Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 – Bukan Sekadar Kontrak Lagi
Koridor rumah sakit tiba-tiba terasa lebih sempit.
Atau mungkin—
Karena aura dingin Raka yang langsung memenuhi ruangan itu begitu ia tiba.
Alya berdiri di antara dua pria dengan perasaan tidak nyaman.
Sementara itu, Dimas masih mempertahankan ekspresi santainya, meskipun jelas ia bisa merasakan perubahan suasana.
“Kopi pagi?” tanya Raka akhirnya.
Nada suaranya memang tenang.
Namun Alya sudah mulai hafal.
Itu bukan sekadar pertanyaan biasa.
“Oh… tadi Dimas yang membelikannya,” jawab Alya cepat.
Tatapan Raka tertuju pada gelas kopi di tangan Alya beberapa detik lebih lama dari yang semestinya.
Lalu kembali menatap wajah wanita itu.
“Saya tahu.”
Hening.
Dan Alya benar-benar ingin menyeret kedua pria ini ke ruangan yang berbeda.
Dimas akhirnya terkekeh kecil untuk memecah keheningan.
“Tenang saja, Pak Raka. Saya belum menculik istri Anda.”
Itu adalah kesalahan besar.
Sebab begitu kata *istri Anda* terucap—
Tatapan Raka langsung berubah menjadi lebih tajam.
“Saya tidak bercanda soal itu.”
Suasana langsung membeku.
Alya menatap Raka dengan cepat.
Sementara itu, Dimas perlahan kehilangan senyum tipisnya.
“Aku juga tidak bercanda,” balas Dimas tenang.
Dan oh tidak.
Mereka benar-benar akan memulai pertikaian.
“Baiklah.” Alya buru-buru berdiri di antara keduanya sebelum situasi makin canggung. “Ini rumah sakit, bukan arena duel.”
Dimas langsung terkekeh kecil lagi.
Namun Raka tetap diam.
Tatapannya masih dingin.
Dan Alya mulai menyadari sesuatu—
Pria itu benar-benar merasa terganggu.
Bukan sekadar sikap posesif kecil seperti sebelumnya.
Tapi sungguhan terganggu.
“Aku masuk ke kamar ibu dulu,” kata Alya cepat, mencoba menyelamatkan keadaan.
Namun sebelum sempat beranjak—
“Sebentar.”
Suara Raka menghentikannya.
Alya menoleh.
Tatapan pria itu kini kembali tertuju lurus padanya.
“Pulang nanti dengan saya.”
Nada suaranya terdengar seperti sebuah perintah halus.
Dan sebelum Alya sempat menjawab, Dimas sudah lebih dulu berucap—
“Dia bisa pulang sendiri.”
Raka menoleh perlahan ke arah Dimas.
Tatapan mereka kembali beradu.
Tegang.
Tenang.
Namun jelas penuh tantangan.
“Saya tidak bertanya kepada Anda.”
Baiklah.
Sekarang situasinya benar-benar berbahaya.
Alya langsung memejamkan mata sebentar dalam hati.
Kenapa dua pria dewasa ini tiba-tiba terdengar seperti anak SMA yang memperebutkan kekasih?
“Aku akan pulang dengan Raka,” katanya cepat sebelum situasi memanas.
Dan detik itu juga—
Ekspresi Raka sedikit berubah.
Sangat tipis.
Namun Alya melihatnya.
Pria itu terlihat puas.
Sementara Dimas hanya tersenyum kecil dengan pahit.
“Baiklah,” katanya pelan. “Aku mengerti.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Alya merasa bersalah.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Dimas sudah mundur selangkah.
“Aku masih ada pasien. Permisi.”
Lalu pria itu pergi meninggalkan lorong.
Dan begitu langkahnya menghilang—
Keheningan langsung terasa lebih nyata.
Alya perlahan menoleh pada Raka.
“Kamu tadi keterlaluan,” ucap Alya.
“Saya jujur.”
“Kamu terdengar seperti sengaja ingin menantangnya.”
Tatapan Raka kembali tertuju lurus padanya.
“Mungkin.”
Jantung Alya langsung berdebar tidak karuan lagi.
Pria ini benar-benar tidak membantu hidupnya tetap tenang.
“Aku serius.”
“Saya juga serius.”
Raka melangkah mendekat sedikit.
Dan lagi-lagi—
Jarak mereka mulai terasa terlalu dekat untuk berada di tempat umum.
“Saya tidak suka dia terus mendekati Anda.”
“Aku bukan barang.”
“Saya tahu.”
“Kalau begitu?”
Tatapan Raka berubah menjadi lebih dalam.
“Kalau begitu saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya tetap tidak suka.”
Kalimat itu terdengar begitu jujur sampai Alya kehabisan kata-kata sesaat.
Dan yang paling mengganggu—
Ia justru merasa senang mendengarnya.
Bahaya.
Sangat bahaya.
---
Siang harinya, Alya menemani ibunya makan sambil sesekali melamun sendiri.
Ibunya yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tersenyum kecil.
“Kamu bertengkar sama Raka?”
Alya langsung tersedak air minumnya.
“Kenapa semua orang berpikir begitu?”
“Karena wajahmu mudah sekali dibaca.”
Alya langsung mendesah kecil.
Hebat.
Sekarang semua orang bisa membaca dirinya semudah buku terbuka.
“Kami tidak bertengkar,” gumamnya pelan.
“Hm.” Ibunya tersenyum penuh arti. “Kalau begitu kamu pasti sedang jatuh cinta.”
Jantung Alya langsung berhenti sepersekian detik.
“Bu!”
“Apa? Ibu cuma menebak.”
Alya buru-buru memalingkan wajah sambil pura-pura membereskan meja kecil.
Namun semakin ia menghindar—
Semakin jelas jawabannya.
Karena ibunya benar.
Ia jatuh cinta.
Dan itu masalah besar.
“Alya.”
Suara ibunya mendadak terdengar lebih lembut.
Wanita itu menatap putrinya lama sebelum berkata pelan—
“Kalau seseorang membuatmu merasa tenang… jangan terlalu keras melawan perasaanmu sendiri.”
Mata Alya langsung sedikit melembut.
“Tapi bagaimana kalau semuanya berakhir buruk?”
Ibunya tersenyum kecil.
“Semua hubungan selalu memiliki risiko.”
Hening sesaat.
Lalu wanita itu melanjutkan—
“Tapi lebih menyakitkan menyesal karena tidak mencoba.”
Kalimat itu menancap pelan di hati Alya.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apa ia benar-benar ingin terus pura-pura tidak merasakan apa-apa?
---
Malamnya, Raka datang menjemput Alya seperti janjinya.
Perjalanan pulang berlangsung cukup sunyi.
Namun kali ini bukan karena canggung.
Lebih seperti keduanya sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya Alya membuka suara lebih dulu.
“Kamu tadi membuat Dimas tidak nyaman.”
Tatapan Raka tetap lurus ke jalan.
“Saya tahu.”
“Kamu sengaja?”
“Ya.”
Jawaban jujur itu membuat Alya langsung menoleh cepat.
“Kamu bahkan tidak berusaha menyangkalnya?”
“Untuk apa?”
Nada suaranya tetap tenang.
Dan Alya benar-benar tidak tahu harus kesal atau malu sekarang.
“Kamu biasanya lebih pintar menyembunyikan perasaanmu.”
Raka terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan berkata—
“Mungkin saya mulai lelah berpura-pura.”
Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat.
Lagi.
Selalu begitu setiap pria ini bicara terlalu jujur.
Mobil berhenti di lampu merah.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, Raka menoleh kepadanya.
Tatapannya tenang.
Namun terlalu fokus.
“Alya.”
“Hm?”
“Saya tidak suka membagi perhatian Anda dengan pria lain.”
Napas Alya langsung tertahan.
Kalimat itu terdengar sangat posesif.
Dan yang lebih parah—
Ia justru menyukainya.
“Kamu sadar tidak,” gumam Alya pelan sambil tersenyum gugup, “kalau kamu sekarang benar-benar terdengar seperti suami yang cemburu?”
Tatapan Raka berubah tipis.
“Mungkin karena saya memang cemburu.”
Jantung Alya langsung kacau balau.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil kembali berjalan.
Namun suasana di dalamnya sudah tidak sama lagi.
Karena untuk pertama kalinya—
Raka mengakuinya secara langsung.
Dan Alya tidak yakin dirinya masih bisa terus berpura-pura bahwa hubungan mereka hanyalah kontrak biasa.