"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suasana di ruang tamu terasa begitu berat, seolah udara yang kami hirup bercampur dengan debu kekecewaan yang menyesakkan dada. Mbah Neni duduk di hadapan kami, menatap Mas Dika dan aku secara bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan antara iba dan tidak habis pikir. Ibu masih tetap dalam posisinya, mematung menatap keluar jendela, seolah ia sedang mencoba melarikan diri dari kenyataan yang ada di ruangan ini.
"Kalian ini... kenapa nggak bilang dari dulu?" Mbah Neni membuka suara, nada bicaranya pelan namun sanggup menggetarkan hatiku. "Kalian pacaran ini juga sudah lama. Dika juga sering ke sini dulu, bantu-bantu Ibu, main ke sini. Kalau kalian jujur dari dulu, kalau dari dulu kalian bicara... masalahnya belum akan terlihat sebesar ini, Nduk, Le."
Aku hanya bisa menunduk, meremas jemariku sendiri hingga memutih. Kalimat Mbah Neni benar-benar menusuk. Bayangan masa-masa awal hubungan kami berputar di kepala. Saat itu, segalanya terasa indah meskipun harus sembunyi-sembunyi. Kami pikir kami bisa mengendalikan segalanya, ternyata kami hanya sedang menimbun bom waktu.
Mas Dika menghela napas panjang, pundaknya yang kokoh itu kini tampak merosot layu. "Dika yang salah, Mbah," ucapnya dengan suara serak yang penuh penyesalan. "Padahal Dika juga sudah sadar selama ini kalau ada yang berubah dari Aira. Dika merasakannya, Mbah... tapi Dika pengecut. Dika nunggu Aira yang bicara duluan karena Dika bingung harus mulai dari mana."
Aku tersentak mendengar pengakuan Mas Dika. Jadi selama ini dia menunggu aku? Sementara aku, di sisi lain, menunggu keberanian darinya. Kami berdua terjebak dalam saling tunggu yang mematikan, membiarkan rahasia itu tumbuh semakin besar hingga akhirnya meluap dan menghancurkan segalanya.
"Sekarang sudah begini," sambung Mbah Neni sembari mengelap sudut matanya dengan ujung kebaya. "Sudah telanjur. Menyesal pun tidak akan membuat waktu berputar balik. Sekarang yang paling penting itu besok sore. Bapakmu itu hatinya keras, Ra, apalagi kalau soal harga diri."
Ibu tiba-tiba menoleh, matanya yang sembap menatap Mas Dika dengan sorot tajam yang menyakitkan. "Harga diri saya sudah habis, Dik. Kamu bawa kabur harga diri anak saya, kamu bawa kabur kebanggaan saya sebagai Ibu. Apa yang mau kamu tawarkan besok ke suamiku? Cuma kata maaf?"
Mas Dika terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Ruang tamu itu kembali ditelan kesunyian yang mencekam. Aku menatap perutku, meraba gerakan halus di dalam sana. Janin ini tidak tahu bahwa kehadirannya sedang memicu badai hebat yang mungkin akan meruntuhkan rumah ini besok sore.
"Besok Dika akan terima apapun yang Bapak lakukan, Bu. Kalau Dika harus dipukul atau diusir pun, Dika terima. Asal Bapak izinkan Dika menikahi Aira dan bertanggung jawab sepenuhnya," ucap Mas Dika dengan nada pasrah namun tegas.
Sore itu ditutup dengan janji yang terasa sangat berat. Mas Dika pamit pulang, meninggalkan aku yang harus kembali berhadapan dengan keheningan rumah dan tatapan kosong Ibu. Malam ini akan menjadi malam terakhir sebelum kebenaran sejati terungkap di depan Bapak. Malam yang panjang bagi seorang anak yang telah mengkhianati kepercayaan terbesar orang tuanya.
Langit masih menyisakan rona biru gelap yang kelabu; matahari belum benar-benar menampakkan cahayanya, hanya garis tipis jingga yang ragu-ragu muncul di kaki langit. Udara subuh yang menusuk pori-pori tidak kuhiraukan. Aku sudah bersiap, mengenakan seragam kerja dengan jaket paling tebal yang kupunya bukan untuk menahan dingin, tapi untuk menyembunyikan kenyataan di perutku yang kian hari kian menonjol.
Aku melangkah sepelan mungkin di atas lantai tegel yang dingin. Aku tidak tahu apakah Ibu sudah bangun atau belum. Dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, tidak ada suara sedikit pun. Begitu juga dengan kamar Mbah Neni. Rumah ini terasa seperti makam; sunyi, dingin, dan penuh dengan bau kesedihan yang menyesakkan. Tanpa berpamitan, aku menuntun motorku keluar gerbang, takut suaranya akan memecah kesunyian dan memancing percakapan yang belum sanggup kuhadapi.
Sepanjang perjalanan menuju toko, aku hanya melamun. Pikiranku melayang jauh melampaui jalanan yang masih lengang. Wajah Bapak terus membayang di pelupuk mataku. Beliau adalah pria yang keras, bicaranya jarang namun setiap kata adalah perintah. Apa yang akan terjadi nanti sore? Apakah Bapak akan langsung menghantamkan tangannya ke meja, mengusirku dari rumah, atau yang paling buruk apakah ia akan membunuhku karena merasa kehormatannya sebagai kepala keluarga telah kuijak-injak?
"Aku siap, Pak. Kalau Bapak mau pukul Aira, pukul saja. Aira memang pantas," bisikku lirih ke arah angin yang menerpa wajah.
Konsekuensi. Kata itu terus berputar-putar di kepalaku. Selama ini aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar Mas Dika mau bertanggung jawab. Tapi kini, setelah ia setuju, aku menyadari bahwa tanggung jawab pria tidak otomatis menghapus dosa seorang anak perempuan kepada orang tuanya. Aku telah merobek harga diri Bapak yang ia pertahankan dengan keringat di perantauan.
Setibanya di toko, suasana masih sepi. Aku berdiri di depan pintu kaca yang masih terkunci, menatap bayanganku sendiri. Aira yang ada di sana tampak begitu asing pucat, lelah, dan hancur. Aku tahu hari ini aku tidak akan bisa bekerja dengan fokus. Setiap detak jam di dinding toko nanti akan terasa seperti detak bom waktu yang menanti sore hari.
Aku menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungku yang mulai tak beraturan. Apa pun yang terjadi sore nanti, aku sudah memutuskan untuk tidak lari lagi. Aku akan berdiri di sana, di hadapan Bapak, menerima setiap amarahnya sebagai penebusan ataskebohongan yang kurawat selama enam bulan ini. Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah tanya yang paling menakutkan tetap muncul: Apakah setelah hari ini, aku masih punya tempat untuk pulang?