Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan & Pelukan Penuh Kasih
Mata Zea menyipit penuh amarah saat melihat apa yang baru saja terjadi. Ia melihat jelas bagaimana Viona berniat menjegal kaki Ziva. Walaupun Zea masih sering menguji Ziva, tapi di dalam hatinya, Ziva tetaplah saudara kandungnya. Tidak ada hak bagi orang luar untuk semena-mena terhadap keluarganya!
'Dasar Viona! Berani-beraninya kau main kotor!' batin Zea geram.
Bel istirahat berbunyi. Segera setelah itu, Zea berjalan dengan langkah tegap namun penuh kemarahan menuju meja Viona. Gadis yang sedang duduk santai itu terlihat kaget saat Zea menepuk meja dengan keras.
Brak!
"Heh, Viona! Apa maksudmu tadi?!" bentak Zea dengan suara keras yang membuat mahasiswa lain di sekitar menoleh. "Kau sengaja mau menjegal kaki Ziva kan?! Apa salahnya sama kau hah?! Jangan sok suci kalau hatinya busuk!"
Viona terlihat gugup, wajahnya pucat. Ia tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan cepat ia merapikan barang-barangnya lalu berdiri dan berjalan cepat meninggalkan ruang kelas seolah-olah tidak mendengar apa-apa.
"Kau lari kemana?!" Zea tidak terima. Rasa penasaran dan emosi membuatnya tanpa pikir panjang langsung mengejar Viona dari belakang. "Jangan lari! Jawab dulu pertanyaanku!"
Zea terus mengikuti langkah Viona, menjauh dari keramaian Mahasiswa, masuk ke lorong-lorong gedung tua yang jarang dilalui orang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang masuk ke dalam jebakan yang sudah disiapkan.
Di sebuah koridor yang sepi, hanya diterangi cahaya lampu yang remang-remang, Viona akhirnya berhenti dan berbalik badan. Wajahnya tidak lagi terlihat gugup, melainkan menyeringai jahat.
"Kau benar-benar bodoh ya, Zea... berani-beraninya kau mengikutiku sendirian ke sini," ucap Viona dingin.
"Hah? Apa maksudmu bicara seperti itu?!" tantang Zea berani.
Belum sempat Zea melangkah maju, tiba-tiba dari balik sudut dinding dan pintu kelas yang kosong, muncul tiga orang pria bertubuh kekar dengan tatapan liar. Mereka adalah preman kampus yang disewa Viona.
Jantung Zea berdegup kencang, tapi ia tidak menunjukkan rasa takut. Zea memang pernah belajar bela diri dasar dari Kevin, jadi ia merasa percaya diri bisa melawan.
"Kau pikir aku takut?!" seru Zea siap bertarung.
Namun, kenyataan pahit harus ia terima. Ternyata kemampuan bela dirinya masih jauh di bawah mereka. Pria-pria itu bergerak sangat cepat dan kasar.
Bugh!
Satu pukulan keras menghantam bahu Zea, membuatnya terhuyung. Sebelum sempat membalas, kedua tangannya sudah dicengkeram kuat oleh dua pria, sementara satu orang lagi berdiri di depannya dengan tatapan kotor.
"Argh! Lepaskan! Kalian berani apa?!" teriak Zea meronta sekuat tenaga, tapi tenaganya tak sebanding.
Viona berjalan mendekat, wajahnya penuh dengan kebencian dan rasa iri yang membutakan akal sehatnya.
"Kau tahu kenapa aku melakukan ini, Zea?" ucap Viona pelan namun penuh racun. "Kau itu sudah punya segalanya! Keluarga yang sayang, harta, dan... Zio juga selalu perhatian padamu! Kau selalu bersikap manis dan dekat dengannya, membuatku merasa seperti orang bodoh yang tidak dihargai!"
Viona mengepal tangannya kuat-kuat. "Maka hari ini... aku akan membalas semuanya! Aku menyewa mereka untuk... mengambil kesucianmu! Biar kau tahu rasa, biar kau hancur lebur seperti perasaanku!"
"APA?!" Mata Zea membelalak ketakutan. "JANGAN! VIONA JANGAN GILA! KEVIN AKAN MEMBUNUHMU! KELUARGA STERLING TIDAK AKAN DIAM!"
"Teriak saja sekuat tenagamu! Di sini sepi, tidak ada yang akan mendengar!" tertawa Viona jahat. "Lakukan apa yang kalian mau! Buat dia menyesal!"
Pria yang berada di depan mendekatkan wajahnya ke leher Zea, baunya busuk dan menjijikkan. Zea merasa mual dan ketakutan setengah mati. Ia menangis, air mata mengalir deras membasahi pipinya.
"TOLONG!!! LEPASKAN AKU!!! TOLONGGGG!!!" teriaknya histeris, meronta sekuat tenaga tapi sia-sia. Cengkeraman itu semakin kuat, dan ia bisa merasakan bahaya yang sangat mengerikan sedang menanti.
Zea sudah pasrah, harapannya hampir hilang.
TAPI...
BRAKKKK!!!
Tiba-tiba salah satu pria yang memegang tangan Zea terlempar jauh hingga menghantam dinding beton dengan keras.
Semua orang terkejut menoleh ke arah sumber suara.
Di ujung koridor, berdiri dua sosok dengan aura yang sangat mengerikan. Itu adalah Ziva dan Zio.
Mereka berdua mencari Zea yang tidak kembali ke kelas, dan insting Ziva membawanya ke sini tepat pada waktunya.
"Kalian berani menyentuh adikku... kalian sudah menandai kematian kalian sendiri," suara Ziva terdengar dingin mematikan.
Tanpa aba-aba, Ziva dan Zio bertindak. Gerakan mereka cepat dan mematikan. Bagi Ziva yang merupakan Ratu Mafia, menghajar preman kelas kakap saja mudah, apalagi orang-orang rendahan ini.
Bugh! Argh! Brak!
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga pria itu sudah tergeletak di lantai meringkuk kesakitan, pingsan, dan babak belur parah.
Viona yang melihat kejadian itu ketakutan setengah mati. Wajahnya pucat pasi. Tanpa pikir panjang, ia segera melarikan diri lewat pintu darurat di belakang sebelum sempat ditangkap.
"ZEA!!"
Zio segera berlari memeluk adik angkatnya itu. Zea yang melihat mereka, pertahanannya runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya, tubuhnya gemetar hebat karena syok dan trauma.
"K-Kak Zio... Ziva... mereka mau... mereka mau..." Zea tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, isak tangisnya menyakitkan.
Ziva melihat kondisi Zea. Hatinya terasa perih dan teriris melihat gadis yang biasanya cerewet dan manja itu kini tampak ketakutan dan kotor karena debu. Ia sadar, Zea berani melawan Viona semata-mata karena ingin membelanya.
Perlahan Ziva mendekat, lalu dengan lembut ia menarik tubuh Zea ke dalam pelukannya.
"Shhh... sudah sayang... sudah... aman sekarang. Tidak ada yang berani menyakiti mu lagi," bisik Ziva lembut, tangannya mengelus punggung dan rambut Zea dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih sudah membela Kakak... maafkan Kakak yang terlambat datang."
Zea membenamkan wajahnya di dada Ziva, menangis tersedu-sedu melepaskan semua ketakutannya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal. Keadaan Zea benar-benar tidak memungkinkan untuk tetap tinggal di kampus.
Sepanjang perjalanan dari koridor menuju mobil, Zea tidak mau melepaskan pelukannya pada Ziva. Ia berjalan sambil memeluk lengan Ziva dengan sangat erat, bahkan hampir menyandarkan seluruh berat badannya pada kakaknya itu.
Ziva berjalan dengan sabar dan lembut, menyesuaikan langkahnya, membiarkan Zea mencari rasa aman di sisinya. Zio di samping mereka hanya bisa diam memandangi pemandangan itu dengan haru.
'Ternyata... mereka sudah saling menyayangi,' batin Zio.
Di dalam mobil, Zea masih terus memeluk Ziva, kepalanya bersandar di bahu sang kakak, matanya yang sembab tertutup rapat seolah takut jika membuka mata akan melihat hal menakutkan lagi.
Ziva menatap wajah kecil di bahunya itu dengan tatapan lembut.
'Tenang saja Zea... mulai hari ini, siapa pun yang berani menyakiti keluarga ini... akan kurelakan nyawanya,' batin Ziva berjanji dalam hati, matanya memancarkan kilatan bahaya yang siap memburu Viona si gadis licik itu.