malam ini," ucap Yvone pelan, suaranya penuh kepastian. "Kita akan mengambil bukti itu bersama-sama, Dylan."
Dylan berbalik, merengkuh tubuh Yvone dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di rambut Yvone, menarik napas panjang.
"Menteri Hadi telah membangun kerajaannya di atas darah ayahku," bisik Dylan dengan suara serak yang mematikan. "Sudah waktunya aku menagih hutang itu. Dan kali ini... aku tidak akan meninggalkan satu keping pun tersisa."