NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 1

Hai temen-temen. Di sini aku mau ngasih informasi untuk kalian yang baca cerita ini. jadi novel 'KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA' itu cerita yang nanti alurnya itu gak terlalu berat ya, nggak ada konflik yang berar-berat banget, tujuan aku bikin cerita ini untuk menghibur para pembaca yang kelelahan setelah beraktivitas seharian, jadi kubiarkan yang tidak terlalu berat plotnya.

Masalah dalam cerita ini sudah pasti ada, mungkin ada beberapa masalah yang bikin readers geregetan sama tokoh dalam cerita ini.

So. Selamat membaca teman-teman semua!

________________________________________

“Ya seharusnya kamu bangun lebih pagi, lihat kalau sudah begini aku jadi kesiangan, kamu mau aku di pecat dari tempat aku bekerja?”

Padahal jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi dua pasangan yang sudah hampir Sembilan tahun menikah itu masih saja sering meributkan hal-hal yang sebenarnya sepele. Sebenarnya bukan ribut, lebih tepatnya sang suami yang terus-terusan mengungkit-ungkit kesalahan istrinya.

“Aku sudah bangun dua jam sebelum kamu bangun, aku juga sudah bangunin kamu loh, tapi kamu bilang kamu masih capek,”

“Lihat! Selalu saja mencari pembelaan yang jelas-jelas kamu itu salah, minggu kemarin kamu bahkan lupa mengunci pintu belakang, Bagaimana kalu ada seseorang masuk ke dalam rumah kita, kamu mau tanggung jawab?”

Seperti yang Cwen duga, ayahnya itu akan terus-terusan mengungkit kesalahan mamanya walaupun itu sudah lama berlalu dan mama juga sudah meminta maaf dan mengakui keteledorannya. Tapi itulah ayahnya, selalu mengungkit masalah yang lalu agar mamanya terlihat yang paling salah diantara mereka.

Jika kalian heran mengapa Cwen memanggil ayah dan mama, umumnya orang-orang akan memasangkan panggilan mama dengan papa dan ayah dengan bunda. Dari cerita yang mama berikan, Cwen tahu jika ayahnya tidak mau di panggil papa, sedangkan mamanya sangat menginginkan di panggil mama. Jadilah sebagai jalan tengah mereka memutuskan di panggil ayah dan juga mama, toh keduanya masih sama-sama panggilan untuk orang tua.

“Iya, maaf, lain kali aku akan lebih hati-hati lagi,”

Akhirnya mamanya yang selalu mengalah.

“Jangan hanya maaf saja, kamu sudah melakukan banyak sekali kesalahan, ceroboh dan susah di atur, jangan buat aku menyesal membawa kamu ke Indonesia ini.”

***

“Pak guru, Pak guru,”

Dengan hebohnya Cwen berteriak-teriak memanggil salah satu guru laki-laki favoritnya. Bagaimana Cwen tidak suka jika gurunya itu selalu memperlakukan muridnya dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri, bahkan tidak tanggung-tanggung akan memeluknya jika ada diantara muridnya yang sedang sedih atau menangis sembari berusaha menenangkannya.

Gurunya itu juga tidak pernah meninggikan suaranya di hadapan murid-muridnya, suaranya sangat lembut dan terkesan sopan untuk berbincang dengan murid-muridnya yang masih kelas 1 SD.

“Iya, Ada apa Cwen?”tanyanya lembut, ia berjongkong di samping Cwen yang sedang melukis di lantai.

Cwen menghentikan lukisannya, ia menatap gurunya itu dengan tatapan yang berbinar.

“Pak Guru mau tidak menjadi papanya Cwen?”

Dengan polosnya Cwen bertanya pertanyaan yang sanggup membuat siapapun mematung mendengarnya, tak terkecuali Ansel, salah satu guru di sekolahan yang cukup elit.

Ansel tersenyum kecil sembari mengusap lembut kepala gadis berumur tujuh tahun itu.

“Loh, Cwen kenapa ingin Pak guru menjadi papa Cwen?”

Ansel bahkan lebih memilih bertanya alasan gadis kecil itu menginginkan dirinya menjadi papanya, menghindari pertanyaan yang kemungkinan besar membuat Cwen sedih, seperti ‘loh, memangnya di mana papa Cwen?’

“Cwen suka sama pak guru, habisnya pak guru sangat baik dengan Cwen dan semua orang, tidak seperi ayah Cwen yang kerjannya marah-marah terus sama mama,” jawab Cwen dengan wajah sedikit murung mengingat perlakuan ayahnya kepada sang mama.

“Tapi pak guru tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar pak guru dan mama bisa menikah dan menjadi papa untuk Cwen,”ucap gadis berambut pirang itu langsung cerah.

Bagaimana Ansel tidak terkejut mendengar perkataan gadis kecil itu yang akan meminta mama dan ayahnya berpisah demi bisa menikah dengan dirinya. Ansel menggeleng tidak paham dengan isi pikiran gadis itu, tapi dibanding menghakimi apa yang Cwen katakan, ia lebih mengatakan hal yang membuat Cwen tidak lagi mengatakan kalimat yang seperti mencekik dirinya.

Karena sungguh ucapan yang dikatakan Cwen membuat dirinya sedikit terenyuh, walaupun Ansel melihat binar mata bahagia di mata Cwen ketika meminta dirinya menjadi papanya, tidak dapat dipungkiri juga jika Ansel melihat bayangan ketakutan di kedua mata gadis itu.

“Memangnya pak guru setampan itu ya sampai Cwen suka dengan pak guru?”tanya Ansel sedikit membawa Cwen bersenda gurai agar tidak lagi membahas hal yang Cwen minta.

“Pak guru selain tampan, juga sangat baik hati, itulah kenapa Cwen mengatakan kalau Cwen ingin pak guru dan mama menikah, karena Cwen lihat-lihat pak guru dan mama sangat cocok,”

Cwen terkikik sendirian membayangkan jika mamanya menikah dengan gurunya, sungguh sangat terlihat serasi.

Ansel tersenyum canggung, tangannya tidak berhenti mengusap-usap lembut kepala Cwen yang kembali asik melukis, ia sengaja tidak kembali menanggapi ocehan muridnya itu, karena pasti akan berujung pada hayalan gadis itu yang meminta dirinya menjadi papanya.

“Pulang sekolah nanti pak guru duduk bareng Cwen saja di tempat penjemputan,ya," pinta Cwen membuat dahi Ansel mengerut.

“Cwen takut sendiri, ya?”tanya Ansel, tidak berpikir kepada hal yang sangat jauh.

“Cwen tidak takut kok, tapi Cwen ingin mempertemukan mama dengan pak guru, pak guru tenang saja, mama cantik kok, jadi pak guru tidak perlu khawatir dengan penampilan mama, mama selalu tampil rapih jika keluar rumah,”

Lagi. Ansel kembali di buat terkejut dengan ucapan gadis itu. Apa tadi katanya? Ingin mempertemukan dirinya dengan mamanya, bisa-bisa ia di goreng oleh ayah Cwen.

“Mau, ya pak guru,”

Cwen menatap Ansel dengan penuh harap, ia bahkan sampai menaruh kedua tangannya di dada, memohon kepada Ansel agar mau duduk dengannya di tempat penjemputan agar Cwen bisa mempertemukan mamanya dengan guru Favoritnya.

Ansel tidak menjawab, ia hanya mengangguk singkat agar Cwen senang, lagi pula tidak ada salahnya jika ia bertemu dengan mama Cwen, ia sebagai wali kelas dari Cwen, tentu saja harus mengenal wali dari muridnya sendiri. Jadi Ansel berfikir tidak buruk juga bertemu dengan mama dari Cwen.

***

Cwen tersenyum lebar begitu guru favoritnya benar-benar mau duduk dengannya di tempat penjemputan, bahkan tangan kecilnya tidak mau lepas dari tangan Ansel, membuat Ansel pasrah, karena sepertinya gadis berambut pirang itu sedang benar-benar bahagia, Ansel tidak tega jika ia harus mematahkan kebahagiaan muridnya itu.

“Pak guru, menurut pak guru, warna rambut Cwen cantik atau tidak?”Cwen menatap Ansel yang sedang menatap lurus kedepan, kadang sesekali membalas sapaan wali murid yang menjemput putra dan putrinya.

Ansel menundukkan pandangannya dan mengusap rambut pirang Cwen, “Cantik, rambut Cwen yang seperti ini sangat cantik, sangat cocok dengan wajah Cwen,”jawab Ansel membuat kedua mata Cwen berbinar bahagia.

Siapa yang tidak senang jika rambutnya yang sangat berbeda dengan teman-teman di sekolahannya di puji oleh orang favoritnya, biasanya yang sellau di ejek karena warna rambutya yang pirang juga warna kulitnya yang putih lengkap dengan wajahnya yang seperti bukan wajah lokal Indonesia, membuat Cwen menjadi sasaran empuk teman-teman sekolahannya mengejek, tidak terkecuali teman sekelasnya.

“Pak guru, itu mama Cwen.”

Detik itu juga kedua mata Ansel bertatapan langsung dengan mama dari muridnya itu.

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!