NovelToon NovelToon
ADIK BUNGSU KESAYANGAN DAN DUA ABANG PENGUASA(MAFIA KEJAM DAN CEO DINGGIN)

ADIK BUNGSU KESAYANGAN DAN DUA ABANG PENGUASA(MAFIA KEJAM DAN CEO DINGGIN)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

📚 JUDUL: ADIK BUNGSU KESAYANGAN DAN DUA ABANG PENGUASA
(MAFIA KEJAM & CEO DINGIN)
✍️ Penulis: Lestari Visa

Siapa sangka, gadis lembut berhijab ini adalah harta paling berharga bagi dua penguasa besar yang ditakuti banyak orang? 🖤

Satu saudara adalah bos mafia yang kejam dan tak berperasaan, sementara yang lain adalah CEO dingin yang memegang kendali dunia bisnis. Bagi orang lain, mereka adalah sosok yang menakutkan dan sulit didekati. Tapi di hadapan adik bungsu kesayangan mereka, segalanya berubah. Kekejaman dan kedinginan itu lenyap, berganti menjadi kasih sayang yang tak terhingga dan perlindungan mati.

Di mana pun dia berada, dia adalah ratu yang tak tersentuh. Siapa pun yang berani menyakiti hatinya, harus bersiap menghadapi murka kedua abangnya yang tak kenal ampun.

Ikuti kisah manis, menegangkan, dan penuh kasih sayang ini hanya di NovelToon! Klik tautan di bawah untuk mulai membaca 👇

yu baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 :PERLOMBAAN, USAHA YANG BERHASIL

Setelah kejadian itu, kehidupan berjalan kembali seperti biasa. Aisyah tetap menjalani harinya dengan dua sisi yang berbeda — di luar rumah dan di depan orang banyak, dia bersikap dingin, cuek, dan tidak banyak berbicara; tapi ketika bersama Alpin, Alfarro, dan kedua orang tuanya, dia menjadi gadis yang manja, ceria, dan tidak berhenti bercerita.

Suatu hari, saat jam pelajaran selesai di SMA Harapan Bangsa, guru kelas memanggil Aisyah dan Nuri ke depan kelas. Wajah guru itu terlihat senang dan penuh harap.

"Aisyah, Nuri," kata guru itu dengan suara yang ramah. "Ada kabar baik untuk kalian berdua. Sekolah kita akan mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah yang akan diadakan bulan depan. Kami memilih kalian berdua sebagai perwakilan kelas kita, karena kalian berdua memiliki kemampuan belajar yang baik dan bisa bekerja sama dengan baik."

Nuri mendengar itu dan langsung menatap Aisyah dengan mata yang berbinar-binar, wajahnya terlihat sangat senang dan bersemangat. Sedangkan Aisyah hanya menatap guru dengan tatapan yang datar, tidak ada ekspresi senang atau terkejut yang terlihat di wajahnya.

"Baik," jawab Aisyah dengan suara yang datar dan tenang, seperti menjawab tugas biasa yang harus dijalankan.

Guru itu melanjutkan penjelasannya. "Lomba ini memiliki berbagai materi pelajaran, mulai dari matematika, bahasa Indonesia, bahasa asing, hingga pengetahuan umum. Kalian berdua harus belajar dengan giat dan mempersiapkan diri dengan baik. Kami akan memberikan materi-materi pelajaran tambahan, dan kalian juga bisa belajar di perpustakaan sekolah setiap sore. Apakah kalian berdua bersedia?"

"Tentu saja, Pak!" jawab Nuri dengan semangat yang tinggi. "Kami akan belajar sebaik mungkin agar bisa memberikan yang terbaik untuk SMA Harapan Bangsa!"

Aisyah hanya mengangguk pelan sebagai tanggapan, tidak banyak berbicara. Bagi dia, ini hanyalah tugas yang harus diselesaikan dengan baik, bukan hal yang menyenangkan atau membanggakan.

Setelah pulang dari sekolah, Nuri tidak bisa menahan rasa senangnya. Dia terus berbicara sepanjang perjalanan pulang, berbicara tentang bagaimana mereka akan belajar bersama, tentang hal-hal yang akan mereka pelajari, dan tentang harapannya untuk bisa memenangkan lomba nanti.

"Aisyah, kau tahu kan? Ini adalah kesempatan yang bagus untuk kita menunjukkan kemampuan kita! Kita harus belajar dengan sungguh-sungguh ya! Kita bisa saling membantu mengajari satu sama lain, kan?" kata Nuri sambil menatap Aisyah dengan wajah yang penuh harap.

Aisyah berjalan di sampingnya dengan langkah yang santai, wajahnya tetap datar. "Baik. Kita akan belajar."

Sesampainya di rumah, suasana berubah sepenuhnya. Aisyah membuka pintu dengan senyum di wajahnya, dan segera berlari mendekati Alpin dan Alfarro yang sedang duduk di ruang tamu.

"Kalian tidak akan percaya apa yang terjadi hari ini!" seru Aisyah dengan suara yang ceria dan bersemangat. "Guru memilih aku dan Nuri untuk mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah! Kita harus belajar dengan giat selama sebulan ke depan untuk membanggakan SMA Harapan Bangsa!"

Dia duduk di antara kedua abangnya dan mulai bercerita dengan antusias, tangannya bergerak-gerak saat dia berbicara, dan wajahnya terlihat sangat bahagia. "Aku akan belajar semua materi pelajaran, aku akan membaca buku sebanyak mungkin, dan aku akan mengingat semuanya dengan baik! Kita harus berusaha sekuat tenaga ya, supaya kita bisa membawa pulang piala untuk sekolah kita!"

Alpin dan Alfarro menatapnya dengan senyum, dan Alfarro mengusap kepala Aisyah dengan lembut. "Wah, bagus sekali! Kami mendukungmu sepenuhnya. Kalau ada yang perlu dibantu atau dijelaskan, katakan saja pada kami ya."

"Iya, Bang! Terima kasih!" jawab Aisyah dengan suara yang manja, lalu dia menoleh ke arah ibunya yang sedang menyiapkan minuman. "Ibu, nanti kalau aku butuh makanan atau minuman saat belajar, tolong siapkan ya? Aku akan belajar sampai malam supaya aku bisa mempelajari semuanya dengan baik!"

Ibunya tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Nak. Ibu akan menyiapkan semuanya untukmu. Semangat ya, Nak! Buat SMA Harapan Bangsa!"

Sejak hari itu, Aisyah dan Nuri mulai belajar dengan giat. Setiap sore setelah pulang sekolah, mereka akan berkumpul di perpustakaan SMA Harapan Bangsa atau di rumah Aisyah untuk belajar bersama.

Di luar rumah, ketika ada orang lain yang melihat mereka belajar, Aisyah tetap bersikap seperti biasa — wajahnya datar, tidak banyak berbicara, dan hanya fokus pada buku dan catatan pelajaran. Dia membaca buku dengan teliti, menulis catatan-catatan penting, dan mengingat semua materi dengan serius, tapi dia tidak menunjukkan perasaan apapun kepada orang lain. Ketika Nuri bertanya sesuatu atau meminta penjelasan, dia menjawab dengan singkat dan jelas, tanpa nada suara yang berubah.

Sedangkan di rumah, suasana belajar menjadi sangat berbeda. Aisyah akan duduk di meja belajar dengan buku-buku yang tersebar di sekitarnya, dan dia akan belajar dengan sangat tekun. Tapi saat dia berbicara dengan keluarganya, dia menjadi gadis yang sangat ceria dan antusias. Dia akan bercerita tentang hal-hal yang dia pelajari, bertanya kepada Alpin dan Alfarro tentang hal-hal yang dia tidak mengerti, dan kadang dia akan berhenti belajar sejenak hanya untuk berbicara dan tertawa bersama keluarga.

"Aku baru saja belajar tentang sejarah perjuangan bangsa kita, Bang!" kata Aisyah sambil menunjuk buku sejarah yang dia baca. "Sangat menarik sekali! Kita harus bangga menjadi anak bangsa ini ya? Banyak hal yang harus kita ingat dan kita pelajari untuk membangun masa depan yang lebih baik!"

Alpin yang sedang membaca koran menoleh dan tersenyum. "Iya, betul sekali. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari perjuangan para pahlawan kita. Semangatmu sangat bagus, dekk. Kamu akan membuat SMA Harapan Bangsa bangga nanti."

"Iya, aku akan belajar lebih banyak lagi! Aku ingin tahu semuanya! Aku tidak mau mengecewakan sekolah kita, juga tidak mau mengecewakan kalian semua!" jawab Aisyah dengan antusias, lalu dia kembali membaca bukunya dengan penuh perhatian.

Setiap hari, mereka belajar dengan tekun. Aisyah tidak pernah merasa lelah atau bosan, dia akan terus membaca dan mempelajari materi pelajaran dengan penuh perhatian. Dia membuat catatan-catatan penting, membuat rangkuman materi, dan berlatih mengerjakan soal-soal latihan setiap hari. Dia tidak berusaha menjadi yang terbaik hanya untuk dipuji orang lain, tapi dia ingin mempelajari semua hal dengan baik karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk SMA Harapan Bangsa.

Nuri juga belajar dengan giat, dan mereka berdua saling membantu. Ketika ada materi yang sulit dipahami oleh salah satu dari mereka, yang satunya akan menjelaskan dengan sabar. Meskipun Aisyah tidak menunjukkan perasaan senang atau bangga di depan orang lain, tapi dia benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mempersiapkan diri.

Hari-hari berlalu dengan cepat, dan waktu untuk lomba akhirnya tiba. Aisyah dan Nuri berangkat ke tempat lomba bersama dengan guru-guru dan siswa-siswa lainnya dari SMA Harapan Bangsa. Saat mereka tiba, tempat itu sudah penuh dengan peserta dari berbagai sekolah lain. Suasana terlihat sangat tegang dan serius, semua orang terlihat fokus dan siap untuk mengikuti lomba.

Aisyah berjalan di samping Nuri dengan langkah yang santai, wajahnya tetap datar dan tidak menunjukkan perasaan apapun. Dia tidak terlihat gugup atau cemas sama sekali, hanya terlihat tenang dan siap. Ketika ada orang lain yang menatapnya atau berbicara dengannya, dia hanya menanggapi dengan singkat dan kembali fokus pada persiapan lomba.

Nuri yang terlihat sedikit gugup menatap Aisyah. "Aisyah, kau tidak gugup ya? Aku sedikit takut lho. Bagaimana kalau kita tidak bisa menjawab soal dengan benar dan mengecewakan SMA Harapan Bangsa?"

Aisyah menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan yang tenang. "Kita sudah belajar dengan giat. Kita sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Yang penting adalah kita berusaha sekuat tenaga. Tidak perlu takut, kita akan baik-baik saja dan kita akan memberikan yang terbaik untuk sekolah kita."

Kata-katanya terdengar tenang dan menenangkan, membuat Nuri merasa lebih percaya diri.

Lomba dimulai, dan semua peserta mulai mengikuti berbagai tahapan lomba. Selama lomba berlangsung, Aisyah tampil dengan sangat baik. Dia menjawab setiap soal dengan tepat dan cepat, dia menunjukkan pengetahuan yang luas dan pemahaman yang baik tentang semua materi pelajaran. Wajahnya tetap datar dan tenang, dia tidak terlihat gugup atau senang saat menjawab soal dengan benar, dan juga tidak terlihat kecewa saat menjawab dengan salah. Dia hanya melakukan tugasnya dengan baik dan fokus pada setiap soal yang diberikan, demi nama baik SMA Harapan Bangsa.

Nuri juga tampil dengan baik, dan mereka berdua bekerja sama dengan sangat baik. Mereka saling melengkapi dan membantu satu sama lain, sehingga mereka bisa melewati setiap tahapan lomba dengan baik.

Setelah semua tahapan lomba selesai, panitia lomba mengumumkan hasilnya. Semua orang menunggu dengan tegang, termasuk Aisyah dan Nuri.

"Juara pertama dalam lomba cerdas cermat antar sekolah ini diraih oleh perwakilan dari SMA Harapan Bangsa! Selamat untuk Aisyah dan Nuri!"

Mendengar pengumuman itu, Nuri langsung berteriak kegirangan dan memeluk Aisyah dengan kuat. "Kita menang! Aisyah, kita berhasil! Hebat sekali kau! Kita sudah membanggakan sekolah kita!"

Wajah Nuri terlihat sangat bahagia dan bersemangat. Sedangkan Aisyah hanya menatap ke depan dengan tatapan yang tetap datar, tidak ada ekspresi senang atau bangga yang terlihat di wajahnya. Dia hanya mengangguk pelan, seolah-olah apa yang terjadi adalah hal yang biasa saja.

Ketika mereka naik ke panggung untuk menerima hadiah, Aisyah berjalan dengan langkah yang santai dan tenang. Dia menerima piala dan sertifikat dengan tangan yang tenang, dan menunduk sedikit sebagai tanda terima kasih kepada panitia lomba. Ketika orang-orang bertepuk tangan dan memuji mereka, dia hanya menatap mereka dengan tatapan yang tenang dan tidak menunjukkan perasaan apapun.

Setelah acara selesai, saat mereka kembali ke sekolah dan bertemu dengan guru-guru dan siswa-siswa lainnya dari SMA Harapan Bangsa, semua orang menatap mereka dengan pandangan yang penuh kekaguman dan rasa hormat.

"Selamat atas kemenangannya! Kalian benar-benar hebat! Kalian membuat SMA Harapan Bangsa bangga!" kata kepala sekolah dengan suara yang penuh kekaguman. "Kalian adalah contoh yang baik untuk semua siswa di sini!"

Aisyah hanya menanggapi dengan anggukan singkat dan kata-kata yang pendek. "Terima kasih. Kami hanya melakukan yang terbaik untuk sekolah kita."

Keesokan harinya, ketika Aisyah kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarganya, semua perasaan dan semangatnya yang terpendam di luar rumah muncul kembali. Dia membuka pintu dengan senyum yang lebar, dan segera berteriak dengan suara yang ceria.

"Aku pulang! Kita menang! Kita berhasil memenangkan lomba! Kita membawa pulang piala untuk SMA Harapan Bangsa!" seru Aisyah sambil berlari mendekati Alpin, Alfarro, dan orang tuanya. Dia mengangkat piala dan sertifikatnya dengan penuh semangat, wajahnya terlihat sangat bahagia dan bersemangat.

Alpin dan Alfarro menatapnya dengan senyum yang lebar, dan mereka langsung berdiri untuk memeluk Aisyah dengan bangga. "Wah, hebat sekali adik kita! Kami sangat bangga padamu! Kau sudah berusaha sekuat tenaga dan berhasil mendapatkan hasil yang terbaik!" kata Alfarro sambil mengusap kepala Aisyah dengan lembut.

"Kamu membuat nama SMA Harapan Bangsa menjadi lebih baik! Itu adalah keberhasilan yang sangat berharga!" tambah Alpin dengan suara yang penuh kebanggaan.

Aisyah duduk di antara mereka dan mulai bercerita dengan antusias, tangannya bergerak-gerak saat dia berbicara. Dia menceritakan setiap tahapan lomba, setiap soal yang dia jawab, dan perasaannya selama lomba berlangsung. Wajahnya terlihat sangat ceria dan bahagia, tidak ada sedikitpun sifat dingin atau cuek yang terlihat.

"Aku sangat senang bisa menang! Aku sudah berusaha sekuat tenaga, dan akhirnya kita berhasil! Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman ini! Terima kasih sudah mendukungku semua!" kata Aisyah dengan suara yang penuh semangat.

Ibunya menatapnya dengan pandangan yang penuh cinta dan kebanggaan. "Kau adalah anak yang hebat, Nak. Kami bangga menjadi orang tuamu. Usahamu selama ini benar-benar membuahkan hasil, dan kami tahu kamu akan selalu melakukan yang terbaik untuk apa yang kamu kerjakan."

Malam harinya, saat Aisyah sedang duduk di ruang tamu bersama keluarganya, dia masih terus bercerita tentang lomba dan pengalaman yang dia alami. Dia menjadi gadis yang sangat berbeda dari apa yang orang lain lihat di luar rumah — di luar, dia adalah gadis yang dingin dan cuek, tapi di rumah, dia adalah gadis yang ceria, antusias, dan penuh perasaan.

Bagi Aisyah, kemenangan yang dia dapatkan adalah hasil dari usaha yang dia lakukan dengan giat. Dia tidak memamerkan keberhasilannya kepada orang lain, dan dia tidak membutuhkan pujian dari orang lain untuk merasa bahagia. Tapi di hadapan keluarganya, dia bisa mengekspresikan perasaannya dengan bebas dan menunjukkan betapa bahagianya dia atas keberhasilan yang dia capai untuk SMA Harapan Bangsa.

Dan orang-orang di sekitarnya mulai menyadari bahwa di balik sikapnya yang dingin dan tenang di luar rumah, ada seorang gadis yang memiliki hati yang penuh semangat dan tekad yang kuat — dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang dia inginkan, dan dia akan berbagi kebahagiaannya hanya dengan orang-orang yang paling dia cintai.

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷🌷

Kalau kalian ingin melihat gambaran visual dari semua tempat dan tokoh dalam cerita ini, kalian bisa mengunjungi👇👇🌷🩷

akun TikTokku: (lisalestari310 )

akun Instagramku:( Lisa Lestari)

Jangan lupa untuk mengikuti dan memberikan komentar di sana juga ya, aku sangat menantikannya! 🤗🌷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Nadia Permatasari
woy keren
Sonyy Mexrizon
aku tunggu ke lanjutannya Thor semagat💪😍
Sonyy Mexrizon
aku suka dengan alur ceritanya keren ini sih cerita yang paling menarik dan bagus

buat teman teman aku saranin coba baca dari awal di jamin seruuuu 😍🔥
Sonyy Mexrizon
kereennnn🔥😍
Sonyy Mexrizon
makin seruuu ceritanya aku suka enga nyesel aku nunggu kelanjutan ceritanya makin seruu apa lagi aku suka dengan karakter Aisyah dan kedua abangnya😍🔥
Sonyy Mexrizon
lanjutkan thor🔥💪😍
Sonyy Mexrizon
sangat luar biasa Thor makin seru bacanya💪🔥
Sonyy Mexrizon
😍😍💪
Sonyy Mexrizon
lanjutkan Thor baca kesini makin kesanah makin seruuu seritanya🔥💪
Sonyy Mexrizon
😍😍😍💪
Lestari Visa
luar biasa
Furi Pujianti
akhirnya aku menemukan novel yang aku. ingginkan
Furi Pujianti
aku tunggu bab selanjut thor semgata💪
Furi Pujianti
aku suka dengan jalan ceritanya 😍lanjut thor
Furi Pujianti
🥳🩵🩵🩵
Furi Pujianti
lanjut thor💪
Furi Pujianti
wow sangat keren dan bagus lajut thor
Furi Pujianti
keren novel KK lanjutkan KK aku suka😍
Sonyy Mexrizon
kerennn semangat Thor🥳
Sonyy Mexrizon
keren aku suka baca novel author,aku juga Maji Aisyah memiliki keluarga yang di bilang sangat menjaga permatanya dua Abang tampan yg satu mafia dan satu CEO keren Thor lanjut.ceritanya unik😍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!