Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembersih Digang Gelap
Gang buntu di Kota Oksis itu terasa sangat sempit dan berbau busuk. Cahaya bulan yang seharusnya terang terhalang oleh bangunan tinggi yang menjulang di sisi kiri dan kanan, hanya menyisakan bayangan hitam yang panjang. Arlan berdiri diam di tengah gang tersebut, menatap empat pria dewasa yang perlahan mulai mengepungnya. Pria yang paling besar, yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok kecil ini, memutar mutar sebilah pisau berkarat di tangannya dengan seringai yang sangat menjijikkan. Dia merasa sangat beruntung karena telah menemukan mangsa yang terlihat begitu lemah namun membawa banyak koin emas.
Di dalam pikiran Arlan, situasi ini tidak lebih dari sebuah hambatan kecil yang harus segera dia bersihkan. Di kehidupan sebelumnya, saat dia masih menjadi Adit sang pebisnis sukses, dia sering menghadapi situasi di mana orang-orang mencoba memerasnya di balik meja rapat. Bedanya, kali ini taruhannya adalah nyawa, dan senjata yang digunakan bukan lagi kontrak hukum melainkan kekerasan fisik. Arlan mengatur pernapasannya dengan sangat tenang. Dia menutup matanya sejenak, membiarkan indra pendengaran dan perasa nya mengambil alih tugas matanya di kegelapan gang tersebut.
"Kenapa diam saja, bocah? Apa kamu sudah kencing di celana karena ketakutan?" tanya salah satu preman yang memiliki tubuh kurus dan wajah yang dipenuhi bintik hitam.
Ketiga temannya tertawa terbahak bahak. Suara tawa mereka memantul di dinding gang, menciptakan gema yang sangat bising. Bagi mereka, Arlan hanyalah seorang anak kecil yang kebetulan memiliki uang. Mereka tidak menyadari bahwa di balik tubuh mungil itu, terdapat jiwa seorang pria yang sudah pernah mencicipi pahitnya kematian dan kini memiliki kekuatan dari dewa pengembara.
Arlan membuka matanya. Pupil matanya terlihat sedikit melebar, menandakan bahwa Gerbang Pertama Gerbang Pembuka telah diaktifkan secara maksimal. Energi internal yang panas mulai mengalir dari perutnya menuju ke seluruh ujung saraf di kaki dan tangannya. Namun, kali ini Arlan mencoba sesuatu yang baru. Dia menerapkan teknik Gerbang Kedua yang baru saja dia pelajari dari kakek tua itu. Dia mengendurkan otot-otot di bahunya dan membiarkan berat tubuhnya jatuh secara alami ke bumi. Dia mencoba membuat tubuhnya merasa sangat rileks di tengah ancaman maut.
"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir," ucap Arlan dengan suara yang sangat rendah namun sangat jelas. "Pergi dari sini sekarang, atau kalian tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidup."
Mendengar ancaman dari seorang bocah berusia tujuh tahun, pemimpin preman itu merasa sangat tersinggung. Wajahnya yang kasar berubah menjadi merah padam karena amarah. "Berani sekali kau bicara begitu padaku! Habisi dia! Jangan sampai koin emasnya jatuh ke tanah!"
Dua preman di sisi kanan dan kiri segera melesat maju. Pria bertubuh kurus mencoba mengayunkan kayu pemukulnya ke arah kepala Arlan, sementara pria satunya lagi mencoba mencengkeram tangan Arlan. Gerakan mereka terlihat sangat kasar dan tidak teratur bagi Arlan. Dengan Gerbang Pertama yang aktif, Arlan merasa seolah-olah waktu bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya.
Arlan tidak mundur. Dia justru melangkah maju satu langkah kecil ke depan. Saat kayu pemukul itu hampir mengenai kepalanya, Arlan sedikit memiringkan tubuhnya. Kayu itu hanya mengenai udara kosong dengan suara desingan yang tajam. Tanpa membuang waktu, Arlan mengayunkan sikutnya ke arah rusuk pria bertubuh kurus tersebut.
Krakkk!
Suara tulang yang patah terdengar sangat jelas di kesunyian gang. Pria kurus itu seketika tersungkur ke tanah, memegangi dadanya sambil berusaha menarik napas yang terasa sangat sesak. Arlan tidak berhenti di sana. Dia memutar tubuhnya menggunakan tumit kakinya sebagai poros, lalu memberikan tendangan rendah ke arah lutut pria kedua yang mencoba mencengkeramnya.
Pria kedua itu berteriak kesakitan saat lututnya bergeser dari posisinya semula. Dia jatuh berlutut dengan wajah yang penuh keringat dingin. Hanya dalam hitungan detik, dua orang dewasa sudah dilumpuhkan oleh Arlan tanpa menggunakan banyak tenaga. Efisiensi gerakan ini adalah hasil dari Gerbang Kedua yang mulai memberikan Arlan kontrol penuh atas setiap serat ototnya.
Pemimpin preman itu terbelalak tidak percaya. Dia melihat dua anak buahnya yang paling lincah dikalahkan dengan begitu mudah. Dia segera memberi isyarat kepada anak buah terakhirnya yang bertubuh paling besar untuk menyerang bersama sama. "Gunakan kekuatanmu, Bodoh! Jangan meremehkannya!"
Preman besar itu menggeram. Dia ternyata memiliki sedikit berkah dari dewa minor, yang memungkinkannya untuk mengeraskan otot-otot lengannya hingga terlihat seperti batu. Ini adalah Berkah Penguatan Fisik tingkat rendah. Dia melayangkan pukulan besar yang bertujuan untuk menghancurkan tengkorak Arlan.
Arlan merasakan tekanan udara yang kuat dari pukulan tersebut. Dia menyadari bahwa ini adalah serangan yang didorong oleh mana. Jika dia hanya menggunakan kekuatan fisik biasa, tangannya mungkin akan patah saat mencoba menangkis. Arlan memejamkan mata dan memusatkan seluruh energi dari Gerbang Pertama dan Gerbang Kedua ke telapak tangan kanannya.
Dia tidak menangkis dengan cara memukul balik. Arlan justru menggunakan telapak tangannya untuk menerima pukulan itu dan segera mengarahkan energinya mengikuti arah pukulan lawan. Teknik ini adalah Menelan Aliran, sebuah cara untuk menetralisir kekuatan besar dengan cara membelokkannya.
Tangan preman besar itu tergelincir ke samping saat menyentuh telapak tangan Arlan. Karena tenaganya yang terlalu besar dan tidak mengenai sasaran, preman itu kehilangan keseimbangannya dan terhuyung ke depan. Arlan menggunakan momentum itu untuk menghantamkan telapak tangannya tepat ke arah ulu hati preman tersebut.
Dugh!
Serangan itu tidak terlihat kuat, namun getaran energinya menembus langsung ke dalam organ dalam preman besar tersebut. Pria itu seketika memuntahkan cairan kuning dari mulutnya dan jatuh pingsan di tempat. Kekuatan otot batunya tidak berguna jika serangan lawan langsung menyasar ke saraf pusatnya.
Kini tinggal sang pemimpin preman yang berdiri sendirian. Pisau di tangannya mulai bergetar. Dia melihat ketiga rekannya tergeletak tidak berdaya di tanah. Ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia menyadari bahwa bocah di depannya bukan hanya sekadar anak pengkhianat, melainkan seorang predator yang sangat berbahaya.
"Jangan mendekat! Aku punya banyak teman di kota ini! Jika kamu melukaiku, kamu tidak akan bisa keluar dari Kota Oksis hidup-hidup!" teriaknya dengan suara yang gemetar.
Arlan berjalan perlahan mendekati pria itu. Suara langkah kaki Arlan yang pelan terdengar seperti lonceng kematian di telinga sang pemimpin preman. Arlan berhenti tepat di depan pria itu. Dia menatap mata pria itu dengan tatapan yang sangat kosong, seolah-olah dia sedang melihat benda mati.
"Dulu, ada orang yang menghianati ku dan berpikir dia bisa lolos hanya dengan mengancam ku," ucap Arlan dengan suara yang sangat dingin. "Dia mengambil segalanya dariku karena aku terlalu baik. Di kehidupan ini, aku belajar satu hal penting. Ancaman dari orang yang sudah kalah hanyalah suara sampah yang harus dibuang."
Arlan meraih pergelangan tangan pria itu yang memegang pisau. Dengan satu gerakan yang sangat cepat dan kuat, Arlan mematahkan pergelangan tangan tersebut. Pisau itu jatuh ke tanah, dan sang pemimpin preman berteriak histeris. Arlan kemudian memberikan satu pukulan terakhir ke arah leher pria itu, membuatnya jatuh pingsan seketika.
Suasana gang kembali menjadi sunyi. Arlan mengatur napasnya kembali hingga detak jantungnya kembali normal. Dia mengambil kembali kantong belanjanya yang diletakkan di tanah. Dia tidak lupa untuk menggeledah kantong uang milik keempat preman tersebut. Sebagai orang yang pernah bangkrut, Arlan tidak akan membuang kesempatan untuk menambah modalnya. Dia mendapatkan sekitar sepuluh koin perak tambahan dari mereka.
Setelah selesai, Arlan keluar dari gang gelap itu dengan tenang. Dia tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Baginya, ini hanyalah bagian dari latihan rutinnya. Dia menyadari bahwa Gerbang Kedua miliknya hampir terbuka sepenuhnya. Stamina yang dia rasakan sekarang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Dia merasa seolah olah dia bisa berjalan selama berhari hari tanpa merasa lelah.
Arlan berjalan menuju Kedai Naga Merah tempat kakek tua itu berada. Dia melihat banyak orang yang sedang mabuk dan menari nari di dalam kedai tersebut. Di salah satu sudut yang paling gelap, dia melihat kakek tua itu sedang tertawa terbahak bahak sambil memegang sebuah kendi besar berisi arak.
Arlan menghampiri kakek itu dan duduk di kursi kosong di depannya. Dia meletakkan kantong belanjaannya di atas meja kayu yang sudah berminyak.
"Kamu terlambat sepuluh menit," ucap kakek itu setelah meneguk araknya hingga habis. "Dan aku mencium bau darah dari tanganmu. Sepertinya kamu baru saja bersenang senang di luar sana."
"Hanya beberapa ekor tikus yang mencoba menghalangi jalanku," jawab Arlan singkat. Dia mengambil sebuah gelas kosong dan mengisinya dengan air putih.
Kakek tua itu menatap Arlan dengan lebih serius. Dia melihat perubahan aura di tubuh Arlan. "Gerbang Keduamu sudah hampir stabil. Kamu belajar lebih cepat dari yang aku perkirakan. Sepertinya penderitaan masa lalu mu benar-benar menjadi katalis yang luar biasa untuk ilmu Taijutsu ini."
Arlan meminum airnya hingga habis. "Kapan kita akan mulai latihan yang sesungguhnya untuk membuka Gerbang Ketiga? Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Julian akan menungguku di akademi dalam tiga bulan."
Kakek itu tertawa kecil. "Sabar, bocah. Gerbang Ketiga adalah Gerbang Kehidupan. Jika kamu salah melangkah, jantungmu bisa meledak seketika. Kita tidak bisa melakukannya di kota yang berisik ini. Besok pagi, kita akan pergi ke Puncak Gunung Es di perbatasan utara. Di sana, suhu udara yang sangat ekstrem akan memaksa darahmu untuk bergerak lebih cepat, atau kamu akan membeku selamanya."
Arlan mengangguk. Dia tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Baginya, tempat yang paling berbahaya di dunia ini bukanlah gunung es atau hutan binatang sihir, melainkan dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang bisa mengkhianatinya kapan saja. Dia akan terus berlatih hingga tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menyentuhnya lagi.
"Aku akan siap besok pagi," ucap Arlan tegas.
Malam itu, Arlan beristirahat di sebuah kamar kecil yang disewa oleh kakek tua itu. Dia menggunakan waktunya untuk mengolah kembali energi yang dia dapatkan dari pertarungan di gang tadi. Dia merasakan bahwa setiap kali dia bertarung, teknik Taijutsu nya menjadi semakin matang. Dia bukan lagi sekadar mengikuti instruksi kakek tua, melainkan mulai menciptakan gayanya sendiri yang efisien dan mematikan.
Di kejauhan, di istana kerajaan, seorang pria paruh baya dengan mahkota emas sedang menatap peta wilayah Oakhaven. Dia mendengar laporan tentang anak keluarga Vandermir yang mulai menunjukkan kekuatan aneh. Pria itu meremas peta tersebut hingga hancur.
"Keturunan pengkhianat tidak boleh dibiarkan tumbuh besar," gumam pria itu dengan nada bicara yang penuh kebencian. "Kirimkan ksatria bayangan untuk menyelidiki anak itu. Jika dia benar-benar berbahaya, habisi dia sebelum dia mencapai usia dewasa."
Badai besar sedang bergerak menuju Arlan, namun sang pendekar tanpa berkah itu sedang tertidur lelap dengan kepalan tangan yang siap untuk menghancurkan apa pun yang menghalanginya.