Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Sakit pinggang
"Ibu dari mana sehingga terluka sampai seperti ini?" Darno menatap Katiyem baru pulang dalam keadaan sakit pinggang parah.
"Astaga, aku mengalami yang sangat tidak bagus dan sama sekali aku tidak pernah mengangkat tentang hal itu." Katiyem segera berbaring di atas lantai yang kumuh.
"Lah makanya aku tanya ini dari mana dan Kenapa bisa sampai sakit seperti ini?" Darno masih penasaran apa yang telah terjadi.
Katiyem terdiam karena bingung untuk menceritakan dari mana tentang apa yang baru saja dia alami itu, sebab sebenarnya dia juga sama sekali tidak menyangka bahwa akan mengalami nasib buruk sedemikian rupa sehingga sekarang ketika pulang harus menderita sakit seperti ini.
Tadi Dia mengira setelah pulang dari rumah Purnama maka akan membawa keberhasilan yang begitu puas sekali karena dia bisa membalas sakit hati terhadap keluarga Aina itu, tapi ternyata ini sungguh berbanding balik dan dia harus menanggung rasa sakit tidak terhingga pada bagian tulang yang memang sudah tua renta.
Purnama memang mengamuk ketika tadi dia datang ke rumah untuk meminta bantuan terhadap wanita itu, Katiyem sendiri sama sekali tidak menyangka bahwa emosi Purnama bisa begitu besar saat sudah berhadapan dengan orang yang tidak dia sukai, pada dasarnya Purnama memang sudah terlanjur emosi karena bertemu dengan rombongan Marni.
Ini malah lanjut kemudian dengan kedatangan dia ke rumah untuk melakukan sandiwara palsu itu, udah pasti emosi Purnama langsung meledak ruah dan mau tidak mau Katiyem harus menanggung bantingan maut dari Purnama Karena wanita itu bila sudah mengamuk tidak akan pernah bisa ada yang mengatasi untuk meredam emosi dia di dalam diri.
Tadi saja keluarga dia harus susah payah untuk menahan agar Purnama tidak gelap mata dan sampai membantai Katiyem, bila tidak segera di hentikan oleh Zidan dan juga Nolan maka Purnama pasti akan menghabisi wanita tua ini tanpa berpikir dua kali, sebab Purnama juga berpikir bahwa Katiyem pantas mendapatkan hal buruk seperti itu.
Dia tadi pulang terpaksa menyewa ojek karena tidak bisa mau berjalan dengan keadaan tulang yang sudah bengkok seperti ini, Zidan yang memberi uang ojek kepada dia agar untuk segera pulang dan meninggalkan rumah itu, sebab Zidan tidak mau bila nanti ada hal yang lebih buruk lagi akan terjadi di antara mereka.
Masih untung karena suami Purnama memiliki hati yang baik sehingga masih ada memiliki rasa ibadah dalam diri ketika melihat Katiyem, coba bila tidak ada rasa iba di dalam hati dia maka tidak akan pernah peduli dengan apa yang Katiyem rasakan dan dia akan bersifat bodo amat sampai kapan pun.
"Tolong ambil minyak hangat itu dan oleskan pada pinggang ku ini." pinta Katiyem.
"Ini sebenarnya dari mana sih sehingga langsung pulang dalam keadaan sakit seperti ini?" Darno sungguh bingung.
"Astaga sakit sekali dan aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan melakukan hal seperti itu." Keluh Katiyem.
"Rambut juga acak-acakan seperti itu seolah habis kerja berat saja." rutuk Darno sambil membawa minyak hangat untuk mengoles pinggang.
"Aku tadi sebenarnya habis mendatangi rumah dukun untuk meminta pertolongan dari dia, tapi ternyata dukun itu sedikit gila!" Katiyem berkata dengan emosi tinggi.
"Lah mau ngapain juga ke rumah dukun?!" Darno kaget sekali mendengar ucapan sang Ibu.
Katiyem helai nafas panjang dan dia segera menceritakan apa yang telah dia alami di keluarga Aina, rasa sakit hati itu yang membuat dirinya nekat untuk mendatangi rumah dukun dan ingin meminta santet agar keluarga Aina itu menderita tiada batas akibat santet tersebut.
Tapi apa mau dikata karena ketika sampai di rumah sang dukun dia bukan mendapat pertolongan tapi justru mendapat malapetaka seperti ini, sungguh pembantaian yang sangat luar biasa menurut Katiyem itu sendiri Karena dia tidak pernah melihat orang yang memiliki emosi sebesar Purnama itu, bahkan Dia seolah tidak memiliki rasa takut ketika akan menghajar manusia lain.
"Aaaaah tulang bagian situ terasa sangat sakit karena dia menginjak dan membanting aku." ujar Katiyem.
"Apa?!" Darno kaget bukan main ketika mendengar hal itu.
"Kau pasti tidak akan percaya bila tidak menyaksikan secara langsung bagaimana kebrutalan wanita itu." ujar Katiyem.
"Loh kalau dia sudah melakukan kekerasan seperti itu maka kita tidak bisa untuk diam saja menerima!" Darno ingin membuat laporan.
"Kita hanya orang susah dan tidak mungkin akan didengar oleh para petinggi." Katiyem sadar akan hal itu.
"Siapa nama orang yang sudah Ibu datangi itu?" Darno penasaran bukan main karena dia juga tidak tahu tentang Purnama.
"Itu loh, wanita yang bernama Purnama dari desa sebelah!" jawab Katiyem.
"Yang dari desa pandan Arum itu ya?" tanya Darno karena dia sempat mendengar nama tersebut.
"Benar, selama ini banyak orang yang mengatakan bahwa dia bisa menolong orang yang sedang kesusahan sehingga aku memutuskan untuk datang ke sana meminta bantuan pada dia." jelas Katiyem.
Darno terdiam sesaat karena dia ingat bahwa Purnama itu memang memiliki nama besar di desa pandan Arum, banyak orang yang meminta tolong kepada dia dari dulu hingga sampai saat ini tapi memang dia sangat pemilih dan tidak bisa bila di mintai tolong untuk hal buruk.
"Dia mana mau melakukan perbuatan buruk seperti itu." Darno berkata sangat yakin.
"Tapi aku juga sempat mendengar kalau sifat Purnama ini tidak seberapa baik, jadi aku pikir dia mau melakukan santet." ucap Katiyem.
"Hahhh makanya lain kali tidak usah terlalu terburu-buru ambil keputusan seperti itu, lihat sekarang jadi susah sendiri dan tidak bisa bergerak." Darno memarahi Katiyem.
Katiyem terdiam karena memang benar apa yang dikatakan oleh sang anak bahwa dia mungkin saja telah terburu-buru untuk mengambil keputusan dan mendatangi rumah Purnama, ketika berangkat dia sudah sangat yakin bisa mengelabuhi Purnama dengan berbagai macam cara agar Purnama mau melakukan perbuatan kejam itu kepada keluarga Aina.
"Ibu sudah jangan terlalu memikirkan keluarga Aina karena sebentar lagi mereka semua akan menderita." Darno berkata dengan sangat yakin.
"Aku habis disiram air satu ember oleh Putri itu, oleh sebab itu aku merasa sakit hati dan ingin membuat santet untuk dia." geram Katiyem.
"Tunggu saja nanti, tidak akan ada lagi yang bahagia dari keluarga mereka itu." Darno tersenyum licik.
Katiyem masih belum paham karena dia tidak tahu apa yang telah Darno lakukan kepada keluarga tersebut, tapi yang jelas dia memang merasakan sakit hati ketika mendapati ramuan air seember penuh oleh bu Putri saat itu.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.
semoga ada kemudahan stlh kejadian barusan ,,, bisa melanjutkan perjalanan lg ke padepokan kyai Ahmad
apa cuma perasaanku ya kok sedikit ceritanya 🤭