NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30--"Loh Mas Flanel" "Loh Mbak KRL"

Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Desa Sukacita, namun Aris sudah berdiri di belakang gudangnya dengan mulut menganga.

​Lahan yang semalam hanya berisi lubang-lubang tanah kini telah berubah menjadi hamparan permata vegetasi. Sawi Ungu itu tumbuh dengan helai daun yang begitu pekat, warnanya bukan lagi ungu biasa melainkan ungu royal dengan gradasi metalik yang berkilau terkena embun pagi. Di sebelahnya, Brokoli tumbuh dengan kuntum yang sangat rapat dan kokoh, hijaunya begitu segar hingga terlihat seperti zamrud yang dipahat.

​"Gila... Cairan Dewa Tingkat 2 emang nggak ngotak!" gumam Aris sambil menyentuh salah satu kuntum brokoli. Teksturnya sangat renyah, dan aroma yang keluar darinya sangat menenangkan—jauh dari aroma sayuran pasar.

​Tanpa membuang waktu, Aris segera memanennya. Ia memilah 10 kg sawi ungu dan 10 kg brokoli terbaik, lalu membungkusnya dengan kertas kraft coklat dan memasukkannya ke dalam boks kayu agar estetika "petani premium"-nya tetap terjaga.

Sekarang dia memesan cargo empat roda, saldo dia masih banyak ia butuh bantuan membawa ke pusat kota. Gak mungkin dia ke krl membawa begitu, lagian gak mungkin dia meminta wak darmo yang tua untuk membawa ini sampai pusat kota.

Jarak desa ke pusat kota kalau naik kendaraan pick up lama, dia butuh transportasi yang lebih cepat lagi.

“Kalau gue bawa ginian naik KRL, yang ada malah dikerubuti orang atau rusak kegencet," gumam Aris.

Ia pun memesan jasa kargo instan roda empat.

​Tak butuh waktu lama, sebuah mobil boks kecil khusus logistik pangan sampai di depan rumahnya. Aris memasukkan boks-boks kayunya dengan hati-hati. 

Ia sendiri memutuskan untuk naik menggunakan kereta KRL agar bisa sampai lebih cepat dan beberangan dengan mobil itu.

Aris melirik jam tangannya. Jika ia ikut di dalam mobil kargo, kemacetan di jalur lintas provinsi pagi ini bisa memakan waktu dua jam lebih. Sementara itu, KRL adalah satu-satunya transportasi yang memiliki kepastian waktu.

"Pak, langsung ke titik ini ya. Jangan sampai telat, ini pesanan orang nomor satu di kota ini," pesan Aris kepada supir kargo sembari menunjukkan lokasi rumah dinas Gubernur di ponselnya.

"Siap, Mas. Saya usahakan lewat jalur alternatif biar nggak kena macet parah," jawab supir itu mantap.

Setelah mobil itu meluncur, Aris segera memacu motornya menuju stasiun terdekat, menitipkannya di parkiran, dan berlari kecil mengejar jadwal kereta pagi. Kali ini penampilannya jauh lebih manusiawi. Ia mengenakan kemeja flanel baru yang bersih—bukan yang robek terkena peti sampah kemarin—dan membawa tas ransel yang hanya berisi botol-botol sisa cairan dewa untuk berjaga-jaga.

Di dalam gerbong yang penuh sesak oleh pekerja kantoran, Aris berdiri sambil bersandar di dekat pintu. Ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Tak ada yang menyangka pemuda ini baru saja mencairkan hadiah sistem sebesar 100 juta rupiah.

Satu jam kemudian, Aris sudah melangkah keluar dari Stasiun. Ia segera memesan ojek daring untuk menuju titik temu. Benar saja, mobil kargo pesanannya sampai hampir bersamaan di pintu gerbang belakang rumah dinas Gubernur.

Aris turun dari ojek dan langsung menghampiri mobil kargo tersebut. Petugas keamanan yang berjaga sempat mengernyitkan dahi melihat Aris. "Mas yang bawa pesanan sayur dari Desa Sukacita?"

"Benar, Pak. Ini barangnya," jawab Aris santai sembari membantu supir menurunkan boks kayu yang harumnya mulai menyeruak, menutupi bau asap knalpot jalanan.. 

Para asisten koki tampak tegang. Namun, di tengah semua keriuhan itu, Aninda sudah berdiri dengan tangan bersedekap.Dia sudah menunggu sosok mas Aris ganteng yang sudah dia bayangkan beberapa hari ini.

'Luar biasa banget ih mas Aris, padahal aku pesan 7 hari eh udah jadi lebih cepat, ih makin sayang! Kira-kira gimana ya sosok mas aris itu?’ Adinda merapikan rambutnya berkali-kali dari pantulan cermin hp.

Berjalan lima belas menit dia merias diri kayak cewek yang kasmaran.

Aninda berdiri gelisah di depan meja dapur utama. Ia sudah membayangkan sosok "Mas Aris" sebagai pria paruh baya yang bijaksana, atau mungkin pemuda jenius berkacamata dengan jas laboratorium putih yang rapi. Dalam imajinasinya, pria itu adalah pahlawan agrikultur yang akan menyelamatkan muka papanya di depan para tamu penting malam ini.

"Mana sih Chef? Katanya sudah di gerbang?" tanya Aninda antusias, matanya berbinar penuh harap.

"Sabar non, itu sudah didorong masuk boks-boksnya," jawab Chef Haryo sembari menunjuk ke arah pintu masuk logistik.

Yang gak sabar ketemu bukan cuma Adinda doang, aris juga membayangkan sosok tuan putri yang sejak kemarin dibicarakan sistem.

Kalau tuan putri yang disebut sistem adalah putri gubernur dia harap wanita berkelas, Aris melangkah masuk dengan santai, membantu mendorong boks kayu terakhir.

“Ini yang terakhir ya, .. huh,”

 Begitu ia sampai di tengah ruangan, ia menyeka keringat di pelipisnya dan menatap sekeliling. Pandangannya langsung tertumbuk pada Aninda yang tampil sangat cantik pagi itu.

“Nah itu dia si mas aris, non.”

“Eh, mana-mana …” Adinda sudah bersemangat dia menaruh ponsel ke saku dan menatap aris yang dimaksud.

Namun pemandangan adinda langsung membulat, pasalnya yang dia dapati bukanlah sosok tampan bergaya hebat seperti fantasi remaja normal, malah sosok anomali yang sangat dia kenal

Loh! Kok gini?

“MAS-MAS FLANEL!?”

“LOH MBAK-MBAK KRL?!”

Mereka sama-sama terkejut sampai berteriak begitu.

1
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
ラマSkuy
kembali jadi warga biasa, kaya pria so.....
ラマSkuy: maaf gak dilanjut kata katanya, ada tukang bakso bawa HT jadi ngeri 🤣🤣🤣
total 2 replies
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
👻🤣👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!