NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Aroma Tanah Basah

Hujan baru saja reda, namun sisa-sisa air masih menetes perlahan dari atap rumbia rumah tua itu, menciptakan irama tik... tik... tik... yang terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam. Udara terasa dingin, menusuk sampai ke tulang sumsum, membawa serta aroma tanah basah yang bercampur dengan bau daun-daun gugur yang mulai membusuk. Di Desa Karang dewo, malam tidak pernah terasa secepat ini merayap masuk. Seolah-olah kegelapan memang sudah menunggu di balik dinding-dinding rumah, siap menelan segala bentuk cahaya begitu matahari hilang dari pandangan.

Raga duduk di beranda depan, di atas sebuah bangku kayu jati yang warnanya sudah memudar dimakan usia. Matanya menatap lurus ke jalan setapak di depan rumah yang kini becek dan berlubang-lubang, memantulkan cahaya remang-remang dari lampu bohlam kuning yang menggantung di tiang listrik desa. Cahaya itu tidak cukup kuat untuk menerangi jauh ke dalam kegelapan, justru membuat bayangan-bayangan pohon kelapa dan bambu di seberang jalan tampak semakin menyeramkan, seolah bergerak perlahan mengikuti hembusan angin.

Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu menghela napas panjang, mengeluarkan asap putih tipis dari mulutnya meski ia tidak merokok. Itu hanya uap napas karena udara yang terlalu dingin. Di tangan nya terdapat sebuah cangkir teh tubruk yang masih mengepul, namun panasnya perlahan hilang ditelan suhu malam yang semakin turun.

"Gak usah keluyuran malam ini, Rag," suara berat dan serak terdengar dari arah dalam rumah. Suara itu terdengar tenang namun memiliki wibawa yang membuat siapa saja yang mendengarnya segan untuk membantah.

Itu Mbah Joyo, kakeknya. Lelaki tua yang sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun itu baru saja keluar dari kamar nya, berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat kayu yang ukirannya sudah halus karena sudah sering dipegang. Wajahnya penuh keriput, namun matanya masih tajam, seolah mampu menembus apa yang tersembunyi di dibalik gelapnya malam.

Raga menoleh sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kenapa kek? Biasanya juga biasa aja. Kan cuma mau ke warung sebentar, beli rokok."

"Bukan biasa aja kalau malam ini," Mbah Joyo duduk di kursi rotan di sebelahnya. Kursi itu berdecit keras seolah tak kuat menahan beban tubuh tuanya. Ia menatap langit yang tertutup awan hitam pekat. Tidak ada satu pun bintang yang terlihat malam ini. "Hari ini Jumat Kliwon. Pasaran yang paling kuat energinya. Anginnya beda, suasananya beda. Di malam begini, batas antara dunia kita dan dunia lain itu... tipis, Ga. Sangat tipis."

Raga kembali mendengus pelan. Ia memang lahir dan dibesarkan di desa ini, dibesarkan di tengah adat dan kepercayaan leluhur. Namun, ia juga pernah merasakan hidup di kota besar selama lima tahun untuk menuntut ilmu. Logika dan ilmu pengetahuan yang ia serap seringkali berbenturan dengan hal-hal mistis yang sering diceritakan orang-orang desa.

"Mitos kek," jawab Raga santai, meski ada sedikit getar aneh di dadanya. "Zaman sekarang mana ada yang namanya hantu atau makhluk halus. Itu cuma cerita buat menakut-nakuti anak kecil biar gak nakal."

Mbah Joyo tersenyum kecut, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kau boleh tidak percaya, kau boleh menganggap itu cerita dongeng. Tapi alam punya aturan nya sendiri. Ilmu yang kau dapat di kota itu hanya menjelaskan apa yang bisa dilihat di mata dan disentuh ditangan. Tapi ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa diukur dengan penggaris atau ditimbang dengan timbangan."

Lelaki tua itu menunjuk ke arah hutan jati yang terbentang luas di sebelah desa. "Coba kau rasakan udaranya. Hening bukan? Terlalu hening. Burung hantu pun tak berkutik. Jangkrik pun enggan bersuara. Itu bukan tanda kedamaian, Rag. Itu tanda mereka... para penghuni alam lain, sedang bersiap. Mereka sedang menahan napas."

Raga terdiam. Ia mulai menyimak sekelilingnya. Benar juga kata kakeknya. Suasana malam itu sunyi senyap. Terlalu sunyi. Biasanya di jam segini masih terdengar suara radio dari rumah tetangga atau suara anjing menggonggong di kejauhan. Tapi malam ini? Tidak ada apa-apa. Heningnya mencekam, seolah seluruh isi desa sedang menahan napas bersama-sama.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang tanpa diduga. Daun-daun pohon kelapa di halaman berdesir keras, menciptakan suara wusssh... wusssh... yang menyeramkan. Bayangan ranting-ranting itu menari-nari liar di dinding rumah, membentuk bentuk yang aneh yang seolah-olah ada sosok tangan yang sedang meraba-raba mencari celah untuk masuk.

Raga merinding seketika. Bulu kuduk di kedua lengannya berdiri tegak. Dinginnya angin itu bukan dingin biasa, tapi dingin yang terasa basah dan menusuk, seolah ada seseorang yang sedang menghembuskan napasnya tepat di leher belakang Raga.

"Kau merasakannya bukan?" bisik Mbah Joyo. "Itu hawa. Hawa Jumat Kliwon. Mereka yang tidak tenang, mereka yang mencari tumpangan, mereka yang ingin menebar rasa takut, semuanya keluar berkelana malam ini."

Raga menelan ludah. Ia mencoba tertawa untuk menutupi ketakutan yang mulai merambat di dadanya. "Ah, Kakek ini malah... bikin merinding saja."

"Aku tidak menakut-nakutimu, aku memperingatkanmu," Mbah Joyo menatap cucunya itu lekat-lekat. Matanya yang sayu kini tampak sangat serius. "Ingat baik-baik pesan Kakek. Malam ini, mulai sekarang sampai matahari terbit nanti, jangan sekali-kali keluar dari pagar rumah ini. Apalagi sampai pergi ke jalan atau ke hutan."

"Lalu kalau ada keperluan mendadak bagaimana, Kek?" tanya Raga setengah bercanda.

"Tidak ada keperluan yang lebih mendadak daripada keselamatan nyawa," potong Mbah Joyo tegas. "Dan yang paling penting... jika ada yang mengetuk pintu, atau memanggil namamu dari luar, jangan pernah menoleh, dan jangan pernah membukakan pintu."

Raga mengerutkan kening. "Siapa juga yang berani datang selarut begini?"

"Siapa saja," jawab Mbah Joyo pelan. "Bisa jadi suaranya itu suara temanmu, suara saudaramu, atau mungkin bahkan... suara ibumu sendiri."

Jantung Raga berdegup kencang mendengar nama ibunya disebut. Ibunya sudah meninggal dunia tiga tahun lalu karena sakit.

"Jangan percaya suara itu," lanjut Mbah Joyo, suaranya rendah namun tegas. "Mereka bisa meniru suara orang yang paling kau sayangi, orang yang paling kau percaya, agar kau mau membukakan pintu. Jika pintu itu terbuka, maka mereka bisa masuk. Dan jika mereka masuk... kau tahu sendiri akibat nya bagaimana."

"Mereka mau apa kek?"

"Mereka butuh tempat. Butuh nyawa. Butuh teman," jawab Mbah Joyo singkat namun penuh makna. "Atau kadang, mereka hanya ingin bermain-main dengan rasa takut manusia. Tapi percayalah, permainan mereka tidak lucu sama sekali."

Malam semakin larut. Suasana di luar sana semakin gelap dan pekat. Lampu jalan yang tadi menyala remang-remang tiba-tiba berkedip-kedip beberapa kali, lalu padam total. Kini, satu-satu nya sumber cahaya hanyalah lampu dari dalam rumah mereka yang menyinari ruang tengah dan sedikit bagian beranda.

"Sudah, masuk. Tutup pintu dan jendela rapat-rapat," perintah Mbah Joyo sambil berdiri dibantu tongkatnya. "Kunci ganda. Dan jangan lupa baca doa pelindung diri. Hanya itu yang bisa menjaga kita malam ini."

Raga mengangguk patuh. Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa ingin membantah. Insting nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan malam ini. Perasaan was-was itu begitu kuat, mengikat hatinya dengan rasa takut yang tak bisa dijelaskan oleh logika.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Pintu kayu yang tebal itu ditutup dengan keras, lalu dikunci dengan gembok besar. Jendela-jendela pun ditutup rapat dan diselot dengan kuat. Namun, meski sudah terkunci rapat, Raga bisa merasakan bahwa keheningan di luar sana bukanlah keheningan yang kosong. Ada mata-mata yang mengintip dari celah-celah dinding. Ada telinga-telinga yang mendengarkan detak jantung mereka dari balik kegelapan.

Raga berbaring di kasur tipis di ruang tengah. Ia mencoba memejamkan mata, tapi bayang-bayang perkataan Mbah Joyo terus berputar di kepalanya. 'Jangan buka pintu... jangan percaya suara...'

Jam dinding dinding berbunyi perlahan. Tang... ting... tung... Menandakan pukul sebelas malam.

Di saat itulah, sesuatu terjadi.

Dari jauh, sangat jauh, seolah datang dari arah pemakaman desa yang terletak di ujung jalan, terdengar suara musik. Bukan musik modern, tapi suara gamelan. Alunan nada pelog yang dimainkan dengan sangat lambat, sangat syahdu, namun terdengar menyayat hati.

Dung... teng... dung... Dung... teng...

Suaranya tidak keras, tapi bisa terdengar jelas sampai ke dalam rumah. Melodi itu berputar terus menerus, seolah-olah ada sebuah pesta besar yang sedang digelar di tengah kuburan.

Raga membuka matanya lebar-lebar. Ia menahan napas. Apakah ia bermimpi? Ia mencubit lengannya sendiri. Sakit. Ini nyata.

"Kakek..." bisiknya pelan, menoleh ke arah kamar Mbah Joyo yang pintunya tertutup.

Namun Mbah Joyo tidak menjawab. Mungkin lelaki tua itu sudah tidur, atau mungkin ia juga mendengarnya dan memilih untuk diam tak bersuara.

Suara gamelan itu semakin lama semakin terdengar dekat. Seolah-olah rombongan itu sedang berjalan melewati jalan depan rumah mereka. Raga bisa mendengar suara langkah kaki. Bukan satu atau dua pasang, tapi ratusan. Tap... tap... tap... Langkah kaki yang teratur, namun tidak ada satu pun bayangan yang terlihat melewati celah pintu.

Dan di tengah irama gamelan dan derap langkah itu, Raga mendengarnya.

Suara seseorang memanggil namanya.

"Ragaaa... Gaaaaa... Ragaaaa..."

Suaranya lembut, memanggil-manggil tepat di depan pintu rumahnya.

Raga menegang. Tubuhnya kaku dingin. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik. Itu suara Dimas, teman baiknya sejak kecil.

"Buka pintunya dong Rag... aku masuk ya..." suara Dimas terdengar begitu riang, begitu akrab.

Raga menggigit bibir bawahnya. Tangannya mencengkeram selimut dengan kuat. Itu bukan Dimas. Itu bukan Dimas. Itu tipuan, batinnya berteriak, mengingat pesan Mbah Joyo.

"Hei Raga... kenapa dikunci sih? Aku bawa makanan nih. Ayo makan bareng..." Suara itu semakin mendesak. Kini terdengar tepat di balik pintu, seolah pemilik suara itu sedang menempelkan wajahnya ke celah-celah kayu.

Raga tidak berani mengeluarkan suara. Ia menutup telinganya dengan bantal, tapi suara itu tetap masuk, menembus gendang telinganya.

Tiba-tiba, suara Dimas hilang. Berganti dengan suara lain. Suara wanita yang lembut, penuh kasih sayang, suara yang sangat dirindukannya selama tiga tahun terakhir.

"Nak... Raga anakku..."

Darah Raga seakan berhenti mengalir. Itu suara Ibu.

"Ibu...?" bisiknya tak sadar.

"Ibu pulang nak... Ibu kangen sama kamu. Tolong bukakan pintunya nak, Ibu dingin di luar..."

Suaranya terdengar begitu sedih, begitu memelas. Hati Raga hancur berkeping-keping. Rasa rindu yang selama ini ia pendam tiba-tiba meledak. Keraguan mulai menyusup masuk. Bagaimana jika ini benar-benar ibunya? Bagaimana jika arwah ibunya memang pulang menengoknya?

"Bukakan nak... Ibu ingin memelukmu sekali saja..."

Raga perlahan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Kakinya bergerak sendiri seakan dikendalikan oleh kekuatan lain. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin melihat ibunya. Ia ingin memeluknya. Pesan Mbah Joyo mulai samar-samar terlupakan, dikalahkan oleh rasa rindu yang begitu dalam.

Langkah demi langkah ia mendekati pintu utama. Suara ibunya semakin jelas, semakin memikat.

Di depan pintu itu, ia berhenti. Tangannya terulur, menggapai kunci pintu yang dingin. Jari-jarinya sudah menyentuh besi itu.

"Ibu..." panggilnya parau.

"Ya nak, ini Ibu. Cepat buka pintunya nak..."

Tepat saat jari-jarinya hendak memutar kunci itu, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dari arah belakang rumah. Daun pintu belakang yang kurang rapat terbentur keras. Dan bersamaan dengan itu, tercium bau yang sangat menyengat.

Bau tanah basah. Bau bunga kamboja. Dan bau busuk yang sangat tajam, bau bangkai yang membusuk.

Bau itu bukan bau manusia hidup.

Raga tersentak sadar. Matanya membelalak. Ia melihat ke bawah, ke celah pintu. Di sana, terlihat bayangan kaki di bawah pintu. Namun bukan kaki manusia. Kaki itu panjang, tidak berpijak rata, dan jumlahnya... bukan sepasang, tapi banyak sekali, berjejer rapat menutupi seluruh ambang pintu.

Dan suara 'Ibu' itu tadi... kini berubah menjadi tawa. Tawa yang melengking tinggi, gila, dan penuh kebencian.

"HahahahahaaA... hampir saja kau membuka pintu! Hahahaha!"

Raga menjerit dalam hati, mundur teratur dengan wajah pucat pasi. Jantungnya berdegup begitu kencang seakan hendak meledak. Ia jatuh terduduk di lantai, tubuhnya gemetar hebat.

Di luar sana, suara gamelan meraung semakin keras, disertai teriakan-teriakan histeris yang tak jelas bahasanya. Pintu rumah mereka diguncang-guncang dari luar seakan ada orang yang mendorongnya dengan kuat.

Krek! Krek!

Tapi pintu itu tetap kokoh terkunci.

Malam ini memang malam Jumat Kliwon. Dan malam ini, Raga sadar bahwa ia telah berhadapan langsung dengan maut. Dan untungnya... ia masih selamat.

Namun ia tahu, ini baru permulaan. Mereka belum pergi. Mereka masih di luar sana, menunggu, dan mengincarnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!