NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Biarkan Aku Sendirian Lagi

...Chapter 22...

Di tengah kekacauan yang masih berlangsung—di mana di luar kedai, teriakan histeris mulai bermunculan dari seluruh penjuru kota karena wabah Kanker menyebar seperti api di padang rumput kering, membunuh satu per satu, dua per dua, seratus per seratus, tanpa bisa dihentikan—tubuh Ling Xu yang telah kembali ke bentuk manusianya tergeletak lemas di atas tumpukan puing, jubahnya hancur, rambut putihnya basah oleh darah dan keringat, dadanya naik turun dengan napas yang pendek-pendek seperti orang yang baru saja selesai berlari sejauh seribu li. 

Namun di tengah kelemasannya, ia masih punya kekuatan untuk mengulurkan tangan.

Bukan untuk menyerang, bukan untuk meminta tolong, melainkan untuk menggenggam pergelangan tangan Huan Zheng yang masih terikat rantai, dan dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, ia melesat ke atas, menembus langit-langit kedai yang sudah hancur, menembus air laut yang dingin, menembus gelombang, menembus awan, menembus atmosfer kota laut itu, terus terbang dan terbang dan terbang—membawa Huan Zheng seperti burung elang yang membawa mangsanya, tidak peduli bahwa sayapnya patah, tidak peduli bahwa dadanya hancur, tidak peduli bahwa setiap detik ia terbang adalah keajaiban yang tidak mungkin terjadi dua kali. 

Huan Zheng tidak bisa berkata-kata—ia hanya bisa menggenggam balik tangan Ling Xu, tangan yang dingin, tangan yang berlumuran darah, tangan yang masih hangat meskipun gadis pemiliknya tampaknya sudah setengah jalan menuju kematian, dan di dalam hatinya, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia berdoa—bukan kepada Dewa, karena ia tahu Dewa-dewa sudah kalah dan mati dan tidak berguna, melainkan kepada semesta, kepada takdir, kepada apa pun yang mungkin mendengarkan.

"Jangan biarkan dia mati. Jangan biarkan dia mati karena kesalahanku. Jangan biarkan aku hidup di dunia ini sendirian lagi." 

Dan semesta—entah karena mendengar, entah karena kebetulan, entah karena cerita ini belum selesai—mengabulkan doanya. 

Ling Xu jatuh tepat di mulut sebuah gua yang terletak di tebing terpencil, jauh dari kota laut yang masih dilalap wabah Kanker, jauh dari teriakan dan ledakan dan darah, dan di sana, di dalam gua yang gelap dan dingin dan sunyi, kedua tubuh yang babak belur itu tergeletak bersebe lahan—napas mereka pelan, lemah, kadang terasa berhenti lalu mulai lagi, seperti dua lilin yang hampir padam di ujung malam yang terlalu panjang, tetapi masih menyala, masih bertahan, masih menolak untuk mati, setidaknya untuk malam ini.

Hari-hari di dalam gua itu terasa seperti waktu yang berhenti berdetak.

Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada pergantian siang dan malam yang bisa diukur, hanya kegelapan yang kadang terang kadang gelap tergantung pada apakah plankton laut kebetulan hanyut melewati mulut gua atau tidak. 

Dan di dalam kegelapan itu, Huan Zheng bermimpi—bukan mimpi biasa yang datang dan pergi seperti angin, melainkan mimpi yang terasa nyata seperti luka di rusuknya, mimpi yang membuat ia terbangun dengan keringat dingin meskipun suhu di dalam gua dingin menusuk tulang. 

Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah padang rumput yang terbakar, api menjulang tinggi di sekelilingnya, dan di hadapannya, terbagi menjadi dua sisi yang tidak bisa dijangkau secara bersamaan, ada dua kelompok orang. 

Di sisi kiri, wajah-wajah yang samar—ia tidak bisa melihat fitur mereka dengan jelas, hanya aura mereka yang ia kenali, aura yang pernah hangat, pernah dekat, pernah menjadi alasan mengapa ia bertahan dalam pertempuran terpanjang dalam hidupnya, dan di sisi kanan, Ling Xu—gadis dengan rambut putih bercorak urat warna itu berdiri dengan tenang, jubahnya robek, matanya sayu, tetapi tidak meminta, tidak meratap, hanya menatap Huan Zheng seolah-olah ia sedang bertanya.

"Siapa yang akan kau pilih?" 

Dan dari balik api, suara yang tidak memiliki bentuk bergemuruh, seperti guntur yang datang dari pusat bumi.

“Kau hanya dapat memilih satu sisi, Huan Zheng. Yang kiri adalah masa lalumu—orang-orang yang pernah kau lindungi, yang kau perjuangkan mati-matian, yang pada akhirnya justru menyeretmu perlahan ke dalam jerat yang kau bangun sendiri, hingga namamu berdiri sebagai terdakwa dan dijatuhi hukuman mati di Pengadilan Tertinggi Kemanusiaan. Yang kanan adalah masa depanmu—seorang gadis yang berlumuran darah karena mempertahankanmu, seorang Tuan Muda yang kau anggap remeh, seorang makhluk yang tidak punya alasan untuk menyelamatkanmu selain karena ia tidak tahan melihatmu mati sendirian." 

Huan Zheng membuka mulut untuk menjawab, tapi tidak ada suara yang keluar—hanya abu yang beterbangan masuk ke tenggorokannya, dan ketika ia mencoba melangkah, kakinya terasa seperti tertanam di tanah yang terbakar, dan api mulai merayap naik ke jubahnya, ke dadanya, ke wajahnya, dan ia terbangun dengan teriakan yang tidak sempat keluar dari mulutnya.

Mata Huan Zheng terbuka perlahan, seperti dua pintu berkarat yang didorong oleh tangan yang kelelahan—langit-langit gua yang gelap dan basah menyambutnya dengan dingin yang sudah menjadi teman akrab selama berhari-hari, dan di sampingnya, ia mendengar suara napas yang pelan, teratur, suara napas seseorang yang tidur terlalu nyenyak untuk seseorang yang tubuhnya berlumuran luka. 

Ia mencoba duduk, tapi kepalanya terasa seperti dipukul oleh palu besi berlapis kabut—pusing, berputar, seperti ia baru saja menenggak sepuluh botol arak sekaligus setelah berpantang selama setahun. 

"Kepala... pecah rasanya..." gumamnya sambil mengucek pelipisnya dengan tangan kanan, lalu ia menggeleng—perlahan, hati-hati, seperti orang yang mencoba menyingkirkan laba-laba yang bersarang di rambutnya—dan rasa pusing itu sedikit mereda, tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat ia bisa melihat sekeliling dengan lebih jelas. 

Di sudut gua, ia melihat tumpukan kain pembalut luka—bukan satu atau dua lembar, melainkan puluhan, bahkan mungkin ratusan, berserakan seperti daun-daun kering yang tertiup angin ke sudut ruangan dan tidak pernah disapu. 

Beberapa di antaranya masih bersih, putih polos tanpa noda, tapi sebagian besar sudah kotor—bukan oleh darah segar yang merah menyala, melainkan oleh darah yang sudah mengering dan berubah menjadi coklat kehitaman, seperti tanah basah setelah hujan reda. 

"Kain-kain ini..." Huan Zheng mengerutkan kening, lalu menunduk ke arah tubuhnya sendiri, dan di sana, di bawah cahaya redup yang masuk dari mulut gua, ia melihat lengan kirinya dibalut dengan rapi—balutan yang bersih, yang kencang tetapi tidak terlalu ketat, yang ujung-ujungnya dilipat dengan hati-hati seperti seseorang yang telah berpengalaman merawat luka selama bertahun-tahun. 

Ia mengecek dadanya, perutnya, pahanya, betisnya—semua terluka, semua dibalut, semua dirawat dengan ketelitian yang hampir membuat ia tersenyum, seandainya ia tidak segera menyadari sesuatu yang membuat senyum itu mati sebelum lahir.

Ling Xu terbaring di sisi lain gua, tubuhnya yang mungil itu terlipat seperti janin yang sedang tidur di dalam rahim—rambut putihnya yang bercorak urat warna itu berserakan di atas batu dingin seperti kabut yang jatuh ke tanah, dadanya naik turun dengan napas yang pelan tapi stabil, stabil dengan cara yang aneh, seperti orang yang terlalu lelah untuk bermimpi, terlalu kosong untuk merasa takut. 

Namun di tangan Ling Xu—di kedua telapak tangannya yang terbuka ke atas, yang jari-jarinya melengkung lemas seperti bunga yang layu—Huan Zheng melihat tumpukan kain pembalut luka yang masih bersih, masih tergulung rapi, masih siap pakai, tetapi tidak pernah digunakan. 

Puluhan gulungan kain itu tergeletak di atas telapak tangan Ling Xu seperti persembahan yang tidak pernah sampai ke altar, seperti doa yang diucapkan tetapi tidak pernah didengar, dan Huan Zheng merasakan dadanya sesak.

Bukan karena wabah Kanker, karena ia tidak memilikinya, melainkan karena sesuatu yang lebih sederhana dan lebih menyakitkan.

Rasa bersalah. 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!