Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Dilarang Jatuh Cinta
Lobi gedung Hermawan Group biasanya sedingin es, namun pagi ini, atmosfernya terasa jauh lebih membekukan. Biru Hermawan melangkah tegap, mengabaikan bungkukan hormat dari puluhan karyawan yang dilewatinya. Wajahnya datar, seolah dipahat dari marmer paling keras di dunia.
Namun, di balik kemeja sutra seharga puluhan juta rupiah itu, dadanya berdenyut nyeri. Sebuah peringatan dari jantungnya yang mulai lelah berdetak normal.
Tahan sebentar lagi, batinnya tajam.
Langkahnya terhenti mendadak di depan lift eksekutif. Seorang wanita dengan rambut acak-acakan, kacamata bingkai tebal yang melorot ke ujung hidung, dan pelukan erat pada sebuah laptop tua, hampir saja menabrak dada bidangnya.
"Maaf! Maaf, saya sedang mengejar deadline!" seru wanita itu tanpa melihat siapa yang ia tabrak. Ia sibuk menekan tombol lift dengan panik.
Biru menatap wanita itu dengan tatapan merendahkan. Sepatu kets yang kotor, celana jins pudar, dan kaos kebesaran bertuliskan 'Eat, Sleep, Write, Repeat'. Benar-benar pemandangan yang merusak estetika kantornya yang minimalis dan mewah.
"Ini lift khusus direksi," suara Biru rendah, berat, dan penuh otoritas.
Wanita itu—Selena—akhirnya mendongak. Matanya yang kelelahan karena begadang menulis bab terbaru novelnya bertemu dengan tatapan tajam Biru. Untuk sejenak, Selena terpaku. Gila, ini visual tokoh antagonis yang sering aku tulis, pikirnya lancang.
"Oh, Direktur? Baguslah," Selena justru menghela napas lega, tidak tampak terintimidasi sama sekali. "Pak Direktur, boleh saya numpang sampai lantai dua belas? Lift umum sedang diperbaiki semua, dan kalau saya tidak mengirim naskah ini dalam lima menit, editor saya akan berubah jadi naga."
Biru menyipitkan mata. "Kau pikir ini angkutan umum? Keluar."
"Satu menit saja! Tolonglah, nyawa karakter utama saya sedang di ujung tanduk!" Selena memohon, kakinya sudah menyelinap masuk ke dalam lift sebelum pintu tertutup.
Biru tidak punya energi untuk berdebat. Rasa perih di dadanya semakin menjadi. Ia masuk ke dalam lift, berdiri sejauh mungkin dari Selena seolah wanita itu membawa wabah.
Lift mulai bergerak naik. Keheningan yang canggung menyelimuti, hanya suara napas Selena yang terengah-engah dan bunyi jemarinya yang mengetik cepat di atas keyboard laptop yang ia pangku dengan satu tangan.
Tiba-tiba, lampu lift berkedip. Deg.
Guncangan keras terjadi. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai tujuh dan delapan.
"Oh, jangan sekarang..." gumam Selena, wajahnya pucat. "Bab ini belum tersimpan!"
Namun, Biru tidak peduli pada naskah itu. Wajahnya mendadak seputih kertas. Ia mencengkeram pegangan besi di dinding lift dengan buku jari yang memutih. Napasnya mulai pendek. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Ia mencoba merogoh saku jasnya untuk mengambil botol obat kecil, namun tangannya gemetar hebat hingga botol itu jatuh dan menggelinding ke arah Selena.
Selena, yang awalnya panik karena laptopnya mati, menoleh dan menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat pria arogan di sampingnya itu kini merosot ke lantai lift, satu tangannya mencengkeram dada kiri dengan kuat.
"Hei! Pak! Anda kenapa?!" Selena menjatuhkan laptopnya dan berlutut di samping Biru.
"Jangan... sentuh..." desis Biru, suaranya hampir hilang, namun keangkuhannya tetap bertahan.
Selena tidak mendengarkan. Ia mengambil botol kecil yang terjatuh itu, membacanya sekilas, lalu dengan sigap membantu Biru menelan satu butir pil di bawah lidahnya. Ia meletakkan tangan Biru di pundaknya, mencoba membantu pria itu mengatur napas meski ia sendiri merasa ngeri melihat kondisi pria itu.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan. Biru mulai merasakan denyut jantungnya melambat. Keringat dingin membasahi dahinya. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia langsung mendorong tangan Selena menjauh dengan kasar.
"Lupakan apa yang kau lihat," suara Biru kembali dingin dan tajam, seolah serangan jantung tadi hanyalah debu yang lewat.
"Lupakan? Anda hampir mati di depan saya!" seru Selena tidak percaya. "Apa itu tadi? Anda sakit jantung?"
Biru menatap Selena dengan tatapan yang bisa membunuh. "Itu hanya kelelahan. Jika kau berani membicarakan kejadian di lift ini pada siapa pun, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa menerbitkan satu baris kalimat pun di negara ini."
Selena mendengus, kembali pada kepribadian aslinya yang pragmatis. "Sombong sekali. Saya tidak tertarik mengurus urusan Anda, Pak. Saya hanya tidak mau jadi tersangka utama kalau Anda mati di dalam lift bersama saya. Bayangkan beritanya: 'Penulis Novel Terkenal Membunuh CEO Tampan karena Rebutan Lift'. Karier saya tamat."
Biru tertegun. Jawaban itu sangat konyol, namun jujur.
"Dan lagi," Selena melanjutkan sambil mengambil kembali laptopnya, "saya butuh uang. Kalau Anda mati, siapa yang akan membayar ganti rugi karena lift perusahaan ini rusak dan menghambat pekerjaan saya? Keluarga saya terus menekan saya untuk menikah dengan anak juragan tanah di kampung jika saya tidak bisa membuktikan penghasilan saya stabil. Padahal saya hanya ingin menulis dengan tenang tanpa ditanya 'Kapan Nikah?' setiap hari."
Biru menatap Selena dengan intensitas yang baru. Sebuah ide liar muncul di kepalanya. Kakeknya menginginkan dia menikah agar posisi CEO-nya sah secara hukum keluarga. Selama ini ia menolak karena tidak ingin ada orang yang tahu titik lemahnya—penyakitnya. Namun, wanita di depannya ini sepertinya cukup 'aneh' dan terdesak uang untuk bisa dikendalikan.
"Namamu," perintah Biru.
"Selena Putri. Kenapa? Mau menuntut saya karena sudah menolong Anda?"
Biru melangkah maju, memojokkan Selena ke dinding lift yang masih macet. Aroma parfum maskulinnya yang mahal mulai memenuhi indra penciuman Selena.
"Selena. Aku punya penawaran. Uang, status, dan mulut keluargamu yang berisik itu akan diam selamanya."
Selena menelan ludah. "Maksud Anda?"
"Menikahlah denganku."
Selena tertawa renyah. "Pak Direktur, sepertinya Anda masih kurang oksigen. Kita baru bertemu sepuluh menit dan Anda melamar saya? Ini terlalu klise, bahkan untuk standar novel saya."
"Ini bukan lamaran. Ini transaksi bisnis," potong Biru tajam. "Aku butuh istri untuk mempertahankan posisiku. Kau butuh perlindungan dan dana. Kita buat kontrak. Setahun saja."
Selena terdiam. Matanya memicing. "Ada syaratnya?"
"Pertama, kita tinggal satu atap untuk sandiwara ini. Kedua, kau dilarang mencampuri urusan pribadiku sekecil apa pun. Dan yang paling penting..."
Biru menatap Selena tepat di mata, memberikan tekanan dominan yang membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
"Kamu tidak boleh jatuh cinta padaku. Tidak ada sentuhan fisik. Tidak ada hubungan suami istri. Kau tetap di duniamu, aku di duniaku. Kau adalah orang asing yang kebetulan memiliki nama belakangku selama dua belas bulan. Bagaimana?"
Selena tertegun. Aturan 'Tanpa Sentuhan' itu adalah trope favorit yang selalu ia tulis. Ia tak menyangka akan mengalaminya sendiri.
"Satu miliar di muka," tantang Selena.
"Dua miliar," sahut Biru tanpa berkedip. "Jika kau bisa menjaga batasanmu."
Tepat saat itu, lift berbunyi ting! dan pintu terbuka di lantai dua belas. Cakra, asisten pribadi Biru, sudah berdiri di depan pintu dengan wajah pucat pasi. Ia langsung melihat botol obat di lantai lift dan menatap Biru dengan cemas.
Biru memberikan kode mata yang sangat tajam pada Cakra—tanda agar asistennya itu diam seribu bahasa. Ia melangkah keluar lift dengan angkuh, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Cakra, siapkan kontraknya. Nona Selena akan menjadi Nyonya Hermawan mulai minggu depan," ujar Biru dingin sambil terus berjalan.
Selena berdiri mematung di dalam lift, memeluk laptopnya erat-erat. Ia melihat Cakra yang menatapnya dengan pandangan kasihan, namun penuh rahasia.
"Satu atap... dua rahasia," bisiknya pelan. "Oke, Biru Hermawan. Mari kita lihat siapa yang akan bertahan lebih lama dalam sandiwara ini."
***
jin ouch jin sentuh itu selena...