Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Janji di Bawah Gerimis Sidoarjo
Pagi itu, di teras rumah yang asri, Bapak Suryo duduk santai menghisap rokok kretek murahnya. Di hadapannya, Ibu Ratna dan Sekar duduk dengan sopan sambil menikmati teh hangat. Ibu Siti sibuk bolak-balik membawakan sisa dadar jagung yang masih hangat.
"Gimana Jeng Ratna, Mbak Sekar... apa betah tinggal di desa yang sepi begini? Nggak ada mall, adanya cuma sawah sama suara kodok kalau malam," tanya Bapak Suryo sambil terkekeh, asap rokoknya mengepul tebal di udara.
Ibu Ratna tersenyum tulus. "Malah betah banget, Pak Suryo. Di sini hatinya tenang, orang-orangnya jujur, nggak kayak di Jakarta yang isinya penuh sandiwara."
Sekar ikut mengangguk, matanya melirik Guntur yang sedang asyik menyeruput kopi hitam kentalnya. "Iya Pak, Sekar malah suka di sini. Hawanya sejuk, apalagi masakan Ibu Siti bikin nagih terus."
Mendengar itu, Bapak Suryo langsung menepuk paha Guntur dengan keras sampai Guntur hampir tersedak kopinya. "Tuh Le, dengerin! Mbak Sekar sudah betah. Berarti sudah siap kalau disuruh menetap di sini selamanya toh?"
Wajah Sekar mendadak merah padam, ia pura-pura sibuk meniup teh panasnya. Guntur hanya bisa garuk-garuk kepala sambil nyengir sengklek.
Tiba-tiba, Bapak Suryo menatap Guntur dengan serius, raut wajahnya berubah berwibawa. "Le, Bapak tahu... kamu sekarang bukan Guntur yang dulu. Bapak tahu kamu habis ketemu kakek-kakek sakti di jalanan dan dikasih ilmu kanuragan yang luar biasa itu, kan?"
Seketika, suasana teras yang tadinya penuh tawa mendadak hening. Ibu Siti yang baru keluar bawa nampan langsung mematung, sementara Ibu Ratna dan Sekar saling pandang dengan wajah kaget luar biasa.
"Lho, Pak... Bapak kok tahu?" tanya Guntur kaget, karena ia merasa tidak pernah cerita soal pertemuan dengan sang Resi.
"Bapak ini orang tua, Le. Bapak lihat sorot matamu itu beda, ada aura macan yang lagi tidur. Bapak juga ngerasain energi panas pas kamu salim tadi. Itu ilmu peninggalan kakek sakti itu bukan sembarangan, itu ilmu buat jadi pemimpin," ucap Bapak Suryo tenang sambil tetap tenang menghisap rokok kreteknya.
Ibu Ratna menutup mulutnya karena tidak percaya. "Maksud Pak Suryo... Guntur sekarang punya ilmu sakti? Pantesan kemarin di Jakarta dia bisa ngeratain preman sendirian!"
Sekar menatap Guntur dengan pandangan yang sulit diartikan—antara takut, kagum, dan makin cinta. "Guntur... jadi kamu beneran punya ilmu rahasia?"
Ibu Siti langsung mendekat dan menjewer kuping Guntur pelan. "Oalah Le! Punya ilmu kok nggak bilang-bilang Ibu! Ibu kira kamu cuma pinter narik ojek, ternyata jadi jagoan beneran! Tapi inget ya, ilmunya jangan buat macem-macem, apalagi buat cari istri cadangan, Ibu jewer beneran kamu nanti!"
Guntur tertawa sambil menahan sakit di kupingnya. "Ampun Buk! Ilmunya cuma buat jagain Mbak Sekar sama Ibu Ratna kok. Biar Guntur bisa ambil lagi aset Bang Soni di Jakarta!"
Bapak Suryo mengangguk mantap. "Ya wis, kalau semua sudah tahu, malah enak. Guntur, sekarang kuncilah ilmumu dengan Bismillahirrahmanirrahim tiga kali. Jangan dipamerin dulu. Simpan energinya buat nanti pas sudah injak kaki di Jakarta."
Guntur mengangguk khidmat, ia merapalkan basmalah di depan mereka semua, membuat aura panas di tubuhnya seketika mendingin dan wajahnya kembali terlihat seperti pemuda desa yang kalem namun penuh wibawa.
Setelah ritual ngopi dan rokokan selesai, satu keluarga besar itu mengantar Guntur ke stasiun kereta api. Bapak Suryo menyetir mobil tua, sementara di belakang ada Ibu Siti, Ibu Ratna, dan Sekar yang sejak tadi diam tapi terus menatap Guntur dari pantulan spion.
Sesampainya di depan pintu keberangkatan, suasana mendadak haru. Langit Sidoarjo agak mendung, seolah ikut sedih melepas jagoannya pergi berperang ke kota orang.
"Le, ini bekal dadar jagungnya jangan lupa dimakan di kereta. Sudah Ibu bungkus pakai daun pisang biar aromanya tetep sedap," ucap Ibu Siti sambil menyerahkan tas kain berisi makanan.
Ibu Ratna memegang tangan Guntur dengan erat. "Hati-hati di Jakarta, Guntur. Jangan paksakan diri, nyawamu lebih berharga daripada semua aset yang hilang itu."
Guntur mengangguk, lalu ia beralih menatap Sekar yang berdiri agak menjauh dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Guntur mendekat, aura Ya Nur miliknya terpancar halus, membuat Sekar merasa tenang meski hatinya sedang gelisah.
"Mbak Sekar, tunggu saya ya. Saya janji, pas saya balik nanti, tidak ada lagi ketakutan di mata Mbak. Semuanya akan saya bereskan," bisik Guntur dengan suara rendah yang sangat berwibawa.
Sekar hanya bisa mengangguk pelan, ia ingin memeluk Guntur tapi ia malu karena ada orang tua mereka di sana. "Pulang dengan selamat, Guntur. Aku... aku akan menunggumu setiap hari di teras rumah."
Guntur pun berpamitan, ia menyalami Bapak dan Ibunya dengan takzim. Namun, saat Guntur sudah melangkah masuk melewati gerbang pemeriksaan tiket, tiba-tiba Ibu Siti lari ke depan pagar pembatas dan berteriak dengan suara yang sangat kencang hingga semua penumpang menoleh.
"GUNTTTUUURRR! ELING PESENE IBU YA, LE! OJO LALI OLEH-OLEHE CUCU! POKOKNYA MULANG-MULANG KUDU WIS GOWO CALON MANTU BIAR IBU CEPET GENDONG BAYI! SEMANGAT YA LE, NDANG RABI!"
Seketika suasana stasiun yang tadinya sunyi jadi riuh. Para calon penumpang lain langsung berbisik-bisik sambil tertawa ke arah Guntur. Ada yang nyeletuk, "Wah, Masnya ditunggu cucunya tuh!"
Guntur yang tadinya sudah terlihat sangat gagah dan sangar sebagai jagoan, mendadak lemas. Ia menutup wajahnya dengan topi, langkahnya yang tegap berubah jadi langkah seribu karena malu luar biasa. Wajah sengkleknya muncul lagi sambil bergumam, "Aduh Buk, Buk... kalau begini mah mending disuruh lawan naga beneran daripada diteriakin begini di depan orang banyak!"
Sementara itu, di luar pagar, Sekar sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan, pingin rasanya dia menghilang ke dalam tanah saat itu juga. Wajahnya merah padam sampai ke leher, apalagi saat melihat Ibu Siti malah dadah-dadah dengan bangga ke arah Guntur.
Bapak Suryo hanya tertawa terbahak-bahak sambil menyulut rokok kreteknya lagi. "Wis, aman itu Le. Doa Ibukmu itu doa paling manjur sedunia!"
Kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun Sidoarjo. Guntur duduk di dekat jendela, ia menghela napas panjang lalu merapalkan Bismillahirrahmanirrahim tiga kali untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang karena malu.
"Jakarta... bersiaplah. Guntur Hidayat datang bukan cuma buat ambil harta, tapi buat cari modal nikah dan penuhi janji cucu buat Ibu!" gumam Guntur sambil menatap pemandangan sawah yang perlahan berganti menjadi bangunan kota.