Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
"Dasar menantu kurang ajar, berani nya dia membantah Mama!" Mama Wina sangat kesal dan dia langsung membanting ponsel nya di sofa.
"Ma, semakin lama si Maira semakin keterlaluan deh, ini tidak bisa di biarkan!" Nia mulai menghasut Mama mertua nya.
"Mbak Nia benar, Ma. Mama harus bilang sama mas Azam, biar dia busa bersikap tegas sama istri nya. Masa dia gak mau kasih uang bulanan lahi sama kita!" Lara ikutan menghasut Mama nya.
"Ya udah deh Ma, aku anterin Ayu sekolah dulu. Nanti kita pikirkan cara buat ngadepin si Maira!" Nia langsung pamit pada ibu mertua nya.
Nia segera mengantarkan putri nya ke sekolah, saat ini Ayu sudah kelas 2 Sekolah Dasar. Walaupun Almarhum Damar meninggal kan sebuah rumah unyuk diri nya dan Ayu, tapi tetap saja Nia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Maira dan Azam.
Begitu pula dengan Mama Wina dan Lara, Mama Wina memiliki rumah sendiri, peninggalan dari almarhum suami nya. Memang rumah itu tidak sebesar rumah Maira dan Azam, itu lah sebab nya Mama Wina memutuskan untuk pindah ke sini dan meninggalkan rumah nya.
Sementara itu, di kantor nya Arini tertawa puas melihat Maira yang kini sudah mulai menunjuk kan perlawanan nya.
"Bagus Maira, jangan mau di manfaatkan oleh mereka. Jangan mau di jadikan mesin Atm oleh suami dan keluarga nya, aku suka dengan apa yang kau lakukan barusan!" Arini memuji keberanian sahabat nya.
"Makasih ya Rin, kamu mau dukung aku. Aku tahu, mulai saat ini aku harus siap dengan segala kemungkinan. Mereka pasti akan semakin benci pada ku, tapi tidak masalah kok. Aku muak di jadikan babu dan mesin pencetak uang oleh mereka!" Maira berkata pada sahabat nya.
"Santai aja Mai, jangan sungkan bilang pada ku jika kau butuh sesuatu, aku siap membantu mu!" Arini kembali berkata.
Maira mengangguk kan kepala nya, kedua nya berjalan menuju ke ruangan kerja masing- masing. Karena tidak lama lagi jam kerja akan segera di mulai.
*****
Hari sudah sore, sudah waktu pulang kerja. Maira segera membereskan meja nya, dia berencana untuk mampir ke rumah Mama nya terlebih dahulu. Di rumah orang tua nya memang ada 2 orang pembantu, rencana nya Maira akan membawa salah satu nya untuk ikut ke rumah nya.
Papa nya Maira adalah seorang pensiunan Tentara dan Mama nya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, tapi Mama nya Maira memiliki usaha beberpa restoran besar. Hal itu tentu saja tidak di ketahui oleh Azam dan keluarga nya, Mama Ulfa sengaja tidak memberi tahu Besan nya tentang aset yang di milik nya.
Mobil Maira berhenti di halaman rumah orang tua nya, mbok Marni yang sedang menyiram tanaman langsung menyambut kedatangan putri tunggal majikan nya.
"Non Maira, selamat datang non. Sudah lama non tidak datang kemari!" Sapa mbok Marni dengan sopan.
"Mama nya ada mbok?" Tanya Maira pada mbok Marni.
"Ada non, silahkan masuk!" Mbok Marni mempersilahkan nona muda nya masuk.
Maira langsung masuk ke dalam rumah, dan dia langsung di sambut dengan hangat oleh wanita yang melahirkan nya ke dunia ini.
"Mama, apa kabar?" Maira langsung memeluk erat tubuh Mama Ulfa.
"Kabar baik sayang, kok gak bilang - bilang mau datang kemari?" Mama Ulfa membalas pelukan putri tunggal nya.
"Sengaja mau kasih kejutan untuk Mama, oh ya Papa nya mana?" Tanya Maira karena dia belum melihat kehadiran cinta pertama nya.
"Ada di belakang, biasa lah ngurusin kolam ikan nya!" Jawab Mama Ulfa.
Pak Andi memang menghabiskan waktu luang nya dengan membuat kolam ikan di halaman belakang rumah nya yang luas, hasil nya lumayan untuk kebutuhan sehari - hari. Bahkan pak Andi yang memasok kebutuhan ikan di restoran milik istri nya.
"Mau ketemu sama Papa kan? Ayuk ke belakang!" Ajak Mama Ulfa.
"Gak kok Ma, aku ke sini cuma mau ajak mbak Rini, ikut ke rumah ku. Masalah nya aku tidak mudah percaya jika Art nya orang baru!" Maira mengutarakan maksud kedatangan nya kemari.
"Oh, jadi kamu mau ajak mbak Rini toh?" Tanya Mama Ulfa kemudian.
"Iya Ma, aku udah gak sempat buat beresin rumah sendiri, kan aku juga harus kerja!" Maira berkata pada Mama nya.
"Ya udah, kamu kamu tunggu di sini ya. Biar Mama yang kasih tahu mbak Rini biar dia bisa langsung bersiap!" Mama Ulfa berkata lagi.
Mama Ulfa langsung pergi ke belakang, menemui asisten rumah tangga mereka yang usia nya masih cukup muda. Sementara Maira menunggu di ruang tamu, Maira memang sengaja tidak menceritakan apa yang dia alami. Dia merasa saat ini masih mampu menangani mereka semua, dia belum membutuhkan bantuan sang Mama.
Mama Ulfa juga tidak pernah tahu jika saat ini Mama Wina dan Lara tinggal bersama Maira, yang dia tahu selama ini mereka tinggal di rumah nya sendiri. Mama Ulfa juga tidak pernah tahu jika Azam tidak memberikan nafkah untuk putri nya, jika Mama tahu semua ini maka dia tidak akan tinggal diam melihat putri nya di manfaatkan oleh mereka.
"Mai, Mama udah bilang sama mbak Rini. Tapi kalian pulang setelah makan malam saja, ini juga udah hampir magrib!" Mama Ulfa berkata setekah memberi tahu mbak Rini.
"Ya udah deh Ma, aku ke kamar dulu. Aku mau bersih - bersih dulu!" Maira pamit pada Mama nya.
Maira memutuskan untuk mandi di rumah orang tua nya, dia juga akan makan malam di sini. Biarkan saja keluarga suami nya kelaparan di rumah, toh mereka semua bukan tanggung jawab Maira.
Maira sengaja mematikan ponsel nya, agar Azam dan keluarga nya tidak bisa menghubungi mereka. Maira tahu mereka tidak akan menyerah begitu saja, mereka pasti akan terus memaksa Maira sampai Maira memberikan uang pada mereka.
"Kok kamu dan Azam udah jarang main ke sini nak?" Tanya Papa Andi ketika mereka bersiap makan malam.
"Aku dan mas Azam sibuk kerja, Pa. Jadi jarang punya waktu luang!" Maira memberikan alasan pada Papa nya.
"Mai, jika ada sesuatu jangan di pendam sendiri. Kau masih punya orang tua, ceritakan sama Papa dan Mama. Kami tidak akan membiarkan mu sendiri!" Papa Andi berkata lagi.
"Gak kok Pa, semua nya baik - baik saja!" Maira memberikan senyuman terbaik nya agar keluarga nya tidak curiga.
Entah kenapa Maira merasakan bahwa seperti nya Papa Andi punya firasat yang buruk akan putri nya, dia merasakan beban berat yang tengah di tanggung oleh sang putri.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH