Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Kartika,” ucap Deva pelan, tetapi tegas. “Mulai bulan ini kebutuhan rumah tangga kita bagi dua.”
Tangan Kartika berhenti tepat di depan mulut Kaivan. Anak kecil itu membuka mulutnya lebar-lebar, menunggu suapan yang tak kunjung datang.
Kartika mengangkat wajah perlahan. “Loh, kenapa, Mas?”
Deva menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Ibu mau bantu beli rumah buat Gavin. Jadi tiap bulan aku harus setor tiga juta setengah lagi.”
Semua orang terdiam, saling melirik. Ruang keluarga mendadak sunyi, hanya terdengar hanya suara kipas angin tua berdecit di sudut ruangan.
Mata Kartika bergerak pelan menatap satu per satu wajah keluarga suaminya yang duduk memenuhi ruangan. Bu Hania tampak santai menyeruput teh. Iriana sibuk memainkan ponsel bersama putri kecilnya, Delisa. Gavin menunduk sambil menggaruk tengkuknya sendiri.
Sementara Kartika menelan ludah pahit. Selama lima tahun menikah, dia tidak pernah sekalipun mempersoalkan ke mana uang suaminya pergi.
Selama ini dia menjadi ibu rumah tangga mengurus suami, kedua anaknya, dan rumah. Tidak pernah protes dengan uang bulanan yang sangat terbatas, walau tahu gaji Deva tiap bulannya sebanyak 25 juta.
Kartika juga tidak pernah melarang suaminya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan orang tua dan adik-adiknya. Setiap bulan Deva memberi uang kepada ibunya sebanyak 6 juta karena punya bayaran kredit rumah. Iriana, adik perempuannya yang seorang janda diberi jatah bulanan sebanyak 3 juta. Lalu Kenzie, adik bungsunya yang baru masuk kuliah, setiap bulan diberi 2 juta untuk biaya kuliah dan 1 juta untuk setor kredit motor.
Biasanya Kartika mendapatkan jatah 8 juta tiap bulannya dari Deva, 2 juta diantaranya untuk biaya sekolah Kalingga yang bersekolah di sekolahan swasta. Dengan uang 6 juta itu, Kartika mengatur untuk makan, bayar listrik, air, susu dan diapers untuk Kaivan, serta bayaran iuran RT.
Sementara itu, Deva sendiri kebagian 3 juta untuk kebutuhannya sebulan, beli bahan bakar dan jajan. Sisanya, 2 juta disimpan jadi tabungan bersama, jika sewaktu-waktu butuh biaya tak terduga.
“Kenapa rumah itu juga harus dibayar oleh Mas Deva? Bukannya Gavin kerja dan punya gaji setiap bulannya?” ujar Kartika pelan, berusaha menjaga nada suara tetap tenang. “Kenapa malah kebutuhan rumah tangga kita yang harus dikurangi?”
Kaivan mulai merengek karena suapannya tertunda. Kartika otomatis kembali menyuapi anak itu, meski pikirannya mulai dipenuhi sesak.
Belum sempat Deva menjawab, Bu Hania lebih dulu mendecakkan lidah keras. “Heh! Gaji Gavin itu kecil,” katanya tajam. “Cuma cukup buat kebutuhan dia sendiri. Bulan depan dia juga sudah punya istri.”
Kartika memandang wanita paruh baya itu beberapa detik. Lalu, tersenyum tipis. Senyum yang justru terlihat lebih dingin dan menahan amarah.
“Kalau begitu, kurangi saja jatah setiap orang dari keluarga Mas Deva. Karena uang bulanan yang diberikan sama Mas Deva saja kadang suka kurang,“ balas Kartika menyindir. Sudah sejak lama dia menahan rasa kesal. Karena keluarga Deva terlalu mengandalkannya.
Suasana mendadak membeku. Iriana langsung mengangkat kepala. Kening Bu Hania berkerut tajam.
“Masa uang yang diberikan sama Deva, kurang. Kamu itu jadi istri terlalu boros,” ucap Bu Hania sinis.
Kartika menghela napas, suaranya kini lebih jelas. “Harga bahan pokok naik terus, Bu. Uang bulanan dari Mas Deva sering kurang. Aku masih harus bayar sekolah Kalingga, beli susu dan diaper untuk Kaivan, listrik, air, lalu—”
Meja digebrak dengan keras sampai bergetar. Gelas teh sampai tumpah membasahi taplak.
Kaivan tersentak kaget, lalu menangis keras. Tubuh kecil itu langsung memeluk dada Kartika gemetar.
“Hiks ... Mama, Nenek celem!”
“Ssst, Sayang ... jangan takut, ada Mama.” Kartika buru-buru menggendong anaknya sambil mengusap punggungnya. Namun, matanya tetap menatap lurus pada Bu Hania.
“Heh, Kartika! Deva itu punya tanggung jawab sama keluarganya. Jadi, sudah seharusnya dia membantu adik-adiknya yang kesusahan,” bentak wanita paruh baya itu, marah.
Kartika berdiri perlahan sambil menggendong Kaivan. Meski satu tangannya menopang anak kecil yang menangis, tubuhnya tetap tegak.
“Bu, aku dan anak-anak lah yang menjadi tanggung jawab utama Mas Deva,” ucap Kartika tegas, lalu tatapannya beralih ke Deva. “Bukan adik-adiknya.”
Deva tersentak kecil. Ada sesuatu dalam mata istrinya hari itu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sebuah keberanian melawan keluarganya.
“Mbak Kartika jangan sombong!” sahut Iriana sinis. “Kesuksesan Mas Deva sekarang itu karena doa dan dukungan kami, keluarganya.”
“Iya!” timpal Bu Hania cepat. “Kamu cuma numpang enak!”
Pak Dimas yang sejak tadi diam ikut bersuara. “Kalau pelit sama saudara, rezeki kamu bisa seret, Kartika.”
Kartika tertawa kecil. Namun, cukup membuat semua orang terdiam. Tawanya bukan karena lucu. Melainkan karena akhirnya dia sadar satu hal, selama ini pengorbanannya dianggap kewajiban, sementara bantuan Deva kepada keluarganya dianggap kemuliaan.
“Kamu itu harusnya kerja,” sindir Bu Hania lagi. “Jangan cuma mengandalkan uang anak saya!”
“Iya,” sambung Iriana sambil melipat tangan di dada. “Kerjanya cuma duduk di rumah. Mas Deva banting tulang tiap hari sampai lembur.”
Kartika menatap dua wanita itu bergantian. Tatapannya turun pada kuku Iriana yang baru dicat. Lalu, gelang emas di tangan Bu Hania. Kemudian pada dirinya sendiri, tangannya kasar terkena sabun cuci. Ujung kukunya patah. Bajunya bahkan terkena noda bubur Kaivan. Dan mereka bilang dia hanya duduk diam di rumah?
Pelan-pelan Kartika meletakkan Kaivan kembali di kursi. Lalu, dia menarik napas panjang.
“Oke.” Suara Kartika tenang. “Kalau menurut kalian aku tidak bekerja dan hanya ongkang-ongkang di rumah,” katanya sambil menatap satu per satu wajah mereka. “Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah.”
Deva mengernyit. “Maksud kamu?”
Kartika tersenyum tipis. “Aku akan minta bayaran untuk setiap pekerjaan yang aku lakukan di rumah.”
***
Assalamualaikum, semuanya. Aku mau tes ombak dulu. Apakah cerita ini diminati pembaca atau tidak. Karena sekarang retensi tinggi tidak menjamin mendapatkan reward bab terbaik.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝