Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI BALIK LAMPU KOTA
Suara deru kendaraan dan keributan jalanan dari luar gedung masih terdengar jelas, meski jendela ruangan ini sudah tertutup rapat. Alana duduk di kursi dekat jendela, jari-jarinya memilin ujung gaun yang dikenakannya. Malam ini ada acara kenegaraan yang harus ia hadiri, kewajiban yang selalu membuatnya merasa seperti boneka yang hanya dipajang saja.
Ia melirik ke arah ayahnya, Gubernur William, yang sedang berbicara dengan beberapa orang penting di sudut ruangan. Wajah ayahnya tampak tegang, bibirnya bergerak cepat seolah sedang membahas sesuatu yang sangat berat. Sudah berminggu-minggu ia melihat raut wajah seperti itu, mendengar percakapan yang terhenti begitu ia lewat, dan merasakan ketegangan yang menggantung di setiap sudut rumahnya.
“Kamu terlihat gelisah sekali, Nak.”
Alana menoleh. Seorang asisten ayahnya, Pak Martin, berdiri di sampingnya sambil menyodorkan segelas minuman. Ia menerimanya sambil menghela napas pelan.
“Biasa saja, Pak. Cuma bosan saja rasanya. Setiap malam sama saja, orang-orang berbicara hal yang sama, senyum yang sama, seolah tidak ada yang benar-benar nyata di sini,” katanya, suaranya pelan, hanya bisa didengar oleh orang di dekatnya saja.
Pak Martin tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Ini semua demi keamanan kamu dan keluarga, Alana. Dunia luar tidak seindah yang kamu bayangkan. Ada banyak hal gelap yang berusaha dihadapi ayahmu, dan ia tidak mau kamu terlibat di dalamnya.”
“Tapi aku merasa seperti dikurung, Pak. Aku tidak bisa ke mana-mana tanpa dijaga, tidak bisa bertemu siapa saja dengan bebas. Seperti aku ini barang berharga yang harus selalu dijaga dan disembunyikan,” ujarnya, nada bicaranya terdengar kesal namun juga sedih.
“Semua ada alasannya. Hati-hati selalu, ya. Tidak semua orang yang tersenyum padamu itu berniat baik.” Pak Martin menepuk pundaknya sebentar lalu pergi, meninggalkannya kembali sendirian.
Beberapa jam kemudian, acara selesai. Malam itu hujan turun deras, membuat jalanan menjadi licin dan sepi. Mobil yang biasanya mengantarnya mengalami kerusakan mendadak, dan pengawalnya harus mengurusnya sebentar. Karena tidak mau menunggu terlalu lama, Alana memutuskan untuk berjalan kaki sebentar ke tempat yang agak ramai, dengan alasan ingin menghirup udara segar. Ia tahu ia tidak boleh melakukannya, tapi rasa ingin tahu dan rasa lelahnya sudah mencapai puncaknya.
Ia berjalan di sepanjang jalan yang diterangi cahaya lampu jalan yang redup, air hujan membasahi sebagian rambut dan bajunya. Tempat ini tidak terlalu sering ia datangi—daerah yang kontras sekali dengan lingkungan tempat ia tinggal. Bangunan-bangunan tua, papan nama yang sudah usang, dan suasana yang terasa berat dan sunyi.
Belum jauh ia berjalan, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari arah belakang. Suara itu semakin mendekat, dan seketika perasaan ngeri merayapi seluruh tubuhnya. Ia berbalik, dan napasnya tertahan.
Ada beberapa orang berdiri tidak jauh darinya, berpakaian serba gelap, wajah mereka tertutup sebagian oleh topi atau bayangan malam. Tapi ada satu orang yang berdiri di depan, berbeda dari yang lain. Pria itu tinggi, bahunya bidang, dan sorot matanya... membuat seluruh darah di tubuh Alana terasa berhenti mengalir. Tatapan itu tajam, dingin, dan seolah bisa melihat sampai ke dalam dirinya. Ada kekuasaan yang terpancar dari setiap gerakannya, seolah segala sesuatu di sekitarnya adalah miliknya.
Ia adalah Raka. Nama yang sering didengarnya disebut dengan nada takut atau kebencian, nama yang selalu dibicarakan dengan suara berbisik.
Raka melangkah maju perlahan, tidak tergesa-gesa, seolah ia punya seluruh waktu di dunia ini. Ia berhenti tepat di hadapan Alana, jarak di antara mereka hanya beberapa jengkal saja. Bau hujan dan aroma tembakau bercampur wangi khas tubuhnya tercium oleh Alana.
“Siapa kamu?” tanya Raka.
Suaranya berat, dalam, dan ada nada dingin yang menyelimuti setiap katanya. Tidak ada nada sopan, tidak ada rasa hormat—hanya ketertarikan yang sekaligus mengancam.
Alana mencoba menahan rasa takutnya, meski ia sadar tangannya gemetar. “Kenapa kamu perlu tahu? Aku tidak ada urusan dengan kalian.”
Raka tertawa kecil, suara tawanya tidak menyenangkan, justru terdengar seperti peringatan. Ia menundukkan kepalanya sedikit, matanya menatap lekat-lekat wajah Alana dari atas ke bawah, seolah sedang memeriksa barang yang ia minati.
“Berani juga kamu bicara seperti itu padaku. Jarang ada orang yang berani menjawab dengan nada setegas itu di hadapanku,” katanya. Jari tangannya terulur, menyentuh ujung bajunya yang basah karena hujan, gerakannya pelan tapi membuat Alana merinding sekuat tenaga.
“Anak Gubernur William, bukan? Aku kenal wajahmu. Ayahmu itu orang yang keras kepala sekali, selalu mengganggu urusanku. Dan sekarang... putrinya malah datang sendiri ke wilayahku.”
Jantung Alana berdegup kencang, seolah mau lepas dari tempatnya. Ia mundur selangkah, tapi Raka lebih cepat—tangannya langsung menggenggam pergelangan tangannya, erat sekali sampai terasa sakit. Tidak ada kelembutan di genggaman itu, hanya kekuatan yang membuatnya sadar betapa tidak berdayanya ia di sini.
“Lepaskan aku! Kalau kamu menyakitiku, ayahku tidak akan membiarkanmu hidup damai,” ujarnya, berusaha terdengar berani meski suaranya sedikit bergetar.
Raka mendekatkan wajahnya, jarak antara wajah mereka kini sangat dekat. Napasnya terasa di wajah Alana. “Kau pikir aku takut pada ayahmu? Dia yang harusnya takut padaku. Dan kau...” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang terasa mematikan.
“Kau ini barang yang sangat berharga, bukan? Mungkin dengan memilikimu, aku bisa membuat dia mengerti siapa yang sebenarnya berkuasa di kota ini.”
Ia menarik tangan Alana lebih dekat ke arahnya, sampai tubuh mereka hampir bersentuhan.
“Mulai malam ini, gadis manis. Hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Dan percayalah... hal-hal yang akan kau lihat dan kau rasakan selanjutnya, jauh lebih kejam dan gelap dari apa yang bisa kau bayangkan selama ini.”
Suara langkah kaki terdengar mendekat dari kejauhan, kemungkinan besar adalah orang-orang yang mencarinya. Mendengar itu, Raka hanya tersenyum lebih lebar, lalu melepaskan genggamannya secara tiba-tiba.
“Kita akan bertemu lagi, lebih cepat dari yang kau kira,” bisiknya, sebelum ia dan orang-orang di belakangnya berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan jalanan, seolah mereka tidak pernah ada di sana.
Alana terdiam di tempat, napasnya terengah-engah, pergelangan tangannya masih terasa nyeri bekas genggaman itu. Ia menatap ke arah mereka pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sadar bahwa dunia yang selama ini ia ketahui hanyalah lapisan tipis saja—di baliknya ada kegelapan yang siap menelan siapa saja yang tidak berhati-hati. Dan ia merasa, ia baru saja terperangkap di dalamnya.