NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Tatapan yang Berbeda

Danendra perlahan mengurai pelukannya. Ia menatapku lama dengan binar mata yang kini jauh lebih tenang, seolah beban enam tahun yang ia pikul baru saja luruh ke tanah. Ia mengusap puncak kepalaku pelan—sebuah gerakan yang sangat familiar, sangat Danendra.

"Masuk ya," bisiknya lembut. "Istirahat. Aku nggak akan ke mana-mana. Besok kantor libur, jadi kamu punya waktu buat nenangin pikiran."

Aku hanya bisa mengangguk pelan tanpa sanggup membalas kata-katanya. Lidahku kelu, terlalu malu untuk menatap matanya setelah aku menumpahkan tangis sedahsyat itu di kemejanya. Aku membalikkan badan, melangkah masuk melewati gerbang besi dengan perasaan yang campur aduk.

Begitu kakiku menginjak anak tangga menuju lantai dua, sebuah suara memecah kesunyian koridor kost.

"Baru balik, Zal?"

Aku tersentak dan menoleh. Danesha berdiri di depan pintu kamarnya dengan tangan bersedekap. Ia memperhatikanku dengan dahi berkerut, memindai wajahku yang pastinya masih menyisakan bekas tangis.

Selama bertahun-tahun bersahabat, Nesha tahu ada area dalam hidupku yang tidak boleh ia sentuh. Dia tahu aku punya luka yang kukunci rapat, dan dia cukup bijak untuk tidak bertanya mengapa aku sering menghilang atau kenapa aku begitu dingin pada laki-laki. Namun malam ini, sepertinya rasa penasarannya sudah mencapai batas.

"Tadi itu mobil Pak Danendra, kan?" tanya Nesha blak-blakan.

Aku menghela napas, mencoba mengatur ekspresi wajahku agar kembali datar. "Tadi nggak sengaja ketemu di jalan, Nesh. Dia cuma searah."

Nesha tertawa kecil, tawa yang penuh selidik. "Searah sampai nungguin lo masuk gerbang? Zal, gue emang nggak tahu masa lalu lo, dan gue nggak bakal paksa lo cerita soal urusan pribadi lo. Tapi gue nggak buta."

Nesha melangkah mendekat, suaranya merendah. "Tatapan Pak Danendra ke lo itu beda, Zal. Di kantor, tiap kali lo lewat atau pas lagi rapat, matanya nggak pernah bener-bener lepas dari lo. Itu bukan tatapan atasan ke staf magang. Itu tatapan orang yang takut kehilangan untuk kedua kalinya."

Aku terdiam, meremas tali tas di bahuku. Aku tidak ingin menjawab, tidak ingin membenarkan, tapi juga tidak bisa mengelak.

"Terserah lo mau bilang apa, Nesh. Gue cuma capek," jawabku pendek, mencoba berjalan mendahuluinya menuju kamarku.

"Oke, oke, gue nggak bakal interogasi," sahut Nesha sambil mengangkat kedua tangannya. "Tapi satu hal, Zal. Lo berhak bahagia. Nggak peduli rahasia apa yang lo simpen di dalem sana, kalau ada orang yang mau berjuang sekeras itu cuma buat ngelihat lo balik, mungkin lo nggak perlu lari terus."

Aku tidak menanggapi. Aku masuk ke kamarku dan langsung mengunci pintu. Di dalam sunyi, kata-kata Nesha justru terasa lebih nyaring daripada suara guntur semalam. Tatapan orang yang takut kehilangan untuk kedua kalinya.

Aku menyentuh kepalaku yang tadi diusap Danendra. Kenapa dia harus sejauh itu? Kenapa dia harus mendatangi Ayah?

Malam itu, Sabtu yang akan datang terasa sangat menakutkan bagiku. Tanpa kesibukan kantor, aku tidak punya alasan untuk menghindar dari pikiranku sendiri. Dan yang paling membuatku cemas adalah, apakah Danendra benar-benar akan membiarkanku tenang besok, atau dia justru akan datang lagi untuk meruntuhkan sisa-sisa tembok yang masih kucoba pertahankan?

Aku merebahkan tubuh di atas kasur, membiarkan tas kerjaku tergeletak begitu saja di lantai. Mataku menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Kalimat Danendra tentang Ayah dan ucapan Nesha tentang tatapan laki-laki itu terus berputar, beradu di dalam kepalaku seperti badai yang tak kunjung reda.

Seharusnya aku merasa lega karena rahasiaku tak lagi menjadi beban sendirian, tapi yang kurasakan justru ketakutan yang lebih besar. Bagaimana jika setelah ini Danendra sadar bahwa bersamaku hanya akan menariknya ke dalam lumpur masa laluku?

Tok, tok, tok.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Aku tidak beranjak, berharap Nesha mengira aku sudah tidur. Namun, suara di balik pintu itu terdengar gigih.

"Zal, bangun dulu! Gue tahu lo belum tidur. Tadi gue pesen martabak telor sama ayam geprek lewat ojol, kebanyakan kalau gue makan sendiri. Yuk, makan bareng!" teriak Nesha dari luar.

Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku perlahan, lalu beranjak membuka pintu. Nesha berdiri di sana dengan dua bungkus plastik besar dan senyum lebar yang seolah sengaja ia pasang untuk mencairkan suasana.

"Makan yuk. Perut kosong bikin pikiran makin kalut, lho," ucapnya sambil melosor masuk dan duduk di karpet bulu dekat kasurku.

Aku duduk di sampingnya, membiarkan dia membuka bungkus makanan itu hingga aromanya memenuhi kamar. Aku memang tidak lapar, tapi aku tahu Nesha melakukan ini agar aku tidak tenggelam sendirian dalam diam.

"Eh, lo tahu nggak?" Nesha memulai sambil menyuap potongan ayamnya. "Tadi siang di kantor, pas lo pulang lebih awal , si Bagas kena semprot Mbak Selly gara-gara salah naruh berkas di meja Pak Danendra. Mukanya Bagas udah kayak kepiting rebus, merah banget! Terus Mbak Selly malah bilang, 'Makanya Gas, cari asisten kayak Azzalia biar mata lo segeran dikit'."

Aku hanya tersenyum tipis, mencoba merespons leluconnya meski pikiranku masih melayang.

"Terus ya, yang paling kocak, Pak Bram tadi sempet salah manggil nama asisten barunya Pak Danendra jadi 'Azzahra'. Pak Danendra langsung benerin dengan nada dingin banget, 'Namanya Azzalia, Pak Bram. Jangan sampai salah lagi.' Gila sih, seisi ruangan langsung diem kaku!" Nesha tertawa terbahak-bahak, mencoba membuatku ikut tertawa.

Aku menunduk, mengoyak martabak di depanku. Aku tahu Nesha sedang berusaha keras menghiburku tanpa perlu bertanya tentang apa yang terjadi di lobi tadi. Cerita-cerita konyol tentang orang kantor adalah caranya untuk bilang bahwa dunia luar masih baik-baik saja, meskipun duniaku sedang terasa runtuh.

"Makasih ya, Nesh," ucapku pelan di sela tawanya yang mulai mereda.

Nesha menghentikan tawanya, menatapku sejenak dengan binar mata yang tulus. "Sama-sama, Zal. Gue emang nggak pinter kasih saran, tapi kalau cuma buat nemenin makan dan dengerin gosip receh, gue juaranya."

Malam itu, di antara aroma makanan dan cerita konyol Nesha, tembok di hatiku sedikit melunak. Bukan karena aku sudah memaafkan masa lalu, tapi karena aku sadar, dalam pelarian yang melelahkan ini, aku masih punya tempat untuk bersandar sejenak sebelum hari Sabtu benar-benar datang membawa ketidakpastian.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!