Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Suasana ruang tamu rumah Maria terasa hangat. Lampu kuning temaram memantul lembut di dinding, televisi menyala pelan tanpa benar-benar diperhatikan, dan aroma kaldu dari dapur mulai menyebar perlahan, mengisi udara dengan rasa nyaman yang sederhana.
Namun di balik semua itu, tidak semua orang merasa tenang. Nindi berdiri sejenak di ambang ruang, matanya menyapu sekitar. Pandangannya lalu berhenti pada satu hal yang cukup mengganggu.
Sofa.
Hanya satu. Dan ukurannya kecil. Cukup untuk dua orang saja, tidak lebih.
Alis Nindi sedikit terangkat.
Serius?
Ia melirik ke arah Clay secara refleks, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan lagi, seolah tidak ingin terlihat memikirkan hal yang sama. Tapi justru itu masalahnya.
Ia memikirkannya. Kalau duduk, berarti harus berdekatan. Terlalu dekat. Dan setelah kejadiaan tadi, itu jelas bukan ide yang bagus.
“Kenapa?” suara Clay tiba-tiba terdengar di sampingnya.
Nindi sedikit terkejut, tapi berusaha menutupinya. “Tidak apa-apa.”
Clay mengikuti arah pandang Nindi.
Sofa itu. Satu detik. Dua detik.
Lalu,
“Oh.”
Satu kata pendek. Tapi cukup.
Nindi mendecak pelan. “Jangan ‘oh’ saja.”
Clay menoleh padanya, alisnya sedikit terangkat. “Kamu mau berdiri saja?”
“Tentu tidak,” balas Nindi cepat. “Aku hanya, berpikir.”
“Berpikir apa?”
Nindi menatapnya datar. “Berpikir kenapa rumah ini tidak punya kursi tambahan.”
Clay hampir tersenyum.
Hampir.
“Kalau tidak nyaman, aku bisa berdiri.”
Jawaban itu datang santai. Tapi justru itu yang membuat Nindi kesal.
“Kenapa kamu yang berdiri?” tanyanya.
Clay mengangkat bahu. “Karena kamu tidak mau duduk dekatku, kan?”
Tepat.
Dan Nindi tidak suka bagaimana Clay bisa membaca itu dengan mudah.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu memikirkannya.”
Hening. Nindi menatapnya beberapa detik. Lalu mendecak pelan. “Kamu terlalu percaya diri.”
“Mungkin.” Jawaban singkat. Tidak dibantah. Dan itu, menyebalkan.
Nindi menghela napas pelan, lalu berjalan menuju sofa. Ia duduk di ujung, menyisakan jarak yang jelas di sebelahnya. Seolah memberi batas. Seolah berkata jangan dekat-dekat.
Clay memperhatikan itu. Lalu, tanpa banyak komentar, ia ikut duduk. Di sisi lain. Tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak sejauh yang diinginkan Nindi. Jarak yang cukup untuk terasa.
Nindi menahan napas sejenak. Bukan karena terkejut. Tapi karena sadar. Bahwa bahkan jarak sekecil itu tetap terasa terlalu dekat.
“Tenang saja,” gumam Clay pelan. “Aku tidak akan menyentuhmu.”
Nindi langsung menoleh. “Aku tidak khawatir soal itu.”
“Bagus.” Jawaban itu terlalu cepat.
Seolah ia sudah memperkirakan reaksi itu. Nindi mengerling kesal, lalu memalingkan wajah ke arah televisi. Padahal tidak benar-benar menonton. Hanya mencari sesuatu untuk dialihkan. Apa saja. Asal bukan Clay.
Namun, Semakin Nindi berusaha mengabaikan, semakin Nindi sadar akan keberadaan pemuda di sebelahnya. Tapi sepersekian detik Nindi ingat ucapan Clay.
“Clay.”
Panggilan itu ringan. Santai. Tapi cukup untuk membuat Clay menoleh.
“Hm?”
“Pacarmu.” Satu kata itu saja sudah cukup membuat suasana berubah.
Clay mengernyit sedikit. “Apa?”
Nindi memiringkan kepala, pura-pura polos. “Tadi di luar.”
Hening sebentar.
“Oh.”
Satu respon pendek. Terlalu pendek. Dan itu kesalahan.
Nindi tersenyum. “Cuma ‘oh’?”
Clay menghela napas pelan. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini tidak akan sederhana.
“Itu situasi.”
“Situasi?” ulang Nindi, alisnya terangkat. “Jadi sekarang aku masuk kategori ‘situasi’?”
Nada suaranya tidak tinggi. Tapi tajam. Clay menatapnya beberapa detik, mencoba membaca. Tapi Nindi tidak memberi celah. Wajahnya terlalu tenang. Terlalu, terkontrol.
“Kalau aku tidak bilang begitu,” jawab Clay akhirnya, “dia tidak akan berhenti menatapmu seperti tadi.”
“Dan kamu pikir aku butuh diselamatkan?” Tanya itu cepat. Tanpa jeda.
Clay terdiam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke rumah ini, posisi mulai bergeser. Biasanya, Clay yang mengendalikan percakapan. Sekarang? Tidak. Nindi yang memegang arah.
“Aku bisa jaga diriku sendiri,” lanjut Nindi pelan. “Tanpa harus dijadikan ‘pacar dadakan’ kamu.”
Clay menyandarkan tubuhnya, rahangnya mengeras tipis.
“Itu cara tercepat.”
“Buat siapa?” potong Nindi.
Clay menatapnya lagi.
“Buat kamu? Atau buat aku?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Kali ini, Clay tidak langsung punya jawaban. Tatapannya sempat bergeser, seolah menimbang bagaimana harus menjelaskan tanpa membuat Nindi semakin salah paham.
Lalu, ia menarik napas pelan.
“Aku tidak sedang bermain,” ucap Clay lebih tenang.
Nindi tidak menyahut. Tatapannya masih tajam.
Clay menatapnya lagi, lebih serius sekarang.
“Dion… punya trauma barat.”
Nada suaranya berubah. Tidak lagi defensif. Lebih datar. Lebih berat.
Nindi sedikit mengernyit. “Trauma?”
Clay diam sebentar. Seolah memilih kata.
“Waktu dia masih empat belas tahun, Maria pernah memergokinya pakai narkoba. Reaksinya, buruk. Dia marah besar. Sampai memukulinya. Bahkan sempat menyerahkan Dion ke polisi karena kasus pencurian dan hampir melakukan hal yang lebih parah, termasuk pelecehan.”
Nindi terdiam. Wajahnya berubah.
“Tapi itu belum semuanya,” lanjut Clay. Tatapannya sedikit mengeras, seperti ada sesuatu yang tidak ia sukai saat mengingatnya.
“Setelah diselidiki… ternyata Dion tidak seperti yang terlihat.”
Nindi menunggu.
“Dia depresi,” kata Clay pelan. “Dan itu bukan tanpa alasan.”
“Karena apa?” tanya Nindi, suaranya ikut merendah.
Clay tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, lalu berkata : “Karena ayahnya.”
“Ayahnya?”
Clay mengangguk. Beberapa detik hening.
“Selama bertahun-tahun,” lanjut Clay, suaranya tetap tenang tapi terasa lebih dingin, “Willy memaksa Dion untuk melihat hal-hal yang seharusnya tidak dilihat anak seusianya.”
Nindi mengernyit. “Maksudnya…?”
Clay menoleh, menatapnya lurus.
“Dia memperlihatkan kehidupan pribadinya dengan para wanitanya, secara sengaja.”
Nindi membeku.
“Seolah itu hal normal.”
Clay melanjutkan, tanpa memperindah kata-kata. Rahangnya mulai mengeras.
“Bukan cuma itu. Dia juga mulai… melibatkan Dion. Memperkenalkan, bahkan memfasilitasi kegiatan yang tidak seharusnya.”
Sunyi. Benar-benar sunyi.
“Brengsek…” gumam Nindi, suaranya hampir bergetar. “Ayah macam apa itu?”
Clay tidak membantah.
“Makanya,” lanjutnya pelan, “cara pandang Dion terhadap wanita rusak. Dia tidak tahu batas. Tidak tahu cara melihat dengan normal.”
Nindi menggigit bibirnya.
“Dan saat dia mencoba menahan dorongan itu… dia lari ke narkoba.”
Nindi menggeleng pelan, masih tidak percaya.
“Gila… ini benar-benar gila, Clay.” Nindi menggenggam ujung roknya.
“Ya,” jawab Clay singkat.
Clay menghela napas pelan. “Untungnya Maria sadar. Dia menarik Dion keluar dari situasi itu. Membawanya ke rehabilitasi, ke psikiater, pelan-pelan memperbaiki semuanya.”
Nindi terdiam. Wajahnya tidak lagi kesal seperti tadi. Lebih… campur aduk.
“Ayahnya sekarang di mana?” tanyanya pelan.
“Sudah tidak ada,” jawab Clay. “Dia meninggal. Kecelakaan. Waktu dikejar polisi.”
Nindi terdiam beberapa detik.
“Syukurlah,” ucapnya tanpa ragu. “Orang seperti itu, tidak pantas hidup.”
Clay tidak langsung menjawab. Namun sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan karena setuju sepenuhnya. Tapi karena Ia tahu, untuk pertama kalinya malam ini, Nindi tidak lagi melihatnya sebagai masalah. Melainkan sebagai seseorang yang sedang menjelaskan.
Dan itu cukup.