Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Garis Dua Pembawa Petaka
"Selamat datang pengantin baru?"
Kania menarik tangan Laras mendekatinya. Aku seperti orang asing yang terabaikan.
Sebenarnya aku ingin berterimakasih kepadanya. Tapi momennya belum tepat, aku benar-benar dikacangin.
Kulihat rumah Mama begitu ramai. Padahal kedatanganku hanya untuk bertamu mengunjungi orang tua setelah menikah. Namun suasana seperti ini sama seperti aku dan Laras sedang lamaran.
Entahlah aku juga tidak mengerti ini apa. Yang jelas Mama dan mertuaku meminta kami datang ke rumah orang tuaku. Membawa beberapa rantang dan juga bawaan dari keluarga Laras bahkan kami juga tidak pergi berdua saja. Kami datang bersama keluarga besar Laras.
Rasanya ingin sekali cepat-cepat kuajak Laras kabur ke Jakarta."
"Bengong sendiri, Raka?"
Teguran Mama mertuaku membuat aku kaget.
"Ayo masuk, baru dua hari ninggalin rumah udah canggung!"
Kelakar mertuaku membuat aku semakin terpojok. Kugaruk kepala yang tak gatal. Bukan canggung sebenarnya, hanya belum siap untuk bertemu Mama dan menjelaskan semuanya.
Huft, untuk pertama kalinya kakiku benar-benar terasa berat melangkah ke rumahku sendiri.
"Ayo abang, Mama sudah menunggu di dalam." Ajakan Laras semakin membuat pundakku berat. Ini satu-satunya tugasku yang belum selesai. Mama butuh penjelasan dan aku perlu kekuatan untuk menjelaskan semuanya.
Kulirik Kania, ia membuang muka kepadaku. Mungkin saja ia jengkel dengan semua pengaduan Ningsih, entahlah. Wanita lembut yang aku kenal dan aku kagumi selama tiga tahun, ternyata lebih berbahaya dari pada ular berbisa.
Laras mendekat, lalu menggenggam jemariku. Sekilas ia menatapku sambil tersenyum. Tak ayal kami jadi tontonan semua pasang mata yang di rumah mama. Darahku berdesir tak menentu, ketika kilat mata mama menatapku.
"Masuk nak," Mama merangkul Laras begitu mesra. Istriku mencium punggung tangan mama. Adap yang bahkan jarang aku temukan di kota besar. Tapi ketika aku menyambut tangan mama, senyum itu berubah murka yang seperti sengaja ditahan, agar yang lain tidak menyadarinya.
Setelah itu mama sibuk melayani para tamu dari keluarga Laras. Huft, lega untuk sesaat aku bebas.
"Apa yang akan abang jelaskan kepada Mama?"
Laras berbisik manja di kupingku, teh yang baru saja aku seruput hampir tumpah mengenai bajuku. Mukaku memerah, pertanyaannya diluar nalarku.
Apakah kali ini Laras juga tahu? Laras tahu kalau mama memarahiku? Kalau ini benar berarti, Kanialah satu-satunya tersangka.
"Kamu tahu dari mana kalau Mama marah?"
Aku bertanya penuh selidik. Laras memalingkan mukanya sejenak. Wajahnya tersipu.
"Abang yang belum tahu banyak tentang Laras. Tapi, Laras tahu banyak tentang abang," Setelah kalimat pamungkas itu dia kembali tersenyum. Mengejekku, kalau saja kami tidak di keramaian, sudah aku jewer telinganya. Gemes sekali melihat ekpresi ejekannya padaku.
"Kamu tahu dari Kania kan?" Balasku menyerang balik.
Ia melirikku.
"Aku ingin mengenal abang seutuhnya, tidak setengah-setengah. Sekarang abang adalah bahagian dari hidup Laras."
Kalimat terakhirnya terasa mengguncang dadaku, gemuruh dan detaknya begitu cepat.
"Sekarang, abang punya Laras. Apapun masalah abang, juga masalah Laras. Jangan dipendam sendiri. Ajak Laras berbagi cerita?"
Ngena banget! Makjleb ini kata-kara terkeren yang aku tunggu. Laras benar-benar wanita luar biasa yang aku temukan. Hampir saja air mata ini mengalir kalau saja di hadapanku tidak ada orang lain.
Aku menatapnya cukup lama, dalam. Kata-katanya sangat menyentuh dan memenangkanku. Ku gigit bibir, antara getir dan bahagia. Mama tidak salah menjodohkan aku dengan Laras.
"Terimakasih sayang, abang yang sangat beruntung memiliki Laras."
Ucapku terbata, sangat pelan. Hanya kami berdua yang mendengarkan.
"Hmpz, tempat umum. Romantisnya nanti saja, nggak malu sama tetua rumah."
Tiba-tiba saja Kania menyikut siku tanganku. Saat aku melirik, dia tetap cuek dan membuang muka. Mukanya benar-benar menyebalkan.
Setelah perbincangan hangat antara dua keluarga, beberapa orang mulai menyajikan makanan. Acara makan bersama keluarga besarku dan keluarga besar Laras. Aroma-aroma masakan minang membuat hidungku mengendus pelan. Aromanya membuat perut benar-benar lapar.
"Nasi abang," Laras menyerahkan sepiring nasi putih kepadaku. Ia benar-benar melayaniku layaknya suami minang pada umumnya.
Kusunggingkan seulas senyum kepadanya.
"Makan yang banyak ya, biar kuat menghadapi Mama nanti,"
Guyonnya membuat aku terdiam. Aku menjiwil pinggangnya diam-diam agar tak mengundang perhatian orang sekitar.
"Huk, huk, panas, gerah!"
Kania tiba-tiba aja nyeletuk dari belakang kami. Membuat beberapa pasang mata sontak menoleh.
"Panas Kania, karena pengantin baru ya?"
Celetuk Rani, sepupuku dan Kania. Anak dari tante Ratih.
Kami saling bertatap, beberapa orang melirik kami sambil tersenyum puas. Aku dibuat malu oleh Kania. Laras merunduk menyembunyikan mukanya.
"Kapan kembali ke jakarta, Raka?"
Tiba-tiba tante Ratih bersuara, membuat keonaran ini terhenti. Sepertinya tante Ratih paling pengertian.
"InsyaAllah tiga hari lagi, tante. Itupun kalau Laras tak keberatan."
Aku mendelik Laras. Ia senyum pias.
"Mana mungkin Laras keberatan, dia aja sudah mengajukan cuti demi bisa berbakti kepada suami."
Tanpa Laras jawab tante Ratih sudah mewakili jawabannya.
"Kemarin pura-pura nggak mau, sekarang bucin akut," Kania lagi-lagi ikutan nyeletuk.
"Kania," Tante Ratih meliriknya nakal. Tante satu ini emang paling depan pasang badan buat membelamu.
Aku melirik ke arah Kania, wajahnya berubah manyun. Aku menyeringai menang.
Beberapa menit kami selesai makan. Inilah detik yang tak aku pinta, pasti sebentar lagi mama akan menginterogasi. Meminta penjelasanku soal Ningsih.
"Mama menunggu kamu di lantai atas."
Duar, waktu itu akhirnya terjadi juga. Tante Ratih memberi aku kode, agar menyusul mama ke ruang atas. Aku mulai keringat dingin, seolah mengerti akan kepanikanku, Laras mengelus lembut bahuku.
"Udah harus berani menghadapi resiko, bang."
Ucapnya lembut tapi menusuk.
Aku berjalan gontai ke lantai atas, di teras sebelah kamar tampak mama dan papa sudah duduk menungguku. Jantungku mulai bekerja dengan tergesa-gesa.
"Duduk dulu," Pinta papa kepadaku. Tapi nadanya canggung tak seperti biasa yang selalu hangat.
Sementara mama tetap dengan muka masamnya.
"Ma, Raka bisa jelaskan semuanya." Aku mencoba menggenggam tangan wanita di depanku itu. Namun dengan sigap ia menepis.
"Ternyata pergaulan kota sudah merubah perilaku anak mama ya?"
Suaranya datar, tapi aku bisa merasakan beratnya kecewa di sana.
Aku mengucek rambutku, mencari kalimat yang pantas aku ucapkan kepada mama.
"Ma,."
"Ningsih hamil karena kamu!" Suara itu mulai meninggi. Pipinya yang putih merona merah oleh amarah.
"Papa kecewa sama kamu, Raka!"
Papa pun ikut menimpali ucapan mama. Aku benar-benar di serang dari dua arah.
"Dari kecil mama ajarkan kamu kebaikan, kenapa harus begini, Raka?"
Mama meremas ujung bajunya. Ia tak lagi menatap wajahku. Kulihat ada aliran bening di sudut matanya. Pemandangan yang membuat hati kecilku sakit. Aku gagal sebagai seorang anak.
Mama terisak menyenderkan kepalanya ke bahu papa, membuat aku semakin sakit.
"Bengong sendiri, Rakatuateguran?