NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STETOSKOP DAN SKRIPSI

Seminggu setelah insiden flu yang membawa Devan ke depan pintu kamarnya, kehidupan Kania berubah menjadi sebuah rutinitas yang aneh. Ia tidak lagi bangun pagi dengan rasa malas untuk mengerjakan skripsi. Sebaliknya, ada motivasi baru yang setiap pagi masuk melalui notifikasi singkat di ponselnya.

Devan: Bangun. Jangan lupa sarapan protein. Saya sudah kirim jadwal target revisi bab 4 kamu ke email. Selesaikan sebelum jam 5 sore.

Kania mendengus sambil tersenyum geli. "Ini calon suami atau asisten dosen sih?" gumamnya. Namun, ia tetap beranjak dari kasur. Pesan-pesan singkat Devan yang kaku justru menjadi bahan bakar utama baginya untuk segera lulus. Ia ingin membuktikan pada "Si Kulkas" itu bahwa ia bukan sekadar mahasiswi ceroboh yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua.

Sore harinya, Kania memutuskan untuk memberikan kejutan. Alih-alih menunggu dijemput atau datang ke rumah sakit, ia pergi ke perpustakaan pusat kota tempat yang menurut Devan memiliki koleksi jurnal medis dan hukum yang paling lengkap. Ia tahu Devan sering ke sana setiap hari Selasa untuk membaca literatur terbaru sebelum jam praktiknya dimulai.

Kania menemukan Devan di sudut ruangan yang paling sunyi, dikelilingi oleh rak-rak kayu tinggi yang berbau debu buku lama. Devan tampak sangat fokus, mengenakan kacamata berbingkai tipis yang jarang ia pakai, menambah level ketampanannya hingga ke tingkat yang tidak masuk akal.

Kania mengendap-endap dari belakang, lalu menutup mata Devan dengan kedua tangannya. "Tebak siapa?" bisiknya dengan suara yang diberatkan.

Devan tidak bergerak. Ia tidak terkejut sama sekali. "Kania, suhu tanganmu 36 derajat, ada aroma stroberi dari parfummu, dan hanya kamu yang cukup berani mengganggu saya di perpustakaan. Lepaskan."

Kania menarik tangannya sambil cemberut. "Ih, nggak seru! Dokter kayak komputer ya, semua dideteksi pake sensor."

Devan melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya perlahan. "Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu harus bimbingan jam empat?"

"Dosennya mendadak ada rapat, jadi aku bebas! Makanya aku ke sini mau ganggu Dokter. Dokter lagi baca apa sih?" Kania melirik buku tebal di depan Devan. "Anatomi Saraf Lanjutan? Aduh, lihat gambarnya aja aku udah pusing."

"Ini persiapan untuk operasi besar minggu depan," jawab Devan. Ia kemudian menutup bukunya dan menatap Kania dengan saksama. "Bagaimana revisimu?"

Kania mengeluarkan tumpukan kertas dari tasnya dengan bangga. "Nih! Lihat! Udah aku benerin semua sesuai 'perintah' Dokter. Capek tahu, tanganku sampai keriting ngetik terus."

Devan mengambil tumpukan kertas itu, membacanya halaman demi halaman dengan saksama. Kania menahan napas, merasa lebih gugup daripada saat menghadapi dosen aslinya. Suasana hening perpustakaan membuat detak jantung Kania terdengar jelas di telinganya sendiri.

"Struktur argumenmu di bab ini sudah membaik," ucap Devan akhirnya, memberikan pujian paling "mahal" yang pernah Kania dengar. "Tapi kamu masih sering salah ketik di istilah teknis. Efisiensi bukan hanya soal waktu, tapi juga ketelitian."

"Iya, iya, Pak Dokter. Nanti aku benerin lagi," jawab Kania sambil menyandarkan dagunya di atas meja, menatap wajah Devan dari dekat. "Dok... kalau aku lulus tepat waktu, hadiahnya apa?"

Devan terdiam, tampak berpikir keras seolah sedang memecahkan kasus medis yang rumit. "Hadiah? Bukannya lulus adalah kewajibanmu sebagai mahasiswa?"

"Ih, kaku banget sih hidupnya! Harus ada *reward* dong. Gimana kalau... kalau aku lulus, Dokter harus ajak aku jalan-jalan ke Puncak? Aku pengen lihat kebun teh, makan jagung bakar, terus jauh-jauh dari bau rumah sakit."

Devan menatap mata cokelat Kania yang berbinar penuh harap. Ia teringat betapa membosankannya hidupnya selama sepuluh tahun terakhir hanya antara apartemen, rumah sakit, dan jurnal. Kehadiran Kania yang berisik dan penuh warna ini mulai terasa seperti sebuah kebutuhan daripada sekadar gangguan.

"Baiklah. Jika kamu lulus dengan nilai memuaskan, saya akan luangkan waktu satu hari penuh untuk ke Puncak," jawab Devan pelan.

"Janji ya?" Kania menyodorkan jari kelingkingnya.

Devan menatap jari kecil itu dengan bingung. "Apa ini? Ritual apa lagi?"

"Ini namanya janji kelingking, Dokter Kuper! Ayo, kaitkan kelingking Dokter ke sini."

Dengan ragu, Devan mengaitkan kelingkingnya yang panjang dan kokoh ke kelingking Kania yang mungil. Sentuhan itu singkat, tapi memberikan sensasi listrik yang membuat Devan berdehem canggung.

Namun, suasana manis itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan, langkah kaki sepatu hak tinggi yang tegas terdengar mendekat. Dr. Sarah muncul dari balik rak buku dengan ekspresi yang tidak bisa dibilang ramah.

"Devan, aku sudah mencarimu ke mana-mana. Direktur meminta kita meninjau ulang proposal pengadaan alat MRI baru sekarang juga," ucap Sarah tanpa melirik Kania sedikit pun.

Devan menghela napas, segera merapikan buku-bukunya. "Sekarang, Sarah? Saya masih ada waktu tiga puluh menit sebelum praktik."

"Ini mendesak, Devan. Ini soal masa depan departemen kita," Sarah menekankan kata "kita" seolah ingin menunjukkan batas wilayah yang jelas. Ia kemudian menatap Kania dengan tatapan meremehkan. "Kania, kan? Maaf ya, tapi Devan harus bekerja. Urusan orang dewasa itu sedikit lebih rumit daripada urusan skripsi."

Darah Kania mendidih. Ia berdiri tegak, mencoba menyamai tinggi Sarah meskipun ia kalah beberapa sentimeter. "Oh, nggak apa-apa kok, Dokter Sarah. Aku paham banget kalau Dokter Devan itu orang penting. Justru karena dia penting, dia butuh 'penyegaran' kayak aku supaya nggak stres lihat muka yang itu-itu terus di rumah sakit."

Sarah menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Menarik. Sayangnya, kecantikan saja tidak cukup untuk mengimbangi pria seperti Devan."

"Siapa bilang aku cuma punya kecantikan? Aku punya kesabaran buat ngadepin Dokter Devan yang dingin, sesuatu yang kayaknya Dokter Sarah nggak punya, makanya cuma bisa jadi 'rekan kerja' selama bertahun-tahun, kan?" skakmat Kania dengan senyum paling manis namun mematikan.

Devan yang merasa situasi mulai tidak terkendali segera menengahi. "Cukup. Sarah, saya akan ke ruang Direktur sekarang. Kania, kamu pulang sekarang dan lanjutkan revisimu."

Sarah mendengus kencang dan berjalan pergi lebih dulu. Devan menatap Kania, ada sedikit kilatan geli di matanya yang coba ia sembunyikan. "Kamu benar-benar provokator yang handal."

"Dia yang mulai duluan, Dok! Dia pikir aku anak kecil yang nggak tahu apa-apa," protes Kania sambil merapikan tasnya.

Devan mendekat, merapikan kerah baju Kania yang sedikit berantakan. "Jangan biarkan dia mengganggumu. Fokus saja pada janjimu. Saya tidak suka orang yang gagal menepati janji kelingking."

Kania tertegun. Kalimat Devan barusan adalah pengakuan secara tidak langsung bahwa Devan juga menantikan hari itu. Kania tersenyum lebar, rasa kesalnya pada Sarah menguap seketika.

"Siap, Pak Dokter! Siap laksanakan!" Kania memberikan hormat main-main, lalu berlari kecil keluar dari perpustakaan dengan hati yang berbunga-bunga.

Devan menatap punggung Kania sampai menghilang di balik pintu otomatis. Ia menyentuh kelingkingnya sendiri, merasakan sisa kehangatan dari tangan Kania. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, dr. Devan menyadari bahwa logika medis tidak akan pernah bisa menjelaskan mengapa jantungnya berdetak begitu liar hanya karena seorang gadis berusia dua puluh tahun yang ceroboh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!