NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Alarm Merah Di Hari Minggu

Hari Minggu pagi biasanya kuhabiskan dengan menatap layar laptop atau bermain ponsel, memperbaiki bug yang membandel atau sekadar bermain Mobile Legends. Tapi minggu ini berbeda. Kak Hazel mengetuk pintu kamarku lebih pagi dari biasanya, bukan untuk menyuruhku bangun, tapi dengan wajah bersemangat.

"Rea, bangun! Hari ini kita jalan-jalan. Gue, Luq, sama Vino udah sepakat mau jalan jalan santai ke arah Kota Tua, terus cari makanan enak di Mall. Lo ikut, ya?"

Aku mengerjap, masih mengumpulkan nyawa. "Vino juga ikut?"

"Iya, si Vino baru balik dari lomba di Bandung. Dia maksa mau ketemu lo, katanya kangen sama 'adek kecil'-nya temen-temennya," Hazel tertawa.

Aku bergegas bersiap. Aku ingin tampil santai tapi tetap merasa percaya diri. Aku memilih atasan berupa sweater rajut tipis berwarna sage green yang pas di tubuh, dipadukan dengan celana wide-leg putih yang rapi. Rambutku kuikat setengah dengan jepit pita kecil yang lucu, dan aku melengkapi penampilanku dengan sneakers putih bersih. Di cermin, aku terlihat rapi, santai, dan... jujur saja, cukup Cute.

Saat aku keluar rumah, Kak Hazel yang sedang sibuk memanaskan mesin mobil langsung menoleh. Dia menatapku sejenak, lalu tersenyum tipis. "Tumben rapi amat, mau pergi apa mau fashion show?" godanya

"Yaa iyalah, Emang Gak malu kalauu Adek nya pake baju compang camping? Nanti dikira kakak nya ga ngrawat adek nya dengan baik dong."

Aku segera masuk ke dalam mobil, duduk Di Sebelah kak Hazel.

Kami menjemput Vino lebih dulu yang sudah menunggu di depan rumahnya dengan wajah super ceria, lalu meluncur ke sebuah kafe di pusat kota. Di sanalah Luq bekerja.

Saat kami sampai, aku melihat Luq sedang sibuk. Dia mengenakan seragam kafe, apron hitam yang sedikit kotor terkena noda kopi, dan wajahnya tampak kelelahan. Aku tahu cerita di balik senyum tipisnya itu; ayahnya sudah tiada, dan ibunya sedang sakit keras di rumah. Di usianya yang baru kelas 1 SMK, dia harus membagi waktu antara sekolah dan pekerjaan di kafe ini. Namun, saat melihat kami, dia langsung melepaskan apronnya dengan gerakan yang profesional dan tersenyum seolah tidak ada beban di pundaknya.

"Maaf ya nunggu, shift gue baru selesai," ucapnya saat masuk ke mobil, duduk di sampingku. Aroma kopi dan sedikit aroma parfumnya tercampur sedikit aroma keringat menempel di tubuhnya, tapi itu adalah aroma kerja keras yang sangat tulus.

"Santai, Luq. Yang penting lo aman," jawab Hazel sambil melajukan mobil.

Sesampainya di mal, suasana mulai cair. Vino, si tukang bercanda, terus saja memancing tawa. Namun, saat kami sedang berjalan menuju area food court, perutku mulai terasa kram hebat. Aku tersadar ini waktunya. Dan yang lebih parah, saat aku tidak sengaja melihat pantulan diriku di kaca toko, mataku membelalak. Ada noda merah di celanaku.

Panik melanda. "Kak, aku ke toilet sebentar!" aku berlari, meninggalkan mereka bertiga yang bingung.

Di dalam bilik, aku sadar aku tidak membawa apa-apa. Aku panik, malu, dan ingin menangis. Dengan tangan gemetar, aku mengirim pesan ke Kak Hazel.

Rea: "Kak, tolong... aku dapet tamu bulanan dan bocor. Beliin pembalut di minimarket dalam mal ini. Please!"

Di luar, Kak Hazel membaca pesan itu dengan mata melotot. Dia menyenggol Luq. "Luq, gawat. Emergency tingkat nasional. Adek gue butuh 'itu' dan gue butuh bantuan lo buat beli."

Luq yang baru saja selesai bekerja keras di kafe dan merasa lelah, langsung melotot. "Pembalut? Zel, kenapa lo bawa gue ke minimarket? Lo aja yang beli!"

"Gue nggak bisa! Masa gue masuk sendirian terus nanya-nanya ke mbak kasir?" sahut Hazel panik. "Ayo temenin gue!"

"Vin, Lu Book Meja Tempat makan di Mana kek!. Nanti kasih tau lewat Wa kalau udah Booking" Ujar Luq yang keburu ditarik hazel ke minimarket .

Di lorong minimarket, dua remaja laki-laki ini terlihat seperti sedang merancang strategi perang. Mereka berjalan bersembunyi kesana kemari, mencari letak Pembalut.

Saat ketemu Rak Pembalut.

"Zel, pilih yang mana?" bisik Luq sambil menatap rak dengan serius. "Ini ada yang Wing, ada yang Non-wing. Logikanya kalau Wing, dia punya stabilitas lebih tinggi pas lo jalan, kan? Tapi ini ada yang Heavy Flow sama Regular. Rea lagi hari pertama atau gimana?"

"Mana gue tahu! Luq, lo kan pinter analisis, pilih aja yang paling canggih!" balas Hazel frustrasi . "Tadi gue browsing, katanya pilih yang 'night' kalau dia lagi bocor banyak. Tapi ini ada yang extra long, slim, heavy flow... Ini spesifikasinya lebih rumit dari spek mesin motor gue!"

Luq menatap kemasan itu dengan serius, seolah sedang menganalisis kode backend yang error. "Oke, kita ambil yang heavy flow dengan sayap. Logikanya, sayap itu buat stabilitas, kan? Biar nggak bergeser kalau dia jalan."

Hazel mengangguk setuju. "Oke, ambil dua. Sama yang paling tebal. Biar leakage bisa diminimalisir."

Luq Masih Ragu. "Tapi kalau terlalu tebal, nanti malah Rea ga nyaman. Zel."

Hazel mengusap wajahnya frustrasi. "Ambil aja yang paling aman. Yang ada gambar bunga-bunganya atau apa lah. Pokoknya yang nggak aneh-aneh!"

Luq Mengambil salah satu pembalut dengan cepat dan Bergerak ke kasir.

Saat di kasir, kasir wanita itu menatap dua remaja laki-laki yang wajahnya merah padam itu dengan senyum tertahan. Hazel sampai pura-pura melihat deretan cokelat di dekat kasir, sementara Luq menaruh barang belanjaan dengan gerakan sangat cepat seolah itu barang selundupan.

Hanya butuh waktu sebentar sampai aku mendengar ketukan di pintu bilik.

"Maaf Permisi, Tadi ada cowok minta tolong kasih ini ke kamu." Seorang Perempuan mengetuk pintu ku.

Aku segera membuka pintu sedikit, mengambil kantong plastik kecil itu dengan cepat, dan mengunci pintu kembali. "Makasih banyak ya Kak" Aku merasa sangat lega.

Setelah semuanya selesai, Saat aku keluar dari toilet dengan perasaan hancur dan malu, aku mendapati mereka sudah berdiri di depan. Aku berjalan menunduk, mencoba menutupi noda itu dengan tas selempangku.

Tanpa perlu bicara, Luq melihat apa yang terjadi. Dia langsung melepas hoodie hitam yang dia kenakan—yang mungkin adalah satu-satunya pakaian hangat yang dia punya hari ini—dan langsung mengikatkannya di pinggangku dengan gerakan sigap lalu menjaga jarak lagi.

"Pakai ini, Rea," bisiknya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Nggak ada yang lihat kok."

"Makasih banyak Kak Hazel, Kak Luq."

"Hazel yang pilih spek pembalutnya tadi," sambung Luq sambil melirik Hazel. "Dia debat teknis sama gue di lorong minimarket soal 'stabilitas sayap'."

Hazel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya gue kan cuma mau yang terbaik buat adek gue!"

Luq Terkekeh geli. "Iyaa, Omong omong Vino udah Kirim lokasi dia sekarang. di Tempat makan Hotpot, dekat dari sini."

Aku merasa sangat terbantu. Kami bertiga pun segera menyusul Vino di restoran Hotpot.

Sesampainya di sana, Vino sudah duduk di meja dengan panci hotpot yang mulai mendidih. Dia menatap kami dengan curiga.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!