Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01
Tara tersenyum sambil memandangi penampilan dirinya yang dibalut gaun mewah berwarna krem dengan riasan cantik di wajah lewat cermin besar di depannya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai bebas dengan sedikit bergelombang di ujungnya. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun itu.
Hari ini Tara dan Devan merayakan pesta anniversary pernikahan mereka yang ke tiga. Acara tersebut diselenggarakan di sebuah ballroom hotel. Mereka mengundang banyak tamu undangan termasuk kolega dari pihak orang tua Devan.
Tara tak menyangka bahwa Devan akan menyelenggarakan pesta anniversary mereka semegah ini. Ide mengadakan pesta adalah ide Devan yang langsung disetujui Tara karena dia pun ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia bahagia menikah dengan Devan.
Tiga tahun sudah usia pernikahan mereka. Devan memenuhi segala keinginannya, memberikan kebahagiaan lahir yang luar biasa. Tapi ada yang tidak lengkap di dalam pernikahannya.
Hingga sampai saat ini, Devan belum memenuhi nafkah batinnya. Jika boleh jujur, Tara mulai merasa pernikahannya hambar dan tak ada tujuan. Nyatanya sebanyak apapun materi yang diberikan Devan padanya, tak serta merta membuat Tara bahagia secara utuh dan sempurna. Kebahagiaannya belum lengkap.
“Tara.”
Tara menoleh dan berbalik. Tara tersenyum melihat penampilan suaminya yang jauh lebih tampan dengan balutan jas berwarna serupa dengan gaunnya.
“Udah siap?” tanya Devan tersenyum hangat dan menatap kagum pada tubuh istrinya dalam balutan gaun pilihannya. Tak menyangka gaun pilihannya akan sangat cocok dipakai oleh Tara.
Tara mengangguk dan mendekati Devan. Melingkarkan tangan di lengan suaminya dan membisikkan sesuatu.
“Mari kita tunjukkan kemesraan kita.”
Devan mengangguk dan mengajak Tara keluar ruangan menuju tempat acara. Keduanya memasang senyuman lebar dan bahagia.
Saat keduanya mulai memasuki tempat acara, semua orang yang hadir tampak terpukau dan mengagumi kedua orang pemilik acara tersebut. Beberapa tamu bahkan ada yang menatap iri pada keberuntungan nasib keduanya.
Keduanya naik podium yang telah disediakan untuk memberi sambutan. Devan dan Tara saling tatap dan tersenyum.
“Selamat malam. Terima kasih kepada semua yang telah hadir di acara anniversary pernikahan kami yang ke tiga ini. Saya tak menyangka bahwa pernikahan yang kami bina bisa sampai di detik ini. Saya beruntung memiliki Tara di samping saya. Dia bukan wanita pertama dalam hidup saya, tapi dia wanita satu-satunya yang terus berada di samping saya apapun kekurangan saya.” Devan menjeda kata-katanya dan memandang Tara. Tara memberikan senyuman lembut pada suaminya.
“Jangan kira saya sempurna. Saya tak sesempurna itu dan Tara lah yang menyempurnakannya. Semoga saya bisa terus membuatnya bahagia. Terima kasih karena sudah bersedia menjadi istriku, Sayang,” ucap Devan menatap Tara.
Tara mengangguk. “Sama-sama.”
“Semoga kita semua selalu dilimpahkan kebahagiaan. Sekian sambutan dari saya. Silakan menikmati hidangan yang telah disediakan. Terima kasih.” Devan mengakhiri sambutannya dan turun dari podium masih terus menggandeng tangan Tara.
“Sumpah Dev. Kata-katamu tadi membuatku terharu. Jadi baper maksimal. Belajar darimana kata-kata itu?” Tara berbisik pelan.
Devan tertawa. “Dari internet. Semua orang harus tahu kalau kita bahagia. Dan ya nggak nyangka juga kalau aku bisa bicara seperti itu. Kesannya kayak yang aku beneran cinta sama kamu.”
Tara menoleh. “Kenapa kayaknya? Kalau jatuh cinta beneran juga nggak papa. Aku kan istrimu.”
Devan mengangguk. “Ra, aku ke toilet sebentar ya.”
Tara mengangguk. Setelah Devan pergi, Haris tiba-tiba datang dan memeluk Tara.
“Kamu bahagia, Dek?” tanya Haris setelah melepas pelukannya.
Tara mengangguk dan tersenyum. “Kenapa Abang selalu nanyain itu sih? Aku sampai capek sendiri jawabnya.”
Haris menghela napas. Dialah yang paling tahu bagaimana adiknya. Walaupun Tara selalu mengatakan bahagia, namun Haris tahu kenyataannya tak seperti itu. Dia tahu kalau Tara tak ingin Abangnya mengkhawatirkannya.
“Mau sampai kapan, Dek? Kalau udah nggak kuat, menyerahlah dan kita akan pergi dari sini. Dari kota ini. Jauh dari suami brengsekmu itu.”
Belum sempat Tara menjawab, sebuah suara sudah menginterupsinya.
“Lo mau bawa kabur bini gue, Ris?” Devan menatap Haris tajam.
Haris terkekeh. “Hanya masalah waktu, Dev. Kita akan lihat Tara yang lari sendiri atau gue yang bawa dia lari.”
Devan tak menanggapi. Dia merangkul pinggang Tara dan mengajaknya menjauh dari Haris. Haris menahan kesal. Ingin sekali rasanya membawa Tara pergi jauh, tapi Tara tetap memilih bertahan disisi pria brengsek itu.
Pesta berlangsung dengan meriah karena Devan mengundang penyanyi dan home band untuk memeriahkan suasana. Walaupun demikian, Tara tak benar-benar menikmati pesta itu. Dia lelah berpura-pura bahagia di acara membosankan ini. Entah apa tujuan Devan sebenarnya mengadakan acara pesta ini. Tara yakin jika ada yang direncanakan Devan namun dia tak tahu apa.
“Tara.”
Tara menoleh dan tersenyum saat melihat ibu mertuanya datang mendekat.
“Mamah tahu kamu pasti sedih ya. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Kalian baru menikah selama tiga tahun. Masih banyak waktu bahkan sampai seumur hidup. Mamah yakin kok, suatu saat nanti kamu dan Devan pasti akan diberi kepercayaan oleh Tuhan,” ucap Mia menatap lembut menantunya. Sekilas tadi Mia bisa melihat tatapan sedih Tara dan membuatnya ingin menghibur sang menantu.
“Iya, Mah,” angguk Tara. Tara mengiyakan saja anggapan mertuanya tentang penyebab kesedihannya. Padahal bukan itu penyebabnya dan Tara tak mungkin menjelaskan alasan sebenarnya dia bersedih.
Tara mengedarkan pandangan dan melihat Devan yang tengah asyik mengobrol dengan teman-temannya dan tak mempedulikan dirinya.
“Kami memang ingin segera punya cucu, tapi bukan berarti Mamah dan Papah bisa maksain kehendak kami. Kalian berusahalah lebih kuat lagi. Mamah percaya Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana indah untuk kalian berdua,” ujar Mia terus tersenyum lembut.
Tara mengangguk dah memeluk ibu mertuanya. “Terima kasih, Mah. Mamah udah ngertiin aku.”
Mia balas memeluk. “Iya, Sayang. Bahagia terus ya kalian berdua. Devan jadi sering senyum setelah nikah sama kamu. Mamah semakin yakin bahwa kamu memang wanita yang dicintai Devan.”
Tara tak menjawab. Hatinya sedih. Hatinya sakit. Kenyataannya Devan tak pernah mencintainya. Tak pernah sedikitpun. Dan Tara tidak bisa menceritakan itu semua pada mertuanya.
Devan yang tak sengaja melihat Ibunya dan Tara berpelukan, lalu mengambil ponsel dan mengirim chat pada seseorang lalu pergi keluar gedung.
Haris melihat kepergian Devan dan hendak menyusulnya saat matanya tak sengaja menangkap kehadiran mantan kekasihnya. Haris memilih untuk menyapa mantannya sebentar.
“Hai Dea.”
Dea yang sedang bermain ponsel sontak menoleh terkejut melihat Haris berdiri di sampingnya. “Hai, Haris.”
“Apa kabar?”
“Baik. Kamu?”
“Seperti yang kamu lihat.”
Dea mengangguk dan mengedarkan pandangan. Tak ingin bertatapan dengan sang mantan.
“Kamu diundang Tara?” tanya Haris.
“Iya. Tadinya nggak mau dateng. Tapi nggak enak sama Tara.”
“Apa karena ada aku?”
Dea mengangguk tanpa ragu. “Iya. Jujur aku masih sakit hati sama kamu, Ris. Tapi aku nggak punya alasan untuk menolak undangan Tara. Nggak nyangka juga kalau Tara akan bertahan sejauh ini dengan suaminya itu.”
Haris terdiam. Selain dia, Dea juga tahu seperti apa suami Tara.
“Dea.”
Dea menoleh ke arah lain. Vito memandangi Dea dan Haris bergantian. “Apa ada masalah?”
“Nggak,” jawab Dea singkat.
Haris melangkah menjauhi Dea tanpa sepatah kata pun.Haris tahu Dea masih membencinya. Walaupun begitu, Haris merasa hatinya sakit melihat Dea datang bersama pria lain. Cinta itu masih ada. Haris hanya membuatnya tenggelam di dalam lubuk hati.
“Dea,” panggil Vito saat melihat Dea melamun.
“Aku baik-baik saja, Vit.”
Vito mengangguk. Tak ingin menanyakan hal lain lagi. Melihat raut wajah kesal sang kekasih, sudah cukup membuatnya yakin bahwa keadaan hati Dea sedang tak baik-baik saja. Dan Vito tahu diri untuk tak merusak suasana hati Dea lebih dalam lagi.
Sementara itu di sisi lain, Rashi tengah menatap Tara dengan tatapan iri sekaligus kesal yang luar biasa. Bibirnya masih menyunggingkan senyum untuk menutupi perasaan kesalnya pada Tara. Rashi sengaja tak bergabung dengan keluarganya yang lain yang justru tengah asyik mengobrol dengan wanita yang membuatnya kesal dan iri itu.
“Shi, kamu nggak ngucapin selamat samakakak sepupumu ?” tanya Intan.
Rashi menoleh. “Jangan minta aku buat basa basi sama wanita itu, Mah. Aku nggak suka sama dia,” ucapnya ketus.
Intan menghela napas pelan dan mengangguk. “Mamah paham. Tapi setidaknya ucapkan selamat pada Devan kalau nggak mau sama Tara. Kamu masih sepupunya, Shi.”
“Aku bakal ucapin selamat kalau mereka bercerai, Mah. Bukan ucapan selamat karena merayakan tanggal pernikahan mereka. Semua ini tuh gara-gara Mamah. Coba kalau dulu Mamah nggak nglarang aku buat ngasih video itu ke Kak Devan atau kedua orang tuanya, pasti sekarang mereka sudah bercerai,” ucap Rashi dengan nada ketus.
Intan menghela napas jengah. Obsesi putrinya untuk menikah dengan Devan sudah sangat berbahaya. Intan harus bisa mencegah putrinya melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan keluarga mereka.
“Tapi kenyataannya Tara nggak selingkuh, Shi.”
Rashi memberengut. Mana pria itu sekarang entah ada dimana. Rashi baru tahu kalau David—mantan Tara, ternyata sudah tak menjadi karyawan di Tokonya Devan lagi setahun yang lalu. Sekarang Rashi tak mempunyai bukti apapun karena ternyata video yang disimpannya juga menghilang entah kemana. Rashi yakin pastilah ulah Ibunya.
Intan mengelus rambut Rashi lembut. “Move on, Sayang. Mau sampai kapan berharap sama Devan? Dia bahkan sama sekali nggak melihatmu,” ucap Intan tegas. Dia harus lebih keras lagi membujuk putrinya agar tak menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Devan dan Tara.
Rashi terdiam. Dalam hati dia membenarkan ucapan Ibunya. Devan tak pernah melihatnya. Melirikpun tidak. Devan hanya melihat satu wanita saja. Yaitu Tara, istrinya. Rashi paham itu. Tapi entahlah. Hatinya masih menginginkan menjadi istri seorang Devanka Gunawan, sepupunya sendiri.
***
Tara mematung. Tubuhnya menegang saat tiba-tiba Devan memeluknya dari belakang. Tanpa bicara apapun, Devan menyibak rambut tergerai Tara ke samping. Devan perlahan melepas pelukannya dan memasangkan kalung di leher Tara.
Tara terdiam dan menyentuh kalung itu. Devan menggenggam tangan Tara dan mengajaknya ke depan meja rias. Devan tersenyum hangat melihat kalung yang dibelinya cocok dengan leher jenjang Tara.
“Cantik. Sangat cantik,” kagumnya..
Tara melihat kalung itu dengan jelas lewat cermin rias di depannya. Kalung yang sangat indah.
“Suka?” tanya Devan yang masih berdiri di belakang Tara.
Tara mengangguk dan tersenyum.
“Itu adalah hadiah pernikahan kita yang ke tiga,” ucap Devan lagi.
Tara masih terdiam memandangi kalung yang sudah melingkar di lehernya.
“Kenapa Tara?” tanya Devan saat melihat Tara hanya diam saja, tak menjawab kata-katanya.
“Aku ingin hadiah yang lain, Dev,” ucap Tara menatap Devan dari cermin.
Devan mendengus. “Huh. Kalau itu yang kamu inginkan, maka jawabannya akan tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya.”
Tara mengangguk dan melangkah menuju ranjang. Tanpa kata, Tara berbaring membelakangi Devan.
Kecewa? Tentu saja.
Setiap tahun di tanggal pernikahan mereka, Tara hanya ingin bisa memberikan kewajibannya sebagai istri. Tapi tiap tahun pula, Devan selalu menolaknya dengan alasan tak bisa. Dia tak bergairah sama sekali dengan Tara.
“Selingkuh lah, Ra. Aku janji nggak akan ada yang tahu selain aku,” ucap Devan dengan nada pelan.
Tara tak menanggapi. Dia memejamkan matanya erat, berharap kantuk segera menyerangnya agar dia bisa segera terlelap dan bangun esok pagi dengan suasana yang baik-baik saja. Lebih tepatnya bersandiwara baik-baik saja.
“Apa aku yang harus carikan prianya?” tanya Devan lagi.
Cukup. Ini sudah keterlaluan. Tara beranjak duduk dan menatap Devan tajam.
“Kalau begitu ceraikan saja aku. Kita masih bisa berteman seperti dulu tanpa harus ada ikatan menyedihkan ini. Aku mulai benci status ini, Dev.”
“Apa alasannya?”
“Katakan pada semuanya kalau aku mandul. Nggak akan ada lagi yang bertanya lebih.” Tara menatap Devan nanar. Hatinya sakit. Selalu sakit setiap Devan menawarkan pria lain padanya seolah dia wanita murahan yang haus belaian pria.
Devan tersenyum tipis. “Kamu ingin aku terlihat seperti suami brengsek yang menceraikan istrinya karena masalah belum diberi keturunan, begitu?”
“Sampai kapanpun aku nggak akan bisa hamil kalau kamu sampai detik ini nggak berani menyentuhku, Dev! Semua orang berharap berita bahagia itu datang tanpa tahu bahwa selama tiga tahun ini kita bahkan hanya sentuhan tangan dan pinggang saja. Semua orang menatapku kasihan karena aku belum hamil juga tanpa tahu bahwa suamiku lah yang menolak berhubungan intim denganku! Aku sudah merendahkan diriku seperti wanita murahan di depanmu, Dev. Tapi sedikitpun.. kamu nggak pernah tergoda!”
Air mata Tara perlahan jatuh dari pelupuk mata. Dia tak kuat. Lama-lama pernikahan ini menyiksanya. Dia pikir semua akan baik-baik saja walau dia hanya mendapat satu nafkah saja. Tapi dia salah. Satu nafkah saja tak cukup untuk bisa bertahan dalam badai rumah tangga mereka.
“Tapi aku tetap nggak bisa, Ra.”
“Bukan nggak bisa. Tapi nggak mau,” koreksi Tara.
Devan terdiam. Selalu seperti ini jika Tara mulai meminta hak batinnya. Pertengkaran selalu tak bisa dihindarkan. Dan Devan hanya bisa diam karena dia lah yang bersalah disini.
“Biarkan semua orang termasuk keluargamu menganggapku mandul daripada aku harus mengatakan kalau putra mereka nggak mau menyentuhku,” ucap Tara lirih.
Devan tak sanggup jika harus berhadapan dengan Tara di kondisi seperti ini. Devan selalu memilih opsi menghindar agar tak terlibat pertengkaran lebih jauh lagi. Devan berdiri dan melangkah keluar kamar.
Sebelum dia keluar, dia mengatakan suatu hal yang membuat Tara memejamkan matanya erat dengan hati yang semakin terluka.
“Aku nggak akan mau menceraikanmu, Tara. Walau sekuat apapun kamu menginginkannya.”
Egois? Memang.
Devan sadar jika semakin kesini dia semakin tak bisa jauh dari Tara. Kendati dia tak bisa memberi Tara kebahagiaan secara utuh, tapi Devan tetap ingin Tara selalu ada di sampingnya.
Walau dia tahu hal itu akan menyakiti Tara, tapi Devan tak peduli. Tara adalah miliknya. Perjanjiannya dulu dengan Haris dan Tara tentang dia yang akan melepas Tara jika Tara menemukan kebahagiaannya dengan pria lain, kini akan dia ingkari.
Devan tak rela jika Tara bahagia dengan pria lain. Tara akan tetap menjadi istrinya. Tara akan tetap menyandang nama belakang keluarganya. Antara Gunawan.
Bersambung ….