Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Suasana di ruangan kerja Arga terasa berat dan kaku. Meski dinding kaca memisahkan mereka dari dunia luar, udara di dalam terasa pengap dan penuh teka-teki.
Arga duduk di sofa dengan wajah pucat dan lesu. Matanya yang sembab dan lingkaran hitam di bawahnya jelas menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur semalaman. Di hadapannya, Rendra duduk santai dengan secangkir kopi di tangan, wajahnya tampak tenang, terlalu tenang, seolah tidak ada beban sedikit pun di pundaknya.
"Aku benar-benar hancur, Ren," suara Arga parau, memecah keheningan. Tangannya mengusap wajahnya kasar. "Rumah tanggaku... sudah di ujung tanduk. Nara... dia sangat membenciku. Dan dia benar-benar sudah berubah."
Rendra menyesap kopinya perlahan, lalu menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
"Terus? Kamu mau bagaimana? Kamu bilang ingin mempertahankan hubungan kalian, kan?" tanya Rendra dengan nada datar, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Aku mau pertahanin, tapi dia tidak mau!" Arga membentak pelan, frustasi. "Dia sudah tidak percaya lagi padaku. Dan yang paling membuatku sakit, semalam dia mengaku... dia mengaku kalau dia juga punya seseorang selama ini. Seseorang yang mengisi kekosongan dia saat aku sibuk membuat luka untuknya."
Tangan Rendra berhenti sejenak di tengah jalan, tapi wajahnya tetap tak berekspresi.
"Oh? Serius?" ucap Rendra pelan, namun ada kilatan tajam di matanya yang tak disadari Arga. "Wanita sebaik Nara... bisa berbuat begitu?"
"Karena aku menyakitinya terlalu dalam, Ren. Aku menghancurkan kepercayaannya, jadi wajar kalau dia cari pelarian," Arga tertawa getir, kepalanya tertunduk lemas. "Tapi aku tidak menyangka dia bakal sejauh itu. Dia bilang kami sama-sama kotor, sama-sama berdosa."
Arga mendongak, menatap Rendra lekat-lekat. Matanya memancarkan rasa penasaran yang luar biasa, bercampur dengan rasa cemburu yang membara.
"Aku sudah tanya siapa orangnya, tapi dia tidak mau jawab. Semalam aku benar-benar emosi, tapi sekarang aku sakit dan penasaran, Ren. Siapa pria brengsek yang berani nyentuh istriku? Siapa yang berani mengambil hati Nara di saat aku sedang hancur seperti ini?"
Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata sahabatnya sendiri. "Menurutmu, siapa orangnya, Ren? Pria seperti apa yang sudah berani merebut Nara dariku?!"
Suasana menjadi hening. Jantung Arga berdegup kencang menanti jawaban, sementara Rendra perlahan meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Rendra mendongak, menatap Arga dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Pria itu..." Rendra berhenti sejenak, suaranya rendah dan berat. "Mungkin dia merasa Nara jauh lebih pantas dengannya daripada denganmu, Ga. Karena dia ada saat kamu tidak ada. Dia menghargai Nara saat kamu tidak bisa menghargainya lagi sebagai istri kamu."
Arga mengerutkan kening, merasakan ada yang aneh dengan nada bicara Rendra.
"Apa kamu kenal dia, Ren?" tanya Arga pelan, naluri suaminya mulai bekerja. "Saat aku menyuruh kamu menemani Nara pergi memilih gaun, apa Nara bercerita sesuatu padamu?"
Rendra tersenyum miring, kali ini senyum yang penuh tantangan dan kepahitan.
"Ya, mungkin aku mengenalnya baik, sangat baik."
"Siapa?!" desak Arga, napasnya mulai memburu lagi.
"Pria itu, dia adalah..."
Suasana yang sedari tadi tegang dan mencekam seketika terhenti. Pintu ruangan terbuka lebar, memecah kebisuan yang menyesakkan dada. Arga dan Rendra serentak menoleh ke arah pintu.
Niken berjalan di depan dengan wajah sumringah. Di belakangnya, Nara berjalan dengan langkah yang sedikit tertahan. Langkahnya sempat terhenti sejenak saat tatapannya bertemu dengan mata Rendra, namun dia kembali melangkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Melihat kedatangan mereka, emosi yang tadi memuncak di dada Arga seketika tertahan. Dia buru-buru mencoba merapikan penampilannya, menyembunyikan kekacauan yang baru saja terjadi.
Begitu juga dengan Rendra. Pria itu dengan sigap mengubah ekspresi wajahnya yang tadi dingin dan menantang, kembali menjadi wajah tenang dan ramah seperti biasanya.
"Mama..." Arga berdiri tergopoh-gopoh, suaranya masih terdengar serak. "Ada apa? Kenapa Mama sama Nara datang ke sini?"
Niken tidak langsung menjawab. Dia melangkah masuk, lalu menatap kedua pria di hadapannya bergantian. Wanita itu tersenyum lebar, lalu dengan bangga memegang bahu Nara.
"Mama punya kabar baik. Mama baru saja ajak Nara periksa ke dokter," ucap Niken lantang, membuat Rendra yang duduk di sana pun ikut menoleh.
Arga menatap Nara, dia bahkan sampai lupa jika semalam Mamanya ini sudah bilang akan mengajak Nara konsultasi ke dokter kandungan. "Lalu... bagaimana hasilnya, Ma?"
Niken menghela napas panjang dengan wajah berseri-seri.
"Hasilnya sangat bagus, Sayang. Dokter bilang Nara sangat sehat, rahimnya bersih, dan yang paling penting... Nara itu sangat subur."
Arga menatap Nara lekat-lekat. Wajahnya tampak terkejut mendengarnya.
"Sangat subur?" ulang Arga pelan.
"Iya. Jadi tidak ada masalah sama sekali dari tubuh Nara," sambung Niken antusias. "Artinya, kalian berdua memang hanya kurang waktu saja. Dokter sudah bilang, karena Nara subur begini, kalian harus segera intensifkan hubungan lagi. Jangan ditunda-tunda lagi."
Niken menoleh ke arah Arga dengan tatapan menuntut.
"Mama pesan ya, Ga. Mulai malam ini, Nara sudah pindah kembali ke kamar kamu. Jangan biarkan dia tidur di kamar tamu lagi. Manfaatkan kondisi tubuh Nara yang subur ini supaya cepat dapat kabar baik. Mengerti?"
Arga mengangguk lambat, namun sorot matanya menatap Nara dengan lemah. "I... Iya, Ma. Arga mengerti."
Rendra yang sejak tadi diam mendengarkan seluruh percakapan itu kini menegakkan punggungnya. Wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan emosi apa-apa, tapi tangannya yang terkepal menunjukkan bahwa dia mendengar semuanya dengan sangat jelas.
Niken tersenyum puas melihat putranya mengangguk patuh. Dia lalu menoleh ke arah Rendra yang duduk di sofa, seolah baru menyadari kehadiran pria itu.
"Oh, Rendra ada di sini juga ya," sapa Niken ramah. "Baguslah, kamu kan sahabat baik Arga. Kamu harus ingatkan juga dia ya, Ren. Jangan biarkan dia terlalu sibuk kerja sampai lupa sama istri. Apalagi sekarang kondisi Nara lagi bagus-bagusnya."
Rendra tersenyum tipis, senyum yang terlihat kaku dan dipaksakan. Matanya yang tadi dingin kini berkilat tajam, menyapu pandang ke arah Nara yang berdiri mematung.
"Siap, Tante. Nanti saya ingatkan," jawab Rendra pelan, namun suaranya terdengar berat dan rendah.
Nara hanya terdiam kaku, dia bisa merasakan tatapan pria itu yang seakan membakar kulitnya. Tatapan itu bukan lagi tatapan teman, melainkan tatapan pemilik yang merasa hartanya akan diambil alih orang lain.
"Ya sudah, Mama tidak mau mengganggu kalian," ucap Niken sambil melangkah mendekati Nara. "Nara, ayo kita pulang sayang."
"Iya, Ma," jawab Nara.
Nara menatap Rendra sekilas sebelum akhirnya berbalik badan dan berjalan mengikuti Niken keluar dari ruangan. Sesampainya di lantai bawah, Nara memegangi lengan Niken untuk menahan langkahnya.
"Ma. Nara izin pulang sendiri saja ya," ucap Nara, berusaha menahan getar suaranya. "Barusan teman-teman Nara chat, mereka ngajakin ketemuan sebentar. Jadi Nara mau mampir dulu ke kafe, nanti sore langsung pulang."
Niken hanya menghela napas pelan, tampak tidak curiga "Oh, ya sudah. Hati-hati ya, Nak. Jangan pulang kemalaman."
Setelah Niken pamit dan masuk ke dalam mobilnya, Nara berdiri sejenak di lobi gedung. Jantungnya masih berdegup kencang, campuran antara ketakutan dan kebingungan. Dia tahu, dia tidak bisa pulang ke rumah sekarang. Tidak saat pikirannya sedang kacau begini.
Melihat mobil Niken sudah melaju pergi, Nara cepat-cepat berjalan keluar dari gedung untuk mencari taksi.
-
-
-
Bersambung...