NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. AROMA CEMBURU DI LAPANGAN BASKET.

Kebetulan, ada beberapa santri putra senior yang juga sedang berolahraga.

Ayini yang memang menyukai olahraga, berdiri di pinggir lapangan sambil sesekali berteriak menyemangati kakak sepupunya.

"Woi, Kevin! Lemparnya yang bener dong! Masa gitu aja nggak masuk? Malu-maluin keluarga Hazian lu!" teriak Ayini lantang, membuat beberapa santri putra menoleh dan tersenyum melihat tingkah aktif istri Gus mereka.

Salah satu santri putra bernama Zaki, yang memang dikenal cukup berprestasi, mendekati Ayini sambil mendribbel bola.

"Ning Ayini, mau coba lempar? Lumayan buat olahraga sore."

Ayini, dengan sifatnya yang tidak bisa diam, langsung menyambar bola itu.

"Boleh! Liat nih, gue... eh, saya maksudnya, jago lho kalau soal ginian!"

Ayini melompat dan melemparkan bola.

Swish! Bola masuk dengan sempurna. Ayini bersorak kegirangan dan secara spontan melakukan high-five (tos) angin dengan Zaki tanpa menyentuh, namun tawa mereka pecah bersama.

Tanpa mereka sadari, di lantai dua gedung asrama yang menghadap langsung ke lapangan, Gus Alvaro berdiri di balik jendela.

Matanya yang tajam menatap interaksi itu dengan perasaan yang tidak nyaman.

Dadanya terasa panas, ada gemuruh aneh yang lebih menyakitkan daripada saat ia harus menghafal kitab yang paling sulit sekalipun.

Alvaro mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia melihat bagaimana Ayini tertawa lepas bersama santri lain—sesuatu yang hampir tidak pernah Ayini lakukan di depannya yang kaku.

Malam harinya, suasana di dalam kamar Ndalem terasa lebih dingin dari biasanya.

Gus Alvaro duduk di meja belajarnya, namun bukannya membaca kitab, ia hanya membolak-balik halaman tanpa fokus.

Ayini yang baru selesai membersihkan diri, menyadari perubahan aura suaminya.

"Gus... kok mukanya makin kayak jalan tol kena macet sih? Kusut banget," celetuk Ayini sambil menyisir rambutnya di depan cermin.

Alvaro tidak menjawab. Ia tetap diam dengan wajah datarnya.

Ayini yang mulai peka, berjalan mendekat. Ia duduk di kursi sebelah Alvaro.

"Oalah... saya tau nih. Tadi Gus liat saya di lapangan basket ya? Cemburu ya liat saya main sama Zaki dan Kevin?"

Alvaro terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada yang sangat kaku.

"Seorang istri seharusnya menjaga kehormatannya dan tidak tertawa berlebihan di depan lelaki lain yang bukan mahramnya."

Ayini justru tertawa kecil. Ia merasa terhibur melihat Gus-nya yang dewasa ternyata bisa cemburu juga.

"Duh, Gus... Zaki itu kan temennya Kevin. Saya cuma olahraga biar nggak stres ngadepin Gus yang irit bicara ini."

Ayini berdiri dan berjalan menuju cermin besar di sudut kamar untuk memakai pelembap wajah.

Tanpa sepengetahuannya, Alvaro yang mengira Ayini sudah tidak memperhatikannya, menarik napas lega karena merasa emosinya sudah tersampaikan.

Entah kenapa, bayangan Ayini yang tertawa di lapangan tadi—meskipun membuatnya cemburu—tetap terlihat cantik di matanya.

Alvaro menatap pantulan dirinya di cermin yang searah dengan meja belajarnya.

Tanpa ia sadari, sebuah senyum kecil, sangat tulus dan manis, terukir di bibirnya.

Ia merasa lucu dengan dirinya sendiri yang bisa secemburu itu pada santri sendiri.

Ayini yang melihat pantulan Alvaro di cermin langsung membeku. Ia diam seribu bahasa, matanya membelalak.

"Gus... kamu senyum?" tanya Ayini dengan nada heran dan tidak percaya.

Alvaro langsung tersentak. Senyumnya hilang dalam sekejap, digantikan oleh raut wajah yang lebih kaku dari sebelumnya.

"Siapa yang senyum? Saya hanya... saya hanya sedang mengingat ayat."

"Ih, bohong! Jelas-jelas tadi bibirnya naik ke atas! Gus Alvaro senyum! Wah, sejarah nih di Barito Utara! Gus Kulkas bisa senyum!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!