"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Kencan yang Ramai
Baskara tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Jika dia bilang akan membawa Arini makan setelah bekerja, maka tujuannya adalah restoran fine dining di puncak gedung tertinggi di kota ini. Tempat yang tenang, mewah, dan seharusnya—sangat privat.
"Bas, apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku bahkan masih memakai baju kerja di balik jasmu," bisik Arini saat mereka berjalan menuju meja yang sudah dipesan.
Baskara menarik kursi untuk Arini dengan gerakan yang sangat kaku tapi sopan. "Kamu pantas mendapatkannya setelah hari yang panjang. Dan bagiku, kamu selalu terlihat... pantas di mana saja."
Arini tersipu. Pujian dari seorang Baskara itu langka, lebih langka daripada menemukan mayat tanpa keluhan di meja otopsinya. Namun, rasa hangat di hatinya tidak bertahan lama.
"Wuih! Mewah banget! Rin, tanya dong ke Mas Jaksa, ada menu bebek peking nggak?"
Suara Mika meledak tepat di telinga Arini. Hantu itu kini sedang asyik bergantungan di lampu kristal besar yang menggantung tepat di atas meja mereka. Arini memejamkan mata sejenak, merapalkan doa agar kesabarannya seluas samudra.
"Kenapa? Kepalamu pusing lagi?" tanya Baskara, suaranya terdengar cemas saat melihat Arini memijat pelipis.
"Tidak, Bas. Hanya... lampunya terlalu terang," bohong Arini.
"Rin, Rin! Lihat ke arah jam dua! Ada saingan kamu tuh!" Mika menunjuk ke arah meja di pojok restoran.
Arini melirik tipis. Di sana duduk seorang hantu wanita dengan gaun pesta tahun 80-an yang robek di bagian leher. Hantu itu sedang menatap sedih ke arah pasangan muda di meja sebelah.
Aduh, jangan sekarang. Tolong, jangan ada yang minta tolong sekarang, batin Arini menjerit.
"Arini, fokus padaku." Suara berat Baskara menarik kembali kesadaran Arini. Baskara mencondongkan tubuh ke depan, menatap Arini intens. "Kita perlu bicara soal pernikahan. Ibuku sudah mulai bertanya-tanya soal tanggal."
Arini nyaris tersedak air mineralnya. "Pernikahan? Bas, aku baru saja bangun dari koma seminggu yang lalu. Apa tidak terlalu cepat?"
"Aku tidak suka menunda sesuatu yang sudah pasti," jawab Baskara telak. "Kecelakaanmu membuatku sadar bahwa waktu tidak bisa diprediksi. Aku ingin kamu resmi berada di bawah perlindunganku."
Mika terjun bebas dari lampu kristal dan mendarat tepat di antara mereka. "Aih, romantisnya! Tapi Rin, Mas Jaksa ini posesifnya agak ngeri ya? 'Di bawah perlindungan'? Emangnya kamu saksi kunci?"
Tiba-tiba, Arini merasakan hawa dingin yang berbeda. Bukan dari Mika, tapi dari arah belakangnya.
"Dokter..." sebuah suara parau membisik di tengkuknya. "Dokter... tolong saya..."
Arini membeku. Sosok hantu wanita bergaun 80-an tadi sekarang sudah berdiri tepat di samping kursinya. Wajahnya yang pucat pasi berjarak hanya beberapa senti dari piring Arini.
"Tolong... sampaikan pada laki-laki di meja itu... jangan nikahi perempuan itu. Dia... dia yang meracuniku dulu..." hantu itu mulai menangis, tapi yang keluar bukan air mata, melainkan cairan bening yang berbau amis.
Arini berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat normal di depan Baskara. Tangannya gemetar saat memegang garpu.
"Arini? Kamu pucat lagi. Apa ada yang salah?" Baskara meletakkan tangannya di atas tangan Arini. Sentuhan itu hangat dan kokoh, seolah menjadi jangkar bagi Arini di tengah badai supranatural ini.
"Bas... aku..." Arini menelan ludah. Ia melihat ke arah Baskara, lalu ke arah hantu yang menangis, lalu ke arah Mika yang tiba-tiba diam dan memperhatikan hantu wanita itu dengan serius.
"Rin, kayaknya hantu ini serius," bisik Mika, kehilangan nada bercandanya. "Laki-laki yang dia tunjuk itu... itu anggota dewan yang lagi diincar tim kamu, kan?"
Arini melirik ke meja sebelah. Benar. Itu adalah salah satu saksi yang akan dipanggil Baskara minggu depan. Jika hantu ini benar, maka perempuan cantik yang duduk di depan laki-laki itu adalah seorang pembunuh.
Baskara menyadari arah pandangan Arini. Dia menoleh sedikit, lalu kembali menatap Arini dengan mata yang menyipit curiga. "Kamu mengenali mereka? Itu Pak Darmawan. Kenapa kamu melihatnya seperti itu?"
Arini tahu, jika dia bicara sekarang, Baskara akan menganggapnya gila. Tapi jika dia diam, Baskara mungkin akan membiarkan seorang pembunuh tetap bebas.
"Bas," Arini menarik napas panjang, menatap langsung ke mata tajam tunangannya. "Kalau aku bilang aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita di samping Pak Darmawan itu... apa kamu akan percaya padaku?"
Baskara terdiam. Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal. Di sekitar mereka, Mika dan hantu wanita itu menunggu dengan cemas.
Baskara melepaskan tangan Arini, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Secara hukum, 'perasaan' tidak bisa jadi bukti, Arini. Tapi..." Baskara menjeda kalimatnya, matanya menatap Arini dengan tatapan yang dalam dan sedikit lembut. "...aku belajar bahwa instingmu jarang sekali salah. Ceritakan padaku apa yang kamu lihat."
Arini hampir saja menangis karena lega. Baskara tidak percaya hantu, tapi dia percaya pada Arini.
"Aku rasa... dia bukan orang baik, Bas. Bisa tolong selidiki latar belakang istrinya yang pertama?" bisik Arini.
Hantu wanita itu tersenyum tipis, lalu perlahan menghilang.
Mika kembali ceria dan menepuk bahu Baskara (yang tentu saja tidak terasa apa-apa). "Bagus, Mas Jaksa! Gitu dong, percaya sama calon istri!"
Baskara mengangguk pelan, lalu memanggil pelayan. "Kita pulang sekarang. Aku akan minta timku memeriksa data itu malam ini."
Saat mereka berdiri, Baskara kembali menarik Arini mendekat, merangkul pinggangnya dengan erat. "Setelah ini, tidak ada urusan kantor lagi. Aku akan mengantarmu pulang, memastikan kamu tidur, dan tidak ada 'nyamuk kutub' yang mengganggumu."
Arini hanya bisa tersenyum pasrah, sementara Mika di belakang mereka sibuk membuat gestur "hati" dengan tangannya. Kencan ini memang ramai, kacau, dan aneh, tapi entah kenapa, Arini merasa sangat dicintai.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣