Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Lantai Marmer
Rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti denyutan, melainkan ledakan api yang menjalar dari permukaan kulit langsung menuju pusat saraf terdalam. Asha Valeska mengerang parau, suaranya tercekat di pangkal tenggorokan yang terasa kering dan perih. Di dalam kamar utama mansion megah yang terletak di jantung Neovault Metropolis itu, udara terasa dingin membeku, namun keringat dingin membanjiri tubuh Asha yang gemetar. Jemari kokoh Arlan merenggut paksa rambut hitam legamnya yang semula tertata rapi, kini kusut masai terkena keringat dan air mata.
Pria itu tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Dengan satu sentakan yang sanggup merobek kulit kepala, tubuh ringkih Asha terseret di atas lantai marmer yang dingin dan angkuh. Aroma cairan pembersih lantai yang tajam dan steril menusuk hidung, beradu dengan bau amis logam dari darah yang mulai merembes dari luka-luka lecet di kaki dan lengannya. Setiap inci pergeseran tubuhnya di atas lantai itu terasa seperti amplas yang menguliti kulitnya perlahan-lahan.
"Lihat dirimu, Asha. Lihat betapa menyedihkannya wujudmu sekarang. Kau pikir kau siapa di rumah ini?" desis Arlan tepat di telinga Asha, suaranya rendah namun penuh dengan racun yang mematikan.
Arlan mendorong wajah Asha dengan kasar hingga dahi wanita itu membentur permukaan cermin raksasa yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Bunyi benturan itu bergema di ruangan yang sunyi, menciptakan rasa pening yang membuat dunia di sekitar Asha seolah berputar. Di dalam pantulan kaca yang jernih dan mahal itu, Asha dipaksa menatap kehancurannya sendiri. Matanya yang sembap dikelilingi lingkaran hitam pekat akibat berhari-hari tidak tidur karena ketakutan. Kulit porselennya yang dulu dipuja-puja kini dihiasi lebam keunguan yang kontras, dan gaun tidurnya sudah compang-camping, robek di beberapa bagian akibat amukan Arlan sebelumnya.
Di belakangnya, Arlan berdiri tegak. Setelan jas mahalnya masih tampak licin tanpa kerutan sedikit pun, memancarkan aura kekuasaan yang absolut sebagai CEO penguasa Neovault. Ia menggenggam gelas kristal berisi wiski amber, memutar-mutarnya hingga es batu di dalamnya berdenting pelan. Baginya, penyiksaan ini hanyalah hiburan selingan yang menyenangkan setelah hari yang panjang di kantor.
"Jangan bergerak terlalu banyak, Sayang. Kau akan merusak pemandangan yang sudah susah payah kubuat," suara melengking itu datang dari Elena, yang berdiri tak jauh dari mereka.
Elena melangkah mendekat dengan anggun. Gaun sutra merah yang ia kenakan memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan keangkuhan seorang selingkuhan yang merasa telah memenangkan segalanya. Di jemarinya yang lentik, sebuah cerutu premium menyala, ujungnya membara merah terang di tengah remang cahaya lampu kristal yang mewah. Elena tersenyum lebar, sebuah senyuman predator yang sangat kontras dengan wajah cantiknya yang dipulas kosmetik kelas atas.
"Arlan, apa menurutmu dia masih cantik dengan luka ini?" tanya Elena sambil tertawa kecil, matanya berkilat penuh kegilaan.
Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan, Elena menekan ujung cerutu yang membara itu tepat ke kulit bahu terbuka Asha.
Asha menjerit histeris. Suara kulit yang terbakar terdengar samar di tengah sunyinya malam, diikuti aroma daging hangus yang menyesakkan dada dan memenuhi paru-parunya. Ia meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Arlan yang seperti catut besi, namun tangan pria itu justru semakin kuat menjambak rambutnya ke belakang. Arlan memaksa Asha untuk tetap menatap pantulan luka bakar yang mulai melepuh di cermin tersebut.
"Arlan, tolong... hentikan... aku mohon... sakit sekali..." rintih Asha dengan air mata yang membanjiri pipinya, mengaburkan pandangannya pada cermin yang kini mulai ternoda oleh napasnya yang tersengal-sengal.
Arlan hanya menyesap wiskinya perlahan, menikmati cairan pahit itu seolah-olah jeritan istrinya adalah musik latar yang merdu. Matanya yang sedingin es tidak menunjukkan sedikit pun kilatan emosi atau penyesalan. "Elena adalah hiburanku malam ini, Asha. Dan kau adalah mainannya. Bukankah itu tugas seorang istri yang baik dalam kontrak kita? Memastikan suaminya senang, apa pun caranya?"
Arlan tertawa rendah, sebuah suara bariton yang dulu pernah membuat Asha jatuh cinta saat pernikahan kontrak ini dimulai satu tahun lalu. Dulu, suara itu adalah pelindungnya, namun kini suara itu terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di dalam kepalanya.
"Lepaskan dia sebentar, Elena. Aku tidak ingin dia pingsan terlalu cepat. Permainan kita baru saja dimulai, dan aula bawah masih menunggu kehadirannya," ucap Arlan dingin, suaranya setajam pisau bedah yang siap membedah kewarasan Asha.
Elena menarik cerutunya sambil tertawa kecil yang terdengar sangat puas. Ia meninggalkan bekas luka bakar bundar yang melepuh, merah, dan mengerikan di atas bahu putih Asha yang mulus. Arlan kemudian melepaskan jambakannya, membuat tubuh Asha jatuh tersungkur ke lantai marmer. Namun, sebelum Asha sempat merangkak untuk mencari oksigen, Arlan kembali meraih lengannya dengan kasar. Ia menyeret wanita itu keluar dari kamar, melewati koridor panjang lantai dua yang dihiasi lukisan-lukisan mahal yang seolah mengejek penderitaannya.
Mereka berhenti tepat di depan balkon koridor yang menghadap langsung ke aula besar di bawah. Di sana, tangga spiral yang megah dengan ukiran besi tempa yang rumit menjulang tinggi, menjadi simbol kekayaan keluarga Arlan yang berdarah.
"Kau tahu, Asha? Keberadaanmu di rumah ini sudah mulai mengganggu pemandangan para kolegaku. Kau hanya sampah yang keras kepala yang terus-menerus menuntut hak yang tidak pernah kau miliki sejak awal," ujar Arlan sambil menatap ke arah aula bawah yang gelap dan kosong.
Asha berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya dengan berpegangan pada pagar pembatas besi yang dingin. Ia merasa pening yang luar biasa hebat. Kehilangan banyak darah dari luka-luka sebelumnya dan trauma fisik yang bertubi-tubi membuat kesadarannya mulai menipis. Ia menatap ke bawah, ke arah lantai aula marmer di bawah sana yang tampak sangat jauh, keras, dan mematikan.
"Apa lagi yang kau inginkan dariku, Arlan? Aku sudah memberikan segalanya! Harga diriku, tUbuhku, bahkan aku sudah menandatangani kontrak gila yang kau buat! Kenapa kau masih belum puas menghancurkanku?" teriak Asha dengan sisa tenaga terakhirnya, suaranya bergema pilu di langit-langit tinggi mansion Neovault.
Arlan berhenti tepat di anak tangga teratas. Ia memutar tubuh Asha dengan satu tangan sehingga wanita itu menghadapnya secara langsung. Wajah Arlan sangat dekat, namun tidak ada kehangatan di sana, hanya ada kebencian murni yang terpancar dari pupil matanya yang gelap.
"Aku tidak pernah menginginkan kontrak itu, Asha. Aku hanya ingin kau menghilang. Kau hanyalah noda dalam sejarah kejayaanku yang ingin kuhapus selamanya agar dunia tidak pernah tahu bahwa aku pernah memiliki istri selemah dan semurah dirimu," bisik Arlan rendah, suaranya bergetar karena kebencian yang mendalam.
Tanpa peringatan dan tanpa ragu sedikit pun, Arlan memberikan satu dorongan brutal di dada Asha dengan kedua tangannya.
Tubuh wanita itu terhuyung ke belakang dengan cepat. Asha kehilangan keseimbangan di tepi tangga yang curam. Ia mencoba menggapai udara dengan tangan gemetarnya, mencoba mencari pegangan pada pagar besi atau bahkan pada jas Arlan, namun jemarinya hanya menangkap kekosongan. Waktu seolah melambat di mata Asha. Ia bisa melihat kilatan kemenangan di mata Elena yang berdiri di belakang Arlan, dan wajah datar suaminya yang tidak berkedip saat melihatnya jatuh.
Tubuh Asha terjatuh dengan keras, berguling-guling menghantam setiap sudut tajam anak tangga marmer yang dingin. Bunyi berdebum tulang yang beradu dengan batu menggema menyakitkan di seluruh penjuru rumah yang sunyi itu. Setiap hantaman mengirimkan rasa sakit yang membutakan penglihatan Asha. Punggungnya menghantam sudut tangga, tulang rusuknya terasa remuk seketika, dan kepalanya terbentur berkali-kali pada pilar-pilar kecil pagar tangga.
Ketika tubuhnya akhirnya mendarat di lantai dasar aula, suara benturan kepalanya di atas marmer terdengar begitu keras dan mengerikan hingga dunia di sekitarnya seketika menjadi sunyi senyap. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti aula besar itu.
Asha terkapar dalam posisi yang tidak manusiawi, kakinya tertekuk ke arah yang salah dan tangannya terbentang lemas. Darah segar mulai mengalir deras dari belakang kepalanya, membentuk genangan merah pekat yang perlahan-lambat melebar di atas marmer putih yang mahal, menciptakan pemandangan yang kontras dan mengerikan. Pandangannya kabur, hanya mampu menatap ke arah langit-langit di mana lampu kristal bersinar redup seperti bintang-bintang yang akan padam.
Di atas sana, jauh di puncak tangga, ia masih bisa melihat siluet Arlan yang berdiri tenang berdampingan dengan Elena. Arlan kembali menyesap wiskinya, memperhatikan genangan darah yang keluar dari kepala istrinya seolah-olah itu hanyalah tumpahan anggur yang tidak sengaja.
"Selesaikan ini, Elena. Panggil pelayan setelah aku pergi. Suruh mereka membersihkan lantai ini dengan cairan kimia paling keras. Aku tidak ingin ada satu pun jejak darahnya mengotori karpet besok pagi saat aku menerima tamu penting," suara Arlan terdengar sangat jauh di telinga Asha, hampir seperti bisikan angin di tengah badai sebelum kegelapan total menelan seluruh indra dan kesadaran Asha.
Dalam kehampaan yang mendekat, satu hal yang tersisa di benak Asha bukanlah rasa takut akan kematian yang sudah di depan mata. Melainkan sebuah kebencian yang membara, lebih panas dari api cerutu yang membakar bahunya, dan lebih tajam dari marmer yang menghancurkan tulang-tulangnya. Ia merasakan detak jantungnya semakin melambat, setiap denyut membawa sisa kehidupan yang mengalir keluar dari tubuhnya yang hancur. Neovault Metropolis malam itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang istri dikuliti secara mental dan fisik demi ego seorang CEO yang tidak memiliki jiwa. Di lantai marmer yang dingin itu, Asha Valeska merasa nyawanya telah dicabut paksa bahkan sebelum jantungnya benar-benar berhenti berdetak, meninggalkan janji dendam yang terkunci dalam napas terakhirnya yang tersengal.