NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Langit malam itu tidak sepenuhnya gelap.

Ada cahaya samar-bukan dari bulan, bukan dari bintang-melainkan dari sesuatu yang lebih tinggi, lebih jauh, dan lebih sunyi. Cahaya itu turun perlahan, seperti embun yang jatuh dari dunia yang tidak tersentuh manusia.

Di tengah hutan yang sunyi, berdiri seorang pria berjubah putih. Sosoknya tenang, napasnya stabil, seolah-olah ia adalah bagian dari dunia itu sendiri-bukan tamu, bukan penguasa, melainkan penjaga keseimbangan yang tak terlihat.

Ia adalah Purus.

Matanya terpejam. Energi di sekitarnya mengalir halus, mengikuti ritme yang bahkan angin pun tidak berani ganggu.

Lalu...

Ia membuka mata.

"Sudah lama sekali," gumamnya pelan.

Udara berubah.

Langkah kaki tidak terdengar, tapi kehadiran itu jelas-halus, namun tidak bisa disangkal. Dari antara pepohonan, muncul seorang wanita dengan cahaya lembut yang mengelilinginya, seperti kehidupan itu sendiri sedang bernafas di sekelilingnya.

Di pelukannya... seorang bayi.

Vita berhenti beberapa langkah dari Purus.

"Maaf," ucapnya lirih.

Suara itu bukan sekadar suara. Ia membawa kehangatan... dan juga kesedihan yang dalam.

Purus menatap bayi itu.

Tidak ada aura yang meledak-ledak. Tidak ada tanda kebesaran.

Namun... ada sesuatu yang salah.

Atau mungkin... terlalu benar.

"Anak itu..." kata Purus perlahan, "...bukan manusia biasa."

Vita tidak langsung menjawab.

Ia menatap bayi di pelukannya, seolah-olah sedang menghafal setiap garis wajah kecil itu. Jari-jarinya yang halus sedikit bergetar-sesuatu yang jarang terjadi pada seorang dewi kehidupan.

"Aku tidak punya banyak waktu," katanya akhirnya.

Angin berhenti.

Hutan seakan menahan napas.

Purus tidak bertanya. Ia hanya mendengarkan.

Vita melangkah maju, lalu dengan hati-hati... menyerahkan bayi itu ke tangan Purus.

Untuk sesaat, dunia terasa diam.

Bayi itu tidak menangis. Tidak bergerak liar. Ia hanya membuka matanya perlahan-mata kecil yang memantulkan cahaya yang bahkan tidak ada di dunia ini.

Purus merasakan sesuatu saat menyentuhnya.

Hangat... tapi dalam.

Seperti matahari yang tidak terlihat.

"Apa namanya?" tanya Purus.

Vita menatap bayi itu sekali lagi.

"Grachius."

Nama itu jatuh ke udara... dan menetap.

Seolah dunia mencatatnya.

Purus mengangguk pelan.

"Dan kau ingin aku...?"

"Lindungi dia."

Jawaban itu cepat. Tegas.

Namun ada sesuatu di baliknya-sesuatu yang tidak diucapkan.

Purus menatap Vita lebih dalam.

"Kau tahu apa artinya ini."

"Aku tahu."

"Jika mereka menemukan anak ini-"

"Aku tahu."

Untuk pertama kalinya, suara Vita sedikit meninggi. Bukan karena marah... tapi karena takut.

Sunyi kembali menyelimuti mereka.

Purus menunduk, menatap Grachius yang kini tertidur tenang di pelukannya.

Seorang bayi.

Dan mungkin... sesuatu yang jauh lebih dari itu.

"Kenapa aku?" tanya Purus.

Vita terdiam.

Beberapa detik berlalu... sebelum ia menjawab dengan suara yang jauh lebih pelan.

"Karena kau satu-satunya yang masih... bersih."

Purus tidak tersenyum. Tidak juga menolak.

Ia hanya menghela napas panjang.

Keputusan itu sudah dibuat-bahkan sebelum pertanyaan itu selesai.

"Baik."

Satu kata.

Namun cukup untuk mengubah takdir dunia.

Vita memejamkan mata sejenak, seolah-olah beban besar yang ia bawa akhirnya bisa dilepaskan... meski hanya sedikit.

"Terima kasih."

Ia mundur satu langkah.

Cahayanya mulai meredup.

Namun sebelum benar-benar pergi-

Ia menatap Grachius untuk terakhir kalinya.

Ada sesuatu di matanya.

Bukan sekadar kasih sayang.

Tapi juga... perpisahan.

"Jangan biarkan dia membenci dunia ini," bisiknya.

Lalu... ia menghilang.

Tanpa suara.

Tanpa jejak.

Hutan kembali sunyi.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Purus berdiri diam cukup lama.

Matanya tetap tertuju pada bayi di pelukannya.

Grachius.

Nama itu terasa berat.

Tidak... bukan berat.

Penting.

Ia bisa merasakannya.

Seperti sesuatu yang belum terjadi... tapi pasti akan terjadi.

Perlahan, Purus membalikkan tubuhnya.

Langkahnya ringan, tapi pasti.

Meninggalkan tempat itu.

Meninggalkan malam yang tidak biasa.

Di kejauhan... sangat jauh...

Langit bergetar.

Dan untuk sesaat-

cahaya matahari meredup.

Seperti... sesuatu telah hilang.

Atau...

telah lahir.

Dan di dunia yang tidak melihat, tidak tahu, dan tidak siap-

seorang anak bernama Grachius...

telah memulai kisahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!