"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Nama di Balik Embun
Kapsul pendarat itu masuk ke dalam hangar kapal induk Nemesis dengan dentuman logam yang keras saat magnet penahan mengunci posisinya. Pintu kapsul terbuka, mengeluarkan kepulan uap dingin yang langsung bercampur dengan udara hangat di dalam hangar. Andra melangkah keluar paling awal, masih mendekap gadis kecil itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah anak itu terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja.
Vex sudah menunggu di sana bersama tim medisnya. Wajah pemimpin pemberontak itu tampak campuran antara lega dan heran. "Kalian berhasil meratakan tempat itu, tapi kenapa kamu pulang membawa beban tambahan, Andra?"
"Dia bukan beban, Vex," jawab Andra singkat sambil menyerahkan anak itu ke tim medis yang sudah menyiapkan tandu elektrik. "Dia adalah alasan kenapa Antartika dihancurkan. Tolong, pastikan dia aman. Jangan ada pemeriksaan yang menyakitkan, cukup monitor tanda vitalnya saja."
Vex mengangguk, memberi isyarat pada timnya untuk segera membawa anak itu ke ruang perawatan intensif. "Baiklah, Bos besar. Tapi kamu berhutang penjelasan padaku soal apa yang sebenarnya kamu temukan di bawah sana. Pasukanku di orbit tadi hampir saja gila karena harus menahan gempuran satelit pertahanan mereka."
Andra tidak langsung menjawab. Dia hanya menoleh ke arah Jagal dan Siska yang baru saja keluar dari kapsul dengan wajah yang sangat lelah. "Jagal, bawa Siska istirahat. Dia sudah melewati banyak hal hari ini."
"Aku tidak apa-apa, Andra," sela Siska, meski kakinya terlihat sedikit gemetar. "Aku ingin tahu siapa anak itu. Di laboratorium tadi... energinya terasa sangat mirip denganmu."
"Aku tahu," gumam Andra. "Makanya aku tidak bisa meninggalkannya."
Setelah semua orang bubar ke urusan masing-masing, Andra berjalan sendirian menuju dek observasi di bagian paling atas kapal. Dia butuh waktu untuk berpikir. Di sana, di depan kaca anti-radiasi yang sangat besar, dia melihat planet Bumi yang perlahan mengecil saat armada mulai menjauh menuju titik lompatan berikutnya.
Dia teringat foto ayahnya di laboratorium tadi. Dr. Adrian. Sosok yang selama ini dia anggap sebagai pahlawan yang terbunuh demi melindunginya, ternyata adalah otak di balik penderitaan ribuan orang. Rasanya seperti ada lubang besar di dadanya. Semua uang dan kekuatan yang dia miliki sekarang, ternyata berakar dari eksperimen gila ayahnya sendiri.
"Kenapa, Ayah?" bisiknya pada kegelapan ruang angkasa. "Kenapa harus aku?"
[Ding! Mendeteksi Fluktuasi Emosi Berlebih.] [Saran: Pengguna Perlu Menstabilkan Aliran Energi Emas Agar Tidak Terjadi Overload pada Saraf Pusat.]
"Diamlah," sahut Andra dalam hati. "Aku sedang tidak butuh saran teknis sekarang."
Andra mengeluarkan sebuah drive data kecil yang sempat dia copot dari komputer pusat sebelum ledakan tadi. Itu adalah data mentah yang belum sempat dia baca sepenuhnya. Dia memasukkannya ke pergelangan tangannya, membiarkan sistem di kepalanya memproses informasi tersebut.
Layar transparan muncul di depannya. Puluhan dokumen rahasia terbuka. Salah satu dokumen berjudul: PROYEK PANDORA: PEWARIS CAHAYA.
Di dalamnya dijelaskan bahwa Sistem yang ada di kepala Andra bukan hanya alat untuk mencari uang atau memberi kekuatan tempur. Itu adalah "Kunci" untuk membuka gerbang energi galaksi yang lebih besar. Ayah Andra menyuntikkan sistem itu ke tubuh Andra saat dia masih bayi karena hanya DNA keluarga mereka yang memiliki kecocokan 99% dengan frekuensi kristal galaksi.
Dan gadis kecil tadi? Namanya tercatat sebagai Proyek Pandora 02. Dia adalah tiruan atau kloning yang dibuat dari sisa DNA Andra yang tertinggal di laboratorium bertahun-tahun lalu. Secara teknis, gadis itu adalah "adik" atau bahkan "anak" biologis dari Andra.
Andra terduduk lemas di lantai dek yang dingin. "Jadi dia... dia bagian dari aku."
"Itulah kenapa dia sangat penting bagi mereka," sebuah suara mengejutkannya. Siska berdiri di pintu masuk dek. Dia rupanya tidak pergi tidur sesuai perintah Andra.
"Siska, aku bilang kamu harus istirahat," kata Andra, mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar rapuh.
Siska berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di samping Andra. "Aku tidak bisa tidur sebelum tahu apa yang membuatmu terlihat seolah-olah dunia baru saja runtuh. Aku lihat datanya tadi lewat layar cadangan di ruang medis. Dia keluargamu, kan?"
Andra mengangguk pelan. "Keluarga yang dibuat di dalam tabung reaksi. Ayahku... dia bukan orang baik, Siska. Dia yang memulai semua ini."
"Andra, dengarkan aku," Siska memegang wajah Andra, memaksanya untuk menatapnya. "Orang tua kita mungkin yang memberikan kita awal hidup, tapi kita sendiri yang menentukan akhirnya. Ayahmu mungkin membuat sistem ini sebagai penjara, tapi kamu menggunakannya untuk membebaskan orang-orang. Itu yang terpenting."
Andra menarik napas panjang. Kata-kata Siska sedikit mengurangi beban di pundaknya. "Kamu benar. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bisa menghancurkan siapa saja yang mencoba mengulangi kesalahan itu."
Tiba-tiba, komunikator di lengan Andra berbunyi. Suara Vex terdengar panik. "Andra! Cepat ke ruang medis! Anak itu... dia bangun, tapi ada sesuatu yang aneh. Energinya meluap dan menghancurkan semua peralatan medis di sini! Kami tidak bisa mendekat!"
Andra langsung melompat berdiri. "Ayo, Siska!"
Mereka berlari secepat kilat melewati koridor kapal menuju ruang medis. Begitu sampai, mereka melihat pemandangan yang luar biasa. Ruangan itu dipenuhi cahaya emas yang sangat terang, mirip dengan aura yang keluar dari tubuh Andra saat dia sedang bertarung hebat. Tim medis terpental ke sudut-sudut ruangan, dan peralatan monitor sudah meledak menjadi serpihan.
Di tengah ruangan, gadis kecil itu berdiri di atas tempat tidur. Matanya terbuka lebar, memancarkan cahaya putih tanpa pupil. Dia tampak ketakutan, napasnya tersengal-sengal, dan setiap kali dia berteriak, sebuah gelombang kejut energi menghantam dinding kapal.
"Semua keluar!" perintah Andra pada Vex dan anak buahnya. "Hanya aku yang bisa menangani ini!"
Andra berjalan perlahan mendekati pusat cahaya itu. Tekanan energinya sangat besar, rasanya seperti berjalan melawan badai pasir yang sangat kuat.
"Hei... kecil... tenanglah," kata Andra dengan suara selembut mungkin. "Aku di sini. Kamu aman sekarang."
Gadis itu menoleh ke arah Andra. Energinya sempat menyerang Andra, tapi begitu bersentuhan dengan aura emas Andra, energi itu seolah-olah saling mengenali dan mulai menyatu. Andra terus maju sampai dia bisa memeluk anak itu.
Seketika, cahaya terang itu meredup. Gadis kecil itu mulai menangis, sebuah tangisan yang sangat manusiawi, sangat rapuh. Dia membenamkan wajahnya di dada Andra.
"Sakit... semuanya sakit..." bisik anak itu dengan suara serak.
Andra memeluknya erat-erat. "Sudah selesai. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu. Namaku Andra. Siapa namamu?"
Anak itu terdiam sebentar, lalu menjawab lirih, "Mereka panggil aku... Elara."
"Elara," Andra mengulangi nama itu sambil menatap Siska yang berdiri di ambang pintu dengan air mata mengalir. "Nama yang bagus. Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi berada di dalam tabung. Kamu punya kakak, kamu punya keluarga."
Sistem di kepala Andra tiba-tiba berbunyi dengan nada yang berbeda, tidak sedingin biasanya.
[Ding! Sinkronisasi Dua Benih Berhasil.] [Membuka Modul Baru: Perlindungan Kolektif.] [Status: Anda Kini Memiliki Sesuatu yang Lebih Berharga daripada Kristal—Tanggung Jawab untuk Melindungi Masa Depan.]
Andra tersenyum pahit. Dia tahu, dengan adanya Elara, perburuannya terhadap 'The Void' bukan lagi sekadar soal dendam pribadi. Ini soal memastikan Elara tidak akan pernah lagi melihat ruangan gelap penuh tabung kaca.
"Vex!" panggil Andra melalui radio. "Siapkan koordinat baru. Kita tidak akan langsung menyerang markas besar mereka di Mars. Kita butuh tempat untuk menyembunyikan Elara dan melatih pasukan kita lebih jauh. Kita pergi ke sabuk asteroid, ke pangkalan rahasia yang pernah kamu ceritakan."
"Dimengerti, Andra," jawab Vex. "Tapi ingat, 'The Void' tidak akan diam saja kehilangan aset sesempurna Elara."
"Biarkan mereka datang," kata Andra sambil menggendong Elara yang mulai tertidur kembali. "Aku sudah menyiapkan sambutan yang sangat mahal untuk mereka."
Malam itu, di tengah sunyinya ruang hampa, Andra duduk di samping tempat tidur Elara di kamar pribadinya. Dia menyadari satu hal: kekayaan sejati bukan berasal dari berapa banyak angka yang ada di saldonya, tapi dari siapa yang dia perjuangkan. Dan sekarang, dia punya alasan terkuat di alam semesta untuk menang.