NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 - Distorsi Ruang: Langkah Lipat

Di atas pelataran, di kursi kehormatan yang menghadap langsung ke empat arena, Meng Wu memperhatikan dengan tenang, tatapannya tidak berpindah dari arena kedua tempat Long Chen berdiri, ekspresinya tetap datar namun fokusnya jelas tidak berkurang sedikit pun.

Di sampingnya, Lan Wangji juga menatap ke arah yang sama, matanya menyipit tipis seolah sedang menilai sesuatu dengan sangat teliti. Ia lalu berbicara pelan, suaranya cukup rendah namun jelas. “Senior Meng Wu… muridmu itu dari Divisi Pedang Petir… sudah berada di ranah apa?”

Meng Wu menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya. “Dia berada di ranah Bintang Langit, tingkat dua.”

Lan Wangji sedikit terkejut mendengar itu, alisnya terangkat tipis. “…Hebat juga muridmu,” katanya dengan nada jujur, lalu melanjutkan sambil tetap menatap arena. “Kalau Xu Yuanzhi masih berada di Bintang Bumi tingkat sembilan.”

Tatapannya semakin tajam saat ia menambahkan, “Secara teori… muridmu memang lebih diunggulkan dari segi ranah.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Namun dari segi pengalaman bertarung, seharusnya Xu Yuanzhi masih lebih unggul dibandingkan muridmu.”

Di atas arena kedua, pertarungan dimulai tanpa aba-aba tambahan, begitu kedua pihak bergerak hampir bersamaan, bilah pedang mereka langsung bertabrakan dengan keras.

CLANG!

Percikan energi menyebar ke udara, dua aura yang berbeda saling berbenturan dengan jelas, satu berat dan kokoh seperti tanah, satu lagi tajam dan bergetar seperti petir yang siap meledak kapan saja. Xu Yuanzhi melapisi pedangnya dengan energi coklat yang padat, membuat setiap tebasannya terasa berat dan stabil, seolah tidak mudah digoyahkan.

Di sisi lain, Long Chen membalas dengan petir ungu yang berdenyut di sepanjang bilah pedangnya, cepat dan agresif, setiap gerakannya dipenuhi tekanan yang tidak berhenti.

CLANG! CLANG!

Serangan demi serangan terjadi tanpa jeda, kedua tubuh bergerak dengan kecepatan tinggi, langkah kaki mereka hampir tidak terdengar di atas permukaan arena, hanya suara benturan pedang dan percikan energi yang terus mengisi udara.

Di bawah arena, Mo Fan tidak lagi menahan diri, suaranya terdengar jelas menembus keramaian penonton. “Ayo, junior Long Chen! Kau pasti bisa!” teriaknya dengan penuh keyakinan, matanya tetap terkunci pada setiap gerakan di atas arena.

Di sampingnya, Shi Hao ikut berseru, nadanya lebih tegas dan fokus. “Jangan lengah, junior! Fokus pada pertarungannya!” katanya, jelas memahami bahwa satu kesalahan kecil saja bisa langsung mengubah hasil.

Kembali di atas arena kedua, Xu Yuanzhi tiba-tiba mundur beberapa langkah dengan tenang, jarak di antara mereka tercipta dalam sekejap, namun bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan bagian dari ritme yang ia kendalikan sendiri, lalu ia mengangkat pedangnya sedikit dan berkata dengan suara rendah namun jelas, “Teknik Tingkat Kedua—Langkah Lipat.”

Ia mulai berjalan.

Pelan.

Langkahnya tampak biasa di mata awam, tidak cepat, tidak agresif, bahkan hampir terlihat santai, namun ada sesuatu yang aneh pada gerakannya, setiap pijakan terasa tidak selaras dengan posisi tubuhnya, seolah ruang di sekitarnya sedikit terlipat mengikuti langkahnya.

Long Chen mengerutkan kening, matanya mengikuti setiap langkah Xu Yuanzhi yang tampak berjalan pelan, namun ada sesuatu yang terasa tidak selaras dengan kenyataan, seolah gerakan itu tidak sepenuhnya mengikuti hukum biasa. “…Kenapa dia bergerak seperti itu…?” pikirnya, instingnya langsung memperingatkan bahwa teknik ini tidak bisa dinilai dari apa yang terlihat.

Namun dalam satu kedipan, Xu Yuanzhi sudah tidak lagi berada di depan, melainkan telah muncul di belakangnya.

SWOOSH!

Pedangnya langsung diayunkan tanpa ragu, serangan itu cepat dan tajam, memanfaatkan celah sekecil apa pun.

Namun Long Chen bereaksi dengan insting yang telah diasah selama bertahun-tahun, tubuhnya berputar dengan cepat, pedangnya terangkat tepat pada waktunya.

CLANG!

Benturan keras kembali menggema di arena, percikan energi petir dan tanah meledak di titik kontak, membuat udara di sekitar bergetar.

Namun benturan itu tetap membawa dampak besar, kekuatan dari serangan Xu Yuanzhi mendorong Long Chen terpental ke belakang beberapa meter, kakinya menggesek permukaan arena sebelum akhirnya ia berhasil menahan diri dan mendarat dengan stabil. Ia masih berdiri tegak, namun ekspresinya kini jauh lebih serius dibanding sebelumnya, matanya menyipit menatap lawannya dengan penuh kewaspadaan.

“…Teknik apa barusan itu…” gumamnya pelan, pikirannya berputar cepat mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Xu Yuanzhi tampak berjalan pelan, tanpa tanda-tanda percepatan sama sekali.

“Padahal aku melihatnya seperti bergerak biasa…” lanjutnya dalam hati, “…tapi kenapa dalam sekejap dia sudah berada di belakangku…”

Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai meningkat, sambil tetap menjaga jarak dan posisi bertahan.

“Untung saja aku berhasil menahannya tepat waktu…” pikirnya lagi, kesadarannya akan bahaya situasi itu semakin jelas.

Tatapannya semakin tajam.

“Kalau tidak… mungkin aku sudah kalah tadi.”

Di bawah arena, Shi Hao terlihat terkejut, matanya membesar saat menyaksikan gerakan yang barusan terjadi di atas. “Teknik apa itu tadi?!” serunya, jelas belum sepenuhnya memahami apa yang ia lihat.

Di sampingnya, Mo Fan menjawab dengan nada serius, matanya tetap terfokus pada pertarungan. “Itu teknik khas Divisi Pedang Ruang,” katanya tenang. “Teknik Tingkat Kedua—Langkah Lipat.”

Ia kemudian menjelaskan lebih lanjut, suaranya tetap stabil. “Teknik itu bekerja dengan melipat ruang antara dua titik, sehingga dari luar terlihat seperti dia hanya berjalan pelan, padahal sebenarnya dia sudah berpindah posisi dalam sekejap.”

Shi Hao mengerutkan kening, mulai memahami betapa berbahayanya teknik tersebut. “…ternyata tekniknya cukup merepotkan juga…” gumamnya.

Mo Fan mengangguk pelan. “Memang begitu,” jawabnya. “Itulah kenapa Divisi Pedang Ruang dikenal sangat menyulitkan untuk dilawan.”

Kembali ke arena kedua, Xu Yuanzhi berdiri dengan tenang di hadapan Long Chen, senyum tipis terukir di wajahnya seolah pertarungan ini baru saja mulai menarik baginya. “Ayo…” ucapnya ringan namun penuh tekanan. “Buat pertarungan ini semakin menarik, Long Chen.”

Seiring kata-katanya, aura di sekelilingnya perlahan meningkat, energi ruang yang semula samar kini mulai terasa lebih jelas, menciptakan distorsi halus di udara, seolah ruang di sekitarnya tidak lagi stabil sepenuhnya. Tekanan itu tidak meledak, namun cukup untuk membuat siapa pun yang merasakannya menyadari bahwa ia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Di hadapannya, Long Chen menggenggam pedangnya lebih erat, petir ungu kembali berdenyut di sepanjang bilahnya, kali ini lebih tajam dan lebih terkendali. Tatapannya tidak goyah sedikit pun, bahkan setelah melihat kemampuan lawannya yang tidak biasa.

Di arena lain, pertarungan telah berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan, dan di atas arena itu, Ye Fan berdiri tegak dengan pedang masih berada di tangannya, napasnya tetap stabil seolah pertarungan tadi tidak benar-benar menguras tenaganya, aura bayangan di sekelilingnya perlahan mereda, menandakan kemenangan yang bersih dan tanpa banyak kesulitan.

Beberapa peserta di sekitar mulai memperhatikannya dengan lebih serius, menyadari bahwa ia bukan lawan yang bisa diremehkan.

Namun di arena kedua, situasinya berbeda.

Pertarungan antara Long Chen dan Xu Yuanzhi masih berlangsung, aura petir dan ruang terus bertabrakan di atas panggung, menciptakan tekanan yang jauh lebih intens dibanding arena lainnya.

Dan di sanalah, hasil yang sesungguhnya masih belum ditentukan.

End Chapter 34

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!