NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Surat dari Balik Jeruji

​Matahari Johor Bahru menyelinap masuk melalui celah gorden yang kusam, menyentuh lantai ubin yang dingin dengan cahaya kuning yang pucat. Udara di dalam unit flat ini terasa berat, dipenuhi aroma kopi sachet yang mulai mendingin dan dengung kipas angin tua yang berputar dengan suara yang seolah meratap. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap jari-jariku yang masih sedikit gemetar. Di pergelangan tanganku, parut tipis itu seolah berdenyut setiap kali aku mengingat detail-detail yang kini sudah kembali utuh di kepalaku.

​Ingatan adalah berkat sekaligus kutukan. Sekarang, saat aku memejamkan mata, aku tidak lagi melihat kegelapan yang tenang. Aku melihat wajah Dokter Frans dengan jarum suntiknya. Aku melihat Bima yang menyeringai di atas tebing. Dan yang paling menyesakkan, aku melihat wajah Ayah—Hendra Kusuma—yang menatapku dengan tatapan posesif yang ia sebut sebagai cinta.

​"Anya, Razak baru saja datang."

​Suara Devan mengejutkanku. Ia berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya tampak lebih tenang setelah beberapa jam tidur, namun matanya tetap waspada. Ia memegang sebuah amplop cokelat kecil yang tampak kumal.

​"Apa itu?" tanyaku, bangkit berdiri dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas.

​"Pesan dari Jakarta," jawab Devan pendek. Ia menyerahkan amplop itu padaku dengan ragu. "Satria berhasil menyelundupkannya lewat kurir diplomatik yang singgah di Singapura tadi malam. Ini dari rumah sakit penjara. Dari ayahmu."

​Jantungku mencelos. Ayah. Pria yang telah merancang kehancuran memoriku kini mengirimkan pesan ke tempat persembunyianku. Aku merobek amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat selembar kertas tulis garis-garis yang tampak murah, dengan tulisan tangan yang goyah, jauh berbeda dari tulisan tangan Ayah yang biasanya tegas dan otoriter.

​Anya, Putriku.

​Begitu kalimat pembukanya menyentuh mataku, rasa mual yang hebat menghantam lambungku. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai yang mulai berkecamuk di dadaku.

​Ayah tahu, setelah apa yang kau lakukan di Singapura, kau tidak akan pernah sudi memanggilku 'Ayah' lagi. Ayah tahu kau menganggapku monster. Mungkin aku memang monster. Tapi monster ini sedang sekarat, Anya. Racun yang diberikan orang-orang itu di ruang sidang tempo hari... Dokter Frans memastikan kerusakannya permanen.

​Aku berhenti sejenak. Devan melangkah mendekat, meletakkan tangannya di bahuku. Kehadirannya adalah jangkar yang menahanku agar tidak tenggelam dalam pusaran emosi ini.

​Dengarkan Ayah baik-baik, karena ini mungkin peringatan terakhir yang bisa kuberikan. Wijaya Dirgantara hanyalah ujung dari gunung es. Proyek Elegia bukan miliknya. Proyek itu bukan milikku. Ada 'Tangan Ketiga' yang selama sepuluh tahun ini mengawasi kita dari balik layar. Merekalah yang mendanai penelitian ibumu di awal, dan merekalah yang membunuhnya saat ibumu menolak menyerahkan algoritma terakhir.

​Aku terengah. Ibumu. Nama itu selalu menjadi luka terbuka.

​Tangan Ketiga tidak peduli pada saham atau kekayaan. Mereka peduli pada kendali. Jika kau membuka brankas di Singapura, kau sudah menjadi ancaman bagi mereka. Jangan percaya pada siapa pun, Anya. Bahkan pada orang-orang yang saat ini melindungimu. Mereka akan datang padamu bukan sebagai musuh, tapi sebagai penyelamat.

​Maafkan Ayah, Anya. Maaf karena Ayah memilih untuk mengurungmu daripada membiarkanmu mati di tangan mereka.

​—H.

​Aku menjatuhkan surat itu ke lantai. Kakiku benar-benar lemas sekarang. Devan segera menangkapku, membantuku duduk kembali di tepi tempat tidur. Ia memungut kertas itu dan membacanya dengan cepat. Wajahnya yang tadinya kaku perlahan berubah menjadi ekspresi penuh ketidakpercayaan yang mendalam.

​"Tangan Ketiga?" Devan menggeram, suaranya rendah dan berbahaya. "Apa lagi ini? Apa dia sedang mencoba memanipulasi kita lagi untuk menyelamatkan dirinya sendiri?"

​"Tulisan tangannya, Devan..." bisikku, air mata mulai menggenang. "Dia sedang sekarat. Kenapa dia harus berbohong di saat seperti ini?"

​"Hendra Kusuma adalah ahli strategi, Anya! Dia bisa memalsukan apa saja!" Devan bangkit, berjalan mondar-mandir di ruangan yang sempit itu. "Mungkin ini taktik Dirgantara untuk membuat kita saling curiga. 'Jangan percaya pada siapa pun', katanya? Itu cara klasik untuk mengisolasi korban."

​"Tapi bagaimana jika dia benar?" aku mendongak, menatap Devan dengan tatapan yang penuh keputusasaan. "Vincent bilang data di Singapura menunjukkan adanya aliran dana dari organisasi anonim yang berbasis di Eropa. Itu cocok dengan apa yang Ayah tulis."

​Vincent masuk ke kamar, ia mendengar perdebatan kami. "Anya benar, Devan. Aku baru saja melakukan pemindaian pada metadata yang berhasil kuselamatkan dari server Singapura. Ada jejak digital yang mengarah pada sebuah entitas bernama 'Orion Research'. Mereka tidak terdaftar di bursa saham mana pun. Mereka tidak punya wajah. Tapi mereka ada di setiap transaksi besar Dirgantara terkait Project Elegia."

​Vincent menunjukkan layar tabletnya. "Lihat ini. Tanggal kematian Ibu Anya, sepuluh tahun lalu. Ada lonjakan aktivitas dari akun Orion ke rekening pribadi Hendra Kusuma dan Wijaya Dirgantara. Itu adalah pembayaran untuk kegagalan."

​Aku menutup mulut dengan tangan. "Jadi Ayah benar... Ibu dibunuh oleh mereka karena menolak menyerahkan algoritmanya."

​Keheningan yang mematikan jatuh di antara kami. Udara di kamar itu terasa semakin tipis. Kami pikir kami sudah memenangkan pertempuran besar di Singapura. Kami pikir dengan mengungkap rahasia Dirgantara, semuanya akan selesai. Ternyata, kami baru saja menyingkap satu lapis kulit bawang, dan di bawahnya terdapat kegelapan yang jauh lebih pekat.

​"Tangan Ketiga ini..." Devan berhenti di depan jendela, menatap ke arah jalanan Johor Bahru yang mulai sibuk. "Jika mereka membunuh ibumu karena algoritma itu, dan sekarang algoritma itu ada di tangan kita... berarti kita bukan lagi sekadar buronan Dirgantara. Kita adalah target perburuan global."

​"Dan peringatan Ayah tentang penyelamat palsu..." aku menatap lencana perak di tanganku. "Maksudnya... Satria?"

​Devan menoleh padaku, matanya berkilat penuh keraguan yang baru. "Satria yang memberikan rute pelarian ke Singapura. Satria yang memberikan paspor palsu. Satria yang mengatur tim intelejen."

​"Tapi Satria yang membantu kita dari awal, Devan! Tanpa dia, kita masih terjebak di apartemen Kemang!" bela ku.

​"Atau, dia membantu kita karena dia butuh kita untuk membuka brankas itu?" suara Devan meninggi. Paranoianya yang selama tiga tahun menjadi mekanisme pertahanan kini bekerja dengan kecepatan penuh. "Pikirkan, Anya! Kenapa dia begitu gigih membantu anak jalanan sepertiku dan mahasiswi amnesia sepertimu? Dia butuh data itu, dan hanya kau yang bisa membukanya."

​Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk itu. "Aku tidak tahu lagi siapa yang harus kupercaya, Devan. Duniamu, duniaku... semuanya terasa seperti kaset rusak yang dipaksakan untuk berputar."

​Devan melangkah mendekat, ia berlutut di depanku, memegang kedua tanganku. "Kau bisa percaya padaku, Anya. Hanya aku. Aku tidak peduli pada algoritma itu. Aku tidak peduli pada Orion atau Dirgantara. Aku hanya peduli kau tetap bernapas."

​Di tengah ketegangan itu, sebuah kilas balik kembali menghantamku. Bukan tentang kecelakaan, tapi tentang Ayah. Tentang sebuah momen di ruang kerjanya sepuluh tahun lalu, tepat beberapa hari setelah Ibu 'menghilang'.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. RUANG KERJA HENDRA KUSUMA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)

​Suasana sangat mencekam. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja yang redup. ANYA kecil (9 tahun) berdiri di balik pintu yang terbuka sedikit. Ia melihat AYAH-nya sedang duduk di meja, memegang sebuah foto keluarga yang sudah retak kacanya.

​Di hadapan Ayah, berdiri seorang pria misterius yang mengenakan setelan jas abu-abu tanpa cela. Wajahnya tidak terlihat jelas karena ia berdiri di balik bayangan.

​PRIA MISTERIUS

"Hendra, kematian Melati adalah kecelakaan yang disayangkan. Tapi penelitiannya harus tetap berjalan. Kau sudah menerima kompensasinya."

​HENDRA KUSUMA

(Suaranya bergetar, penuh amarah yang tertahan)

"Kompensasi?! Kalian membunuh istriku! Kalian menghancurkan keluargaku!"

​PRIA MISTERIUS

"Kami memberikanmu masa depan. Dan kami memberikanmu cara agar putrimu tidak perlu merasakan penderitaan kehilangan ini. Gunakan zat itu padanya. Buat dia lupa. Itu satu-satunya cara untuk menjaganya tetap aman dari kami."

​Hendra menunduk, bahunya berguncang. Ia tampak seperti pria yang baru saja menyerahkan jiwanya pada iblis.

​PRIA MISTERIUS (CONT'D)

"Ingat, Hendra. Kami adalah tangan yang memberimu makan. Dan tangan yang sama bisa dengan mudah mencekik lehermu jika kau berkhianat."

​Pria itu berbalik dan berjalan menuju pintu. Anya kecil segera berlari menjauh, bersembunyi di bawah meja ruang makan. Ia melihat sepatu pantofel pria itu yang sangat berkilat lewat di depannya. Di bagian tumit sepatu itu, ada sebuah simbol kecil berbentuk rasi bintang Orion.

​ANYA (V.O)

"Malam itu, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku hanya tahu Ayah sedang menangis. Tapi sekarang aku tahu... Ayah tidak sedang berkhianat padaku. Dia sedang melakukan satu-satunya hal yang dia bisa untuk menjagaku dari 'Tangan' yang lebih kuat darinya. Pilihan yang salah, namun lahir dari ketakutan yang nyata."

​FADE OUT.

​Aku tersentak kembali ke realitas. Air mata kini benar-benar membasahi pipiku. "Ayah tidak berbohong, Devan. Aku melihat pria itu. Pria dengan simbol Orion di sepatunya. Sepuluh tahun lalu, di ruang kerja Ayah."

​Devan terdiam. Ia menarikku ke dalam pelukannya, membiarkan aku menangis di bahunya. "Berarti kita benar-benar dalam masalah besar, Anya."

​Vincent yang sedang mengamati layar komputernya tiba-tiba menegang. "Devan, Anya... ada pergerakan di koridor luar. Seseorang baru saja memutus kabel CCTV lantai ini."

​Devan seketika waspada. Ia mencabut pistolnya dan mematikan lampu kamar. "Vincent, ambil servernya. Anya, masuk ke dalam lemari, jangan keluar sampai aku mengatakannya!"

​"Tidak, Devan! Aku tidak akan meninggalkanmu!"

​"LAKUKAN, ANYA!"

​Suara pintu flat yang didobrak paksa terdengar menggelegar di ruang tamu. Elegi kami belum berakhir. Ia baru saja memasuki babak yang paling berdarah di tanah seberang.

​[BERSAMBUNG KE BAB 32]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!