Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Bulu mata lentik yang awalnya tertutup rapat, kini perlahan mulai terbuka. Pandangan gadis itu mengerjap beberapa kali untuk menjernihkan penglihatannya, saat pandangannya sudah lebih jelas alis kedua gadis itu seketika terangkat.
"Aku di mana?" Gumamnya heran.
Dia menoleh ke kanan dan kiri namun ruangan yang kini dia tempati sangat jauh berbeda dengan ingatan terakhir yang dia miliki, Aurelia berusaha menegakan tubuhnya dan bersandar pada sandaran ranjang yang berada di belakang punggungnya.
"Kenapa aku di kamar?" Aurelia mengamati sekelilingnya. "Bukankah seharusnya aku sudah mati?"
Aurelia yakin bahwa dia baru saja di khianati oleh rekannya sendiri, Leon. Yang pada akhirnya membuat nyawanya melayang detik itu juga, tapi anehnya sekarang dia masih bernapas layaknya tidak terjadi apa-apa.
Aurelia meraih cermin yang berada di atas nakas samping tempat tidur, saat wajahnya terpantul dari cermin yang dia pegang refleks Aurelian menjatuhkan cermin itu ke atas pangkuannya.
"Kenapa wajahku berubah?" Ujarnya heran.
Saat dia ingin mengambil cermin itu lagi, tiba-tiba saja pintu kamar tersebut terbuka dari luar. Aurelia menoleh, dia melihat seorang pria paruh baya datang membawa nampan berisi makanan.
"Kau sudah bangun, Al?" Tanya pria itu.
Aurelia mengernyitkan dahi. "Siapa kau?"
"Siapa?" Pria itu merasa aneh dengan sikap waspada yang cucunya berikan. "Aku kakekmu, masa kau lupa?"
"Kakek?"
Pria bernama Jacob itu mengangguk seraya meletakan nampan berisi bubur serta susu hangat ke atas nakas. "Iya, kau demam selama empat hari dan sekarang kau malah tidak mengenaliku?"
"A-apa?" Aurelia tergagap. "Demam?"
"Sepertinya demam-mu cukup parah, kata dokter kondisimu hampir kritis tapi untungnya kau bisa sadar." Senyum tulus muncul di wajah pria itu. "Kakek sangat bahagia, Aleta."
Mendengar namanya berubah, Aurelia terdiam cukup lama. Dia mencoba mencerna situasi yang ada, namun hanya ada satu kalimat yang bisa menerjemahkan situasinya saat ini. Transmigrasi?
Benarkah dia mengalami hal itu? Jika tidak mana mungkin dia yang sudah mati bisa hidup lagi, dan wajah serta namanya berubah.
"Leta, kau kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Jacob cemas.
Aurelia yang kini menjadi Aleta menggeleng lemah. "Tidak, aku baik-baik saja."
"Syukurlah, tadi Kakek memasak bubur untukmu. Kau makan dulu, sebelum dingin."
Aleta mengangguk. "Terima kasih, Kek."
"Sama-sama," Jacob mengusap pucuk kepala Aleta pelan. "Kakek berangkat kerja dulu, ya."
"Kerja? Di mana?"
"Di kedai makanan seberang jalan rumah kita, kalau kau memerlukan sesuatu segera hubungi Kakek."
Setelah mengatakan hal itu, Jacob berbalik meninggalkan kamar cucunya. Selepas kepergian pria itu, Aleta segera meraih cermin yang tadi sempat terjatuh ke pangkuannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Aleta memegang wajahnya sendiri, kulit gadis yang dia tempati sangat lembut dengan iris mata berwarna coklat.
Aleta menatap bayangannya cukup lama, wajah yang terlihat di cermin itu jelas bukan miliknya.
Gadis itu tampak jauh lebih muda. Kulitnya pucat bersih, dengan garis wajah lembut yang memberi kesan rapuh. Mata cokelatnya besar, namun terlihat sedikit sayu, seolah pemilik tubuh ini sering menahan sesuatu dalam diam.
Aleta menyentuh pipinya perlahan, kulitnya terasa nyata. Hangat.
"Ini bukan mimpi..." gumamnya pelan.
Dada Aleta naik turun perlahan. Otaknya bekerja keras mencoba menyusun semua potongan kejadian yang sempat di alami olehnya.
Dia ingat dengan jelas malam itu, di gudang tua pertarungan terjadi. Bau mesiu memenuhi gudang itu, bersama darah dan pengkhianatan yang di lakukan oleh rekannya sendiri.
Tatapan Leon waktu itu masih terbayang jelas di kepalanya. Senyum sinis sebelum peluru terakhir ditembakkan ke kepalanya.
Secara logika, dia seharusnya sudah mati.
Namun sekarang... Dia hidup di tubuh orang lain. Aleta menurunkan cermin ke pangkuannya, menatap kosong ke arah dinding kamar yang sederhana. Catnya sedikit pudar, dengan beberapa foto keluarga kecil yang menempel di sana.
Salah satu foto menarik perhatiannya. Seorang pria tua berdiri di samping seorang gadis remaja yang tersenyum cerah. Gadis itu... Aleta.
Tidak, gadis yang dulu memiliki tubuh ini. Aleta bangkit perlahan dari ranjang, meskipun tubuhnya masih terasa lemah. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Langkahnya sedikit goyah saat berjalan mendekati dinding.
Dia mengambil foto itu, tatapannya menelusuri wajah gadis di dalam bingkai.
"Jadi... ini pemilik tubuh ini?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba, sebuah rasa sakit menusuk kepalanya. "Ah—!"
Aleta memegang pelipisnya kuat-kuat. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba, seperti ribuan jarum yang menusuk otaknya bersamaan. Gambar-gambar asing mulai bermunculan di kepalanya.
Suara. Wajah. Kenangan. Seorang gadis kecil tertawa. Seorang pria tua memanggil dengan suara lembut.
Lalu... Sekolah. Koridor panjang. Bisikan orang-orang. Aleta tersentak. Napasnya memburu. Ingatan yang bukan miliknya terus mengalir masuk seperti banjir yang tidak bisa dihentikan.
Nama gadis ini memang Aleta, dan nama panjangnya Aleta Valencia. Umurnya tujuh belas tahun. Dia tinggal bersama kakeknya, Jacob, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu. Namun itu bukan bagian paling aneh, Aleta menegakkan tubuhnya perlahan.
Matanya menyipit. "Tubuh ini memiliki tunangan..."
Ingatan baru muncul lagi di kepalanya, sebuah ruangan besar dengan pria-pria bersetelan hitam. Dan di tengah mereka seorang pria muda duduk di kursi besar dengan ekspresi dingin.
Wajahnya tampan, namun tatapannya tajam seperti pisau.
"Siapa sebenarnya pria itu?" Gumam Aleta penasaran.
Tidak ada ingatan lain mengenai sosok yang baru saja singgah di ingatannya, dia tidak tahu persis bagaimana hubungan Aleta dan pria itu.
"Sepertinya kehidupan kali ini bakal menarik." Ketika Aleta hendak menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Secara kebetulan ponsel yang ada di nakas bergetar pelan, Aleta menoleh lalu meraih ponsel itu dan melihat ada satu pesan yang baru saja masuk.
Ravian:
Minggu depan aku pulang, sebaiknya kau mempersiapkan diri.
Kening Aleta berkerut halus. "Siapa orang ini? Dan kenapa di menyuruhku bersiap-siap?"
Aleta membalas pesan itu dengan menanyakan siapa sosok tersebut, akan tetapi pesannya sama sekali tidak di balas meski sudah di lihat.
Aleta berdecak pelan. "Dasar orang gila."
Dia meletakan kembali ponselnya ke nakas, dan bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tanpa tahu bahwa dia baru saja berurusan dengan orang paling berpengaruh di dunia bawah.
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁