NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Lembah Seribu Sisik kini menjadi rumah keduaku. Jika dulu aku gemetar mendengar desisan ular, kini suara itu terdengar seperti musik pengantar tidur yang akrab. Sudah berbulan-bulan sejak gigitan kobra pertama itu, dan tubuhku tidak lagi membengkak atau menghitam.

Setiap pagi, Ki Kusumo tidak lagi melepaskan satu atau dua ular. Beliau melemparkanku ke dalam lubang berisi puluhan jenis reptil berbisa, kalajengking hutan, hingga kelabang raksasa yang cairannya bisa melelehkan daging.

Sreeet... jleb!

Seekor kelabang merah sepanjang lenganku menancapkan taringnya di bahu kiriku. Rasanya? Hanya seperti sentakan hangat yang menjalar ke jantung. Aku tidak lagi berteriak. Aku justru memejamkan mata, menghirup napas dalam, dan membiarkan racun itu bercampur dengan aliran darahku.

"Bagaimana, Qinar? Masih terasa sakit?" Ki Kusumo jongkok di bibir lubang, memandangi tubuhku yang penuh dengan bekas gigitan yang perlahan memudar.

"Sakitnya... aneh, Ki," jawabku dengan suara rendah. "Awalnya panas, lalu dingin, tapi sekarang rasanya seperti... nikmat. Setiap kali racun itu masuk, aku merasa Qi-ku memakannya dan tumbuh lebih besar."

Aku berdiri di tengah kerumunan ular yang melata di bawah kakiku. Mereka tidak lagi menyerangku dengan beringas; seolah-olah mereka tahu bahwa darah di dalam tubuhku jauh lebih mematikan daripada bisa mereka sendiri.

"Hahaha! Itulah yang disebut Tubuh Nirbisa," Ki Kusumo melompat turun ke sampingku. Beliau memegang pergelangan tanganku, menekan nadiku dengan kuat. "Darahmu tidak lagi murni merah, Qinar. Ada semburat keunguan di dalamnya. Racun-racun ini bukan lagi musuhmu, mereka adalah bahan bakar bagi Kultivasimu."

Tiba-tiba, sebuah getaran hebat muncul dari tulang sumsumku. Rasanya seperti ada bendungan yang pecah di dalam dadaku. Energi petir yang kuserap di Ujian Kedua dan sari racun dari Ujian Ketiga mendadak berputar, menyatu, dan meledak ke seluruh penjuru tubuhku.

Duar!

Gelombang energi kasat mata terpental dari tubuhku, membuat ular-ular di sekitarku terlempar ke dinding lubang. Tanah di bawah kakiku retak sedalam sepuluh senti.

"Ugh!" aku berlutut, mencengkeram dadaku.

Tulang-tulangku berderak, seolah-olah sedang disusun ulang oleh tangan-tangan raksasa. Rasa sakitnya luar biasa, tapi ada sensasi kekuatan yang tak terbendung mengalir di setiap sarafku. Cahaya perak dan ungu berkilat bergantian di bawah kulitku yang sekeras besi.

"Tahan, Qinar! Jangan dilepaskan! Tekan energi itu masuk ke dalam sumsum tulang belakangmu!" teriak Ki Kusumo, wajahnya tampak sangat bersemangat.

Aku menggertakkan gigi sampai gusi-gusiku berdarah. Aku memusatkan seluruh kesadaranku ke tulang punggung. Tanda merah di tanganku bersinar sangat terang, memandu aliran energi yang liar itu agar tidak menghancurkan organ dalamku.

Satu detik... dua detik...

Criiing!

Suara berdenting halus terdengar di dalam kepalaku. Pandanganku mendadak menjadi sangat jernih, sepuluh kali lebih tajam dari sebelumnya. Aku bisa merasakan denyut jantung Ki Kusumo, aku bisa mendengar suara semut yang merayap di atas daun, dan aku bisa merasakan aliran udara yang masuk ke paru-paruku dengan sangat detail.

Aku berdiri perlahan. Tubuhku terasa sangat ringan, namun sangat berat di saat yang sama. Berat karena kepadatan otot dan tulangku kini melampaui batas manusia.

"Ki... aku merasa... berbeda," gumamku. Aku mengepalkan tangan kanan, dan seketika itu juga, udara di sekitarku seolah-olah terkompresi.

"Selamat, Bocah Ajaib," Ki Kusumo menepuk pundakku dengan bangga. "Di usiamu yang baru delapan tahun ini, kau resmi menembus Level 3 Kultivasi: Tahap Sumsum Emas. Kau sudah melewati pencapaian prajurit elit kerajaan dalam waktu kurang dari tiga tahun!"

Aku melihat tanganku. Kulitku kini tampak sangat bersih, hampir transparan namun tetap sekeras baja. Guratan-guratan perak yang dulu samar kini menetap secara permanen, membentuk pola-pola halus yang indah di sepanjang lenganku.

"Level 3..." bisikku. Aku memukul dinding lubang yang terbuat dari batu cadas keras tanpa menggunakan tenaga penuh—Brak!

Batu itu hancur berkeping-keping, meninggalkan lubang sedalam kepalan tanganku. Tidak ada rasa sakit sedikit pun di buku jariku.

"Anak seusiamu di luar sana mungkin masih bermain layang-layang atau belajar membaca," Ki Kusumo mengambil sebotol arak dan meminumnya dengan sekali teguk. "Tapi kau? Kau sudah bisa membunuh harimau dengan satu pukulan tanpa perlu berkeringat. Kau bukan lagi anak-anak, Qinar. Kau adalah monster kecil yang sedang tumbuh."

Aku menatap ke arah luar lubang, ke arah hutan yang luas dan misterius. Rasa sakit yang dulu kutakuti kini menjadi candu. Setiap luka, setiap gigitan, dan setiap sambaran petir hanya membuatku merasa lebih hidup.

"Tapi Ki," aku menoleh padanya, "Level 3 ini... apa gunanya jika aku tetap di sini? Aku ingin tahu untuk apa kekuatan ini dibuat. Siapa sebenarnya musuh yang kau maksud?"

Ki Kusumo terdiam, senyumnya memudar. Beliau menatap tanda merah di pergelangan tanganku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah melihat sejarah yang terkubur di sana.

"Musuhmu bukan manusia biasa, Qinar. Mereka adalah orang-orang yang menganggap diri mereka dewa. Orang-orang yang membuangmu seperti sampah karena mereka takut akan cahaya yang kau miliki," ucapnya rendah. "Tapi sabarlah. Satu ujian lagi, dan kau akan siap untuk memberikan mereka rasa sakit yang jauh lebih nikmat dari apa yang kau rasakan hari ini."

Aku mengepalkan tangan, merasakan energi Level 3 yang berdenyut di nadiku. Aku tidak tahu siapa "dewa-dewa" itu, tapi jika mereka takut padaku saat aku masih bayi, maka saat aku keluar dari gunung ini nanti, mereka benar-benar harus mulai berdoa.

"Ujian selanjutnya, Ki?" tanyaku dengan mata yang berkilat penuh tantangan.

Ki Kusumo menyeringai lagi, kembali ke sifat aslinya yang menyebalkan. "Besok. Sekarang, cuci badanmu! Bau ular ini membuatku tidak selera makan ubi!"

Aku tertawa pendek. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku merasa benar-benar memegang kendali atas takdirku sendiri.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!