NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: INTEGRASI INTI BEKU

Haidar berdiri di depan tangki induk yang berdenyut dengan cahaya biru pucat. Di hadapannya, Cryo-Core itu tampak seperti jantung yang terbuat dari berlian, memancarkan gelombang dingin yang sanggup membekukan udara di sekitarnya hingga menjadi serpihan kristal yang jatuh seperti salju perak. Jarak antara tangan Haidar dan tabung transparan itu hanya beberapa inci, namun hawa dingin yang memancar darinya terasa seperti dinding yang tak kasat mata.

​"Ingat, Haidar," suara Sersan terdengar lebih berat dari biasanya, bergema di bawah kubah raksasa Sektor Pendinginan. "Begitu kau menyentuhnya, kau tidak hanya mengambil sebuah benda. Kau sedang mengundang badai untuk masuk ke dalam darahmu. Jika sarafmu tidak cukup kuat untuk menampung kontras antara panas Niskala dan dinginnya inti ini, kau akan pecah menjadi serpihan es."

​Haidar menoleh sebentar ke arah Sersan melalui satu matanya yang masih bisa melihat. "Aku sudah tidak punya pilihan lain, kan? Kalau aku tidak mengambilnya, mataku akan meledak saat kita bertemu The Welder nanti."

​Sersan tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan tangan di gagang pedangnya, matanya menatap tajam ke arah sensor-sensor di langit-langit yang mulai berkedip merah—tanda bahwa sistem keamanan utama sedang bersiap untuk mengunci ruangan ini secara permanen.

​Haidar menarik napas panjang, paru-parunya terasa tajam dan perih seperti menghirup jarum es. Dengan tekad yang tersisa, ia menghantamkan gagang belati hitamnya ke kaca tangki pelindung tersebut.

​PYAARRR!

​Kaca yang membeku itu hancur berantakan. Seketika, uap nitrogen cair menyembur keluar seperti ledakan gas. Haidar tidak mundur. Ia merogoh ke dalam kabut putih itu dan mencengkeram Cryo-Core dengan tangan kosong.

​"ARGGHHH!"

​Jeritan Haidar memenuhi ruangan. Saat jemarinya menyentuh inti biru itu, rasanya bukan lagi dingin, melainkan rasa sakit yang membakar secara terbalik. Saraf di tangannya seolah-olah ditarik paksa keluar. Kulit telapak tangannya langsung membeku dan menempel pada permukaan kristal tersebut. Rasa dingin itu merambat secepat kilat, naik melalui pergelangan tangannya, lengan bawah, hingga mencapai bahunya hanya dalam hitungan detik.

​Namun, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi saat energi dingin itu bertemu dengan sisa panas Mata Niskala di kepalanya.

​Haidar jatuh berlutut. Kepalanya terasa seperti sedang dihantam oleh dua palu raksasa dari arah yang berlawanan. Panas yang mendidih di mata kirinya bertemu dengan arus dingin yang membeku dari tangannya. Tabrakan dua suhu ekstrem itu menciptakan guncangan frekuensi di dalam otaknya. Haidar bisa merasakan pembuluh darahnya menegang, berdenyut keras, dan ia bisa mendengar suara desisan Ssssss yang keluar dari pori-pori wajahnya saat uap mulai terbentuk dari pertemuan panas dan dingin tersebut.

​Duar!

​Sistem keamanan ruangan akhirnya aktif. Pintu-pintu baja menutup rapat, dan dari lubang-lubang di dinding, cairan pendingin mulai menyembur keluar, berniat menenggelamkan apa pun yang ada di dalam ruangan ini dalam lautan nitrogen cair.

​"Haidar! Integrasikan inti itu sekarang atau kau akan membeku di sini!" komando Sersan sambil menebas robot-robot penjaga yang mulai merayap keluar dari dinding.

​"Bagaimana... argh... bagaimana caranya?!" raung Haidar. Tubuhnya sudah mulai tertutup lapisan es tipis.

​"Jangan ditahan! Biarkan dingin itu masuk ke matamu! Biarkan dia memadamkan apinya!"

​Haidar memaksakan dirinya untuk tetap sadar. Ia memegang Cryo-Core itu dengan kedua tangannya, mendekatkannya ke arah mata kirinya yang bengkak dan merah. Ia bisa merasakan tarikan magnetis yang sangat kuat. Tanpa sadar, ia mengaktifkan Mata Niskala.

​ZUUUUUT!

​Pandangannya yang tadinya kabur seketika pecah menjadi ribuan fragmen cahaya. Haidar melihat aliran energi biru mengalir masuk ke dalam saraf optiknya. Rasanya seperti seseorang sedang menuangkan air es langsung ke dalam otaknya yang sedang terbakar. Rasa sakit yang menjahanamkan itu perlahan berubah menjadi rasa mati rasa yang menenangkan.

​Garis-garis merah di pandangan Niskala-nya perlahan mulai terbungkus oleh lapisan cahaya biru. Suhu di kepalanya yang tadinya berada di titik didih, kini turun secara drastis hingga mencapai titik stabil.

​Haidar bangkit berdiri. Tubuhnya masih gemetar, namun ada kekuatan baru yang mengalir di nadinya. Ia menatap ke depan. Mata kirinya kini tidak lagi tertutup darah. Pupilnya yang tadinya merah padam kini memiliki lingkaran biru kristal di sekelilingnya.

​"Sistem... terintegrasi," bisik Haidar. Suaranya terdengar lebih jernih, meskipun uap dingin masih keluar dari mulutnya setiap kali ia berbicara.

​Ruangan itu kini sudah terisi cairan nitrogen setinggi mata kaki. Haidar melirik ke arah belatinya yang tergeletak di lantai es. Saat ia mengambilnya, senjata itu tidak lagi terasa seberat sebelumnya. Dingin dari Cryo-Core telah menyeimbangkan berat emosional dan beban frekuensi dari senjata tersebut.

​"Waktunya pergi," ucap Sersan. Ia menebas pintu baja yang membeku dengan satu serangan kuat hingga pintu itu pecah menjadi kepingan es.

​Mereka berlari keluar tepat sebelum ruangan itu terisi penuh oleh cairan mematikan. Di lorong luar, Haidar berhenti sejenak. Ia mencoba mengedipkan matanya. Tidak ada lagi rasa perih. Tidak ada lagi rasa terbakar yang menyiksa. Pandangannya kini jauh lebih tajam, menembus kegelapan dan kabut uap dengan presisi yang mengerikan.

​"Bagaimana rasanya?" tanya Sersan tanpa menghentikan langkah.

​"Dingin," jawab Haidar singkat. "Tapi untuk pertama kalinya sejak aku sampai di sini, aku merasa bisa melihat dengan jelas."

​"Bagus. Karena setelah ini, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi. Kita akan meninggalkan Sektor Pendinginan dan langsung menuju inti dari Baron," Sersan berhenti dan menunjuk ke sebuah menara raksasa di kejauhan yang puncaknya menyemburkan api biru ke langit gelap Niskala. "The Welder sudah tahu kau datang. Dan dia tidak suka jika ada seseorang yang membawa es ke dalam tungkunya."

​Haidar mencengkeram belatunya erat-erat. Kerinduannya pada Kinaya kini terbungkus oleh kedinginan yang disiplin. Ia bukan lagi Haidar yang panik dan kesakitan. Ia adalah Eksekutor yang telah melewati api dan es.

​"Ayo kita selesaikan ini, Sersan," ucap Haidar dingin.

​Mereka melangkah maju, meninggalkan jejak kaki yang membeku di atas lantai besi, menuju pertempuran yang akan menentukan apakah Haidar akan pulang sebagai manusia, atau tetap tinggal sebagai bagian dari rongsokan Baron yang abadi.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!